"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
"Lho, Paksu... kok tadi Ibu Hermawan panggil Ismut pakai nama 'Ibu Alaric' sih? Bukannya harusnya panggil 'Ibu Komandan' kayak prajurit di lapangan?"
Calla mendongak, menyenggol lengan Alaric dengan bahunya saat mereka berdua mulai melangkah di jalan setapak pangkalan yang dinaungi pohon-pohon puring. Mata kucingnya berkedip penuh rasa ingin tahu, menunggu jawaban dari om-om kaku di sampingnya.
Alaric menoleh sekilas, membiarkan Calla tetap menggelayut manja di lengan kekarnya sembari menyesuaikan langkah tegapnya agar sang istri tidak kewalahan dengan sepatu haknya.
"Di dalam organisasi Persit, Calla... aturannya memang seperti itu," jawab Alaric dengan suara baritonnya yang tenang dan lambat. "Panggilan resmi untuk anggota wanita tidak menggunakan nama jabatan suami, melainkan menggunakan nama dari suami mereka sendiri."
"Oh ya? Berarti karena nama Paksu itu Alaric, jadinya Ismut dipanggil Ibu Alaric?" Calla mengerjapkan matanya, manggut-manggut mulai paham.
"Betul. Begitu juga dengan Ibu Sarah," Alaric menunjuk pelan ke arah aula yang baru saja mereka tinggalkan. "Suaminya adalah Letnan Kolonel infanteri bernama Hermawan. Jadi, semua orang di organisasi memanggil beliau Ibu Hermawan, bukan Ibu Wakil Komandan."
Calla langsung menghentikan langkahnya mendadak, membuat Alaric ikut berhenti dan menatapnya bingung. Wajah Calla yang tadinya serius mendadak berubah cerah, dan binar nakal yang sangat familiar bagi Alaric kembali muncul di kedua matanya.
"Kenapa berhenti, Calla? Katanya tadi lapar?" tanya Alaric, menatap rahang istrinya yang kini mendongak penuh kemenangan.
"Wah... berarti secara nggak langsung, pangkalan ini lagi mengumumkan ke semua orang kalau Ismut ini mutlak milik seorang Alaric Vance ya, Paksu?" bisik Calla genit, merapatkan tubuhnya hingga blus hijau pastelnya menempel pada seragam PDH Alaric. "Ibu Alaric... kedengarannya seksi banget deh di kuping Ismut. Berasa kayak udah di-cap paten."
Alaric langsung menegang di tempatnya. Telinganya yang putih bersih dalam sekejap kembali merona merah muda akibat serangan frontal di siang bolong. Ia buru-buru menatap koridor kanan dan kiri, memastikan tidak ada anggotanya yang sedang lewat dan menyaksikan kelakuan ajaib istrinya.
"C-Calla, jaga bicaramu. Ini masih di area terbuka," ujar Alaric gugup, mencoba menarik lengannya namun Calla justru mempererat kuncian tangannya.
"Biarin! Habisnya Paksu kalau ngejelasin suka bikin Ismut makin gemes," cengenges Calla tanpa rasa bersalah. "Tapi seru juga ya. Jadi kalau nanti malam Ismut panggil Paksu 'Suami Ibu Alaric', boleh dong?"
Alaric menghela napas pasrah, menahan debaran aneh yang kembali menggedor dadanya akibat godaan sang cegil. "Terserah kamu, Ismut. Sekarang ayo jalan lagi, sayur asamnya keburu dingin."
"Jangan cepat-cepat jalannya, Paksu. Ismut beneran capek banget ini pakai sepatu hak, mana dari tadi senyum terus sampai pipi rasanya mau kram," keluh Calla lagi, sengaja memberatkan gelayutan tangannya di lengan kekar Alaric.
Alaric menghentikan langkah tegapnya sejenak, melirik ke bawah pada sepatu berhak lima senti yang membungkus kaki mungil istrinya. Ia menghela napas pendek, lalu melonggarkan sedikit ketegangan di bahunya. Langkah kakinya yang biasa lebar dan cepat kini sengaja diperlambat, mengikuti ritme langkah Calla yang agak terseret.
"Makanya, lain kali kalau ada acara Persit, pilih sepatu yang alasnya lebih tebal dan nyaman, Calla. Kamu belum terbiasa berjalan jauh di lingkungan pangkalan," ujar Alaric, suaranya terdengar sangat kebapakan namun tetap terselip perhatian yang dalam.
"Ya kan biar kelihatan anggun di depan anggotanya Paksu," sahut Calla, mengerucutkan bibirnya yang sewarna kelopak mawar. "Masa istri Komandan Pasukan Khusus datang ke rapat pakai sandal jepit bulu-bulu warna kuning? Kan nggak lucu. Nanti wibawa Paksu jatuh ke selokan."
"Wibawa saya tidak ditentukan oleh alas kaki yang kamu pakai, Ismut," potong Alaric datar, namun jemarinya perlahan bergerak, menepuk-nepuk punggung tangan Calla yang melingkar di lengannya. "Yang penting kamu nyaman dan tidak tersiksa seperti ini."
Calla mendongak, menatap profil samping wajah Alaric dari balik bulu matanya yang lentik. Semburat hangat mendadak memenuhi dadanya. "Aduh, meleleh deh Ismut. Paksu kalau lagi perhatian begini tuh ketampanannya naik seribu persen, tahu? Berasa kayak lagi dikawal sama pengawal pribadi super mahal."
Alaric kembali berdehem keras, menyembunyikan senyuman yang hampir terbit di sudut bibirnya. Ia membuang muka ke arah deretan barak prajurit di sebelah kiri mereka. "Sudah, jangan mulai merayu di jalanan pangkalan. Kita hampir sampai."
Begitu mereka berdua menginjakkan kaki di teras rumah dinas, Calla langsung melepaskan gandengannya. Dengan gerakan tidak sabaran, ia membuka ritsleting sepatu haknya dan melemparkannya begitu saja ke sudut teras sebelum langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang sejuk.
"Hwaaa! Bebas!" seru Calla, langsung menjatuhkan tubuh mungilnya ke atas sofa kulit di ruang tamu, merentangkan kedua tangannya dengan sangat santai. Gaun brokat hijau pastelnya yang anggun kini tampak sedikit kusut, namun Calla sama sekali tidak peduli.
Alaric menggelengkan kepala pasrah melihat kelakuan ajaib istrinya yang berubah drastis dalam hitungan detik. Ia memungut sepatu Calla yang berserakan di teras, menatanya dengan rapi di rak sepatu kayu, lalu menutup pintu rumah dinas dan menguncinya dari dalam.
"Ganti bajumu dulu, Calla. Jangan tidur-tiduran dengan gaun resmi seperti itu, nanti kusut dan kotor," tegur Alaric sambil berjalan menuju dapur transit untuk menyiapkan makan siang.
"Bentar, Paksu... Napas dulu lima menit," gumam Calla, menutupi wajahnya dengan salah satu bantal sofa. Suaranya terdengar teredam. "Badan Ismut rasanya rontok. Jadi Ibu Ketua itu ternyata berat banget cobannnya. Harus dengerin laporan seksi kebudayaan, seksi ekonomi, seksi sosial... Ismut berasa lagi kuliah semester akhir tahu!"
Alaric tersenyum tipis di balik sekat dapur. Ia menaruh mangkuk besar berisi sayur asam hangat, piring berisi ikan asin goreng yang garing, dan sambal terasi segar di atas meja makan kecil mereka. Aroma gurih dan asam langsung menguar memenuhi ruangan, memicu cacing di perut Calla untuk berdemo lebih anarki.
"Makanan sudah siap. Kalau kamu tidak mau ganti baju sekarang, minimal cuci tanganmu dulu lalu duduk di sini," panggil Alaric, suaranya mengalun rendah memenuhi ruang tengah.
Mendengar kata 'makanan', Calla langsung bangkit berdiri dari sofa seperti mendapat suntikan energi dadakan. Ia berlari kecil ke wastafel dapur, mencuci tangannya dengan kilat, lalu langsung mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di hadapan Alaric. Matanya berbinar-binar menatap menu makan siang sederhana namun sangat menggugah selera itu.
"Wah! Ikan asinnya kelihatan garing banget! Paksu beneran yang goreng ini tadi subuh?" tanya Calla antusias, langsung menyendok nasi putih ke atas piringnya.
"Bukan subuh, tapi sebelum saya menjemputmu di aula tadi," koreksi Alaric, ikut duduk di kursinya sendiri dan mulai mengambilkan sayur asam untuk Calla. "Makan yang banyak. Tadi di aula kamu pasti cuma minum teh gelas, kan?"
"Hehehe, tahu aja Paksu," cengenges Calla, menerima mangkuk sayur dari tangan Alaric. "Habisnya Ismut jaim mau ambil kue kotak yang disediain di meja. Takut dibilang Ibu Komandan maruk karena makannya lahap banget."
Alaric menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kepedulian Calla terhadap citra dirinya yang setengah-setengah. "Di depan mereka kamu boleh jaim. Tapi di depan saya, habiskan tiga piring pun tidak akan ada yang melarang."
"Ih, emangnya Ismut kuli panggul pangkalan apa sampai makan tiga piring!" seru Calla tidak terima, namun tangannya dengan semangat mulai menyuapkan nasi dan ikan asin ke dalam mulutnya. "Tapi beneran deh, Paksu... Masakan Paksu itu enak banget. Nggak kalah sama masakan katering pernikahan kita nanti."
"Itu hanya menu sederhana, Calla. Semua tentara di barak juga bisa memasaknya," jawab Alaric merendah, walau dalam hati ada rasa puas tersendiri melihat istrinya makan dengan sangat lahap.
Suasana di meja makan mendadak hening selama beberapa menit, hanya menyisakan suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring kayu. Tempo makan mereka sangat lambat, menikmati ketenangan siang hari di dalam rumah dinas yang jauh dari hiruk-pikuk tugas militer.
Setelah menyelesaikan makan siang dan membersihkan meja makan bersama, Calla akhirnya menuruti perintah Alaric untuk mengganti pakaiannya. Ia kembali ke kamar dan keluar beberapa menit kemudian dengan pakaian yang jauh lebih santai: kaus putih polos berukuran longgar dan celana pendek kain rumahan. Rambut panjangnya yang tadi disanggul rapi kini dicepol asal-asalan ke atas dengan jepitan badai merah mudanya.
Alaric sendiri sudah mengganti seragam PDH-nya dengan kaus dalam militer berwarna hijau militer dan celana pendek hitam. Pria itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memeriksa beberapa pesan di ponsel dinasnya saat Calla berjalan mendekat.
Tanpa mengeluarkan suara, Calla langsung menyelinap ke samping tubuh kekar Alaric, menyingkirkan ponsel dari genggaman suaminya, lalu merebahkan tubuhnya secara melintang di atas sofa dengan kepala yang bersandar nyaman di atas pangkuan kokoh Alaric.
Alaric sempat tersentak kaget dengan gerakan tiba-tiba itu, namun ia tidak menolak. Tangannya yang besar dan kapalan perlahan mendarat di bahu Calla, menjaganya agar tidak terguling dari sofa yang ukurannya tidak terlalu luas.
"Calla, kamu ini tidak bisa diam ya?" bisik Alaric rendah, menatap wajah istrinya dari atas.
"Nggak bisa. Ismut kan magnet, dan Paksu itu kutub besinya. Jadi bawaannya mau nempel terus," sahut Calla santai, memejamkan matanya menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh Alaric. "Paksu... kepala Ismut masih agak cenat-cenut sisa rapat tadi. Elusin lagi dong kayak semalam."
Alaric menghela napas pasrah untuk kesekian kalinya hari ini. Jemari tangannya yang besar mulai bergerak lambat, menyusup ke sela-sela rambut hitam Calla, memijat kulit kepalanya dengan sangat lembut dan hati-hati. Sentuhannya begitu kontras dengan penampilannya yang garang dan penuh otot.
"Lain kali, kalau rapatnya terlalu panjang, kamu boleh izin keluar sebentar untuk menghirup udara segar, Calla. Jangan dipaksakan sampai pusing begini," ujar Alaric, suaranya terdengar sangat dalam dan menenangkan di telinga Calla.
"Nggak enaklah, Paksu. Ismut kan harus jaga nama baik suami Ismut yang hebat ini," gumam Calla, suaranya mulai memberat karena kenyang dan kenyamanan dari elusan tangan Alaric mulai membuatnya mengantuk. "Tapi... makasih ya, Paksu Alaric. Suami Ibu Alaric yang paling ganteng se-pangkalan..."
Alaric menghentikan gerakan tangannya sejenak mendengar panggilan itu. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat langka. Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap wajah polos istrinya yang kini sudah mulai menjelajah ke alam mimpi.
"Sama-sama, Ibu Alaric," bisik Alaric sangat lirih, hampir tak terdengar, sebelum ia kembali melanjutkan elusan lembutnya di rambut Calla, menjaga tidur siang istri kecilnya dengan penuh kasih sayang di dalam rumah dinas mereka yang hangat.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨