NovelToon NovelToon
PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:27.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: A Lubis

Up setiap jam 8 malam.

Seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua dengan berkah api matahari dilengan kanannya.
Dia kemudian ditemukan seorang janda yang merawatnya dengan kasih sayang yang tulus, namun tanpa sadar dia mengeluarkan api yang membakar seluruh rumah yang membuat ibunya meninggal.
Karena itulah dia menjadi pemuda yang jahat dan gemar menghancurkan perguruan diwilayahnya.
Namun seorang guru akhirnya menunjukan jalan kebenaran, dan akhirnya dia dapat mengendalikan api mataharinya.
Namun bersamaan muncul kekuatan besar akan ada kekuatan jahat yang juga terlahir, mampukah dia memenuhi panggilan takdirnya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukit Atau Naga?

Bersamaan dengan

berkumpulnya para Komandan Kelelawar Iblis. Sungsang Geni saat ini sedang

menemani tabib gila mencari obat untuk Nyai Bidara.

Sungsang Geni telah

berjalan selama 5 jam, tapi bukit yang dikatakan sang tabib tidak kelihatan,

dan meskipun terlihat idiot nampaknya sang tabib cukup hebat dalam ilmu

meringankan tubuh.

Mereka menyusuri anak

sungai yang tenang, semakin kehulu semakin dangkal dan deras. Sungsang Geni

telah menemui vegitasi berbeda, batu berlumut dan berukuran besar, serta

tanaman rambat yang bergelantungan disisi pepohonan yang tumbuh di pinggir

Sungai.

Beberapa kali tabib

gila menarik beberapa tumbuhan yang dilewatinya, memasukan pada keranjang besar

terbuat dari jalinan rotan.

“Ini berguna!” ucap

tabib Gila, sembari memotong akar panjang yang melintang di jalan, potongan

akar itu mengeluarkan air yang jernih. Tanpa menunggu lama, sang tabib segera

meminum air akar itu hingga kering. “Ah....tanaman ini berguna untuk mengobati

luka dalam.”

Sungsang Geni tidak

terlalu peduli dengan kelakuan tabib itu, tidak dengan akar, tidak pula dengan

air, atau tidak pula dengan obat luka dalam. Yang dipedulikannya adalah, dimana

letak tanaman yang dapat mengobati Nyai Bidara.

“Paman Tabib apakah

tempat yang dimaksud masih jauh?” Perasaan Sungsang Geni tidak tenang sebelum

obat itu didapatkannya.

“Anak Muda, kau sangat

tidak sabaran. Lihatlah kesana!” Tabib itu kemudian menunjuk bukit kecil yang

terjal berada didepannya, “Kita telah sampai.”

Memang ada banyak bukit

kecil didepan mereka, tapi bukit yang ditunjuk tabib itu yang paling aneh. Bukan

hanya terjal, puncak bukit itu dipenuhi batu yang berukuran sama dan licin. Dan

membentuk sebuah corak yang aneh.

 “Paman Tabib, tunjukan padaku tanamannya!”

Sungsang Geni tidak sabar, “ biarlah aku yang mengambilnya.”

Tabib gila menunjuk

pada tanaman yang letaknya paling tinggi diatas bukit, “Kau lihat, tanaman

 yang berbunga kecil itu, jangan sentuh durinya karena sangat beracun,

kau hanya perlu mengambil semua bunga yang ada.”

“Baiklah, saya

mengerti,” ucap Sungsang Geni.

Berkat jubah kilatan

naga, tidak butuh waktu lama bagi Sungsang Geni untuk tiba di puncak bukit.

Setibanya disana, Sungsang

Geni terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka dan tidak pernah melihat

sesuatu yang dilihatnya seperti saat ini.

Ternyata batu licin

yang berukuran sama yang dilihat Sungsang Geni dari bawah, merupakan sisik

seokor ular yang sangat besar.

Rupanya tanaman itu

hanya akan tumbuh pada sisik ular yang telah berumur ratusan tahun. Mirip

seperti benalu yang hidup diselah-selah sisik yang besar.

Melihat kedatangan

Sungsang Geni, ular itu segera menyemburkan racunnya yang berbisa.

Sungsang Geni bergegas

mundur sejauh mungkin, menghindari bisa berwarna biru yang mengarah kepadanya.

Setiap bebatuan atau

tumbuhan yang terekena bisa itu, menjadi hancur dan mengeluarkan aroma yang

busuk.

“Rupanya duri yang dimaksud

tabib adalah bisa ular ini. Aku benar-benar tidak menyangka puncak bukit adalah

seekor ular besar yang sedang tidur. Pantas saja tidak ada tanaman yang tumbuh

dibukit ini.”  gumam Sungsang Geni.

Ular itu bukanlah

siluman atau naga, hanya ular biasa dari spesies pedak. Spesies ular yang

paling malas mencari makan, namun memiliki bisa paling mematikan. Ada banyak

ular dari spesies pedak hidup dengan waktu yang cukup lama, umumnya 90 tahun.

Namun, Sungsang Geni

mengira ular pedak didepannya sekarang, mungkin telah berusia 200 tahun bahkan

lebih. Beberarapa wilayah Kerajaan menamai ular sebesar ini sebagai naga.

Tapi tentu saja, ular

ini belum termasuk naga yang hidupnya lebih dari 1000 tahun. Namun bisanya

sudah lebih dari cukup untuk membunuh 30 ekor gajah dalam sekali semburan

racunnya.

Sungsang Geni tidak

ingin pertarungan ini menjadi lama, sebab satu detikpun sangat ber-arti bagi

Nyai Bidara, jadi dia segera menarik pedangnya.

‘Aku harus mengerahkan

seluruh tenaga dalamku, aku butuh sekali tebasan saja’ gumam Sungsan Geni.

“Bisikan kematian.”

Dengan cepat serangan Sungsang Geni telah memotong kepala ular menjadi dua, dan

jatuh tepat didepan sang tabib.

Melihat kemampuan

Sungsang Geni yang dapat menebas ular berumur ratusan tahun, membuat tabib gila

terjelit tak percaya.

“Kemampuanmu luar biasa

anak muda, bertahun-tahun aku berusaha mengambil tanaman ini dengan menyewa

para pendekar, tapi tidak ada yang sanggup mengalahkan ular ini, hingga membuat

akalku menjadi gila,” ucapnya Gembira, seraya memetik bunga-bunga kecil pada

tanaman itu.

Sekarang terbongkar penyebab

tabib itu menjadi gila, rupanya karena prustasi tidak dapat mengambil bunga-bunga

itu.

“Apakah tanaman ini

mampu menyembuhkan Nyai Bidara paman tabib?” tanya Sugsang Geni.

“Tentu saja, tanaman

ini dapat mengobati penyakit dalam dan  juga racun yang mematikan. Namanya saja bunga Tugumanik Jayakusuma, atau

bunga yang bangkit dari kematian,” ucap sang tabib.

Kemudian sang tabib

menjatuhkan setangkai bunga ke mulut ular yang dipenuhi bisa, “Lihatlah! bisa

ular menjadi kering karena bunga ini.”

Setelah selesai

mengambil bunga itu, mereka segera kembali kerumah sang tabib dengan buru-buru.

***

Setelah tiga hari menunggu akhirnya Nyai Bidara

tersadar juga, Miksan Jaya terlihat sangat bergembira, lalu bersujud dikaki  sang tabib.

“Tidak usah melakukan itu, jika bukan anak muda ini

yang mengambil bunga tugumanik jayakusuma, nyawa wanita itu tidak akan

selamat.” Sang Tabib meenunjuk kearah Sungsng Geni.

“Tuan, bagai mana caranya

agar aku bisa membalas kebaikanmu ini?” Miksan Jaya mendekati Sungsang Geni,

“Sedangkan seluruh hartaku telah raib dirampok bandit.”

Sungsang Geni tersenyum, “Tak usah dipikirkan, sudah

sepatutnya kita saling tolong menolong.”

“Paman tabib! Berapa uang yang harus saya bayar atas

pengobatan Nyai Bidara?” Sungsang Geni berniat kembali ke penginapan pangeran

Dewangga, semenjak Nyai Bidara dirawat Sungsang Geni belum kembali ke

penginapan.

“Tidak perlu, kau telah membantuku mendapatkan bunga

ini aku sangat berterima kasih.” Ucap sang tabib.

“Kalau begitu saya akan permisi, teman-temanku pasti

sudah sudah menunggu.” Sungsang Geni kemudian memberi hormat.

“Ini, ambilah,” sang tabib memberikan kendi kecil

terbuat dari giok, “Didalamnya terdapat ramuan bunga tugumanik jayakusuma,

mungkin nanti ada temanmu yang terkena racun.”

“Terima kasih paman tabib,” ucap Sungsang Geni, dia

melihat ada askara aneh di kendi giok itu, seperti lambang sebuah perkumpulan.

Sungsang Geni mendekati Nyai Bidara, nampaknya

wanita  itu belum memiliki tenaga untuk

mengenali dirinya, dia kemudian mendekati Miksan Jaya kemudian menyerahkan

sisah uang yang dimilikinya, “Aku tidak memiliki banyak uang, namun kuharapa

ini dapat membantu.”

“Sekali lagi

terimakasih tuan, jika nanti tuan memiliki kesempatan, pergilah ke kerajaan

Tumenang dilembah hantu.” Kemudian pangeran Miksan Jaya menyodorkan sebuah

lencana ungu, “Tunjukan ini kepada penjaga gerbang, mereka akan mengizinkan

dirimu masuk.”

Sungsang Geni memasukan

lencana itu kedalam saku bajunya, meskipun nampaknya benda itu tidak akan

terlalu berguna, namun mungkin suatu hari nanti dia akan mengunjungi Kerajaan Tumenang.

Sungsang Geni segera

menuju penginapan pangeran Dewangga, tapi nampaknya mereka telah pergi, dia

segera menuju kapal-kapal yang mulai meninggalkan pelabuhan.

“Geni!” terdengar suara

teriakan Dewangga, “Geni, kami disini !”

1
merah putih
kemana keris pusaka?
Aufaaaaa
widih autor nak panen kawe😄😄😄
Lily
ada" aja kakek satu ini 🤣🤣🤣
diina acuy
Luar biasa
zayick
mnjijikan
zayick
novel paling menjengkelkan adalah ktika mc lemah trhadap musuh wanita sungguh menjijikan jikapun ada dlam kehidupan nyata dengan senang hati saya membunuh mc macam ini walau dia hamba tuhan palih salih skalipun
Hidayat Dayat
Luar biasa
Hidayat Dayat
Lumayan
ridzuan yusoff
Luar biasa
Sudar Manto
asu
Malim Rieza DiWa
the best one
Yurnalis Yurnalis
pokuslah duly sama mcnya supaya kuat thor
Yurnalis Yurnalis
ini makananya ibis gak ada yg lain
Adian Oe
dari sekian bnyk cerita yg ku baca..ku akui ini yg plin the best..👍👍👍
Andre Oetomo
keren
Beni Nugroho
mantap tetap anti korupsi
Beni Nugroho
wadaow
Beni Nugroho
sabar itu adalah ujian aja
Beni Nugroho
deklarasi yang cukup bersejarah di dalam dunia pernovelan
Beni Nugroho
tukang maut kah dia?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!