NovelToon NovelToon
LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: NATstory

Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DINGIN DI BALIK TATAPAN

Embun pagi masih menempel di kaca jendela,andi perlahan membuka matanya,Kepalanya terasa berat,Tenggorokannya kering,sementara samar-samar ia mengingat kejadian semalam,meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal,Layar itu dipenuhi puluhan notifikasi,Belasan panggilan tak terjawab.

Puluhan pesan dari satu nama yang paling ia cintai.

Bunda ❤️

Jantung Andi berdegup pelan,Ia membuka satu per satu pesan itu.

"Mas sudah di kapal?mas baik-baik saja?kalau sudah bangun kabari ya."

Tak ada omelan,Yang ada hanya kekhawatiran,Andi mengusap wajahnya,Rasa bersalah menyelimuti,Tanpa berpikir panjang ia segera menelepon dira.

"Mas!!?"

dira terdengar serak,setelah semalaman tak tidur.

"bun..Maafin Ayah ya... semalam aku berlebihan,aku janji nggak akan mengulangi lagi."

dira berkaca-kaca.

"Syukurlah.. kalau baik-baik saja."

Hanya itu yang mampu ia ucapkan,Baginya, mendengar suara Andi sudah cukup menghapus rasa takut semalam.

Waktu berganti,Perubahan terjadi,sedikit demi sedikit Andi mulai jarang menelepon,dulu setiap pagi,siang,dan malam selalu ada kabar,kini sehari berlalu tanpa satu pesan pun menjadi hal yang biasa,dira mencoba memahami,Mungkin pekerjaan sedang berat,Mungkin kapal sedang sibuk,Ia selalu berusaha berpikir positif.

Satu ketika,Nadira mencoba menelepon,tapi tak diangkat,lima menit kemudian ia mencoba lagi,Tetap tak diangkat,sampai akhirnya telepon itu tersambung.

"Bun!"

Nadira tersenyum lebar.

"Telepon Ganggu saja!,Kalau nggak diangkat, berarti ayah lagi sibuk!"

Suara Andi semakin keras,kata terakhir seperti menghantam dada dira."Bunda tahu kan itu ganggu?"

"Ayah... bunda cuma..."

Belum selesai berbicara,Andi kembali memotong.

"Jangan sok cemas,saya bukan anak kecil!!,Bunda nggak tahu kan di sini ada masalah apa,jangan memperkeruh keadaan."

Klik.

Telepon terputus,Tak ada kesempatan bagi dira menjelaskan,Tak ada ruang untuk mengatakan bahwa ia hanya takut kehilangan,dira menatap layar ponsel yang kembali gelap,Orang yang selalu menenangkan dirinya justru menjadi alasan air matanya jatuh.

Hari berikutnya terasa begitu sunyi,Nadira masih mengirim pesan.

"Maaf ya ayah,Bunda nggak bermaksud mengganggu."

Tak ada balasan,Satu minggu...Dua minggu...

Andi benar-benar hilang,Tak ada telepon,Tak ada pesan,Tak ada kabar,Malam-malam dira kembali diisi dengan doa,dalam hati kecilnya, ia terus menyalahkan diri sendiri.

"Mungkin aku terlalu berlebihan,Mungkin aku terlalu sering menghubungi."

Pikiran-pikiran itu terus menghantui,Memasuki minggu ketiga...dira berhenti mengirim pesan,Bukan karena marah,tapi karena takut kehadirannya menjadi beban bagi orang yang ia cintai.

siang itu, Ponsel Nadira berdering,Nama yang selama ini ia tunggu muncul di layar.

Ayah ❤️

Tangannya gemetar.

Suara Andi terdengar begitu biasa.

"Apa kabar, bun?"

..."Alhamdulillah... akhirnya mas telepon."

Andi tersenyum kecil.

"Maafin aku ya..."

ucap Nadira lirih.

Andi tertawa pelan.

"Jadi setelah tiga minggu lost contact... bunda sudah sadar kesalahannya apa?"

dira mengangguk meski Andi tak bisa melihatnya.

"Jadi jangan begitu lagi ya."ucap andi.

"Iya."jawab dira

"Kalau saya nggak angkat telepon satu kali, artinya sibuk,Nanti juga ayah pasti telepon bunda,"

Andi kembali,Tak ada keinginan untuk memperdebatkan masa lalu.

"Bagaimana Bapak sama Mami?"

"sehat."balas dira tenang.

"Lusa aku sandar di Surabaya."

Mata Nadira berbinar.

"Benarkah?"

"Jemput ya."ujar andi

"Iya!"senyum dira lebar.

Dua hari kemudian..Pelabuhan Tanjung Perak kembali menjadi saksi pertemuan mereka,Begitu Andi turun dari kapal,,dira langsung menghampiri,Tatapan mereka bertemu,Tanpa banyak kata,Andi menarik Nadira ke dalam pelukan hangatnya.

"Kurusan."tatap Andi.

"Bunda kangen."kata dira berkaca-kaca.

"Ayah juga."🙂.

Semua luka menghilang dalam pelukan itu,Seperti kebiasaan mereka setiap kali Andi pulang,kami menghabiskan waktu jalan jalan,mengunjungi pusat perbelanjaan,Andi mendorong troli sambil memasukkan berbagai kebutuhan bulanan Nadira,Sesaat dira merasa semuanya kembali seperti dulu,Saat hendak berpindah ke lantai berikutnya, tiba-tiba seseorang memanggil.

"Andi!"

Andi menoleh,Wajahnya berseri.

"Rendra!"

Mereka saling berpelukan,laki-laki itu adalah sahabat karib semasa kuliah.

"Astaga... sudah bertahun-tahun nggak ketemu!"

"Iya!"

Mereka sepakat duduk di sebuah restoran,Obrolan mengalir panjang,Tentang masa kuliah,pekerjaan,Tentang keluarga,dan Rendra menoleh ke arahku.

"Ini siapa?"Istri?

Andi tersenyum bangga,Tangannya menggenggam tangan Nadira.

"Kenalin...Calon Istriku.

Kalimat sederhana itu membuat pipi dira memerah,Di hadapan sahabatnya,Andi memperkenalkannya dengan penuh kebanggaan,Obrolan semakin hangat,Tawa sesekali pecah,tiba-tiba..Ponsel Andi yang bergetar di atas meja,Ada panggilan masuk,Andi tetap melanjutkan cerita,dira melirik ponsel itu.

"Ayah... HP-nya bunyi."

Andi tidak bereaksi,Ponsel kembali bergetar,Masih diabaikan.

"mas.."dira mengingatkan pelan,tapi Tak ada jawaban.

Beberapa menit berselang,Panggilan itu datang lagi,Sudah lima kali,dira mulai khawatir,Takut ada urusan penting dari kapal.

"mas... mungkin penting..."

Belum selesai kalimat itu keluar,Andi menoleh,Tatapan tajam,Dingin,Melotot lurus ke arah dira,Tak ada sepatah kata pun,hal itu cukup membuat dira langsung menundukkan kepalanya,Di balik senyum yang masih ia paksakan di hadapan sahabat Andi,ada hati yang mulai bertanya dalam lirih,Apakah yang berubah hanya keadaan...?kenapa mas andi begitu dingin.

Pertanyaan itu terus bergema di dalam benaknya, tanpa ia tahu bahwa hari berikutnya akan membawa ujian yang jauh lebih berat bagi cinta yang selama ini ia perjuangkan.

Pagi itu,Dira terbangun,Embun masih menempel di jendela kamar kosnya.ia duduk di tepi ranjang,memandang layar ponsel nya,Tidak ada pesan,Tidak ada panggilan,Tidak ada nama Andi,Dulu,setiap pagi Andi selalu kirim pesan.

"Sudah bangun Bun?

semua itu hanya tinggal kenangan yang terus berputar di kepala Dira,aku tak sadar kapan semuanya mulai berubah,Telepon yang dulu berlangsung berjam-jam kini hanya hitungan menit,Balasan pesan yang biasanya cepat berubah menjadi berjam-jam,bahkan berhari-hari,Nada suaranya mulai terdengar dingin,Setiap kali Dira bertanya,Andi justru mudah tersinggung.

"Kenapa nanya terus?"

kalimat yang semakin sering terdengar,Bahkan hal-hal kecil mampu memicu pertengkaran,Nomornya diblokir,satu hari,satu bulan,bahkan lebih,saat blokir dibuka,ia selalu muncul seolah tidak pernah terjadi apa-apa,beberapa hari kemudian,hal yang sama kembali terulang,Marah,Menghilang,blokir,Kali ini lebih lama,lebih dari Tiga bulan,Dira memilih diam,Ia tidak ingin mengejar seseorang yang sudah berkali-kali menjauh,dira memberi ruang,Mungkin Andi sedang sibuk,Mungkin lagi ada masalah.

6 bukan tanpan kabar,Andi benar-benar hilang ditelan bumi,aku harus tetap berjalan,Hidup gak cuma berhenti karena seseorang pergi tanpa penjelasan,tidak ada lagi yang membiayai hidupnya,Tidak ada lagi seseorang yang selalu berkata"Bunda tenang saja,semua kebutuhan bunda biar ayah yang urus."

kini aku belajar berdiri di atas kaki sendiri,kuliah sambil bekerja,Tidur hanya beberapa jam,aku tidak pernah mengeluh,aku tahu,tidak ada lagi orang yang akan menyelamatkannya selain dirinya sendiri.

Pukul lima pagi Gedung radio masih terlihat sepi,Lampu-lampu studio mulai menyala,seperti biasa,Dira datang lebih awal,Ia percaya bahwa announcer,bukan hanya sekadar siaran,Suara yang keluar dari studio akan menemani ribuan orang memulai hari,Maka suasana hati penyiar pun harus siap,dira memasuki ruangan Studio,ruangan yang dipenuhi peralatan modern,Mixer audio berjajar rapi,Monitor komputer menampilkan daftar lagu,Lampu indikator berkedip,Headphone profesional tergantung di samping mikrofon,Ruangan kedap suara membuat semuanya terasa begitu tenang,Dira meletakkan tasnya,opening dimulai.

" good morning..."

Operator di balik kaca memberi isyarat jempol,Lampu merah bertuliskan ON AIR menyala,Suaranya berubah hangat,Penuh semangat.

"Selamat pagi, 102.5 Nat FM...Kembali lagi bersama Dira disini yang akan menemani pagi kalian sampai jam sembilan,ini dia,satu lagu dulu untuk anda dari Marion jola Rayu,"!

Suara Dira mengalun Jernih,Menenangkan,Pendengar dari berbagai kota mulai mengirim pesan.

"Suaranya bikin semangat kerja."

"Kak, putarkan lagu favorit saya."

Permintaan lagu berdatangan,Ucapan salam memenuhi layar monitor,Popularitasnya terus meningkat,Banyak orang mengenal suaranya,Tak sedikit yang menyebut Dira sebagai penyiar dengan suara paling menenangkan.

Prestasinya membuat manajemen radio bangga,Setiap evaluasi bulanan,nama Dira selalu berada di urutan teratas,Ramah,Profesional,Tidak pernah terlambat,Rating program meningkat drastis,Bahkan beberapa perusahaan mulai meminta Dira menjadi MC di berbagai acara,Dari situlah rezeki lain mulai berdatangan,Malam mengisi acara musik,Sesekali menjadi DJ,hingga tawaran iklan,pembawaannya yang alami membuatnya lolos,honor demi honor datang silih berganti,hingga Dira mampu,Membeli kebutuhanya sendiri,Semuanya dari hasil kerja kerasnya.

paket sering datang ke kantor,Buket bunga,Boneka,Cokelat,Parfum,Jam tangan,Tas bermerek,Semuanya dikirim tanpa diminta,Tidak pernah sekali pun ia memberi harapan,Sebagian ia bagikan kepada teman-teman kantor,Sebagian lagi ia tolak dengan sopan,Banyak pria mencoba dekat,pengusaha,Dokter,Dosen,Bahkan pejabat muda pernah datang langsung ke radio hanya untuk berkenalan,Namun semuanya mendapat jawaban yang sama.

"Maaf...saya belum bisa membuka hati."

hatinya masih tertinggal pada seseorang yang bahkan sudah lama menghilang.

Malam itu,Dira duduk sendiri di balkon kos,Angin berembus pelan,Lampu kota berkelap-kelip dari kejauhan,Ia membuka galeri ponsel,Foto Andi masih tersimpan rapi,Tak pernah dihapus,Nomor teleponku juga masih ada,Meski berkali-kali ingin menggantinya, Dira selalu mengurungkan niat.

"Kalau suatu hari mas andi menghubungi ku bagaimana?"

Kalimat yang selalu membuatnya bertahan,Berharap...Suatu hari layar ponselnya kembali menampilkan nama yang sangat ia rindukan,Jarinya menyentuh foto Andi,Ia tersenyum pahit.

"Kalau ayah tahu..bunda sekarang sudah bisa membiayai hidup sendiri,bunda sudah hampir lulus kuliah,Bunda sekarang dikenal banyak orang,ingin sekali cerita,Ingin bilang kalau bunda berhasil,Tapi...Kamu di mana, Yah?"

Suara Dira mulai bergetar,Ia memeluk lututnya sendiri,Dira hanyalah seorang perempuan yang diam-diam masih setia menunggu seseorang yang entah masih mengingatnya atau sudah benar-benar melupakan segalanya.

di antara gemerlap kesuksesan yang berhasil ia raih dengan susah payah,ada satu ruang kosong di dalam hatinya yang tak pernah mampu diisi oleh siapa pun,Ruang itu masih menyimpan satu nama.

Andi.

_________________________________________________

Pagi tiba, matahari baru saja menyinari jendela-jendela kaca gedung tempat Nadira bekerja,Kesibukan mulai terasa,Para karyawan datang bergantian,sebagian membawa secangkir kopi,sebagian lagi sibuk menyalakan komputer dan memeriksa jadwal pekerjaan,Nadira datang lebih awal,Ia mengenakan kemeja abu abu sederhana dipadukan rok hitam selutut,Rambut panjangnya diikat rapi,tidak ada riasan berlebih,hanya senyum tipis yang selalu ia berikan kepada siapa pun yang menyapanya.

"pagi,Mbak Dira."

"Pagi."

Ia membalas setiap sapaan dengan ramah,nama Nadira semakin dikenal di kantor, Prestasinya meningkat tajam,Setiap pekerjaan yang diberikan selalu selesai tepat waktu,

di sudut lain,Wanda memperhatikan Nadira dengan hatinya yang dipenuhi rasa iri,Tatapannya dingin.

"Kenapa sih harus dia terus yang dipuji?"

gumamnya pelan,Di samping tekan kerja yang sering menghabiskan waktu bergosip.

"Paling cari muka."

Mereka tertawa kecil.

Rasa iri Wanda berubah menjadi obsesi,Ia ingin semua orang mengenal dirinya,dimana setiap penghargaan jatuh ke tangannya,tapi kenyataannya beda,Setiap rapat,pimpinan lebih sering memuji hasil kerja Nadira,ia kembali dipercaya,dan Hal itu membuat Wanda semakin sulit menerima keadaan.

Saat makan siang, Wanda sengaja bicara cukup keras agar meja sebelah mendengar,

"Eh... kalian tahu nggak?Katanya dira itu banyak pacar! makanya sering dapat hadiah.

"pantes."

Mereka saling berpandangan lalu tertawa kecil.

begitulah gosip,Semakin diulang..Semakin dianggap benar.

Fitnah itu berkembang,terdengar dari sudut ruangan,

Katanya gonta-ganti,ih Murahan..!!

Kalimat demi kalimat terus beredar,Tidak ada bukti,Tidak ada saksi,ujar beberapa karyawan baru yang mulai percaya,Sebagian lagi memilih diam.

Resepsionis kembali membawa sebuah bingkisan."Mbak,ada kiriman lagi."

"Oh... terima kasih."

Belum sempat Nadira membuka kotaknya,Wanda berbisik kepada kelompoknya.

"Tuh kan,Datang lagi,pacar ke berapa tuh?!

Mereka tertawa lebih keras.

dira pergi dengan santai,kembali bekerja,Sikap itu membuat Wanda semakin kesal,ia berusaha mengumpulkan orang-orang yang memiliki ketidaksukaan terhadap dira,di sela jam kerja,ruang istirahat,Kalimat itu terus diulang.

tujuannya,Menggiring opini,Supaya semua orang memandang dira dengan buruk.

sore itu,Wanda menemui salah satu atasan,

"Pak,Saya khawatir nama perusahaan jadi jelek."

"Maksudnya?"

"Nadira punya banyak hubungan dengan laki laki.

Atasan itu mengangkat alis.

"Katanya siapa?"

Wanda terdiam.

"Teman-teman bilang begitu pak."

Sang atasan hanya menutup map di hadapannya.

kita bekerja memakai data,bukan bergosip!!

Wanda berubah pucat,ia keluar ruangan dengan rasa kesal semakin besar,ditempat lain,seorang pegawai baru memberanikan diri bertanya.

"Mbak Dira.Maaf..."

"ya?!balasku ramah.

"Tentang gosip itu,awalnya saya percaya,Tapi setelah kerja bareng,saya sadar,mbak gak kayak gitu,

Nadira mengangguk pelan.

"Terima kasih sudah mau mengenal."

Fitnah mulai kehilangan kekuatannya,kenyataan berbicara lebih lantang daripada gosip.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!