NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Akhir dari Sebuah Batas

Alunan melodi lembut yang mengiringi dansa mereka perlahan surut, menyisakan keheningan malam yang begitu intim di atas konservatori gantung itu.

Renard tidak langsung melepaskan lengannya dari pinggang Arumi. Ia membiarkan beberapa detik berlalu begitu saja, menikmati sisa-sisa kedekatan mereka yang terasa begitu nyata dan hangat.

Arumi perlahan mengangkat kepalanya dari dada bidang Renard, mendongak untuk menatap sepasang mata elang yang malam ini tidak lagi memancarkan kilat dingin yang mengintimidasi.

Senyuman tulus terukir di bibir ranumnya, sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang membuat Renard sempat menahan napasnya selama beberapa saat.

"Terima kasih untuk malam ini, Renard. Ini... jauh lebih indah dari apa pun yang pernah kubayangkan," bisik Arumi lembut, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin malam yang berembus di luar dinding kaca.

Renard menatap wajah istrinya lekat-lekat, lalu jemari tangannya bergerak merapikan beberapa helai rambut Arumi yang sedikit berantakan tertiup angin dari ventilasi atas. "Aku yang harus berterima kasih, Arumi. Karena kamu sudah bersedia memberi kesempatan pada pria kaku yang tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan benar ini."

Pria itu kemudian melepaskan pelukannya dengan perlahan, meskipun jemari tangannya segera beralih menggenggam erat tangan kiri Arumi, menuntunnya berjalan meninggalkan area lantai kaca menuju pelataran luar tempat mobil sport mereka sudah menunggu.

Kepala pelayan restoran membungkuk hormat mengantarkan kepergian pasangan itu, mengunci pintu gerbang surga kecil di atas awan tersebut.

Perjalanan pulang membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang terasa jauh lebih cepat.

Di dalam kabin mobil sport yang mewah, tidak ada lagi kecanggungan yang menggantung di udara. Renard menyetir dengan santai, sementara tangan kirinya tetap menggenggam jemari Arumi di atas konsol tengah, seolah enggan melepaskan jangkar yang menambatkan hatinya malam ini.

Arumi menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menatap keluar jendela pada deretan gedung pencakar langit yang lampunya mulai dipadamkan satu per satu. Mantel wol cokelat mudanya sedikit terbuka, menampilkan gaun rajut putih tulangnya yang kontras dengan kegelapan malam.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Renard memecah kesunyian, matanya tetap fokus pada jalanan di depan namun genggaman tangannya sedikit mempererat remasannya.

Arumi menoleh, menatap profil samping suaminya dengan binar mata yang hangat. "Aku hanya sedang berpikir... betapa lucunya takdir berjalan. Beberapa bulan lalu, aku melangkah masuk ke rumahmu dengan kepala tertunduk, membawa beban kehancuran keluargaku dan rasa takut yang luar biasa akan masa depan. Aku mengira aku sedang menjual kebebasanku pada seorang iblis kapitalis yang kejam."

Renard terkekeh pelan, suara tawa baritonnya terdengar begitu seksi di dalam kabin yang temaram. "Iblis kapitalis? Jadi itu sebutanmu untukku di dalam hati selama ini?"

"Awalnya, iya," aku Arumi jujur sembari tertawa kecil, membuat suasana di dalam mobil terasa semakin hidup.

"Tapi malam ini, aku menyadari bahwa iblis itu ternyata memiliki hati yang sangat lembut. Seseorang yang bersedia menjadi perisai terkuat untuk melindungiku dari badai dunia luar."

Renard memperlambat laju mobilnya saat mereka mulai memasuki kawasan perumahan elite tempat mansion Wijaya berdiri. Ia membawa tangan Arumi ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan kelembutan yang sanggup melelehkan seluruh sisa dinding es di hati mereka.

"Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi menghadapi badai itu sendirian, Arumi. Aku akan selalu ada di depanmu," janji Renard dengan nada suara yang teramat dalam dan penuh komitmen.

Jarum jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam saat pintu kaca besar mansion Wijaya terbuka. Suasana di dalam rumah raksasa itu sudah sangat sunyi. Semua pelayan, termasuk Bi Sumi, tampaknya sudah beristirahat di paviliun belakang.

Lampu-lampu utama telah dipadamkan, hanya menyisakan lampu-lampu dinding berwarna kekuningan yang memancarkan pendar temaram yang tenang.

Renard dan Arumi melangkah masuk berdampingan. Arumi melepas sepatu hak tingginya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa membangunkan Mama Sofia di lantai atas.

"Ikut aku sebentar," bisik Renard tiba-tiba, menoleh ke arah Arumi setelah ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja lobi.

Arumi mengerutkan dahinya samar, namun tetap mengangguk patuh. "Ke mana?"

"Ke ruang kerjaku," jawab Renard pendek. Ia kembali menggandeng tangan Arumi, menuntunnya menaiki anak tangga marmer satu per satu menuju lantai dua, lalu berjalan melewati koridor panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar yang kokoh.

Renard membuka pintu tersebut, menyalakan lampu meja kerja yang temaram, menciptakan atmosfer yang tenang di dalam ruangan yang biasanya dipenuhi oleh tumpukan dokumen bisnis bernilai triliunan rupiah tersebut.

Arumi melangkah masuk, memandangi ruangan yang menjadi saksi bisu di mana pertama kali mereka menandatangani surat perjanjian pernikahan kontrak mereka beberapa bulan yang lalu.

Renard berjalan menuju ke balik meja kerja mahoganinya yang besar. Pria itu tidak duduk, melainkan berdiri di depan sebuah lukisan abstrak besar yang tergantung di dinding belakang mejanya.

Dengan gerakan yang terlatih, ia menggeser bingkai lukisan tersebut, menampilkan sebuah brankas baja digital tersembunyi di baliknya.

Arumi berdiri terpaku di tengah ruangan, memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan rasa penasaran yang membuncah.

Pip, pip, pip, klik.

Suara mekanisme kunci brankas yang terbuka terdengar memecah keheningan ruangan. Renard merogoh ke dalam bagian terdalam brankas tersebut, lalu mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang sangat tebal.

Map yang sangat Arumi kenali, dokumen yang berisi lembaran-lembaran kertas bermeterai yang selama ini mendikte dan membatasi setiap langkah kaki dan interaksi mereka sebagai suami istri tiruan.

Renard berjalan memutari meja kerjanya, melangkah mendekati Arumi hingga jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia mengangkat map cokelat itu di antara mereka.

"Malam ini, di depan meja ini, kita memulai semuanya dengan sebuah kebohongan yang tertulis," ujar Renard, sepasang matanya menatap langsung ke dalam manik mata Arumi dengan kejujuran yang menelanjangi jiwa.

"Kertas-kertas di dalam map ini adalah bukti betapa pengecutnya aku yang mencoba mengukur sebuah hubungan manusia dengan angka dan pasal-pasal hukum."

Renard membuka map tersebut, mengeluarkan bundelan surat perjanjian kontrak pernikahan mereka. Tanpa ragu sedikit pun, dan tanpa ada gurat penyesalan di wajah tampannya, Renard mencengkeram ujung kertas-kertas tebal tersebut.

Sreeek! Sreeek!

Suara kertas yang robek menjadi dua bagian terdengar begitu nyaring di dalam ruang kerja yang sunyi. Renard merobek dokumen itu berulang kali, mencabiknya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi memiliki arti atau kekuatan hukum apa pun di dunia ini.

Pria itu membuka genggaman tangannya, membiarkan puing-puing kertas usang tersebut jatuh berserakan di atas lantai marmer, seperti runtuhnya dinding ego yang selama ini memisahkan mereka.

Arumi menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru kembali merebak di sudut matanya, berkilau di bawah temaramnya lampu ruangan.

"Sekarang, tidak ada lagi kontrak, Arumi. Tidak ada lagi masa berlaku, tidak ada lagi batasan pasal, dan tidak ada lagi denda materi," ucap Renard parau, melangkah maju dan merengkuh tubuh Arumi ke dalam pelukan hangatnya yang protektif.

"Yang tersisa di rumah ini hanyalah aku, kamu, dan pernikahan kita yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, Nyonya Arumi Wijaya. Sepenuh hatiku."

Arumi membalas pelukan erat itu, membenamkan wajahnya di dada bidang Renard, membiarkan kebahagiaan yang meluap memenuhi seluruh rongga dadanya. "Aku juga mencintaimu, Renard. Lebih dari apa pun."

Malam itu, di dalam ruang kerja yang dulunya dingin, janji baru yang tak tertulis namun abadi telah terpatri kuat di dalam jiwa mereka berdua—sebuah awal dari lembaran hidup yang sesungguhnya tanpa ada lagi akhir yang membatasi.

1
Rakha Al Badri Yasin
bagus😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!