Seorang CEO bernama Ani berenkarnasi ke dunia novel yang pernah dia baca, karena kecelakaan yang di alaminya, membuat Ani berenkarnasi menjadi wanita sampah yang bernama Lie.
Hukum rimba berlaku di dunia ini, di mana yang kuatlah yang akan bertahan hidup. Bukan hanya lemah tapi Lie bukan anak kandung keluarga Yuan, lalu siapa ayah Lie?Teka teki kehidupan baru Ani membuat Ani harus menemukan titik terang. Siapa ayah Lie sebenarnya? Mampukah Ani menemukan titik terang dari teka teki kehidupan Lie yang rumit? Mampukah Ani bertahan dengan dunia yang kejam ini sebagai Lie?
Jangan lupa dukung author terus ya.....
Terima kasih untuk pembaca setia...😘
Semoga bisa up terus......
Jika tidak setiap hari, 3 hari baru bisa up ya tolong maklumin saya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yolanda94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pangeran menghapus air matanya dan tersenyum padaku, aku memberanikan diri untuk bertanya padanya tentang sesuatu yang bernama kenangan.
"Pangeran " lirihku
"Iya"
"Apa ada kenangan di sini?" tanyaku hati-hati
"Tidak"
"Kenapa air mata itu jatuh pangeran?" tanyaku heran
"Air mata ini terjatuh sendiri"
"Hah?"
"Lupakan lah" ujar pangeran
"Baik pangeran " jawabku
"Apa kamu suka?"
"Iya, pasar malam mengingatkan ku pada seseorang yang pernah ku cintai".
"Siapa pria itu?"
"Sudah tiada pangeran"
"Itukah alasanmu tidak mau menikah?"
"Iya, aku masih sangat mencintainya" jawabku
"Beruntung sekali pria itu"
"Hahaha iya, pria itu sangat beruntung"
Aku dan pangeran mengobrol ringan tanpa sadar dragon memanggil dari kejauhan
"Lie?" teriak Chen
Aku dan pangeran mendekati Chen yang memanggil dari tempat makanan.
"Lie, mereka bilang ini permen kapas apa ini enak?" tanya Chen.
"Tentu saja Chen, makanlah "
Pasar malam ini sangat mirip dengan pasar malam di kotaku, apa karena penulisnya berasal dari daerah yang sama jadi sangat mirip, hanya beda pakaian penjualnya saja, hahaha ini lucu.
"Apa kamu bahagia?" bisik pangeran
"Tentu saja, aku bahagia" ujarku
Pasar malam ini, tempat aku mengingat kekasihku yang akan menjadi suamiku saat umurku 26 tahun.
"Terima kasih pangeran " ujarku
"Untuk apa?" tanya pangeran bingung
Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya tersenyum padanya, pangeran terlihat sangat heran.
Setelah dragon puas dengan berbelanja makanan, kami pun pulang ke istana. Sampai di istana aku dan dragon kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Aku membuka jendela dan keluar dari kamar karena terganggu dengan wajah kekasihku. Apa kabar dia di sana? Apa dia sudah makan? Apa yang dia lakukan? Aku rindu !
Tanpa sadar aku meneteskan air mataku, aku duduk sendirian di atas atap istana, ini sangat menyebalkan. Aku harap dia dan aku bisa bersatu di dunia novel ini. Apakah itu bisa terjadi? Aku menantikan keajaiban.
********
Disaat yang sama
Pangeran duduk di atas atas istana karena kebiasaan pangeran jika sulit tidur, pangeran melihat lie yang sedang menangis dan merasakan sakit di hatinya.
Apa yang aku rasakan ini? Aku tidak mengenalnya, kenapa aku merasa sakit melihatnya menangis? Aku akan duduk di sini saja dan memperhatikannya dari jauh.
******
Lie
"Bintang, sampaikan salamku padanya, katakan padanya aku sangat mencintainya, bisakah kami bersatu di dunia ini? Aku sangat merindukannya "
"Lie" panggil dragon
"Ada apa Chen?" lie menghapus air matanya
"Siapa yang membuatmu menangis? Apa pangeran?"
"Pangeran?" tanyaku heran
"Iya, pangeran ada di belakangmu, lie" ujar dragon
Aku melihat ke belakang, pangeran tersenyum padaku, ternyata aku menangis di lihat oleh pangeran, itu memalukan. Segera ku jawab pertanyaan dragon.
"Bukan Chen, aku menangis mengingat seseorang yang ku cintai yang sudah lama mati" ujarku
"Apa itu karena ibu tirimu? Aku akan membalasnya lie " ujar dragon marah
"Tidak, dia mati karena penyakit, aku tidak memiliki cukup uang saat itu" jelasku
"Tapi kamu kaya Lie, kenapa tidak meminta uang pada ayahmu" tanya dragon
"Chen, aku tidak di anggap anak oleh keluargaku, aku keluar dari rumah karena aku takut di bunuh oleh kakak tiri ku " ujarku
"Kakak tiri sudah mati, kapan kita hancurkan rumah?" tanya Chen
Pangeran pun mendekat dengan kami
"Menghancurkan rumah siapa?" tanya pangeran heran
"Pangeran, ibu Lie mati di bunuh oleh pengemis yang ada di rumahnya, sekarang menjadi istri sah ayahnya" jelas dragon pada pangeran.
"Benarkah itu Lie?"
"Benar pangeran"
"Apa kamu berpergian karena tidak memiliki rumah dan keluarga?" tanya pangeran.
"Harus ku akui pangeran, semua yang pangeran bilang itu benar" jawabku
"Aku turut sedih, Lie"
"Terima kasih pangeran" ujarku
"Aku akan menemanimu di sini, jika kamu masih mau diluar" ujar pangeran.
"Hahaha terima kasih pangeran, aku akan kembali ke kamarku" ujarku.
"Baiklah Lie, hati-hati".
Aku meninggalkan pangeran yang masih duduk di atas atap istana. Aku masuk ke dalam kamar melalui jendela kamar di ikuti Chen.
"Apa aku perlu tidur di sini?" tanya Chen
"Tidak" jawabku
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku"
Chen pun keluar dari kamarku melalui pintu kamarku. Segera aku merebahkan diriku dan memejamkan mataku. Hari ini sangat melelahkan.
Cit....Cit..... Burung berbunyi di luar jendela, pagi yang sangat indah.
Tok....Tok.... Seseorang mengetuk kaca jendela kamar, segera aku bangkit dari kasur untuk membuka jendela.
Sreek..... Bunyi jendela yang ku buka
"Ada apa Chen?"
"Aku ingin membangunkan mu untuk berjalan-jalan " ujar Chen.
"Baiklah"
Aku dan Chen terbang ke langit untuk melihat ibu kota saat pagi hari, ini sangat indah.
"Apa kamu masih bersedih?"
"Hahaha tentu saja tidak, Chen "
"Syukurlah"
"Ayo kita kembali" ujarku
"Baik"
Aku dan Chen pulang ke istana setelah 1 jam berkeliling di ibu kota.
"Aku akan kembali ke kamarku "
"Baik Chen"
Tok.... Tok.....
"Apa nona sudah bangun?"
Kreek... Aku membuka pintu kamar
"Ada apa?" tanyaku
"Pangeran menunggu nona di taman " ujar pelayan
"Katakan pada pangeran aku akan datang" ujarku
"Baik"
Pelayan tersebut pun pergi, segera ku tutup pintu kamar dan bersiap-siap menuju taman untuk bertemu dengan pangeran. Pangeran pasti bertanya tentang adiknya, aku harus bergegas ke taman. Ku percepat langkah kaki ini untuk menuju taman.
Di taman sudah ada pangeran yang sedang menikmati tehnya.
"Hari yang sangat indah, pangeran" ujarku
"Hahaha benar, silahkan duduk lie" ujar pangeran
"Terima kasih"
Segera aku duduk di kursi kosong tersebut
"Aku ingin bertanya tentang adikku, kapan kita akan memulainya?" tanya pangeran
"Hari ini aku akan mengobati adik pangeran" jawabku
"Syukurlah kalau begitu" pangeran menyesap tehnya dan meletakkan tehnya kembali.
"Ayo kita ke sana"
"Iya pangeran "
Aku mengikuti pangeran dari belakang
"Ini kamar adikku"
Aku mengganggu kan kepalaku
Kreeek... Pintu terbuka, aku melihat seorang wanita yang sedang terbaring di kasur. Pangeran dan aku mendekati wanita tersebut, wanita ini sangat mirip dengan ratu.
"Dia adikku yang sudah lama terbaring tetap masih dalam keadaan hidup, apa dia bisa kembali seperti dulu?" tanya pangeran
"Tentu saja pangeran"
Aku mengeluarkan sabun dari cincin dimensi ku
"Apa pangeran ingin melihatnya?" tanyaku
"Tentu saja, dia adikku"
"Apa hanya kita berdua saja?" tanyaku lagi
"Tentu"
"Bagaimana dengan raja dan ratu?" tanyaku lagi
"Tidak perlu, mereka sangat sibuk"
"Baiklah kalau gitu pangeran, aku akan membuka pakaian adik pangeran"
"Lakukanlah"
Aku membuka semua pakaian adik pangeran dengan sangat hati-hati, pangeran membantuku membukakan pakaian adiknya sambil menangis.
Setelah semua pakaian sudah terbuka, aku menggosokkan sabun pada tubuhnya. Sabun pun meresap ke dalam tubuhnya, pangeran yang melihat sangat kaget dengan kejadian tersebut.
************
To be continued...
kl boleh saran.. nulisnya yg ikhlas jd berkah. InsyaAlloh akan dimudahkan segalanya.
roh naga main numpang tubuh lie
lanjut semangat