NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 Rencana Licik Cintya

Sunyi jatuh menghantam keras. Raka bahkan tidak berani membaca ekspresi atasannya saat ini. Wajah Ren terlalu tenang dan sulit ditebak.

Beberapa detik berlalu, akhirnya Ren bersuara. "Nomornya aktif?" tanya Ren.

"Tidak aktif."

Ren kembali menatap layar beberapa saat. Sesuatu yang terasa aneh. Pesan itu memang ditulis atas nama Anjani. Tetapi, terasa bukan Anjani. Ia sulit menjelaskan, hanya terasa asing. Seakan seseorang sedang berusaha menjadi dirinya.

Ren mengembalikan ponsel itu ke Raka. Dia belum juga memberi solusi.

"Pak?" Raka akhirnya memberanikan diri bertanya. "Kita bagaimana?"

Ding. Lift terbuka. Ren masuk lebih dulu. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun kalimat berikutnya membuat Raka merinding.

"Cari dia."

"Pak?"

"Saya tidak peduli apakah dia mengundurkan diri atau tidak."

Pintu lift mulai menutup dan tepat sebelum benar-benar tertutup, suara Ren terdengar sekali lagi.

"Karena kalau itu benar dikirim Anjani..." Tatapan gelapnya menatap lurus ke depan. "Ia akan mengatakannya langsung di depan saya."

Ding. Pintu lift tertutup, meninggalkan Raka yang mendadak terdiam.

Hari sudah menjelang siang. Aurora semakin jauh dari kata tenang. Jika beberapa jam lalu suasana masih berupa kepanikan yang ditahan-tahan, kini seluruh lantai perusahaan mulai merasakan dampaknya secara nyata.

Telepon berdering tanpa henti. Pesan masuk bertumpuk. Jadwal berubah. Briefing tertunda. Dan yang paling buruk, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan keberadaan Anjani.

"Kabarnya gimana?"

"Masih nggak bisa dihubungi."

"Tidak ada jawaban."

Jawaban itu terdengar berulang-ulang di berbagai sudut kantor sampai membuat orang yang mendengarnya ikut stres.

Di divisi pemasaran, beberapa staf mulai berbicara lebih pelan dari biasanya. "Kalau model utamanya benar-benar nggak muncul gimana?"

"Nggak tahu."

"Kita udah terlalu jauh buat mundur. Kita juga nggak bisa jalan tanpa model."

Sementara itu di divisi event, suasananya tidak kalah kacau. Layout panggung sudah jadi. Media sudah mendapat undangan. Sponsor sudah mengatur kehadiran. Dan seluruh rangkaian acara masih bertumpu pada satu orang yang kini menghilang tanpa jejak.

Di ruang investor relation, beberapa orang tampak duduk mengelilingi meja rapat. Ekspresi mereka jauh dari kata santai.

"Investor mulai bertanya."

"Mereka berhak bertanya."

"Kita sudah menerima dana."

"Dan sekarang model utama tidak diketahui keberadaannya."

Seseorang menghela napas panjang. "Kalau sampai besok ada perubahan mendadak, kita bisa kehilangan kepercayaan."

Tidak ada yang membantah, marena semua tahu itu benar.

Di lantai direksi, tekanan yang sama kembali muncul. Namun, kali ini lebih tajam dan lebih sulit diabaikan.

Seorang direktur keuangan menatap laporan di depannya. "Pak Ren masih belum memberi keputusan."

Direktur operasional mengangguk pelan. "Beliau masih yakin."

"Masalahnya sekarang bukan soal yakin atau tidak. Masalahnya waktu."

Semua terdiam, memang itulah inti persoalannya. Waktu.

Sementara itu, di tempat lain. Cintya duduk anggun di sebuah ruang pertemuan kecil milik perusahaan. Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok pensil hitam. Penampilannya tidak berlebihan, tapi tetap terlihat profesional. Di depannya duduk dua orang dari investor relation yang kebetulan mengenalnya cukup baik.

Salah satu dari mereka tersenyum.

"Kami cukup sering melihat Anda di proyek-proyek Aurora sebelumnya."

Cintya membalas dengan senyum lembut. "Saya yang beruntung bisa ikut terlibat." Ia menggunakan kalimat rendah hati agar mudah disukai dan dipercaya.

Percakapan berlangsung ringan beberapa menit, membahas industri fashion, tren pasar, dan respons publik terhadap teaser Aurora.

Sampai akhirnya salah satu pria itu menghela napas. "Aurora sedang mengalami masa yang cukup sulit."

Cintya menundukkan pandangan sejenak, memasang ekspresi ragu, seolah tidak ingin ikut campur. Padahal ia menunggu momen itu sejak tadi.

"Karena model utama?" tanya Cintya seakan tidak tahu.

Pria itu mengangguk. "Ya."

Cintya tidak langsung menjawab. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, memberi kesan sedang berpikir. "Sebenarnya saya tidak ingin terlalu jauh mencampuri keputusan perusahaan."

Kalimat pembuka yang sempurna, karena biasanya orang yang berkata begitu justru sedang mencampuri.

"Tapi saya juga memahami kekhawatiran para investor," imbuh Cintya lagi.

Pria itu memperhatikan dan Cintya melanjutkan dengan nada tenang.

"Kalau memang perusahaan membutuhkan bantuan...saya siap "

Hening sejenak. Cintya tidak terkesan memaksa. Tidak ada ambisi yang terlihat jelas. Hanya terdengar seperti seseorang yang menawarkan solusi.

"Anda cukup mengenal konsep Aurora?"

tanya salah satu perwakilan investor.

"Saya mengikuti perkembangannya sejak awal."

"Dan kalau harus masuk mendadak?"

"Saya bisa beradaptasi," jawab cepat Cintya dengan penuh percaya diri.

Semakin lama pembicaraan berlangsung, semakin masuk akal nama Cintya terdengar. Memang secara objektif, ia memenuhi banyak syarat.

Cintya model profesional. Sudah mengenal perusahaan. Sudah memahami ritme kerja Aurora. Dan yang paling penting ia ada, tidak menghilang.

Salah satu perwakilan investor akhirnya menyandarkan tubuh. "Terus terang." Ia melipat kedua tangan. "Yang kami butuhkan saat ini adalah kepastian."

Cintya mengangguk penuh pengertian. "Kepastian memang penting. Terutama untuk proyek sebesar ini."

Ucapan Cintya membuat pria tersebut semakin yakin, karena ia mendengar apa yang ingin didengarnya. Bukan drama ketidakjelasan, melainkan kepastian.

Sementara Cintya, diam-diam merasa menang. Kali ini dia memang sengaja menggunakan cara cerdas dengan tidak langsung datang ke Ren, karena sudah jelas ia akan kembali ditolak. Dia memilih bergerak lewat investor yang tentu tidak mau dirugikan oleh ketidakpastian.

Tidak jauh dari sana, kabar itu mulai bergerak dari investor relation ke direksi, lalu perlahan menuju telinga orang-orang penting di perusahaan. Termasuk Ren Aksara.

Tok.

Tok.

Raka masuk ke ruangan CEO dengan membawa tablet di tangan.

"Pak."

"Hm."

"Ada perkembangan baru."

Ren masih membaca dokumen. "Apa."

Raka menelan ludah sebentar. "Beberapa investor mulai mengajukan nama model pengganti."

Baru kali ini Ren mengangkat kepala. Tatapannya lurus ke Raka. "Siapa?"

Raka membuka layar, lalu menjawab. "Cintya Marasita."

Ren diam tidak langsung berbicara atau menunjukkan reaksi apa pun. Yang justru membuat Raka semakin gugup. Semakin lama bekerja bersama pria itu, semakin ia paham satu hal. Ketika Ren diam terlalu lama, biasanya ada sesuatu yang sedang dihitung di kepalanya dengan sangat cepat dan rinci. Sering kali membuat orang lain terlambat menyadari.

"Investor yang mengusulkan?" Akhirnya suara Ren terdengar.

"Ya, Pak."

"Alasannya?"

"Model utama belum ada kabar. Risiko terlalu besar. Dan mereka menganggap Bu Cintya pilihan paling aman."

Raka selesai bicara, lalu menunggu. Menunggu kemarahan, penolakan, atau setidaknya reaksi tertentu. Namun, yang muncul justru kalimat datar.

"Saya tahu."

Raka berkedip penuh tanya. "Pak?"

Ren menutup map di depannya. "Saya sudah memperkirakan ini sejak pagi."

Raka mendadak bungkam. Jawaban Ren barusan bermakna satu hal, yaitu dia memang sudah memikirkan kemungkinan ini sejak awal.

Di sisi lain kota. Satriya menatap layar ponselnya. Sebuah pesan baru masuk dari Cintya.

Mas. Sepertinya semuanya berjalan sesuai rencana.

Sudut bibir Satriya terangkat tipis. Anjani masih berada di rumahnya. Perusahaan Ren mulai goyah. Dan kursi model utama Aurora mulai bergeser ke Cintya.

Apa yang bisa dilakukan Anjani sekarang? Tidak ada. Pikirnya. Sama sekali tidak ada.

Bersambung~~

1
Basla Fattana
waaahh.......kayaknya ren mau nembak anjani di bali🤭🤭🤭semoga aja ya thor🙏💪👍
Ayuwidia
Dinas sekaligus misi menaklukan hati Anjani
Ayuwidia
Semoga Anjani nggak muntah kayak adegan di full house
Ayuwidia
Kayaknya kalau pingin tajir melintir harus meniru Ren. Kerja terus, tanpa mengenal kata libur 🤭
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!