Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Toko perlengkapan hewan itu terasa sangat sejuk, dengan aroma kayu pinus dan suara kicauan burung di sudut ruangan. Arunika melompat-lompat kecil dari satu kandang kaca ke kandang lainnya, sampai matanya terpaku pada seekor kucing British Shorthair berwarna abu-abu kebiruan yang sedang asyik menjilati cakarnya.
"Mas! Liat ini! Mukanya mirip banget sama Mas kalau lagi ngantuk!" seru Arunika girang.
Tanpa menunggu persetujuan, Arunika meminta petugas membukakan kandang. Ia segera menggendong kucing gembul yang badannya terasa seperti gumpalan kapas padat itu. Dengan senyum lebar, ia berjalan menghampiri Thomas yang sedang berdiri kaku di dekat rak makanan kucing.
"Gendong, Mas. Cobain deh, empuk banget!" Arunika menyodorkan kucing itu tepat ke arah dada Thomas.
Mata Thomas membelalak. Ia refleks mundur satu langkah, kedua tangannya terangkat di depan dada seperti sedang menghadapi ancaman keamanan tingkat tinggi. "Nggak... Arunika, jangan deket-deket."
"Ih, Mas mah! Pegang doang, Mas. Dia baik kok, nggak gigit. Liat nih matanya bulet banget," goda Arunika, sengaja melangkah maju untuk memojokkan suaminya.
"Arunika, aku bilang jangan—" Thomas terus mundur, matanya bergantian menatap kucing itu dan wajah jahil istrinya. Ia tidak sadar bahwa di belakangnya sudah tidak ada ruang lagi. Duk. Punggung tegapnya terbentur dinding kayu dekorasi toko.
"Ayo dong, Mas Thomas yang berani sama direksi masa takut sama meong—"
Krak!
Tiba-tiba, salah satu tumit heels yang dipakai Arunika mendarat di celah ubin yang sedikit tidak rata. Keseimbangannya goyah seketika. Tubuhnya terhuyung ke depan. Dalam kepanikan karena merasa akan jatuh, insting Arunika bekerja; ia melepaskan kucing itu (yang untungnya mendarat dengan mulus di atas tumpukan bantal kucing) dan tangannya meraih apa pun yang bisa dijadikan tumpuan.
Lengan Thomas.
Arunika menarik lengan Thomas dengan kuat untuk menyeimbangkan diri. Namun, Thomas yang posisinya sudah terdesak ke dinding dan tidak dalam posisi siap, justru ikut kehilangan keseimbangan karena tarikan mendadak itu.
Dunia seolah bergerak dalam mode slow motion.
Tubuh Thomas yang besar ambruk ke depan, mengikuti arah tarikan Arunika. Arunika terjatuh terlentang di atas karpet bulu pajangan yang tebal, dan sedetik kemudian, beban tubuh Thomas menindihnya.
Bruk!
Suara benturan pelan itu diikuti oleh kesunyian yang mencekam. Thomas mendarat tepat di atas Arunika, dengan kedua tangannya menumpu di sisi kepala gadis itu untuk menahan agar berat tubuhnya tidak sepenuhnya menghimpit Arunika. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Begitu dekat hingga Arunika bisa merasakan deru napas Thomas yang memburu di permukaan kulit wajahnya.
Dunia seolah benar-benar berhenti berputar.
Hening. Hanya suara detak jantung yang berpacu liar—entah milik siapa, atau mungkin keduanya. Wangi parfum maskulin Thomas yang bercampur aroma cedarwood seolah mengunci indra penciuman Arunika.
Arunika mematung, matanya yang besar menatap langsung ke dalam manik mata Thomas yang gelap dan tajam. Di sana, ia tidak melihat kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan membingungkan.
"Mas..." bisik Arunika lirih, suaranya hampir hilang.
Thomas tidak langsung bangkit. Ia tetap diam dalam posisi itu, menatap bibir Arunika yang sedikit terbuka karena kaget. Jempol tangan kanannya yang menumpu di lantai bergerak sedikit, menyentuh helai rambut Arunika yang tersebar di karpet.
"Sudah kubilang... jangan main-main, Arunika," suara Thomas terdengar berat, lebih rendah dari biasanya, mengirimkan getaran aneh ke seluruh syaraf tubuh Arunika.
"Ma-maaf... tadi heels-ku nyangkut," gagap Arunika. Posisinya benar-benar intim; ia bisa merasakan panas tubuh Thomas yang merembes melalui pakaian mereka. "Mas... berat."
Thomas bergeming sejenak, tatapannya turun ke bibir Arunika lalu kembali ke matanya. "Berat ya? Padahal tadi kamu yang narik aku dengan semangat."
"Kan darurat!" seru Arunika kecil, wajahnya kini sudah semerah tomat matang. "Ayo bangun, Mas... ini di tempat umum. Malu dilihat orang kantor kalau ada yang lewat."
Thomas akhirnya menghela napas panjang, lalu perlahan mengangkat tubuhnya dan berdiri tegak. Ia merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, sementara Arunika buru-buru bangkit sambil menepuk-nepuk roknya, berusaha menutupi kegugupan yang luar biasa.
"Ehem," Thomas berdehem, mencoba mengembalikan kewibawaannya. "Makanya, kalau jalan hati-hati. Jangan terlalu fokus menggoda kucing."
Arunika membuang muka, pura-pura mencari kucing yang tadi ia lepas. "Kucingnya mana ya? Oh, itu dia! Dia malah tidur di bantal."
Ia menghampiri kucing abu-abu itu, menggendongnya kembali untuk menutupi tangannya yang gemetar. Saat ia berbalik, ia mendapati Thomas sedang memperhatikannya dengan senyum tipis—jenis senyum yang menunjukkan bahwa pria itu sebenarnya menikmati kejadian tadi.
"Jadi... jadi kita ambil yang ini?" tanya Arunika, suaranya masih sedikit bergetar.
"Ya. Ambil saja. Cari semua perlengkapannya sekarang, aku tunggu di kasir," jawab Thomas. Sebelum berbalik, ia mendekat ke telinga Arunika dan berbisik pelan, "Dan Arunika... soal jatuh tadi, anggap saja itu simulasi kalau nanti kamu beneran mau melanggar kontrak poin nomor empat."
Arunika melongo, matanya mengikuti punggung Thomas yang berjalan menuju kasir dengan langkah tenang dan santai.
"MAS THOMAS! MESUM!" teriak Arunika tertahan, sambil memeluk kucing itu erat-erat untuk menutupi wajahnya yang kembali panas.
Si kucing British itu hanya mengeong pelan, seolah ikut menertawakan majikan barunya yang baru saja mengalami serangan jantung mendadak karena gravitasi dan pesona seorang CEO.
Malam itu, saat mereka membawa pulang anggota keluarga baru yang mereka beri nama "Mochi", Arunika menyadari satu hal. Jarak antara "kontrak" dan "kenyataan" kini sudah tidak ada lagi. Karena setiap kali Thomas menatapnya seperti tadi, Arunika tahu bahwa jantungnya sudah tidak lagi mematuhi aturan hukum di atas kertas, melainkan hukum gravitasi yang selalu menariknya untuk jatuh lebih dalam pada Thomas Adiputra.
***
Lampu-lampu kota Jakarta berkelip di balik jendela besar apartemen mewah itu. Arunika baru saja selesai menata kandang empuk dan beberapa mainan baru di sudut ruang tengah. Si Mochi, kucing British Shorthair abu-abu yang gembul itu, tampak menguap lebar sebelum akhirnya masuk ke dalam "rumah" barunya dengan malas.
"Nah, Mochi sayang... malam ini kamu tidur di sini dulu ya. Biar nggak nakal dan nggak berantakin sepatu kerja Papa kamu yang mahal itu," bisik Arunika sambil mengelus puncak kepala si kucing.
Mochi hanya mengeong sekali, lalu meringkuk membentuk bola bulu yang menggemaskan. Arunika tersenyum puas, lalu ia berdiri dan meregangkan tubuhnya. Rasa lelah setelah seharian di kampus dan drama di toko hewan tadi mulai terasa.
Thomas baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan celana kain santai dan kaos hitam tipis yang mencetak jelas lekuk tubuh atletisnya. Rambutnya masih sedikit basah, memberikan kesan fresh namun sangat maskulin. Ia berjalan mendekat ke arah Arunika, berdiri tepat di belakang istrinya.
"Sudah selesai mengurus 'anak' barumu?" suara Thomas berat, bergema pelan di ruang yang sunyi itu.
Arunika berbalik dan hampir saja menabrak dada Thomas karena jarak mereka yang sangat dekat. "Sudah, Mas. Dia kayaknya langsung betah. Tapi dia emang persis Mas banget, tukang tidur."
Thomas tidak membalas candaan itu. Ia justru menatap Arunika dengan tatapan yang jauh lebih intens daripada saat di toko hewan tadi. Hawa dingin dari AC apartemen seolah mendadak lenyap, digantikan oleh panas yang menjalar dari tatapan Thomas.
"Kalau dia sudah tidur, artinya sekarang giliranku mendapatkan perhatian?" Thomas melangkah maju, membuat Arunika terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh tembok pembatas dapur.
"Mas... Mas mau ngapain?" detak jantung Arunika mulai berpacu liar. Ia teringat kejadian jatuh di toko tadi, dan sekarang, suasananya jauh lebih mendukung untuk sesuatu yang lebih... serius.
Thomas meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Arunika, mengurung gadis itu sepenuhnya. Aroma sabun mandi yang segar bercampur dengan aroma alami tubuh Thomas menyerbu indra penciuman Arunika. Thomas menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Arunika.
"Tadi di toko, kamu bilang aku 'suami idaman'," bisik Thomas, bibirnya hampir menyentuh telinga Arunika. "Dan kamu juga bilang kamu 'sayang' padaku, meskipun kamu bilang dobel hanya karena kucing itu."
"Itu... itu kan cuma..." Arunika kehilangan kata-kata. Ia mencoba menatap ke arah lain, namun Thomas menggunakan satu tangannya untuk memutar dagu Arunika kembali menghadapnya.
"Hanya apa, Arunika? Hanya akting? Hanya kontrak?" Thomas merapatkan tubuhnya. Arunika bisa merasakan panas tubuh Thomas yang merembes melalui kemeja tipisnya. "Persetan dengan kontrak itu. Sejak kapan seorang rekan kontrak merasa cemburu pada adiknya sendiri? Dan sejak kapan rekan kontrak mencium bibir partnernya di depan umum?"
Tangan Thomas beralih mengusap pipi Arunika dengan ibu jarinya, gerakan yang sangat lembut namun sarat akan gairah yang tertahan. Arunika merasa seluruh syaraf di tubuhnya seolah tersengat listrik. Ia memejamkan mata saat wajah Thomas semakin mendekat, merasakan embusan napas hangat pria itu di permukaan bibirnya.
Jarak di antara mereka kini hanya tinggal hitungan milimeter. Arunika bisa merasakan jantung Thomas yang juga berdegup kencang, sama gilanya dengan jantungnya sendiri. Ia mulai menyerah pada tarikan gravitasi pria di depannya ini. Ia meremas pinggiran kaos Thomas, bersiap untuk sesuatu yang akan merubah status "kontrak" mereka selamanya.
Bibir Thomas nyaris menyentuh bibir Arunika—hanya tinggal seujung kuku—ketika tiba-tiba...
Telolet... Telolet... Telolet...!!!
Suara nada dering ponsel yang sangat cempreng dan keras memecah keheningan romantis itu. Thomas tersentak, gerakannya terhenti seketika. Kepalanya tertunduk di bahu Arunika sambil mengembuskan napas panjang yang penuh dengan rasa frustrasi.
"Siapa yang menelepon di saat seperti ini..." desis Thomas pelan.
Arunika membuka matanya, megap-megap mencari oksigen sambil mencoba menahan tawa yang mendadak muncul karena situasi yang konyol ini. "Mas... hp Mas bunyi tuh."
Thomas merogoh saku celananya dengan gerakan kasar. Begitu melihat nama yang tertera di layar, ia memijat pangkal hidungnya.
"MAMI"
Arunika yang mengintip layar ponsel itu langsung tertawa terbahak-bahak, menutupi mulutnya dengan tangan. "Hahaha! Mami! Mas, angkat dong, nanti kualat loh!"
Thomas menatap ponselnya seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak. Dengan berat hati, ia menekan tombol hijau dan menjauhkan diri dari Arunika—meski wajahnya masih tampak sangat "panas".
"Halo, Mi? Ada apa malam-malam telepon?" tanya Thomas dengan suara yang berusaha dibuat setenang mungkin, meski masih terdengar sedikit serak.
"THOMAS! Kok lama banget angkatnya?! Kamu lagi apa? Jangan-jangan Mami ganggu ya? Hahaha!" suara melengking Mami terdengar bahkan tanpa perlu fitur loudspeaker.
"Mami tahu ganggu, kenapa masih telepon?" sahut Thomas datar.
"Iih! Galak banget! Mami cuma mau tanya, si Mochi gimana? Sudah dikasih makan belum? Tadi Mami kepikiran, kasihan kalau dia lapar di tempat baru. Terus... kalian sudah tidur? Nika mana? Mami mau bicara sama mantu kesayangan Mami!"
Thomas melirik Arunika yang sedang berguling-guling kecil di sofa sambil menahan tawa melihat penderitaan suaminya.
"Nika sudah tidur, Mi. Mochi juga sudah tidur. Semua sudah tidur kecuali Mami yang masih bangun," bohong Thomas tanpa berkedip.
"Masa sih? Kok suaramu kayak orang habis lari maraton gitu, Tom? Ngos-ngosan? Hayooo... Thomas, inget ya, jangan terlalu dipaksa anaknya, nanti Nika kecapekan besok kuliah!"
Thomas memejamkan matanya rapat-rapat. "Mami... sudah ya. Thomas tutup teleponnya. Selamat malam."
Klik.
Thomas mematikan ponselnya dan melemparnya ke sofa. Ia berbalik menatap Arunika yang kini sudah tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Puas tertawanya, Nyonya Adiputra?" tanya Thomas sambil berkacak pinggang.
"Hahaha! Habisnya... Mami timing-nya pas banget, Mas! Hahaha! 'Jangan dipaksa anaknya', aduh Mami emang juara!" Arunika memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
Thomas mendekat kembali ke arah sofa, membuat tawa Arunika mendadak berhenti. Thomas menumpu tangannya di sandaran sofa, menatap Arunika dengan senyum miring yang penuh ancaman manis.
"Mami benar-benar penyelamatmu malam ini," ujar Thomas. "Tapi ingat, Mami tidak akan menelepon setiap lima menit. Masih ada malam-malam berikutnya, Arunika."
Arunika menelan ludah, wajahnya kembali merah. "Mas... udah ah! Aku mau tidur beneran! Mochi aja udah tidur!"
Thomas terkekeh, ia mengacak rambut Arunika dengan gemas. "Ya sudah, sana masuk kamar. Tapi ingat, besok jangan minta gendong lagi kalau alasan 'capek' karena aku mungkin tidak akan se-sabar malam ini."
Arunika langsung lari masuk ke kamar dengan kecepatan cahaya, meninggalkan Thomas yang masih berdiri di ruang tengah sambil menatap kandang Mochi. Pria itu menghela napas, menatap layar ponselnya sekali lagi.
"Terima kasih, Mi. Hampir saja aku melanggar kontrak di hari pertama pindahan," gumam Thomas sambil tersenyum tipis. Ternyata, menjadi suami seorang Arunika memang membutuhkan kesabaran tingkat dewa, terutama saat menghadapi gangguan dari Mami dan seekor kucing gembul bernama Mochi.
gagal
coba lagi dong 🤭