Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 32
Sore itu, Andra pulang dari kantor dengan bahu yang merosot karena memikirkan masalah korupsi Reno dan juga Diana yang terus menanyakan masalah uang. Namun, begitu melangkah masuk ke dalam paviliun, indra penciumannya langsung disambut oleh aroma harum tumis kangkung bawang putih dan ayam goreng bumbu ketumbar yang sangat menggugah selera. Di dapur kecil itu, Nadhira sedang sibuk membalik ayam dengan celemek polos melilit pinggangnya.
Andra terpaku di ambang pintu. Pemandangan ini begitu asing, namun entah mengapa, terasa sangat hangat di hatinya. Selama bertahun-tahun menikah dengan Diana, Andra tidak pernah sekali pun disambut oleh aroma masakan rumah. Dapur di rumah utama mereka selalu bersih dan dingin, karena Diana hanya mau memakan makanan dari restoran bintang lima yang dipesan lewat aplikasi atau koki sewaan.
"Kamu masak, Dhira?" tanya Andra, melonggarkan dasinya sambil berjalan mendekat.
Nadhira menoleh, sedikit terkejut namun kemudian tersenyum tipis.
"Oh, Kamu sudah pulang, Andra? Mau gimana lagi aku sudah terbiasa masak begini. Oh iya, Aku buat porsi lebih, kalau kamu belum makan malam. Kamu bisa makan itu, atau aku akan minta tolong kepada mbak membawa makanan untuk kamu dari rumah utama!" jawab Dhira.
"Tidak usah, aku makan ini saja. Aku mandi dulu!" jawab Andra.
Nadhira tak menjawab, sedangkan Andra masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka makan bersama di meja makan kecil paviliun. Sederhana, tanpa ada sendok perak atau pelayan yang berdiri kaku di sudut ruangan. Hanya ada Andra, Nadhira, dan semangkuk masakan hangat. Andra makan dengan sangat lahap, bahkan menambah porsinya hingga dua kali.
"Masakanmu tidak pernah gagal sejak zaman kuliah, Dhira," puji Andra tulus, mengusap bibirnya dengan tisu setelah selesai makan.
Nadhira tertawa kecil, lesung pipitnya menyembul samar.
"Tentu saja. Kalau tidak enak, mana mungkin dulu kamu sering mengendap-endap ke kosanku hanya untuk menumpang makan malam?"
Setelah makan malam, kebiasaan baru pun terbentuk. Mereka tidak langsung tidur, melainkan duduk di ruang tengah paviliun untuk mengobrol dan bercanda. Andra menceritakan kelakuan lucu para stafnya di kantor, dan Nadhira menanggapi dengan tawa renyahnya yang khas.
Mereka berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari buku yang sedang dibaca hingga perkembangan kesehatan ibu Nadhira yang kian membaik di RSUD. Kedekatan emosional sebagai sahabat masa lalu kini kembali utuh, mengabaikan sejenak kontrak rahasia yang mengikat mereka.
"Apa tadi Pak Ardi memarahi kamu? Maaf soal laporan itu! Aku kira laporannya sudah kamu proses dan tak sampai di tangan Pak Ardi!" ujar Dhira tahu pasti Andra di marahi Papa Ardi. Apalagi dia melihat bagaimana kusutnya wajah Ardan saat pulang ke rumah.
Andra menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan postur yang sangat santai, terlalu santai hingga terlihat janggal. Dia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.
"Dhira," ucap Andra dengan nada bicara yang ringan, hampir seperti sedang mengobrolkan cuaca.
"Dunia bisnis memang seperti ini, bukan? Kamu terlalu mendramatisir. Mungkin ini hanya salah paham. Reno itu sahabatku, dan Dian dia hanya sedang stres dengan pemotretannya. Uang yayasan itu memang harus cair, itu kewajibanku sebagai suami."
Andra memutar-mutar gelas air di tangannya. Tatapannya kosong, menatap dinding seolah-olah dia sedang membaca skenario yang sedang dia tulis sendiri di dalam kepalanya.
"Kalau Reno memang di Anyer, mungkin dia Diana mengurus teknis pemotretan? Ya, pasti itu. Tidak mungkin mereka mengkhianatiku. Itu teori konyol, Dhira."
Nadhira terdiam. Ia melihat bagaimana jemari Andra yang memegang gelas itu memutih karena tekanan yang kuat, kontras dengan suaranya yang berusaha terdengar tenang dan santai.
"Andra," panggil Nadhira lembut.
"Aku sudah mengenalmu sejak kita kuliah. Kamu tidak perlu berakting di depanku. Kamu bisa berhenti pura-pura jika itu menyakitkan. Karena aku juga merasakan hal itu! Aku tahu kamu sangat mencintai Mbak Diana. Tapi urusan Reno lain cerita. Aku tak membahas masalah uang yayasan dengan Pak Ardi. Aku hanya membahas masalah uang perusahaan Antanagara yang kemungkinan besar di gelapkan. Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan hasil temuanku,"
"Kamu ini, sejak dulu selalu saja menganggapku sedang memikul beban dunia," sahut Andra sambil membelakangi Nadhira. Suaranya sedikit bergetar, namun ia segera menstabilkannya dengan batuk kecil.
"Aku hanya lelah, Dhira. Lelah dengan prasangka Papa. Lelah dengan drama di kantor. Jadi, kalau besok tim keamanan tidak menemukan apa-apa di Anyer, aku akan sangat senang. Aku akan tertawa keras di depan Papa dan bilang kalau dia sudah termakan usia."
Andra membalikkan badan. Wajahnya tampak tenang, hampir tanpa ekspresi, seolah ia benar-benar telah membius batinnya sendiri.
"Kalau ternyata mereka memang berkhianat? Ya, itu urusan besok. Hidup tetap harus berjalan. Perusahaan tetap harus beroperasi. Aku tidak akan membiarkan emosi menghambat produktivitas. Itu prinsipku."
Dia berjalan melewati Nadhira, berhenti sejenak di sampingnya. Untuk sesaat, ia menatap Nadhira dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah kilatan kerinduan akan tempat untuk bersandar.
Ardan membalas pesan Diana yang berderet dari siang tadi.
"Sayang, maaf aku baru lihat pesanmu. Ada kendala teknis sedikit dengan sistem keuangan, tapi aku akan segera mengurusnya. Bagaimana pemotretannya? Apa Reno mengabarimu, karena dia tidak masuk ke kantor?"
Andra mengirim pesan itu, lalu melempar ponselnya ke atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia menghubungi istrinya dengan berpura-pura tidak tahu apa-apa, sambil menunggu laporan dari tim keamanan. Dia memilih untuk menipu dirinya sendiri dan istrinya sekaligus, berharap bahwa kebohongan semua kecurigaan ayahnya selama ini salah.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏