Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zefano jatuh sakit
Seminggu lebih sikap Zefano di perusahaan tidak jelas moodnya. Merasa tak ada lagi yang perlu di rahasiakan. Zefano dengan berani memimpin perusahaan cabang Indonesia nya sendiri.
Yah.
Selama ini dia menutupi semuanya, dari keluarga, kerabat dan sanak sodara. Hanya dirinya dan orang-orang yang dia percayai tau tentang siapa dia sebenarnya.
Seorang pria dengan segudang kejeniusan, pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang eksportir itu, menunjukkan dirinya dengan resmi di mata publik.
Namun selama seminggu ini, pria itu agak tidak fokus mengurus perusahaan.
Zefano kerap melamun, kadang mengigau menyebut nama Alisa di tengah rapat. Dan sedikit saja yang menyenggolnya. Ia akan menghajarnya tanpa pandang bulu.
Bima, asistennya itu pun merasakan hal yang serupa. Bosnya jadi jarang fokus, kadang linglung sendiri dan melakukan hal teledor yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Hal itu tak lain karena kegundahan hatinya yang belum menemukan keberadaan istrinya, Alisa.
Pria itu jadi suka bertindak semaunya sendiri dan kerap kehilangan kendali diri. Seperti sekarang ini. Saat sedang rapat, Zefano tak faham penjelasan dari asistennya. Semuanya Bima yang mengurus, sementara pria itu malah melamun seolah memikirkan hal lain yang tak lebih penting dari rapat siang ini.
"Jadi bagaimana, Tuan?"
Lamunan Zefano spontan memudar, tergagap kecil, lantas menegakkan kembali punggungnya, merapihkan jasnya serampangan, "Ahhh iya, lanjutkan."
Bengong langsung seisi ruangan. Zefano benar-benar tidak nyambung dengan pembahasan rapat. Padahal rapat sudah selesai, tapi pria itu malah menyuruhnya untuk lanjut.
Zefano tertegun, "Ahh...sudah selesai yah, kalian boleh kembali ke ruangan kalian."
Mereka semua saling bersilat mata. Meski begitu mereka tak bisa mengucapkan apapun. Lebih baik menjauh dari bos mereka jika tidak mau mendapat amukan darinya.
Zefano lekas bangkit, menoleh ke arah Bima yang sedang menutup layar monitor.
"Masih ada lagi, Bima?" tanya Zefano datar.
Bima lantas menoleh, menghadap ke arah Zefano, "Tidak ada, Tuan."
Wajah Zefano langsung sumringah. Pria itu lantas keluar dari ruang rapat dengan cepat. Sementara Bima hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, menggeleng lemah. Ikut menyusul di belakang Zefano.
Zefano tak pernah melewatkan satu celahpun untuk mencari keberadaan Alisa. Meski rasanya sudah hampir putus asa, Zefano selalu meyakinkan dirinya bahwa Alisa pasti bisa di temukan. Hanya saja mungkin belum waktunya.
"Apa anda melihat wanita ini melintas sini?"
"aduhh...belum pernah ehh."
*
"Pak, anda melihat istri sa—"
"Saya tidak tau!“
*
"Mas, pernah lihat wanita ini?"
"Maaf mas, gapernah."
*
"Pak, apa anda pernah bertemu istri saya, yang ini?"
"Bisa istri sendiri hilang, anda waras?"
*
Zefano sandarkan tubuhnya pada pohon kelapa, ia tatap sunset di ujung laut yang memancarkan sinar orange yang begitu memukau. Pencariannya seharian ini tak membuahkan hasil apapun, hanya lelah yang semakin mengikis kewarasannya.
Tanpa sadar bibirnya tertarik tipis, bersamaan dengan air matanya yang juga luruh perlahan. Zefano letakkan foto Alisa di dadanya. Sudah hampir satu bulan ia tak menemukan keberadaan Alisa. Zefano begitu merindukannya, lebih daripada apapun.
"Sebenarnya kamu dimana, sayang? Aku benar-benar merindukanmu....aku mohon kembalilah, bukankah kamu berjanji akan mengenyangkan perutku dengan masakanmu, Alisa...."
KRUKK!!
Zefano tatap perutnya dengan senyum getir, "Lihat, Alisa. Kamu dengar sendiri bukan?"
Ia belum ada sarapan dari pagi. Nafsu makannya hilang. Badannya juga mulai agak kurusan sekarang. Mental dan kesehatannya benar-benar dihantam habis-habisan. Dan mungkin hanya Alisa saja lah obatnya.
Ia tatap nanar langit yang mulai bersemu merah ke orange-an.
"Padahal aku ingin mengajakmu ke pantai. Bukankah kamu belum pernah ke pantai sayang? Besok kita ke pantai bersama-sama yah."
Zefano tak sanggup lagi mengucapkan kata-kata, ia menangis sejadi-jadinya d pesisir pantai yang sepi itu, memeluk foto Alisa yang hanya satu-satunya yang ia punya.
"Aku merindukanmu, Alisa...." rintihnya dengan bibir bergetar.
"Aku salah, mohon maafkan suamimu yang bodoh ini sayang."
Namun ucapan tetaplah hanya ucapan. Sesering apapun ia menyebut nama Alisa. Gadis itu tidak akan kembali hanya dengan disebut namanya saja. Dia butuh di jemput, namun masalahnya Zefano tak tahu wanitanya itu sedang berada dimana sekarang.
"Aku tidak tau keadaanmu. Apa kamu sehat? Kamu tidak tidur di kamar sempit dan pengap kan sayang?" lirihnya berbicara sendiri, menatap matahari yang tenggelam itu seolah Alisa.
"Aku sudah mencarimu kesana kemari, tapi aku tak kunjung menemukanmu. Sebenarnya kau dimana sayang?" rintihnya lagi, kesadarannya mulai menghilang.
"Boss!!!" seru Bima berlari dari ujung jalan.
Zefano tak menggubris. Tubuhnya sudah sangat lemah, kesadarannya perlahan hilang. Tubuh Zefano langsung ambruk di atas pasir, dengan foto Alisa yang begitu erat di genggamannya.
Sementara Bima yang melihat bos-nya seperti itu tentu panik. Segera memapah Zefano menuju mobil mereka. Dibantu oleh beberapa bodyguard lain.
Zefano langsung dilarikan ke rumah sakit saat dirinya dinyatakan tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat sepucat mayat, tubuhnya gemetar, mengejang lirih. Membuat Bima dan segenap bawahan lain diserang rasa panik.
"Tolong segera periksa Tuan saya, Dok!" pekik Bima pada sang dokter.
Dokter itu pun mengangguk antusias, segera membawa Zefano masuk ke dalam ruang IGD bersama beberapa perawat.
Bima mondar-mandir panik di depan ruang IGD. Keningnya mengerut liar. Ia sendiri pun bingung harus berbuat apa. Keberadaan Alisa benar-benar tidak bisa dilacak. Seolah gadis itu ditelan bumi saking susanya dicari jejaknya.
Tak berselang lama dokter itu keluar dari ruangannya. Bima yang setia menunggu lantas mendekat pada sang dokter, "Tuan saya kenapa, Dok?"
Dokter itu menghela nafas panjang, "Tolong peringatkan tuan anda agar tidak menekan fikirannya terlalu berlebih. Perutnya kosong sedari pagi, ia juga terkena typus. Fikirannya terlalu di tekan." jelas sang dokter.
Bima tak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Ia hanya bisa sebisa mungkin menjaga taunnya sampai kondisinya membaik.
Sementara Alisa, kini sudah pulang ke Indonesia. Ia resmi diangkat keluarga oleh Nyonya Zahroh berhubung dirinya tak lagi punya sanak saudara yang lain. Semua anaknya sibuk dengan bisnis mereka. Sementara dia merasa kesepian. Untungnya ada Alisa. Dan syukurnya keluarga Nyonya Zahroh begitu terbuka akan dirinya.
"Sini sayang, masuk. Ini rumah Oma." ucap Nyonya Zahroh tersenyum tipis.
Alisa tersenyum canggung, menatap sekeliling gugup. Bagaimanapun, rumah Nyonya Zahroh begitu besar untuk ditinggali satu manusia saja.
"Mulai sekarang anggap rumah ini rumahmu, yah. Ahh iyaa...untuk pendaftaran kuliah kamu Alhamdulillah sudah cocok, Alisa. Universitas siap menerima kamu dengan tangan terbuka." jelas Nyonya Zahroh lagi, mengejutkan gadis itu.
Hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidup Alisa akan terjadi. Dulu, dia tidak punya harapan kuliah, ia memendam dalam-dalam impiannya itu demi menggunakan uang hasil keringatnya untuk bertahan hidup.
Sampai akhirnya Nyonya Zahroh datang, memberikannya peluang luas untuk menambah pengalaman dan mengejar kesuksesan.
Selama ini, Alisa ingin kuliah jurusan dokter, dan ia yakin akan mimpinya. Dengan dukungan penuh dari Nyonya Zahroh. Akhirnya ia bisa meraih impiannya.
Gadis itu lantas memeluk tubuh Nyonya Zahroh erat, menangis di pelukannya, "Makasih, Oma. Aku tidak akan melupakan kebaikan Oma!"