NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

"Masuk!" Seruan berat dan berwibawa terdengar dari balik pintu kayu tebal tersebut.

​Rexsaka mendorong pintu perlahan, lalu melangkah masuk seraya memberikan penghormatan militer yang sempurna. Nadya menyusul ragu di belakangnya, mengecilkan tubuh seolah ingin tak terlihat.

​Di balik meja kerja kayu jati yang megah, duduk seorang pria paruh baya berseragam lengkap dengan tiga mawar emas bertengger anggun di pundaknya, Mayor Ardi. Tatapan matanya tajam, memancarkan kepemimpinan dan ketegasan yang sanggup membuat siapa saja bergeming di tempat.

"Jadi, kamu membawa gadis itu kemari?" tanya Mayor Ardi, menatap tajam sosok yang berusaha menciut dan bersembunyi di balik punggung tegap Rexsaka.

​"Iya Komandan, saya butuh konfirmasinya langsung kepada anda" jawab Rexsaka datar tanpa riak emosi. Tanpa gestur ragu sedikit pun, ia menarik kursi di hadapan meja kerja sang komandan lalu mendaratkan tubuhnya di sana.

​"Duduklah," perintah Mayor Ardi lembut namun menyisakan ketegasan, melihat gadis itu masih saja berdiri kaku bagaikan patung.

Nadya menelan saliva dengan susah payah. Kedua telapak tangannya saling meremas erat, berusaha menyalurkan rasa gelisah yang membuncah. Kendati ia dikenal sebagai gadis yang berani di segala situasi, berada dalam impitan cengkraman atmosfer kaku militer tetap saja memoles parasnya dengan kecemasan yang nyata. Nadya sempat melirik ke arah Rexsaka, berharap mendapat setitik pertolongan, namun seperti biasa, pria itu hanya bertengger kaku tanpa peduli.

​Sambil mengembuskan napas panjang untuk menetralkan debar dadanya, Nadya akhirnya menarik kursi di samping Rexsaka. Baru saja ia menyadari bahwa pria paruh baya yang duduk di hadapannya saat ini adalah seorang komandan, atasan langsung dari tentara muda di sebelahnya.

​"Saya tidak suka berbelit-belit. Apakah benar Anda gadis yang ada di dalam video ini?" ujar Mayor Ardi seraya merengkuh ponsel dari sakunya. Ia memutar kembali rekaman yang sebelumnya sempat memperkeruh raut wajah Rexsaka, lalu menyodorkan layarnya tepat di hadapan Nadya.

​Hanya butuh satu lirikan singkat bagi Nadya untuk mengenali video itu. Tanpa sepatah kata pun, ia mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang kian menghimpit udara di antara mereka.

​"Kalau begitu," tatapan Mayor Ardi mengunci manik mata Nadya, "apa benar Anda adalah calon istri Kapten Rexsaka... dan saat ini sedang mengandung anaknya?"

​Nadya memalingkan wajah, melempar tatapannya pada Rexsaka. Pria bernetra gelap itu juga tengah menyergapnya dengan tatapan tajam dan menghujam.

​"Sebelumnya saya memohon maaf... Benar, saya bukan calon istri Kak Rex, dan saya juga tidak sedang hamil. Maafkan sikap impulsif saya yang mengarang cerita tak berdasar ini hingga mencoreng nama baik Kak Rex..." aku Nadya.

​"Ini bukan sekadar mencoreng nama baiknya!" potong Mayor Ardi dingin. "Tetapi juga merusak kehormatan instansi kami, asal Anda tahu!" Suaranya naik satu oktaf, menggema tegas di dalam ruangan.

​Ardi tak habis pikir dengan gadis di hadapannya. Bagaimana bisa ia hampir teperdaya oleh sandiwara konyol ini?

Bentakan Mayor Ardi justru mengikis rasa takut yang semula mengurung Nadya. Meski kecemasan itu masih bersisa, harga dirinya yang tersenggol otomatis menyulut perlawanan. Bagi Nadya, hanya sosok donatur dalam hidupnyalah yang berhak berbicara dengan nada tinggi kepadanya, bukan pria di hadapannya ini.

​Nadya memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata Mayor Ardi. Ya, dia sadar betul telah berbuat salah. Namun, ditumpuki seluruh tuduhan secara sepihak seperti ini jelas membakar harga dirinya. Bagaimana pun, ia bukan satu-satunya dalang di balik kekacauan ini.

​"Saya mengaku salah karena telah mengarang cerita itu," ucap Nadya, suaranya kini bergetar sarat ketegasan. "Saya tidak pernah menyangka ucapan saya akan direkam dan menyebar sejauh ini. Tapi... bukankah video itu diambil di dalam area militer? Itu artinya, ini juga menjadi tanggung jawab Anda sebagai atasan. Sebab, yang pertama kali merusak nama baik instansi Anda adalah anggota Anda sendiri, yang merekam dan menyebarkan video itu tanpa izin."

"Saya tidak pernah mengatakan anggota saya tidak bersalah.Kalau benar ada anggota saya yang menyalahgunakan kewenangannya, dia juga akan saya tindak. Tetapi itu tidak menghapus fakta bahwa kebohongan itu berasal dari mulut Anda."

"Saya tau itu, kan saya sudah minta maaf dan saya juga siap untuk melakukan apapun untuk mempertanggung jawabkanya, tapi saya tidak terima jika anda membentak saya begitu saja"

​"Perdebatan ini tidak akan menyelesaikan apa pun," sela Rexsaka, akhirnya membuka suara setelah sejak tadi menyimak percekcokan itu dalam diam.

​Nadya dan Mayor Ardi serta-merta menghentikan adu mulut. Tatapan keduanya kini tertuju pada Rexsaka, walau udara di antara mereka masih diselimuti aura permusuhan yang pekat.

​"Lalu, apa solusimu?" tanya Mayor Ardi, menuntut jawaban.

​Rexsaka menatap Nadya dingin. "Buat video klarifikasi. Nyatakan bahwa seluruh pengakuan anda di video itu hanyalah kebohongan."

​Video klarifikasi? Dada Nadya mendadak bergemuruh. Haruskah itu jadi satu-satunya jalan keluar? Jika ia terang-terangan mengaku, sama saja ia menyerahkan lehernya sendiri. Ia akan langsung dicap sebagai pembohong publik, dan reputasinya di kampus dipastikan bakal hancur berkeping-keping.

​"Ta... tapi, Kak," cicit Nadya, suaranya bergetar menahan panik. "Kalau aku melakukannya... aku akan dicap sebagai pembohong oleh semua orang dan nama..."

​"Anda sendiri yang bilang tadi, akan melakukan apa pun untuk bertanggung jawab?" sela Rexsaka dingin, memotong sanggahan Nadya dan mengembalikan kata-kata gadis itu tepat ke wajahnya.

​"Atau sekarang Anda berniat menjilat kembali ucapan Anda sendiri?"

​"Baiklah, aku akan melakukannya," ucap Nadya akhirnya, pasrah.

​Mengelak pun percuma. Ia tidak punya jalan keluar lain saat ini. Lagipula, Nadya tidak ingin Rexsaka makin memandangnya sebelah mata sebagai sosok yang tidak berpendirian dan lari dari tanggung jawab. Biarlah... apa pun risiko yang menunggunya di depan nanti, akan ia tanggung sendiri.

Dan disini lah Nadya berada di sebuah ruangan yang mereka sebut ruangan humas di barak tersebut Ruangan itu tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi. Di salah satu sisi terdapat meja panjang dengan beberapa komputer, sementara di sisi lainnya terbentang dinding berwarna putih polos dengan lambang Garuda dan bendera Merah Putih berdiri di kedua sisinya. Sebuah tripod dan lampu pencahayaan sederhana tersimpan di sudut ruangan.

​"Silakan masuk," ujar Mayor Ardi mempersilakan Nadya melangkah ke dalam ruangan.

​Nadya melangkah perlahan. Dadanya kembali diimpit rasa sesak yang berliku. Sementara itu, Mayor Ardi menoleh ke arah salah satu stafnya. "Tolong ambilkan tripod."

​"Siap, Komandan!"​Tak lama berselang, sebuah tripod hitam sudah berdiri tegak di tengah ruangan.

Nadya meremas ponselnya erat-erat, menatap benda berkaki tiga itu dengan bibir gemetar. "Apa... saya harus menggunakan kamera markas?" tanyanya lirih.

​Mayor Ardi menggeleng. Sorot matanya kini jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu. "Tidak. Gunakan ponsel Anda sendiri."

​Nadya mendongak, menunjukkan riak terkejut di wajahnya.

​"Jika video ini dibuat menggunakan kamera markas, publik akan berpikir kami menekan Anda. Saya tidak menginginkan hal itu," lanjut Mayor Ardi. Ruangan itu mendadak hening seketika. "Video itu lahir dari mulut Anda. Karena itu, klarifikasinya pun harus lahir atas kesadaran Anda sendiri."

​Nadya menunduk pasrah. Dengan jemari bergetar hebat, ia memasang ponselnya pada klem tripod. Begitu tombol rekam ditekan, lampu indikator merah di layarnya mulai menyala.

​Tiga detik pertama...

Hampa. Tak ada satu patah kata pun yang sanggup melompati kerongkongannya. Nadya hanya mampu menatap lurus ke arah lensa dengan tenggorokan yang terasa tersekat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap bulir bening yang mulai merembes di pelupuk matanya, lalu memaksa matanya kembali berhadapan dengan kamera.

​"Halo... saya Nadya Marlynda Sismoko," tuturnya dengan suara parau yang amat lirih. "Saya membuat video ini untuk meluruskan informasi yang saat ini beredar luas di media sosial."

​Ia jeda sejenak, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa.​"Video yang memperlihatkan saya mengaku sedang mengandung anak dari Kapten Rexsaka... adalah pernyataan yang sepenuhnya tidak benar."

​Setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.​"Saya tidak sedang hamil, dan saya juga bukan calon istri beliau." Suaranya makin bergetar hebat seiring kata demi kata yang ia lontarkan. "Semua ucapan itu murni keluar dari kebodohan dan sikap impulsif saya sendiri. Saya sungguh tidak menyangka percakapan pribadi itu direkam dan disebarluaskan."

​Nadya menundukkan kepala beberapa saat, menahan isak yang hampir pecah, sebelum kembali memberanikan diri menatap lensa.

​"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Kapten Rexsaka karena telah menyeret nama baik beliau ke dalam kekacauan yang saya ciptakan. Saya juga meminta maaf kepada keluarga saya... serta kepada seluruh instansi militer yang terkena dampak buruk akibat tindakan saya."

​Ia menghela napas panjang, dada ringkihnya kempis kemput.​"Saya tidak meminta siapa pun untuk memaafkan saya. Namun, saya akan bertanggung jawab penuh atas seluruh ucapan saya. Karena itu, saya memohon dengan sangat kepada siapa pun yang masih menyimpan atau menyebarkan video tersebut... tolong, berhenti menyebarkannya."

​"Terima kasih."

​Klik.

​Rekaman berakhir. Keheningan kembali menyergap ruangan itu seperti kabut tebal. Nadya menunduk dalam-dalam, kedua tangannya yang masih bertaut gemetar hebat memegang ponsel. Tak ada tepuk tangan. Tak ada kata penghiburan.

​Mayor Ardi memandangnya sejenak sebelum berkata datar, "Jika itu memang keluar dari ketulusan hati Anda... saya harap ini menjadi pelajaran berharga yang tidak akan pernah Anda lupakan."

​Sementara itu, Rexsaka yang sejak tadi bersedekap diam di dekat pintu, hanya melirik sekilas ke arah gadis itu. Sorot matanya masih sedingin biasanya. Namun, untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini pecah, bara amarah yang semula memenuhi netra gelapnya... perlahan-lahan mulai meredup.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!