Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menyesal
Tantri segera menghubungi dokter di kompleks perumahan untuk memeriksa Intan yang pandangannya tiba- tiba kabur. Sepuluh menit kemudian dokter pun datang dan memeriksa kondisi Intan.
"Gimana dok...? Apa yang terjadi dengan matanya Intan...?'' tanya Tantri yang cemas dengan kondisi Intan.
"Sepertinya ini akibat dari benturan keras pada dahi bu Intan. Benturan itu mengenai saraf yang menghubungkan ke mata. Saya hanya bisa memberikan obat anti nyeri saja, untuk menghilangkan rasa sakit. Dan untuk selanjutnya silahkan nanti bu Intan periksa ke dokter spesialis mata ya, supaya mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut..." jawab dokter Donny.
"Karena jika dibiarkan takutnya bisa menimbulkan kebutaan..." sambung dokter Donny menjelaskan.
Intan dan Tantri pun kaget begitu mendengar penjelasan dari dokter Donny.
"Keterlaluan banget si Aldy..." Tantri merasa geram.
"Maaf kalau boleh saya tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan bu Intan...? Kenapa seluruh tubuhnya luka- luka seperti ini...?'' tanya Dokter Donny.
"Sahabat saya ini dianiaya oleh suaminya, dok... Suaminya gila..." jawab Tantri.
"Tantri..." sahut Intan memegang tangan Tantri memberi kode agar dia tidak usah menceritakan apa yang dia alami.
"Biarin aja Intan, biar semua orang tahu, kalau suami kamu itu jahat..." ucap Tantri yang masih terlihat sekali betapa dia marah pada Aldy.
"Harusnya kamu melaporkan kasus ini ke polisi..." sambung Tantri.
Intan menggeleng- gelengkan kepalanya. Iya, Intan memang sakit hati dengan apa yang telah Aldy lakukan padanya hingga badannya babak belur dan sekarang dia ada kemungkinan mengalami kebutaan. Iya, Intan memang merasakan kesakitan yang amat sangat ketika Aldy dengan kasar menghantamkan kepala Intan ke lantai hingga dia pingsan. Dan setelah dia bangun, dahinya pun terdapat benjolan yang cukup besar berwarna biru kehitaman.
Namun untuk melaporkan Aldy ke polisi, Intan tidak berani melakukannya. Karena menurut Intan ,Aldy melakukan itu semua karena kesalahan yang Intan perbuat. Kalau saja Intan tidak berzina dengan Dirga, tentu saja Aldy tidak akan menganiaya Intan sedemikian rupa.
"Baiklah bu Intan...ini nanti obatnya di minum tiga kali sehari. Dan yang salep untuk luka di punggung. Dan untuk memar di dahi sering- sering dikompres ya bu, biar cepat kempes..." ucap dokter Donny.
"Baik dok terima kasih..." jawab Intan.
"Jangan lupa ya bu Intan...segera periksa ke dokter mata..." ucap Dokter Donny.
"Baik dok..." jawab Intan.
Setelah Intan melakukan pembayaran, Dokter Donny pun pamit pulang.
"Intan... kenapa sih, kamu nggak mau lapor polisi, biar tahu rasa tuh si Aldy..." Tantri nampak gemas pada Intan.
Intan menghela nafas.
"Tantri, kalau aku melaporkan mas Aldy ke polisi, mas Aldy juga bisa melaporkanku balik dengan tuduhan perzinahan. Dan bisa- bisa nanti semua orang bisa tahu kelakuan bejat aku Tan..." sahut Intan.
"Kamu tahu kan Tantri, sejak aku kenal mas Aldy, tidak pernah berhenti sedikitpun kelurganya menjulukiku sebagai seorang pel*cur. Dan sekarang, jika mereka tahu kalau aku sudah membuktikan apa yang selama ini mereka tuduhkan padaku, harus berapa banyak hinaan lagi yang harus aku terima Tantri..." sambung Intan.
Tantri pun menghela nafas. Iya,memang benar apa yang dikatakan oleh Intan. Tapi menurut Tantri perlakuan Aldy pada Intan sudah kelewat batas. Dia menyiksa Intan hingga babak belur dan luka parah.
"Ini semua karena kesalahan aku sendiri Tantri. Aku yang bodoh... Bisa- bisanya aku jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Dulu aku terjebak godaan mas Aldy. Dan sekarang aku kembali terjebak oleh mas Dirga, kakaknya mas Aldy, kakak ipar aku sendiri... Gila kan aku Tan..." Ucap Intan sambil menangis menyesali kenapa ini semua bisa terjadi padanya.
"Aku bahkan jijik dengan diriku sendiri Tantri... Hik...hik... Kok aku bisa sih melakukan hal gila seperti itu untuk yang kedua kalinya. Aku benar- benar manusia paling hina..Tantri....hik...hik...."
"Apa karena ada darah pelacur dalam tubuhku...? apa karena aku ini anak hasil perselingkuhan...? Sehingga aku harus mempunyai sifat seperti seorang pelacur...?'' Intan terus menangis.
"Intan...." Tantri memeluk Intan dan mengelus punggungnya.
"Intan...manusia itu tidak akan pernah luput dengan yang namanya salah dan dosa..." ucap Tantri untuk menenangkan Intan.
"Ya aku tahu, tapi aku keterlaluan karena aku mengulangi dosa yang sama..." sahut Intan yang tidak mengerti kenapa dirinya begitu lemah terhadap godaan laki- laki.
"Sudahlah Intan... Semuanya sudah terjadi. Kalau kamu menyesali apa yang yang sudah kamu lakukan... Kamu minta maaf sama Alloh, bertaubat untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi...ya...." Tantri menepuk pundak Intan.
"Apa Alloh akan memaafkan aku...? Dan akan menerima taubatku...?" tanya Intan tiba- tiba merasa takut jika Alloh murka padanya.
Tantri menghena nafas. Iya, Tantri tidak bisa menjawab pertanyaan Intan karena menurutnya pertanyaan seperti itu hendaknya dijawab oleh ahlinya seperti ustadz atau ustazah.
"Nanti kita tanyakan sama bu ustazah ya. Yang terpenting kamu harus berobat dulu Intan. Ingat kata dokter tadi, mata kamu harus diperiksakan ke dokter mata..." ucap Tantri sambil mengusap lengan Intan.
Intan mengangguk. Iya, sebenarnya Intan juga merasa takut jika matanya kenapa- napa. Karena semakin lama matanya semakin tidak jelas untuk melihat. Dan rasanya nyeri sekali.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Keesokan harinya Tantri menemani Intan periksa ke dokter mata. Dengan sabar Tantri menuntun Intan yang masih merasakan pusing dan sakit bagian mata. Tidak hanya itu, bagian punggung Intan juga masih terasa sakit dan pedih.
Dan tadi malam Intan bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena rasa sakit itu.
Setelah antri sekitar lima belas menit, akhirnya Intan dipanggil untuk diperiksa oleh dokter mata. Dan ternyata dugaan dokter Donny benar adanya. Ada beberapa Saraf yang menghubungkan ke mata mengalami pembengkakan akibat benturan keras yang Intan alami.
Namun kata dokter itu bisa diatasi walaupun itu butuh waktu yang tidak sebentar. Tapi tetap saja Intan merasa sedih mendengar hal itu. Apalagi berobat di dokter specialis tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dan sekarang Intan sudah ditalak oleh Aldy dan tidak mendapat uang darinya lagi.
Sedangkan Intan hanya mempunyai uang yang tersisa di tabungan yang jumlahnya tidak seberapa. Tentu saja Intan bingung bagaimana dia harus mengatur uang tersebut untuk menyambung hidup dan juga untuk berobat rutin.
"Kamu kenapa Intan...?" tanya Tantri karena melihat sang sahabat terus diam sejak keluar dari ruang dokter specialis mata.
"Nggak kok... Aku cuma takut aja, mataku nggak bisa sembuh trus aku buta..." jawab Intan.
"Insya Alloh mata kamu pasti akan sembuh. Kan tadi dokter bilang mata kamu akan baik- baik saja asalkan kamu rutin berobat..." Tantri terus menyemangati sahabatnya.
Intan tersenyum datar. Iya, Intan memang tidak mau membicarakan tentang kecemasannya mengenai biaya berobat ke depan. Karena Intan tidak mau terlalu banyak merepotkan sahabatnya itu.
"Kita pulang ya, kamu harus banyak istirahat..." ucap Tantri begitu mereka selesai mengambil obat di apotek.
Sesampai di rumah, Intan langsung istirahat dan Tantri pun pulang ke rumah karena dia harus bersiap untuk menjemput anaknya di sekolah. Intan terdiam sambil berbaring di tempat tidur tidak bisa memejamkan matanya karena terus kepikiran tentang biaya hidup ke depan.
Tiba- tiba ponsel intan berdering menandakan pesan masuk. Intan segera mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.
"Apa kamu sudah mengemasi pakaianmu...? Ingat Intan...besok kamu harus meninggalkan rumah itu...!! Karena kamu tidak ada hak atas rumah itu lagi..."
Iya, itu adalah pesan dari Aldy. Intan tertegun membaca pesan dari laki- laki yang sudah menjatuhkan talak padanya. Intan lalu membalas pesan dari Aldy.
"Mas, di mana Arkan...? Aku ingin ketemu sama Arkan. Aku kangen sama dia mas..."
Namun Aldy tidak membalas pesan Intan hingga Intan menunggu cukup lama. Intan pun segera menghubungi nomor Aldy. Namun tetap saja Aldy tidak merespon panggilannya.
"Mas... Tolong jawab telponku, katakan di mana Arkan, aku mau ketemu sama dia mas, aku ini ibunya Arkan, tidak seharusnya kamu menjauhkanku dengan dia..." Intan kembali menulis pesan.
Dan tak lama kemudian Aldy membalas.
"Perempuan yang hina dan kotor sepertimu tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Arkan akan ikut denganku. Dan kamu tidak usah menemui dia. Karena aku yakin, Arkan juga tidak sudi bertemu denganmu dan malu punya ibu pel*cur seperti kamu..."
Membaca pesan balasan dari Aldy air mata Intan menetes.
"Mas Aldy... Tega sekali kamu mas... Kenapa kamu tega memisahkan aku dengan Arkan... Hik..hik..." Intan menangis.
Intan sekali lagi mencoba untuk menghubungi nomor Aldy. Karena dia harus bicara langsung dengan Aldy. Namun tiba- tiba dia tidak bisa menghubungi nomor tersebut. Iya, ternyata Aldy sudah memblokir nomor Intan.
Intan pun tidak bisa berbuat apa- apa lagi selain hanya menangis.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Intan mengambil koper untuk mengemasi pakaiannya. Walaupun keadaannya masih lemah tapi dia harus segera pergi dari rumah yang telah dia tempati selama sepuluh tahun belakang ini.
Iya, rumah ini tentu saja punya banyak kenangan buat Intan. Di rumah Ini lah dulu dia menjalani kehamilannya seorang diri dalam sepi. Dan setelah Arkan lahir, rumah ini mulai ramai dengan suara tangis dan celoteh lucu dan menggemaskan Arkan.
Di rumah ini pula dulu Aldy menikahinya. Dan setalah itu mereka bertiga hidup bahagia dalam sebuah keluarga kecil. Dan setelah sepuluh tahun berlalu Intan tidak menyangka kalau dia harus diusir dari rumah ini atas kesalahan besar yang dia perbuat.
Iya, tentu saja Intan sangat menyesali perbuatannya itu. Seandainya saja imannya kuat dan tidak tergoda oleh godaan Dirga, mungkin dia tidak akan diusir dari rumah ini dan harus terpisah dari Arkan. Karena bagi Intan berpisah dengan Arkan merupakan pukulan yang paling berat buatnya.
Iya, Intan masih bisa menahan rasa sakit atas apa yang diperbuat oleh Aldy padanya. Tapi sakit karena berpisah dari Arkan tentu tidak akan ada obatnya.
Intan membuka lemari memilih baju yang akan dia bawa pergi. Iya, Intan memang tidak ada keinginan untuk membawa semua pakaiannya. Lagi pula dia berencana akan tinggal bersama bu Yuyun di kontrakan kecil. Tidak mungkin juga Intan membawa banyak barang.
Setelah selesai memilih pakaian yang akan dia bawa, Intan beralih membuka kotak perhiasan yang pernah Aldy berikan padanya saat menikah dulu.
Di sana ada cincin, gelang, kalung beserta liontin, dan juga anting. Intan memandangi perhiasan- perhiasan tersebut beberapa saat. Namun dia kembali menutup kotak perhiasan tersebut dan mengembalikannya ke dalam lemari.
Iya, Intan tidak berniat untuk membawa perhiasan tersebut. Karena menurut Intan perhiasan itu bukan lagi haknya. Intan hanya membawa cincin kawin yang masih melingkar di jari manisnya. Iya, hanya itu yang akan dia bawa.
Intan lalu mengambil tas berwarna hitam yang ada di rak lemari paling bawah. Di dalam tas tersebut juga ada kotak perhiasan kecil yang selama ini dia simpan dengan baik.
Intan pun membuka kotak perhiasan tersebut. Di sana ada dua pasang cincin pernikahan dan sebuah kalung serta liontin berbentuk hati. Iya, itu adalah cincin kawin, saat Intan menikah dengan Ridwan. Dan kalung itu juga Ridwan yang memberikannya kepada Intan. Sambil menangis Intan mencium perhiasan itu.
Iya, Intan kembali teringat dengan mas Ridwan dan kembali merasa bersalah padanya.
"Maafkan aku mas Ridwan...hik..hik..." Intan menangis.
Intan lalu mengambil foto kecil berukuran 4 R dari di dalam tas berwarna hitam. Iya, foto itu adalah foto pernikahannya dengan Ridwan. Menatap foto tersebut, air mata Intan kembali mengalir.
"Kenapa kamu tidak membawaku pergi bersamamu mas hik...hik... Lihatlah sekarang mas... Setelah kamu pergi, hidup aku terus- terusan hancur...hik...hik... Seharusnya kamu ada di sisi aku mas... Seharusnya kamu yang membimbing aku supaya aku tidak salah jalan...hik...hik..." Intan menangis tersedu- sedu.
"Assalamualaikum...Intan...Intan...." dari arah ruang tamu terdengar suara Tantri memanggil- manggil.
Intan segera menghapus air matanya.
"Intan..." ucap Tantri dari pintu kamar Intan.
"Ada apa...?'' tanya Intan.
"Aku masuk ya..?'' sahut Tantri sambil berjalan menghampiri Intan yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Ada apa...?'' tanya Intan heran melihat sahabatnya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Tantri diam beberapa saat sambil menatap wajah sahabatnya yang sembab khas orang yang baru saja menangis.
"Kamu habis nangis ya Intan...?''tanya Tantri krena melihat sisa air mata di kedua pipi Intan.
"Kamu lagi mengemasi barang- barang kamu...?'' sambung Tantri melihat koper yang sudah terisi pakaian penuh.
Intan hanya menghela nafas.
"Ada apa Tantri...?" tanya Ingan yang sedang tidak ingin membahas dirinya sendiri.
Tantri menghela nafas. Sebenarnya dia tidak tega mengungkapkan apa yang telah dia dengar kepada Intan tentang Arkan karena Intan tahu bahwa apa yang ingin dia sampaikan pada Intan tentu akan membuat Intan syok dan sedih. Namun Tantri merasa harus tetap mengatakannya pada Intan agar dia tahu.
"Begini Intan..."
Tantri lalu mengatakan pada Intan bawa tadi saat dia menjemput Robby di sekolah, dia mendengar dari bu guru wali kelas bahwa Arkan telah pindah dari sekolah.
"A...apa...?Arkan pindah sekolah...? Ta...tapi bagaimana mungkin....?'' tanya Intan seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Bersambung....