Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: UNDANGAN PERNIKAHAN YANG ALINA BAKAR LAGI
...BAB 9...
...UNDANGAN PERNIKAHAN YANG ALINA BAKAR LAGI...
Lima tahun. Waktu begitu cepat berlalu.
Sudah lima tahun, setelah Papa memilihnya menjadi seorang istri. Lima tahun aku hanya jadi penonton di rumahku sendiri. Lima tahun aku lihat perempuan itu duduk di kursi Mama.
"Pesta lagi," gumamku. Suaraku serak. "Pura-pura seolah kami adalah keluarga bahagia lagi. Padahal mereka nggak tau... aku yang paling menderita di rumah ini."
Lima tahun. 1825 hari aku menahan rasa benci.
Dulu ketika Papa nikahi Ibu Kirana diam-diam tanpa sepengetahuanku, aku masih berumur 12 tahun. Bu Kirana dan Dimas di ajak Papa tinggal di mansion ini, saat usiaku 14. Sekarang aku sudah 16 tahun. Dari SMP sampe SMA kelas 10, aku liat perempuan itu diam-diam keluar-masuk kamar Mama. Pake baju Mama. Masak di dapur Mama. Tidur di ranjang Mama.
Papa bilang, "Ibu Kirana sudah jadi Ibumu, Alina! Beliau yang gantiin Mama! Jadi belajarlah untuk menerimanya ..."
Tidak. Bohong. Nggak ada yang bisa gantiin Mama dihatiku.
Setiap anniversary mereka, aku selalu sabotase. Tahun ke-1 aku sembunyiin cincin kawin Bu Kirana sampe dia nangis 3 hari. Tahun ke-2 aku pura-pura masuk RS, Papa batalin honeymoon mereka. Tahun ke-3 aku fitnah Bu Kirana selingkuh sama supir, sampe supir itu dipecat Papa. Tahun ke-4 aku bakar surat undangan mereka 2 hari sebelum acara.
Dan sekarang tahun ke-5. Papa mau bikin pesta gede di ballroom hotelnya sendiri. Katanya "tasyakuran 5 tahun". 5 tahun penderitaan aku.
Aku genggam undangan itu sampe remuk. Kertas tebal berwarna krem dengan ukiran emas. Aromanya mahal, kayak parfum Papa yang harganya bisa buat Ibu Kirana jahit baju sebulan.
"Dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri Tasyakuran Pernikahan ke-5 Tahun Bapak Aditya Mahendra & Ibu Kirana Mahendra."
Tanggalnya, tiga hari lagi. Lokasinya, ballroom hotel bintang 5 milik Papa. Hotel yang dulu Mama suka datengin buat afternoon tea tiap Minggu.
Aku meremas undangan itu sampai tulang jariku memutih.
Lima tahun. Aku nggak akan biarin ada tahun ke-6. Aku berharap Papa dan perempuan itu bercerai.
Malamnya aku turun ke ruang makan. Meja panjang dari marmer itu dingin. Terlalu besar untuk cuma diisi empat orang.
Papa duduk di kursi kepala meja, mengutak-atik laptop. Jasnya udah dilepas, tapi wibawanya masih nusuk. Di sebelahnya kursi kosong. Kursi Mama dulu. Nggak pernah ada yang berani duduk di situ... kecuali Ibu Kirana.
Ibu Kirana sibuk menata bunga vas di tengah meja. Tangannya hati-hati banget, seakan vas kristal itu bisa pecah kalau dia napas kenceng. Kerudungnya warna krem pudar. Sama kayak undangan di tanganku. Sederhana. Nggak pantas buat istri Aditya Mahendra.
Dimas duduk di ujung meja. Sejak Papa bilang dia nggak usah les piano lagi karena "nggak berbakat", bocah itu jadi kayak patung. Nunduk terus. Nggak berani bersuara.
"Pa," panggilku. Suaraku aku lembutin, aku manisin. Jurus andalanku sejak masih umur 10 tahun. "Undangan anniversary Papa sama Ibu Kirana udah nyampe ya?"
Papa mengangkat wajah dari laptop. Matanya lembut pas liat aku. Lembut yang dulu cuma buat Mama. Sekarang buat aku... dan dia.
"Iya, Nak," jawab Papa. Ia melepas kacamatanya, ngelap pake kain. "Papa harap kamu mau datang. Ini kali pertama sejak Mama kamu pergi, Papa merayakan anniversary di rumah sendiri. Papa mau kamu liat, Papa bahagia. Papa mau kamu kenal Bu Kirana lebih dekat."
Bahagia. Kata itu kayak pisau ngiris dadaku.
Aku tersenyum. Senyum yang aku latih 5 tahun di depan cermin. Senyum yang bahkan aku sendiri nggak tau tulus atau racun.
"Tentu Papa. Alina pasti datang. Kan anak Papa juga. Masa iya Alina nggak dukung kebahagiaan Papa?"
Aku ngelirik Ibu Kirana sekilas. Pura-pura manis.
Ibu Kirana berhenti menata bunga. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia cepat-cepat menyembunyikannya di lipatan kerudung. "Alhamdulillah kalau begitu, Nak," bisiknya. Suaranya pelan, kayak takut ganggu. "Ibu senang kamu mau datang. Ibu... Ibu udah siapin kebaya warna sage. Katanya Papa kamu suka warna itu. Warna kesukaan Mama kamu dulu juga..."
Dia berhenti. Sadar kelepasan. Mukanya langsung pucat.
Aku nggak jawab. Aku naik ke atas, ke kamarku. Langkahku sengaja aku hentak-hentakin biar mereka denger. Biar mereka tau aku marah.
Di kamar, aku mengunci pintu. Klik. Suara itu lega.
Aku buka laci nakas. Di paling bawah, ada korek api Zippo warna emas. Hadiah ulang tahun Mama yang ke-30 dulu. Di punggungnya masih ada inisial "M.A" - Mahendra Alina.
Undangan itu aku letakkan di asbak kristal di meja rias. Asbak yang sama tempat Mama dulu matiin rokoknya kalau lagi stres ngadepin klien Papa.
Tanganku gemetar pas nyalain korek. Bukan takut. Tapi nikmat. Nikmat banget.
Api kecil menyambar ujung kertas krem itu. Emasnya meleleh dulu, jadi cairan hitam lengket. Lalu huruf "Aditya & Kirana" terbakar paling terakhir. Huruf "K" nya paling lama kebakarnya. Kayak perempuan itu, susah mati.
Aku menatapnya sampai jadi abu. Sampai nggak ada sisa. Lalu abu itu aku kumpulin pakai kartu kredit hitam Papa, aku buang ke toilet dan kusiram 3 kali sampe hilang.
"Hah. Anniversary ke-5," bisikku sambil liat pantulan diriku di cermin. Mata aku merah, tapi senyumku lebar. "Nggak akan pernah ada. Selama Alina Mahendra masih hidup di rumah ini."
Keesokan harinya, aku main drama terbaikku. Drama 5 tahun.
Aku pura-pura baik. Aku ikut Papa ke butik buat pilih jas. Aku pilihin dasi warna navy yang katanya "bikin Papa keliatan muda 10 tahun".
"Papa ganteng banget pake ini," kataku sambil nyubit lengan Papa. Papa ketawa. Tawa yang udah lama nggak aku denger sejak Mama pergi 7 tahun lalu.
Siangnya aku bahkan ke toko kebaya bareng Ibu Kirana. Aku yang nyuruh mbak-mbak tokonya ngeluarin kebaya warna sage paling mahal.
"Warna sage ini cantik di Ibu," kataku sambil tersenyum lebar. Aku bantuin Ibu Kirana ngancingin bagian belakangnya. Jari-jariku sengaja aku tusuk ke kulitnya pelan. "Kulit Ibu jadi keliatan cerah. Pasti Papa bangga."
Padahal dalam hati aku ngomong. Iya, cantik. Biar nanti semua orang liat Ibu pake kebaya mahal, tapi suaminya nggak dateng. Biar Ibu malu di depan 200 tamu undangan Papa. Biar Ibu tau rasanya dipermalukan kayak aku 5 tahun ini.
Papa yang liat dari sofa langsung manggil. "Alina, anak Papa memang paling pengertian. Ngerti banget selera Papa, semoga kamu bertambah dewasa ya Nak..."
Papa memujiku. Tapi aku nunduk malu-malu. Dalam hati. Tertawa penuh kelicikan.
Tidak sabar H-1 acara, rencanaku harus berjalan lancar.
Aku nggak pura-pura demam lagi. Kali ini aku buat demam beneran. Semalaman aku siram rambut pakai air es dari kulkas. Badan aku gatel-gatel, tapi worth it. Demi hancurin anniversary mereka.
Jam 6 pagi aku merangkak ke kamar Papa. Mukaku aku pucat-pucatin pake bedak. Bibir aku gigit biar pecah-pecah kayak orang sakit parah.
"Papa..." rintihku sambil megang kepala. Suaraku aku bikin serak. "Alina sakit. Panas banget. Kepala Alina kayak mau pecah... Maaf ya Pa. Alina nggak bisa datang ke acara Papa... Maaf..."
Wajah Papa langsung panik. Panik yang sama kayak 5 tahun lalu pas aku jatuh dari sepeda dan patah tangan.
"Alina! Panggil dokter! Sekarang juga!" bentak Papa ke satpam. Suaranya menggelegar satu rumah.
Dalam 15 menit dokter pribadi datang. Pasang infus. Cek suhu. 39,8°C. Beneran demam.
"Kalau Alina sakit, acara ditunda," putus Papa tegas di telepon sama CEO hotel. Suaranya menggema sampe ke kamarku.
"Batalkan semua. Catering, dekorasi, tamu, band. Kasih tau semua orang anak saya lebih penting daripada acara apapun. Anniversary bisa tahun depan. Alina cuma ada satu."
Aku meringkuk di selimut, nahan tawa sampe perutku sakit. Infus di tangan kiriku, HP di tangan kanan. Aku buka CCTV halaman belakang.
Dari jendela, aku liat Ibu Kirana berdiri di halaman. Kebaya sage yang kemarin dia pilih sekarang tergantung lemas di tangannya. Dia nggak pake. Cuma dipeluk ke dada kayak peluk anak.
Dia nggak nangis. Dia cuma natap ballroom hotel dari jauh lewat HP. Lampunya udah nyala terang, panggung udah jadi, tapi kursi tamu kosong semua. 200 undangan, batal semua.
Dimas menghampiri ibunya. Bocah 14 tahun itu narik ujung kebaya ibunya. "Bu, kita pulang aja yuk... Acaranya batal, kan? Papa nggak jadi datang..."
Ibu Kirana mengusap kepala Dimas. Tangannya kasar karena kebanyakan kena jarum jahit. "Iya, Nak. Maaf ya, Ibu gagal lagi bikin Papa kamu bahagia. Ibu gagal lagi bikin Alina mau nerima Ibu selama 5 tahun ini..."
Gagal. Kata itu menusuk telingaku. Enak. Manis. Candu.
Malam itu Papa duduk di samping ranjangku sampe subuh. Dia nggak ke acara. Dia nggak nemuin istrinya. Dia gantiin infusku, nyuapin aku bubur, bacain aku dongeng "Putri Salju" kayak waktu aku umur 7 tahun.
Aku menang. Lagi. Untuk ke-5 kalinya dalam 5 tahun.
Tapi anehnya, pas jam 2 pagi Papa ketiduran di kursi sambil masih genggam tanganku, aku denger suara.
Suara pintu kamar Ibu Kirana dibuka pelan. Nggak ada langkah kaki. Lalu suara mesin jahit. tik... tik... tik...
Jam 2 pagi. Dia masih menjahit baju orang. Demi menyekolahkan Dimas, anak laki-lakinya biar tidak putus sekolah. Waktu itu aku memang melarang Papa untuk memberikan biaya sekolah Dimas lagi seperti kepadaku. Sampai kejadian Dimas tidak naik kelas waktu itu. Papa benar-benar kecewa. Aku pun tidak sudi, Papa memberikan perhatian pada anak lain. Aku tidak suka, karna hanya aku saja satu-satunya anak Papa.
Aku memejamkan mata lebih erat. Genggaman Papa di tanganku hangat. Terlalu hangat. Mengganggu.
"Aku Alina Mahendra," bisikku pada diriku sendiri. "Aku nggak peduli. Aku nggak bersalah. Dia yang ngerebut Papa dariku selama 5 tahun."
Tapi kenapa, kenapa selimut sutra 5 juta ini rasanya dingin banget malam ini? Dingin sampe ke tulang.
Dan kenapa, di ujung koridor yang gelap itu... ada bayangan Ibu Kirana yang berhenti di depan pintu kamarku selama 3 detik. Sebelum akhirnya dia pergi lagi, mendekati mesin jahitnya yang bunyinya pelan.
Seakan dia mau mastiin aku masih napas. Seakan dia masih peduli sama anak tiri yang 5 tahun ini selalu menyiksanya.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄