Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Menyukainya
Tiara sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Sekitar pukul 4 sore, suasana butik juga sudah mulai sepi, hanya menyisakan satu atau dua orang saja, itupun mereka sudah berada di depan meja kasir dan siap bergegas untuk pergi.
Sudah sedari pagi Mona di sini. Sebenarnya dia merasa bosan, tapi karena ini memang permintaan Arga, jadi Mona menurut saja. Dan lagi, ini juga salah Mona. Kenapa tidak sedari tadi saja dia mencoba memilih gaunnya? Jadi, begitu Arga datang, cuma tinggal meminta penilaian saja.
Ya memang begitulah Mona. Lambat dalam bertindak.
“Kalau yang ini bagaimana?” Santi menjembreng rok gaun berwarna putih yang membalut sempurna pada model manekin.
Masih dengan berdiri sambil mengusap-usap dagu, Arga mengamati baju itu dengan saksama. Tak ayal dengan Mona, dia juga berekspresi sama dengan yang di lakukan Arga.
Awalnya wajah keduanya terlihat serius, hingga di detik berikutnya, keduanya sama-sama menarik dua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“Aku mau yang ini!”
“Pilih yang ini.”
Keduanya berucap secara bersamaan, membuat Santi terlihat gemas dengan tingkah mereka. Yang namanya jodoh, memang tidak kemana. Santi cekikikan sendiri.
“Perlu kalian tahu, sebenarnya gaun ini sudah ibu buat sejak dua tahun yang lalu, kemudian ibu simpan di ruangan khusus. Ternyata kalian benar-benar suka, jadi usaha ibu membuat gaun cantik ini tidaklah sia-sia.” Santi jadi terharu dengan kalimatnya sendiri.
“Oooh Ibu....” Mona menghambur memeluk Santi. “Terimakasih. Ini sungguh gaun yang sangat indah, dan aku sangat menyukainya.”
Kalimat Mona berhasil membuat mata Santi sedikit berair. “Iya sayang....” pelukan itu terlepas, kemudian Santi mengusap ujung matanya.
“Ya sudah, kalian pulanglah. Ini sudah hampir malam. Ibu nanti menyusul,” ucap Santi.
Mona dan Arga pun keluar meninggalkan Santi di butik bersama para karyawannya yang belum pulang.
“Kak,” panggil Mona.
Arga yang sedang fokus menyetir hanya bergumam.
“Kak Jade itu orang mana?” tanya Mona. Tidak bisa berbohong, sebenarnya Mona memang menyimpan rasa cemburu saat melihat Jade. Menurut Mona, Jade adalah wanita sempurna. Setiap lelaki pasti akan tertarik dengannya. Begitu juga dengan Arga. Itu menurut pemikiran Mona.
“Memangnya kenapa?” Arga balik bertanya.
Mona masih mendengung. Ia terlihat bingung untuk memberi jawaban. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau dia cantik.”
“Terus?”
“Barangkali Kak Arga menyukainya.” Mona berubah pias ketika usai mengucapkan kalimatnya sendiri. Terlihat seperti ada penyesalan karena telah melontarkan kalimat tersebut.
“Kenapa aku harus menyukainya, sedangkan di sampingku sudah ada wanita menggemaskan sepertimu?”
Mona langsung meringsut mengumpatkan wajahnya sendiri. Pipinya sudah mengembung menahan rasa malu di wajahnya. Di sampingnya, Arga justru terkekeh kemudian mengusap pucuk kepala Mona.
Dan kini, sekitar pukul tuju malam, setelah sampai di rumah besar milik Hutomo, cerita berpindah menuju ke seorang wanita yang sedari tadi dibicarakan Arga dan Mona saat di mobil.
Sambil duduk di depan meja bartender, dengan di temani satu gelas kecil berisi wine, Jade nampak terlihat sedang memikirkan sesuatu. Selain karena merasa jengkel karena mendengar kabar Arga akan menikah, Jade juga di rundung rasa penasaran dengan masa lalu Aura saat sebelum masuk ke dalam sel tahanan.
Selama ini, yang Jade tahu hanyalah rasa benci Aura pada semua yang bersangkutan dengan keluarga Hutomo. Jade tidak tahu jika pada akhirnya akan ada sebuah rencana lain untuk mendekati Arga.
Sudah terlanjur merasa penasaran, Jade akhirnya meraih tas kecil yang tergeletak di meja. Telapak tangannya masuk ke dalam, mencari sebuah benda pipih bernama ponsel.
Setelah menekan sebuah nomor, Jade langsung menempelkan ponselnya pada daun telinga.
“Halo!” ucap Jade begitu ponsel sudah tersambung.
Suara di seberang sana sedikit berisik, seperti sedang ada orang yang sedang bercengkerama di dekat orang yang Jade telpon.
“Iya, Halo! Ada apa Nona Jade?” balas Dion. Dia sedang duduk di sebuah kafe bersama teman-temannya.
“Apa kau bisa datang ke klubku? Aku ingin bertanya sesuatu denganmu?” pinta Jade pada Dion dengan suara lantang melawan riuhnya suara musik.
Sesaat Dion hanya diam sambil mengamati ketiga temannya yang sedang asik bercengkerama. Ada salah satu dari mereka yang bertanya dengan dua gerakkan alisnya, tapi Dion berpaling dan memilih menjawab permintaan orang di balik ponsel.
“Baiklah... aku akan menuju tempatmu.”
Ponsel sudah di masukkan ke dalam saku celana. Tubuhnya memutar lalu menggamit jaket yang tersampir di senderan kursi. “Aku pergi dulu.”
“Kau mau kemana?” tanya salah satu dari mereka.
Sambil berjalan Dion menjawab. “Ada urusan sebentar. Besok kita kumpul lagi.” Dion terus berlenggak sambil melambaikan tangan.
.
“Sebelum aku bertindak, lebih baik aku harus tahu dulu masalah yang terjadi di balik kasus Grace.” Jade masih bergumam sendiri sambil menggoyang-goyangkan gelasnya yang kosong.
Boleh di bilang Grace memang pernah menolong Jade dari kasus pemerkosaan di negaranya dulu, yaitu Amerika. Namun, setelah melakukan kejahatan yang utama, membuat Jade sedikit merasakan takut. Jade sudah memikirkan hal ini matang-matang, dan jika sudah masuk ke dalamnya, maka apapun resikonya Jade harus terima.
Masih dalam lamunan dalam suasana remang-remang yang riuh, Dion datang dari arah depan sambil melambaikan tangan. Jade membalas lambaian itu dengan senyuman.
“Cepat sekali?!” Tanya Jade ketika Dion sudah ikut duduk. Terpaksa Jade harus meninggikan suaranya karena kondisi klub yang memang sangat ramai.
Dion mengangguk. “Ada perlu apa kau menyuruhku menemuimu?”
Jade berdiri. Tubuhnya mencondong mendekati telinga Dion. “Kita ngobrol di dalam saja. Di sini terlalu berisik.”
Dion pun mengangguk dan ikut berdiri.
Setelah berjalan melewati lorong, sekitar dua menit kemudian mereka sudah duduk di sebuah ruangan karaoke.
“Maaf ya, malam-malam begini aku merepotkanmu...,” ucap Jade dengan nada rendah.
Dion mengibaskan dua tangan bersamaan. “Tak apa, aku juga sedang suntuk di rumah.” Jawaban bohong terlontar begitu saja.
Dion berdehem, melepas jaketnya lalu bertanya lagi. “Ada apa kau memanggilku kemari?”
Awalnya Jade terlihat bingung. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Setidaknya berbicara tanpa Dion tahu bahwa ini ada hubungannya dengan Aura.
Jade menarik napas. Begitu sudah di hembuskan, Jade berdehem pelan seperti yang tadi di lakukan Dion. “Kau tahu kan, aku tertarik dengan Arga, dan kau bilang harus bersaing secara sehat....”
Astaga! Jadi dia benar-benar tertarik dengan Arga? Sial! Jangan sampai dia merusak pernikahan Arga. Dion jadi bingung sendiri.
“I-iya... tapi sepertinya sudah tak ada harapan untukmu.”
“Maksudmu?” Jade tak mengerti.
Masih dengan raut wajah yang terlihat panik, sebisa mungkin Dion mencoba bersikap tenang supaya saat mulutnya bicara tidak tersendat-sendat. “Arga dan Mona akan menikah, kau tidak akan ada kesempatan untuk mendapatkannya,” ungkap Dion.
Jade hanya bisa tertawa getir. Bukan hanya menertawai ucapan Dion, tetapi menertawai betapa bodohnya diri sendiri. Harusnya Jade berpikir, Dion adalah sahabat Arga, mana mungkin dia mau membantu Jade mendekati pria yang sudah mau menikah.
Kalau sudah begini, bagaimana caranya supaya Jade bisa bertanya tentang masa lalu Arga dengan Aura, sedangkan alasan itu sendiri sudah tidak mungkin bisa di gunakan.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...