NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Di Balik Senyuman

Pukul delapan kurang lima menit. Shana tiba di lobi perusahaan dengan napas terengah. Ia melangkah masuk sambil membawa tas kerja.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi."

Ia membalas sapaan satpam dengan senyum ramah, lalu menuju lift. Saat pintu lift hampir tertutup...

"Tunggu!"

Suara yang sangat dikenalnya membuat Shana refleks menekan tombol buka. Via berlari kecil menghampiri.

"Huft... untung masih keburu."

Shana tertawa.

"Kamu kesiangan lagi?"

"Bukan, jalanan macet."

Mereka berada di dalam lift bersama. Via melirik wajah Shana beberapa kali.

"Hm..."

"Apa?"

"Kamu kelihatan beda."

Shana langsung salah tingkah.

"Beda apanya?"

"Lebih cerah."

"Masa?"

"Iya."

Via mendekat sambil menyipitkan mata.

"Kamu pakai skincare baru?"

Shana terkekeh gugup.

"Perasaan biasa saja."

"Aneh..."

Via masih memperhatikannya.

"Rasanya ada yang berubah."

Shana buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Kamu sendiri bagaimana? Belanja apa saja kemarin?"

"Jangan bahas itu."

"Kenapa?"

"Aku khilaf karena banyak diskon besar-besaran."

"Kok bisa."

Via langsung bercerita panjang lebar tentang diskon yang didapatnya.

Shana mengembuskan napas lega.

Untung saja... Via tidak melanjutkan pertanyaannya.

Sesampainya di ruang kerja, Shana langsung menyalakan laptop. Ia baru saja duduk ketika ponselnya bergetar pelan.

"Sudah sampai."

Shana tersenyum tipis membaca pesan dari Evan. Ia memastikan tidak ada yang memperhatikannya sebelum membalas.

"Sudah."

Tak lama kemudian balasan masuk.

"Syukurlah. Semangat bekerja, ya."

Shana membalas singkat.

"Kamu juga."

Beberapa detik kemudian...

"Jangan terlalu merindukanku."

Shana spontan menahan tawa.

"Siapa yang bilang aku merindukanmu?"

Evan ikut tertawa membacanya.

"Tapi aku merindukanmu."

Pipi Shana mendadak memerah hingga ke telinga, senyumnya tak kunjung hilang membaca pesan itu.

"Tuh, kan!"

Suara Via yang tiba-tiba terdengar disampingnya membuat Shana hampir menjatuhkan ponselnya.

"Astaga, Via!"

Via menyilangkan kedua tangannya sambil memperhatikan wajah Shana yang memerah.

"Aku sudah curiga dari tadi."

"Curiga apa?"

"Kamu senyum-senyum sendiri."

"Mana ada."

"Ada."

Via menyipitkan matanya.

"Dari tadi senyummu aneh."

Shana berusahan tetap tenang.

"Aku cuma baca sesuatu yang lucu."

Via mengulurkan tangan.

"Sini, lihat."

"Hah?"

"Kasih ponselnya."

Shana langsung memeluk ponselnya erat-erat.

"Tidak mau."

"Nah! berarti benar ada yang disembunyikan."

Shana mulai panik.

"Via..."

"Tunjukan saja. Jangan-jangan lagi chatting sama..."

Belum sempat Via menyelesaikan kalimatnya...

Tring... tring...

Telepon kantor di meja Shana tiba-tiba berdering.

Shana langsung mengembuskan napas lega.

"Sebentar."

Ia segera mengangkat gagang telepon.

Via masih berdiri di sampingnya memperhatikan.

"Kenapa kamu tidak membalas pesanku lagi."

Seorang pria yang tak lain adalah Evan yang berada di ujung telepon saat ini. Shana terkejut, wajahnya sedikit memucat.

"Pak Evan."

Kening Evan berkerut mendengarnya.

Via yang mendengar kata "Pak" langsung kehilangan minat dan kembali ke mejanya.

Dengan berbisik ia berpamitan pada Shana.

Shana pun mengembuskan napas lega.

"Kenapa kamu meneleponku?"

"Kamu diam saja, tak merespon pesanku."

"Via tiba-tiba saja datang tadi."

"Dia masih di dekatmu?"

"Tidak baru saja pergi."

"Datanglah ke ruanganku."

"Untuk apa?"

"Tentu saja untuk menemuiku."

"Evan, jangan bercanda."

"Aku serius, bawakan laporan anggaran proyek yang kemarin ke ruanganku."

"Oke, Pak."

"Hm?"

Shana tersenyum jahil.

"Maaf... Refleks."

"Kamu sengaja."

"Iya."

Evan terkekeh.

"Aku tunggu."

Sambungan telepon pun terputus. Shana segera mengambil map biru dari mejanya, lalu berjalan menuju ruang CEO.

Tok... Tok...

"Masuk."

Shana membuka pintu perlahan.

"Permisi, Pak."

Evan yang sedang menandatangani beberapa dokumen hanya mengangkat kepala sekilas. Menjaga ekspresinya tetap profesional.

"Laporannya."

Shana melangkah mendekat dan meletakkan map biru di atas meja.

"Ini laporan anggaran proyek yang Bapak minta."

Evan menerimanya sambil mengangguk.

"Terima kasih."

Shana berdiri tenang, menunggu kalau-kalau masih ada instruksi lain. Evan membuka map itu, membalik beberapa halaman, lalu mengangguk pelan.

"Sudah lengkap."

Shana mengembuskan napas lega.

"Kalau begitu, saya kembali ke ruangan."

Baru saja ia berbalik, suara Evan kembali menghentikannya.

"Tunggu."

Shana menoleh.

"Ehm... ada revisi, Pak?"

Evan menggeleng pelan.

"Bukan."

Shana mengernyit.

"Lalu?"

Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis

"Kenapa rasanya kita jadi kaku begini?"

Shana langsung melirik ke arah pintu.

"Pelankan suaramu."

"Kenapa?"

"Kalau ada yang dengar bagaimana?"

Evan ikut melirik ke arah pintu, lalu kembali menatapnya.

"Tidak ada siapa-siapa."

"Kamu yakin?"

"Yakin."

Shana menghela napas pelan.

"Ini kantor, Evan."

"Aku tahu."

"Tapi..."

"Aku cuma ingin melihatmu sebentar."

Kalimat itu membuat Shana kehilangan kata-kata.

"Kemarin kita seharian bersama," gumamnya pelan.

"Itu kemarin."

"Pagi tadi juga sudah mengirim pesan."

"Itu hanya pesan."

Evan tersenyum tipis.

"Tetap tidak sama dengan melihatmu secara langsung."

Pipi Shana kembali menghangat.

"Kamu ini..."

"Itu sebabnya aku meminta kamu membawa laporan."

Shana menatapnya tak percaya.

"Jadi... laporan ini hanya alasan?"

"Bukan."

Evan menutup map itu perlahan.

"Laporannya memang perlu aku periksa."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih pelan.

"Tapi aku juga memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu pacarku."

Shana spontan menepuk pelan lengan Evan.

"Kamu benar-benar berani."

Evan terkekeh pelan.

"Tenang."

"Kalau ada yang masuk?"

"Aku akan kembali menjadi CEO."

Shana menggeleng sambil tersenyum.

"Sudahlah, aku harus kembali bekerja."

"Ya.. aku mengerti."

Baru beberapa langkah menuju pintu, suara Evan kembali menghentikannya.

"Shana."

Shana menoleh.

"Ya?"

"Nanti kita pulang bersama."

Senyum tipis kembali menghiasi wajah Shana.

"Oke."

la membuka pintu dan melangkah ke luar.

Tanpa disadarinya, senyum di bibirnya belum juga menghilang.

Namun baru beberapa langkah berjalan...

Senyumnya perlahan memudar.

Di ujung koridor berdiri seseorang yang sedang memandang ke arahnya.

Nena.

Wanita itu tampaknya baru saja datang. Tatapannya bergantian mengarah ke Shana, lalu ke pintu ruang CEO yang baru saja tertutup. Tatapan mereka bertemu. Nena tersenyum tipis.

"Shana."

Shana membalas senyum itu dengan sopan.

"Selamat pagi, Bu Nena."

"Selamat Pagi."

Nena melangkah mendekat

"Tadi... dari ruangannya Evan?"

Jantung Shana berdegup sedikit lebih cepat. Namun ia tetap berusaha terlihat tenang.

"Iya, Bu. Mengantar laporan yang diminta Pak Evan."

"Oh..."

Nena mengangguk pelan.

"Laporan sepagi ini?"

"Iya, Pak Evan meminta saya membawanya secepat mungkin."

Jawaban itu terdengar masuk akal.

Nena tersenyum tipis, meski entah mengapa tatapannya masih tertahan beberap detik pada wajah Shana.

"Kamu kelihatan... ceria sekali pagi ini."

Shana refleks menyentuh pipinya sendiri.

"Benarkah?"

"Iya."

Nena tersenyum kecil.

"Sepertinya ada kabar baik."

Shana terkekeh pelan, berusaha menyembunyikan kegugupan nya.

"Mungkin karena pekerjaan sedang lancar."

"Hm..."

Nena mengangguk, meski dalam hati ia belum sepenuhnya yakin.

"Kalau begitu, selamat bekerja."

"Terima kasih, Bu."

Setelah Nena berlalu menuju ruang CEO, Shana mengembuskan napas lega.

"Untung saja..."

Gumamnya pelan.

Sementara itu, di balik pintu ruangannya, Evan yang sempat mendengar percakapan singkat di luar hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.

Sepertinya...

menyembunyikan hubungan mereka tidak akan semudah yang dibayangkan.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kepo bNgett kau Nena.wkwkwk
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
gaskeun udh direstui smaa nenekmu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
menyerah berkas laporan sambil ketemu pacar 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
ya kan lagi kasmaran makanya senyum² sendiri 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Aamiin 🤲
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
wajah bahagiamu gak bisa bohong lagi Evan 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
dapat kecupan dikening🤔🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
dibuat salting terus Shana sama Evan 🤔🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Astaga sampai ketiduran 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yang sudah jadian masih suka salah tingkah 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
suara ponsel mengganggu saja 🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
cieeee langsung salting nih kayaknya
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
Alhamdulillah akhirnya perasaan itu diungkapkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!