NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Suasana kediaman Sismoko tampak begitu lengang di hari yang mulai merangkak siang. Pak Supri, yang sempat ditemuinya tadi pagi di depan gerbang, kini sudah tidak tampak lagi berjaga di posnya.

​Begitu bel rumah ditekan, tak butuh waktu lama hingga pintu besar itu terbuka.

​"Saka! Ayo, ayo masuk. Kenapa enggak langsung masuk saja sih? Kenapa harus pakai tekan bel segala, Nak? Seperti tamu saja kamu ini," sambut Marini, sang nyonya rumah, dengan senyuman hangat yang merekah di wajahnya.

​Rexsaka hanya menurut dalam diam, melangkah mengekor di belakang wanita paruh baya itu menuju ruang tamu.

"Mau ketemu pamanmu, ya? Paman lagi di kantor kalau jam segini, Ka," ucap Marini ramah, mengira kedatangan sang tentara muda adalah untuk mencari suaminya. Wanita itu menduga ada urusan pekerjaan penting yang belum selesai di antara mereka, mengingat beberapa hari yang lalu Rexsaka juga sempat datang ke rumah dengan tujuan yang sama, menemui Andy.

​"Bukan, Nyonya," sahut Rexsaka sopan.

​Meski dadanya saat ini diliputi amarah yang bergemuruh akibat kelakuan putri dari wanita di hadapannya, Rexsaka tetap berusaha keras menjaga sikapnya. Ia menolak menumpahkan kekesalannya di sini, sebab jauh di dalam hatinya, Rexsaka sangat menghormati Marini, wanita paruh baya yang selama ini selalu memperlakukannya dengan begitu tulus.

​Bugh!

​Sebuah tepukan mendarat di bahu tegapnya, cukup sukses membuat Rexsaka sedikit tersentak kaget.

​"Kamu tuh sudah Bibi bilang berkali-kali, panggil Bibi! Kamu itu sudah Bibi anggap seperti anak sendiri, Ka. Bibi enggak suka ya kamu panggil dengan sebutan 'Nyonya-Nyonya' begitu," omel Marini dengan nada gemas, menatapnya pura-pura kesal.

Melihat wajah sang tentara muda yang tampak kaku, Marini mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum maklum. Kehangatan seorang ibu begitu terpancar dari tatapan matanya, meluruhkan ketegangan formal yang selalu dibawa Rexsaka ke rumah ini.

​"Kalau bukan cari pamanmu, lalu ada perlu apa, Ka? Tumben sekali siang-siang begini main ke rumah," tanya Marini lembut, menanti jawaban dari pemuda yang sudah dianggapnya seperti darah daging sendiri itu.

"Saya mau bertemu Nona Nadya, Nyo..." Kalimat Rexsaka langsung terputus saat sepasang mata Marini memelototinya dengan jenaka namun penuh penekanan.

​"...Bibi," ralatnya cepat, buru-buru memperbaiki panggilannya sebelum sang nyonya rumah kembali melayangkan protes.

"Nadya?" beo Marini heran karena seumur-umur baru kali ini anak sopirnya ini mencari putrinya, namun binar kebahagiaan yang mendadak terbit di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

​"Oh, Nadya ada di kamarnya. Kamu langsung naik saja ke atas. Bibi kebetulan lagi sibuk di belakang, mau bantu Bik Siti dan yang lainnya beres-beres taman. Berantakan sekali gara-gara hujan angin semalam," lanjut Marini sembari menunjuk tangga, memberikan izin penuh tanpa tahu ketegangan apa yang sedang dibawa sang tentara muda ke rumahnya.

"Ayo, sana naik! Bibi tinggal ke belakang dulu, ya. Kasihan Mang Juki sama Pak Supri pasti repot mengatur taman di belakang. Padahal Bibi sudah panggil jasa pembersih taman, tapi jam segini belum datang juga," omel Marini panjang lebar, sebuah gerutu khas ibu-ibu yang akhirnya keluar juga.

​Mengurus rumah sebesar ini memang kerap membuatnya kerepotan, apalagi Marini sengaja tidak mempekerjakan banyak pelayan tetap. Untuk urusan sehari-hari, ia hanya dibantu oleh Bik Siti yang mengurus dapur. Sementara untuk urusan kebersihan makro, istri Andy Sismoko itu lebih memilih menyewa jasa pembersih harian yang datang berkala. Semua itu sengaja dilakukannya demi menjaga privasi, karena ia kurang menyukai suasana rumah yang terlalu ramai dan bising.

"Ka... kok malah melamun? Sana naik, katanya mau ketemu Nadya," tegurnya lagi saat melihat Rexsaka hanya diam mematung.

​Marini sebenarnya menangkap kilas keengganan di mata pemuda itu. Namun, demi memuluskan rencana terselubungnya untuk mendekatkan Rexsaka dengan sang putri, ia memilih mengabaikan sinyal tersebut.

"Sudah, sana! Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri," ucap Marini seraya menuntun dan sedikit mendorong tubuh tegap pemuda itu ke arah tangga dan lift yang letaknya berdampingan. "Kalau capek naik tangga, pakai lift saja. Kalau begitu, Bibi ke belakang dulu, ya."

​Begitu kalimatnya usai, Marini berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Rexsaka yang kini berdiri termangu di hadapan dua pilihan akses menuju lantai atas tersebut.

​Setelah mengembuskan napas panjang untuk menata kembali emosinya, Rexsaka akhirnya memilih melangkahkan kaki tegapnya, menapaki satu demi satu anak tangga marmer yang melingkar megah menuju lantai atas.

​Dari sudut lorong, Marini sempat menoleh memastikan. Melihat bayangan tubuh Rexsaka yang mulai menaiki tangga melingkar tersebut, seulas senyum puas penuh harap terkembang di bibirnya sebelum ia benar-benar melanjutkan langkah menuju taman belakang.

Sesampainya di depan pintu kayu berwarna putih bersih yang dihiasi gantungan boneka cantik di tengahnya, penanda kuat kamar seorang gadis dengan selera feminin khas Nadya, Rexsaka berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, menyapu bersih segala keraguan di wajahnya untuk kembali memasang raut datar yang dingin dan tak tersentuh, sebelum akhirnya melayangkan ketukan tegas pada permukaan pintu tersebut.

Rexsaka mulai mengetuk pintu. Ketukan pertama berlalu tanpa sahutan, namun ia masih berusaha menjaga sisa-sisa kesabarannya. Pada ketukan kedua, hanya keheningan sunyi yang kembali menyambut, membuat kening sang tentara muda mulai berkerut dalam.

​Hingga ketukan ketiga pun tetap tidak membuahkan respons sedikit pun, benteng kesabarannya akhirnya runtuh. Tanpa menunggu lebih lama, Rexsaka langsung meraih dan menekan gagang pintu, yang ternyata tidak dikunci sama sekali.

Cahaya dari koridor memudar, digantikan oleh temaramnya nuansa merah muda yang menyelimuti kamar Nadya. Udara terasa dingin dan hening. Di atas kasur yang luas, terlihat sebuntal selimut pink tebal, melingkar seperti kepompong.

​Rexsaka tahu, di situlah Nadya bersembunyi.

​Dia melangkah masuk, setiap jejak kakinya seakan bergema di ruangan yang sunyi itu. Tidak ada binar gembira di wajahnya, melainkan kekakuan yang mencekam.

Begitu langkahnya sampai di samping ranjang, tepat di hadapan gundukan selimut tersebut, Rexsaka berdiri menjulang.

Sepasang matanya menatap tajam ke arah sosok di balik kain tebal itu, mencoba menerka apakah gadis itu benar-benar terlelap atau hanya sedang berpura-pura tidur untuk menghindarinya.

​"Nona, kita harus bicara," ucapnya. Suaranya terdengar rendah dan dingin, memecah keheningan kamar yang temaram.

Tetap tidak ada respons. Sepasang kelopak mata itu bergeming dalam pejamnya, membuat kesabaran Rexsaka yang sejak tadi diuji kini benar-benar berada di titik didih. Tanpa aba-aba, ia menyentak selimut yang membungkus tubuh Nadya lalu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.

​Seketika, hawa panas yang menyengat dari kulit Nadya menyapa telapak tangannya.

Denyut kekhawatiran sempat tebersit di dada Rexsaka, namun itu hanya bertahan beberapa detik, sampai sepasang matanya yang jeli menangkap ujung selembar handuk kecil yang menyembul dari balik kolong tempat tidur.

​Rexsaka langsung berjongkok dan menarik benda tersebut. Benar saja, di sana tersembunyi sebuah baskom kecil berisi air hangat lengkap dengan handuk kompresnya. Akal sehatnya langsung berputar cepat, jika handuk hangat ini memang digunakan untuk meredakan demam, mana mungkin Nadya menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur?

​Seketika itu juga, rasa khawatir yang sempat mampir langsung menguap tak berbekas, berganti dengan rasa dongkol yang membakar dada karena trik manipulasi murahan ini. Rasa kesalnya memuncak menyadari bahwa ia baru saja dibohongi.

"Saya tahu Anda hanya berpura-pura. Lebih baik bangun sekarang, atau saya sendiri yang akan menyeret Anda keluar dari kamar ini!" ancam Rexsaka, sepasang netranya menghunus tajam ke arah Nadya yang akhirnya perlahan membuka mata.

​"Kak Rex? Sejak kapan Kakak di sini?" tanya Nadya dengan nada yang dibuat-buat lemas, berpura-pura terkejut.

​"Sudahi sandiwara Anda, Nona. Ikut saya sekarang," potong Rexsaka dingin sambil mencengkeram lengan Nadya, memaksanya untuk bangkit dari atas kasur.

​"Nggak mau! Memangnya mau ke mana, sih? Aku lagi nggak enak badan, Kak. Badanku panas, sepertinya aku demam," rengek Nadya, masih mencoba bertahan dengan kebohongannya.

​"Demam?" Rexsaka mendengus remeh. "Sejak kapan orang demam suhu tubuhnya senormal ini?"

​Bersamaan dengan kalimat itu, telapak tangan Rexsaka bergerak naik dan menempel di leher Nadya untuk membuktikannya. Sentuhan tiba-tiba itu seketika membuat Nadya menahan napas. Jantungnya bertalu hebat di balik rongga dada, berguncang bukan lagi karena takut kebohongannya terbongkar, melainkan karena ini pertama kalinya Rexsaka menyentuhnya seintim ini.

Namun, rasa gugup yang menggelitik itu mendadak sirna, tergantikan oleh ketakutan yang jauh lebih besar begitu melihat apa yang dilakukan Rexsaka selanjutnya.

​"Dan ini?" tanya Rexsaka dingin. Sudut matanya melirik ke bawah, seraya kaki tegapnya bergerak menggeser baskom berisi air hangat beserta handuk kompres dari balik kolong tempat tidur, mengeksposnya tepat di depan mata Nadya.

​Mampus! Ketahuan sudah, umpat Nadya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri. Tahu begini, lebih baik aku pakai opsi kedua tadi: kabur lewat jendela! Konyol memang, dari sekian banyak ide untuk melarikan diri dari masalah, ia justru memilih drama sakit palsu yang payah ini.

​"Kak Rex... ma... maafin Nadya. Nadya mengaku salah. Nadya nggak mikir kalau dampaknya bakal sekacau ini," mohon gadis itu dengan suara bergetar. Ia langsung bersimpuh di atas kasur, menangkupkan kedua belah tangannya dengan derai air mata yang mulai membasahi pipi.

​Rexsaka mengembuskan napas panjang, mencoba menahan geram. "Baguslah kalau Anda sudah tau kesalahan anda. Jadi sekarang, ikut saya." Tanpa membuang waktu, Rexsaka kembali meraih pergelangan tangan Nadya, memaksa tangkupan tangan memohon itu terlepas begitu saja.

​"Ke mana?" tanya Nadya panik.

​"Mempertanggungjawabkan perbuatan Anda."

​"Apa?! Tapi, Kak..."

​Kalimat Nadya terputus seiring dengan sentakan tangan Rexsaka yang menarik tubuhnya untuk turun dari ranjang. Namun, sial tak dapat ditolak. Saat kakinya baru saja menjejak lantai, ia tak sengaja menginjak pinggiran baskom. Air hangat di dalamnya seketika tumpah menggenang, membuat keseimbangan Nadya hilang dan tubuhnya limbung ke arah Rexsaka.

​Mendapat serangan mendadak, Rexsaka refleks menahan pinggang Nadya agar gadis itu tidak terjerembap. Sialnya, saat ia mencoba melangkah mundur untuk memperkokoh pijakan, kakinya justru menginjak genangan air yang membuat lantai marmer itu menjadi luar biasa licin.

​Bruk!

​Rexsaka hilang keseimbangan dan telentang di lantai, dengan tubuh Nadya yang jatuh tepat di atas dadanya. Namun, kejutan tak berhenti di sana dalam sepersekian detik yang kacau itu, benturan tak terelakkan membuat bibir lembut gadis itu mendarat tepat di atas ranum bibirnya, mengunci napas keduanya dalam keheningan yang mendadak mati kutu.

​Di tengah posisi yang teramat intim dan mengejutkan itu, sebuah suara pekikan dari arah pintu seketika menyentak mereka berdua.

​"Ap... apa yang kalian lakukan?!"

​Nadya tersentak, langsung mendongak dengan wajah pias. "Mama?!"

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!