NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: RUMAH YANG TERASA ASING

Bab 32: Rumah yang Terasa Asing

Langkah kaki Revan terasa begitu berat saat sepasang sandalnya kembali menginjak ubin teras depan rumah keluarga Dirgantara. Beberapa jam yang lalu, tempat ini dipenuhi oleh sesak ratusan pelayat yang berdesakan memberikan ucapan belasungkawa serta untaian doa. Namun kini, setelah tanah merah di makam Ayah selesai dirapikan dan matahari mulai tergelincir turun melewati puncaknya, para tetangga perlahan pulang ke rumah masing-masing, menyisakan keheningan yang luar biasa pekat dan mencekam di bawah atap bangunan tua tersebut.

Revan berdiri diam di ambang pintu kayu yang terbuka lebar.

Kedua tangannya yang masih kotor oleh sisa-sisa tanah pemakaman menggantung lemas di sisi tubuh. Matanya yang bengkak dan merah bergerak menyapu seisi ruang tamu. Di sana, karpet beludru hijau tua masih tergelar rapi di atas lantai. Namun, dipan kayu tipis yang beberapa jam lalu membaringkan jasad kaku Ayahnya kini telah dipindahkan ke halaman belakang, menyisakan sebuah ruang kosong yang terasa begitu luas, hampa, dan sedingin es. Aroma pekat minyak kapur barus dan kelopak bunga melati yang mulai layu masih tertinggal pekat di udara, seolah terus-menerus memaku ingatan Revan pada fakta brutal bahwa ayahnya kini telah terkubur di dalam tanah.

Rumah ini... mendadak terasa begitu asing bagi Revan.

Padahal, ini adalah tempat di mana ia menghabiskan belasan tahun umurnya untuk tumbuh dewasa, berlarian di koridor, dan bernaung dari hujan. Namun sore ini, setiap sudut dinding cat putih yang mulai mengelupas itu seolah memancarkan aura penolakan yang tak kasat mata terhadap kehadirannya. Seolah-olah seluruh isi rumah ini sedang menatapnya dengan pandangan menuduh, mengutuknya sebagai anak pemberontak yang telat pulang dan hanya membawa sial bagi ketenangan keluarga.

Klek. Sreeet...

Suara pintu pagar besi yang digeser kasar mengejutkan Revan dari lamunannya. Ia menoleh cepat ke arah halaman depan, mendapati sosok Miko berjalan masuk sembari memapah tubuh Arka dengan sangat hati-hati.

Setelah kejadian pingsan yang mendramatisir di tepi lubang makam tadi pagi, Miko memang langsung melarikan Arka ke klinik terdekat di dekat komplek menggunakan mobil salah satu kerabat. Dokter klinik tadi mengatakan kepada Miko bahwa Arka hanya mengalami syok berat, kelelahan fisik yang ekstrem, dan stres akut hingga membuat asam lambungnya naik drastis—sebuah alasan medis standar yang sengaja dirangkai agar Revan tidak menaruh curiga sedikit pun.

Revan menatap lurus ke arah Arka yang sedang berjalan tertatih-tatih dengan wajah yang masih seputih kain kafan. Jaket hitam tebal membungkus tubuh kurus abangnya, dan sepasang mata Arka tampak begitu redup, layu, tanpa ada sedikit pun energi yang tersisa.

Melihat kondisi Arka yang tampak begitu rapuh, ego dan bias kebencian di dalam dada Revan yang sempat runtuh saat pemakaman tadi mendadak kembali bergejolak gila-gilaan. Filter salah paham di otaknya kembali aktif, meracuni logikanya dengan asumsi-asumsi yang kejam.

Lihat dia... batin Revan berbisik dengan sangat sinis, kedua rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menegang. Bahkan di hari pemakaman Ayah pun, dia masih harus menjadi pusat perhatian semua orang. Dia pingsan, dia lemas, dia membuat semua orang panik dan melupakan duka untuk Ayah demi mengurus tubuh ringkihnya yang manja itu. Ayah mati karena serangan jantung akibat stres mikirin biaya kuliah dan ambisi akademisnya, tapi si anak emas ini bahkan gak punya cukup kekuatan untuk sekadar berdiri tegap melepas kepergian Ayah! Benar-benar beban keluarga!

"Van... tolongin gue, Van. Papah Abang lo masuk ke kamar. Badan dia lemes banget, gue gak kuat kalau sendirian," seru Miko setengah terengah-engah saat mereka tiba di depan teras.

Revan tidak bergerak satu senti pun dari posisinya di ambang pintu. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Arka dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kilatan amarah yang dingin, tajam, dan menusuk.

"Bawa aja sendiri ke kamarnya yang selalu dikunci itu, Mik. Kan dia anak emas di rumah ini, biasanya juga manja apa-apa harus dilayani dan dituruti," sahut Revan dengan nada suara yang teramat ketus dan dingin, sama sekali tidak menyembunyikan rasa muak yang kembali membakar ulu hatinya.

Arka yang mendengar kalimat ketus adiknya perlahan mendongakkan kepalanya yang terasa sangat berat. Sepasang mata cekungnya menatap Revan dengan binar yang dipenuhi oleh rasa bersalah dan duka yang teramat dalam. Arka tidak marah. Ia tidak membalas ketajaman kata-kata Revan. Anak sulung itu justru mencengkeram lengan baju Miko lebih erat, lalu berbisik lirih, "Gak apa-apa, Mik... Gue... gue bisa jalan sendiri ke kamar..."

Miko menatap Revan dengan pandangan mata yang tidak percaya sekaligus marah. "Van! Lo apa-apaan sih?! Bokap lo baru aja dikubur beberapa jam yang lalu, dan sekarang lo masih sempat-sempatnya sinis sama Abang lo sendiri yang jelas-jelas lagi sakit?!" Sentak Miko dengan suara tertahan, menahan rasa frustrasinya karena ia harus menjaga rahasia besar tentang penyakit Arka demi wasiat mendiang Om Dirga.

"Gue gak peduli dia sakit atau gak, Mik! Yang gue tahu, gara-gara semua ambisi dan kemanjaan dia, Ayah harus stres sampai jantungnya kena!" Tekan Revan dengan suara yang rendah namun bergetar hebat menahan badai emosi yang siap meledak di dalam dadanya.

Tanpa memedulikan Miko dan Arka lagi, Revan membalikkan badannya dengan kasar. Ia melangkah lebar-lebar menyusuri koridor tengah rumah, menuju ke arah dapur untuk membasuh tangannya yang kotor.

Saat melewati area meja makan, Revan kembali tertegun kaku. Di atas meja kayu itu, sebakul nasi dan semur daging yang dimasak Ibunya kemarin malam masih tersaji utuh, kini dikerubuti oleh beberapa ekor semut karena sudah dingin dan basi. Di sebelah meja makan, sebuah kursi kayu kosong tempat biasanya Ayah duduk sembari membaca koran pagi tampak melompong, menyisakan kesunyian yang luar biasa ganjil.

Tidak ada lagi suara dehaman berat Ayah yang menyuruhnya untuk duduk dengan sopan. Tidak ada lagi suara ketukan sendok Ayah yang menuntut ketertiban di rumah. Yang ada hanyalah keheningan malam yang mulai merayap masuk melalui ventilasi dapur, membungkus rumah Dirgantara ke dalam atmosfer asing yang teramat sangat menyiksa.

Revan menyalakan kran wastafel dapur, membiarkan air dingin mengalir deras membasahi kedua telapak tangan dan pergelangan tangannya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca kecil di atas wastafel. Wajahnya tampak begitu berantakan, kusut, dan dipenuhi oleh garis-garis kelelahan batin yang masif.

Ia benci rumah ini. Ia benci kenyataan bahwa ia terpaksa kembali ke tempat ini dalam kondisi kalah—kalah oleh takdir, dan kalah oleh rasa bersalah karena dia sempat kabur membawa dendam remaja. Namun, di tengah semua rasa frustrasi itu, ego Revan yang terluka menolak untuk menyalahkan dirinya sendiri secara penuh. Otaknya yang dipenuhi salah paham membutuhkan satu sosok untuk ditunjuk sebagai pemicu tragedi kematian Ayah ini... dan sosok itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Arka. Si anak emas peliharaan rumah yang selalu menguras tenaga dan pikiran Ayah demi masa depannya sendiri.

Bersambung....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
knp gak kasih tau aja sih
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!