Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Valerius tersenyum sangat lebar, kepuasan yang luar biasa gelap memenuhi setiap rongga dadanya hingga terasa sesak. Pasukan Inkuisisi yang dikirim untuk membunuhnya kini telah resmi menjadi bagian dari pedang pembantaian pribadinya.
"Nyonya Karat, Baron Kaelos, segera bangun dan atur kembali formasi pasukan baru kita ini!" titah Valerius tanpa menoleh ke belakang. "Kita tidak memiliki banyak waktu untuk merayakan kemenangan kecil ini, karena takhta kerajaan masih menunggu untuk direbut."
Kaelos merangkak bangun dengan sisa-sisa tenaga, menyeka darah dari sudut bibirnya sambil mengangguk panik berulang kali. "S-Segera kulaksanakan, Tuanku yang agung! Kami akan membariskan mereka menuju istana pusat secepat kilat!"
Nyonya Karat melesat masuk ke dalam barisan mantan ksatria suci, menggunakan cambuk bayangannya untuk menertibkan mereka tanpa ampun. Para jenderal Draken yang tersisa juga ikut bergerak cepat, merasa bersyukur nyawa mereka masih diampuni setelah pertempuran gila tadi.
Hujan badai perlahan mulai mereda, menyisakan gerimis kecil dan kabut tipis yang menyelimuti lautan mayat di pelataran istana. Rombongan pasukan gabungan yang sangat masif itu kini berbaris rapi, bersiap untuk melakukan invasi besar-besaran ke jantung kekuasaan kerajaan.
Valerius tetap berdiri di atas kereta emas yang dulunya milik Uskup Agung Leoric, menjadikannya sebagai kendaraan perang pribadinya. Delapan kuda bersayap putih itu kini telah ditundukkan oleh sihir ketakutan, meringkik pelan menanti perintah sang majikan baru.
"Maju," ucap Valerius pelan. Perintah singkat itu diteruskan secara berantai oleh para jenderal, membuat puluhan ribu sepatu bot baja kembali berderap menghancurkan kesunyian malam ibu kota.
Sementara itu, jauh di pusat ibu kota Aethelgard, Istana Matahari milik keluarga kerajaan berdiri megah di atas bukit tertinggi. Bangunan raksasa yang seluruhnya terbuat dari pualam emas itu selalu memancarkan cahaya terang layaknya siang hari abadi.
Namun malam ini, suasana di dalam Ruang Takhta Matahari terasa sangat mencekam dan dipenuhi oleh hawa kematian yang menyelinap masuk. Raja Aldous yang sudah tua renta duduk gemetar di atas singgasana emasnya, mencengkeram erat lengan kursi hingga buku jarinya memutih.
Mahkota bertahtakan berlian di atas kepalanya terlihat sedikit miring, menandakan betapa kacaunya pikiran sang penguasa daratan tersebut. Di sampingnya, Ratu Elara menangis terisak-isak sambil memeluk pangeran mahkota yang masih berusia sepuluh tahun dengan penuh ketakutan.
Pintu ruang takhta yang megah itu tiba-tiba didobrak terbuka oleh seorang utusan militer yang tubuhnya dipenuhi luka tebas berdarah. Utusan itu jatuh tersungkur di atas karpet merah, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
"Y-Yang Mulia Raja... malapetaka telah benar-benar tiba!" jerit utusan itu dengan suara parau yang menyayat hati seluruh penghuni ruangan. "Pasukan Inkuisisi telah hancur total, dan Uskup Agung Leoric telah dibunuh dengan sangat kejam oleh Pangeran Valerius!"
Pernyataan itu bagaikan petir yang menyambar langsung ke dalam otak Raja Aldous, membuat jantung tuanya nyaris berhenti berdetak saat itu juga. Piala anggur emas yang ada di tangan kanannya terlepas, jatuh berdenting nyaring dan menumpahkan isinya ke lantai pualam.
Ratu Elara menjerit histeris dan langsung jatuh pingsan di pelukan pelayannya, tak sanggup menerima kenyataan bahwa pelindung terkuat mereka telah tiada. Para menteri dan bangsawan yang berkumpul di ruang takhta mulai berteriak panik, berlarian ke sana kemari mencari jalan keluar yang sia-sia.
"B-Bagaimana mungkin puluhan ribu ksatria suci bisa dikalahkan oleh satu keluarga bangsawan?!" raung Raja Aldous dengan air mata ketakutan yang menetes. "Di mana Panglima Penjaga Kerajaan?! Perintahkan seluruh prajurit istana untuk menutup gerbang utama sekarang juga!"
Namun Panglima Penjaga yang berdiri di sudut ruangan hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa putus asa. "Yang Mulia, sebagian besar prajurit penjaga telah membuang senjata mereka dan melarikan diri dari istana setelah mendengar kematian Uskup Agung."
Raja Aldous terbelalak lebar, merasa seolah dunia telah kiamat dan meninggalkannya sendirian di atas takhta kutukan ini. Kekuasaan absolut yang ia nikmati selama puluhan tahun ternyata hanyalah ilusi rapuh yang hancur hanya dalam waktu satu malam.
"K-Kita harus segera melarikan diri melalui lorong rahasia bawah tanah menuju pelabuhan!" ucap Raja Aldous dengan suara yang sangat menyedihkan. Ia berusaha berdiri dari singgasananya, namun kakinya yang renta terlalu lemas untuk menopang berat tubuhnya sendiri.
Tiba-tiba, suara ledakan magis yang sangat dahsyat terdengar dari arah gerbang utama Istana Matahari, menggetarkan seluruh fondasi bangunan pualam tersebut. Kaca-kaca patri raksasa di ruang takhta pecah berantakan, menghujani lantai dengan serpihan beling tajam yang melukai beberapa menteri.
Suara derap langkah puluhan ribu sepatu bot baja mulai terdengar menggema mendekat, diiringi dentingan pedang yang diseret di atas lantai batu. Hawa dingin kematian merayap masuk melalui pintu yang hancur, membekukan udara di dalam Ruang Takhta Matahari hingga terasa sesak.
Valerius van Draken melangkah masuk ke dalam ruang takhta yang terang benderang itu dengan langkah pelan dan sangat tenang. Jubah sutra hitamnya berkibar pelan, memberikan kontras yang sangat mematikan terhadap dekorasi serba emas di sekelilingnya.
Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya memancarkan aura kegelapan yang menyerap seluruh cahaya pualam, membuat bayangannya terlihat memanjang seperti monster raksasa. Di belakangnya, Nyonya Karat dan Jenderal Kaelos berjalan mengawal dengan senjata terhunus yang masih meneteskan darah para penjaga istana.
"Selamat malam, Yang Mulia Raja Aldous," sapa Valerius dengan suara lembut yang menggema mengerikan di telinga sang penguasa tua. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik mereka yang berani merebutnya dengan paksa."
Raja Aldous merosot kembali ke kursinya, wajahnya sepucat mayat dan napasnya tersengal-sengal melihat inkarnasi malaikat maut di depannya. Tidak ada satu pun pengawal yang tersisa untuk melindunginya, ia kini sepenuhnya berada di bawah belas kasihan sang narapidana kejam.
"A-Apa yang kau inginkan, monster?!" rintih Raja Aldous merana, air mata keputusasaan membasahi janggut putihnya yang biasanya terawat rapi. "Ambil seluruh harta di istana ini, ambil mahkotaku, tapi biarkan aku dan keluargaku pergi dengan selamat!"
Valerius tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat sisa menteri di ruangan itu jatuh berlutut memohon ampun dengan histeris. Ia berjalan menaiki anak tangga emas menuju singgasana, tak memedulikan rengekan menyedihkan dari seorang raja yang telah kehilangan taringnya.
"Harta dan mahkotamu ini sama sekali tidak memiliki nilai di mataku, Raja tua," bisik Valerius saat ia berdiri tepat di depan Aldous. "Aku tidak datang untuk menjadi penerus takhta fana ini, aku datang untuk meratakan seluruh sistem monarki busuk kalian hingga menjadi debu."
Valerius mencabut Belati Penyedot Jiwa miliknya yang berkilat hitam, menodongkannya tepat ke depan leher keriput Raja Aldous. Sang raja menjerit tertahan, menutup matanya rapat-rapat menunggu eksekusi yang akan segera mengakhiri sisa hidupnya yang menyedihkan.
Namun Valerius tidak segera membunuhnya, ia justru membalikkan badannya dan menatap ke arah singgasana emas yang megah tersebut. Arc keempat dari perjalanannya telah selesai dengan sangat sempurna, menyisakan kekuasaan absolut tanpa batas di telapak tangannya.
Dunia Aethelgard kini benar-benar telah berlutut di bawah kakinya, namun hasrat gelapnya untuk menghancurkan segalanya belum juga terpuaskan. Dewa-dewa sejati di alam atas pasti sedang bersiap untuk mengirimkan hukuman mereka, dan Valerius sangat menantikan tantangan berdarah tersebut.