Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 7 – Lorong Kenangan yang Menyesatk
Asap kemenyan dan daun sirih membungkus tubuh Raka seperti selubung samar, mengeluarkan bau tajam yang menusuk hidung. Ia melangkah perlahan menyusuri Gang Melati, jari-jarinya mencengkeram gagang pisau kayu jati hingga ruas-ruas jarinya memutih. Setiap langkahnya disertai detak jantung yang berirama kencang, seolah ingin meledak kapan saja.
Semakin dekat ke rumah tua itu, udara terasa makin kental dan dingin. Bau apek bercampur besi berkarat mulai menyelimuti indra penciumannya, tapi tertutup sebagian oleh asap yang ia bawa. Kali ini, tidak ada suara bisikan atau langkah kaki yang mengikuti—seolah kehadiran asap itu membuat mereka bingung dan ragu untuk mendekat.
Begitu sampai di depan pagar besi, pagar itu tidak terbuka dengan sendirinya seperti sebelumnya. Ia harus mendorongnya sendiri, dan suara berderitnya terdengar panjang serta melengking, memecah keheningan malam. Di balik semak belukar yang tinggi, bayangan-bayangan samar terlihat bergerak cepat, bersembunyi di balik dinding dan pohon tua, mengawasinya dari kejauhan.
“Fokus… jangan lihat mereka, jangan dengarkan apa pun,” bisik Raka pada dirinya sendiri, mengingatkan pesan Pak Surya.
Ia melangkah naik ke teras kayu yang sudah lapuk. Setiap pijakan menimbulkan bunyi berderit yang keras, seolah memanggil perhatian penghuni di dalam. Pintu kayu utama terkatup rapat, catnya mengelupas menampakkan serat kayu tua yang hitam legam. Dengan tangan gemetar, Raka mendorongnya perlahan.
Kreeeekk…
Pintu terbuka, dan hembusan udara dingin yang jauh lebih kuat menerpa wajahnya, membawa serta aroma kertas tua yang membusuk dan sesuatu yang berbau seperti daging yang sudah lama terpendam. Cahaya redup dari wadah pembakar kemenyan menjadi satu-satunya penerang, memancarkan pantulan aneh pada debu-debu halus yang melayang di udara.
Begitu melangkah masuk, suasana di dalam berubah drastis.
Awalnya terlihat gelap dan kosong, namun perlahan seolah lapisan debu waktu terangkat. Ruang tamu yang lapuk itu berubah kembali seperti kondisinya 30 tahun yang lalu. Kursi rotan terawat rapi, meja kayu berkilau, dan di atasnya tersaji teh manis beserta kue-kue kering yang masih terlihat segar. Lampu gantung kuno menyala dengan cahaya kuning lembut, menerangi dinding yang dipenuhi foto keluarga yang terbingkai indah.
Di salah satu sudut ruangan, ia melihat Nyonya Handoko sedang menjahit sambil tersenyum, sedangkan Tuan Handoko membaca koran di kursi malas. Kedua anak mereka bermain lari-larian mengelilingi ruangan, tertawa riang seolah tidak menyadari kehadiran tamu tak diundang itu.
Raka tertegun sesaat, matanya nyaris terpesona oleh pemandangan yang begitu damai dan nyata. Suara tawa dan percakapan hangat memenuhi telinganya, menghilangkan rasa takut yang semula ada. Rasanya seperti masuk ke rumah orang yang sudah lama dikenal, tempat yang terasa hangat dan aman.
“Lihat… tempat ini indah, bukan? Tidak ada yang perlu ditakutkan. Tinggalah saja bersama kami, semua ketakutanmu akan hilang selamanya,” suara lembut Nyonya Handoko terdengar, kepalanya mendongak dan menatap Raka dengan tatapan ramah.
Langkah Raka melambat, pikirannya mulai kabur. Tangan yang memegang pisau perlahan mengendur. Rasanya sangat menggoda untuk duduk dan ikut menikmati ketenangan itu—meninggalkan semua masalah, ketakutan, dan kesulitan hidupnya di luar sana.
Namun, tepat saat ia hendak melangkah mendekat, asap pembakar itu melambung naik mengenai wajahnya, membuatnya terbatuk hebat. Rasa perih di hidung dan matanya seketika membangunkan kesadarannya yang hampir terlelap.
“Ini jebakan! Semua ini hanya ilusi!” teriak suara hati Raka dengan keras.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat lalu membukanya kembali sekuat tenaga. Seketika, pemandangan indah itu lenyap. Yang tersisa hanyalah ruangan kosong yang dipenuhi debu tebal, perabotan yang hancur dimakan rayap, jendela pecah, dan foto-foto di dinding yang wajahnya tergores hingga tak berbentuk lagi. Suara tawa berubah menjadi dengungan ngeri, dan cahaya kuning itu berganti menjadi kegelapan yang dihiasi sepasang mata putih yang mulai menyala dari setiap sudut ruangan.
“Kau berani memandang apa yang bukan milikmu?! Kenapa kau tidak tinggal diam saja?!” suara menggelegar bergema di seluruh ruangan, membuat dinding kayu bergetar hebat.
Raka tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya agar tidak menatap mata mereka, lalu berjalan cepat menuju tangga yang berada di sisi ruangan. Berdasarkan ingatan cerita dari Pak Surya, kamar utama tempat Nyonya Handoko menyimpan barang berharganya ada di lantai dua.
Tangga itu berderit keras saat ia menaikinya. Dinding di sampingnya terasa basah dan dingin saat tersenggol bahunya, dan suara bisikan mulai menyerang dari segala arah lagi, kali ini penuh kemarahan dan ancaman.
“Kembalilah… serahkan dirimu… jangan cari masalah yang tidak perlu… jalan keluar sudah tertutup untukmu…”
Sesampainya di lantai dua, koridornya sempit dan panjang, gelap gulita seolah tak berujung. Hanya cahaya dari pembakar kemenyan yang menuntun jalannya. Di sepanjang sisi koridor, pintu-pintu kamar tertutup rapat, namun dari balik setiap pintu terdengar suara-suara memilukan—tangisan, teriakan pertengkaran, hingga suara benda yang dihantam keras.
Saat ia melewati salah satu pintu, pintu itu mendadak terbuka sedikit, dan sebuah tangan kurus berlumuran debu melesat keluar berusaha mencengkeram lengannya. Raka bereaksi cepat, mengayunkan gagang pisau kayu jati itu ke arah tangan tersebut. Begitu kayu itu menyentuh kulit tangan pucat itu, terdengar suara mendesis seperti daging terbakar, dan tangan itu segera ditarik kembali ke dalam sambil mengeluarkan jeritan kesakitan.
“Besi tua dan kayu suci… jadi kau membawa pertahanan! Tapi itu tidak akan bertahan lama di sini!”
Raka mempercepat langkahnya, napasnya mulai memburu. Ia melihat pintu paling ujung yang masih tertutup agak lebih rapi dibandingkan yang lain—itu pasti kamar utama. Begitu ia mendekatinya, pintu itu terbuka perlahan dengan sendirinya, mengeluarkan cahaya samar berwarna keabu-abuan dari dalam.
Di ambang pintu itu berdiri sesosok bayangan tinggi, mengenakan pakaian yang sudah usang dan koyak, wajahnya tersembunyi di balik rambut panjang yang menjuntai menutupi seluruh wajahnya. Itu adalah Nyonya Handoko, yang berdiri menghalangi satu-satunya jalan masuk.
“Siapa pun yang mengganggu kedamaian kami, harus membayar dengan nyawanya,” ujarnya dengan suara yang pecah dan menggema.
Raka menggenggam erat pisau di tangannya, mengangkat wadah pembakar lebih tinggi agar asapnya makin tebal melindungi dirinya. Matanya tetap menunduk, tidak berani menatap lurus, tapi suaranya keluar tegas dan mantap meski bergetar.
“Aku tidak datang untuk mengganggu kedamaian… aku datang untuk membebaskan kalian dari ikatan yang menyiksa ini selamanya.”
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰