NovelToon NovelToon
Dayuh Sigadis Supernatural

Dayuh Sigadis Supernatural

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.

Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?

Yuk simak cerita nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 Kesalahan Fatal Noah

Tiga hari kemudian dia sudah mencari tau siapa orang yang ingin menghancurkan hidupnya. Noah berdiri di ruang bawah tanah yang dingin, tangan di saku jas, ekspresinya kembali rapi.

Semua sudah dihitung—menurut versinya.

“Orang-orang seperti Leo dan Sitara,” katanya pada dirinya sendiri,

“bergerak karena emosi.”

Ia menekan layar ponsel.

Target berikutnya sudah dipilih.

Bukan Aurelia.

Bukan Dayuh.

Bukan Leo.

Ia memilih orang yang ia yakini paling lemah.

Saga.

Noah tahu Saga bukan petarung.

Bukan pemimpin.

Bukan orang dengan kekuatan khusus.

Saga hanya… penghubung.

Dan dalam logika Noah, memutus penghubung berarti memecah sistem.

Ia mengirim satu perintah.

Tidak berisik.

Tidak dramatis.

Cukup “kecelakaan kecil”.

Namun Noah salah.

Karena Saga bukan pion biasa.

Saga sedang berjalan pulang sendirian.

Hujan turun ringan. Jalanan sepi.

Ia merasa diawasi—naluri yang selama ini ia abaikan.

Mobil hitam melambat di belakangnya.

Pintu terbuka.

Dua pria turun.

Saga menoleh.

Dan tidak lari.

Ia mengangkat ponsel—satu gerakan kecil.

Lampu merah kecil berkedip.

“Telat,” katanya pelan. “Kalian kelihatan.”

Salah satu pria mendekat.

“Jangan bikin ribut.”

Saga tersenyum tipis.

“Aku nggak pernah bikin ribut.”

Ia menekan layar.

 

Di tempat lain—

Leo langsung berdiri.

“Sekarang.”

Sitara sudah bergerak sebelum kata itu selesai.

Noah menerima laporan lima belas menit kemudian.

“Target selamat.”

Tidak.

Bukan hanya selamat.

Seluruh jaringan bayangan yang Noah pakai… terekspos.

Lokasi.

Nama.

Rantai perintah.

Semua yang seharusnya tidak diketahui—terbuka.

Noah menatap layar lama.

Tangannya gemetar—untuk pertama kalinya.

“Saga…” gumamnya.

Ia tertawa pelan.

Bukan marah.

Terkejut.

“Jadi kamu bukan penghubung,” katanya lirih.

“Kamu umpan.”

Kesalahan fatal Noah bukan karena gagal membunuh.

Tapi karena ia mengorbankan orang yang sejak awal memang disiapkan untuk diserang.

Dan dengan itu—

ia mengonfirmasi semua kecurigaan Leo & Sitara.

Aurelia duduk di ruang aman, selimut melilit tubuhnya.

Tangannya masih gemetar, tapi matanya tidak lagi kosong.

Ia mendengar nama Saga disebut.

“Dia target Noah?” tanyanya lirih.

Leo mengangguk.

Aurelia menutup mata.

“Aku bisa bantu.”

Semua menoleh.

Sitara menatapnya tajam.

“Kamu belum aman.”

Aurelia menggeleng.

“Justru karena itu.”

Ia membuka ponselnya—akun lama, nomor lama, akses yang Noah pikir sudah ia kuasai sepenuhnya.

“Ada satu rekening,” katanya pelan.

“Bukan atas namaku. Bukan atas namanya.”

“Nama siapa?” tanya Leo.

Aurelia menelan ludah.

“Nama orang mati.”

Ruangan sunyi.

“Aku yang buatkan dulu,” lanjutnya.

“Sebagai cadangan kalau semuanya runtuh.”

Sitara menyipitkan mata.

“Kamu menyembunyikan ini sejak kapan?”

Aurelia menatap lantai.

“Sejak pertama kali dia memukulku.”

Tidak ada yang memotong.

“Aku takut,” katanya jujur.

“Tapi aku juga belajar.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Dan sekarang… aku ingin dia jatuh.”

Dayuh tidak tidur malam itu.

Saat ia memejamkan mata—

Ia melihat lagi.

Bukan penglihatan masa depan.

Bukan visi.

Memori yang memaksa masuk.

Suara tamparan.

Napas tertahan.

Tatapan kosong Aurelia.

Dayuh terbangun dengan jeritan tertahan.

Keringat dingin.

Tangan gemetar.

Ia duduk memeluk lutut.

“Aku nggak mau lihat lagi…” bisiknya.

Namun penglihatan tidak datang dengan izin.

Saat Saga tertawa di dapur.

Saat Leo bercanda ringan.

Saat Sitara diam mengamati.

Semua terlihat normal.

Terlalu normal.

Dayuh mulai menarik diri.

Lebih pendiam.

Lebih mudah tersentak.

Ia berhenti menatap layar CCTV terlalu lama.

Ia berhenti memegang tangan Sitara saat malam.

Bukan karena tidak percaya.

Karena takut melihat lebih banyak.

Suatu malam, Sitara duduk di sampingnya.

“Kamu menjauh,” katanya pelan.

Dayuh mengangguk.

“Kalau aku lihat lagi…”

suaranya pecah.

“…aku takut aku nggak bisa berhenti.”

Sitara menatapnya lama.

“Bukan penglihatannya yang mengubahmu,” katanya akhirnya.

“Tapi pilihan setelah melihat.”

Dayuh mengangkat wajah.

“Aku bukan kuat,” katanya lirih.

“Aku cuma nggak bisa menutup mata.”

Sitara menggenggam tangannya.

“Dan itu,” katanya tegas,

“yang membuatmu berbahaya bagi orang seperti Noah.”

Dayuh menarik napas dalam.

Matanya masih takut.

Tapi kini—

ada api kecil di sana.

Noah berdiri sendirian.

Jaringan bocor.

Aurelia menghilang.

Saga hidup.

Dan yang paling mengganggunya—

Penglihatan itu masih ada.

Ia menatap bayangannya di kaca.

“Kamu memilih orang yang salah,” katanya pada refleksinya sendiri.

Untuk pertama kalinya…

Noah tidak sedang berburu.

Ia sedang dikejar.

Noah tidak lagi tidur nyenyak.

Ia bangun setiap dua jam, menyalakan lampu, memeriksa sudut ruangan, membuka ponsel tanpa alasan jelas.

Setiap suara kecil terasa seperti ancaman.

Ia tahu—

ada sesuatu yang melihatnya.

Bukan kamera.

Bukan manusia.

Ia berdiri di depan cermin, menatap matanya sendiri.

“Apa kamu melihat aku?” bisiknya pada bayangan.

Bayangannya tidak menjawab.

Namun di kepalanya—

semua orang terdengar mencurigakan.

Noah mulai membuat daftar.

Nama demi nama.

Orang yang mungkin tahu.

Orang yang mungkin bocor.

Orang yang terlalu diam.

Dan di sanalah ia melakukan kesalahan fatal.

Ia mencoret satu nama yang seharusnya tidak pernah disentuh.

Orang lama.

Seseorang yang selama ini menjadi penyangga—bukan pion.

Noah meyakinkan dirinya:

> Lebih baik satu korban tambahan daripada satu celah terbuka.

Ia memberi perintah.

Cepat.

Tanpa verifikasi.

Tanpa bukti.

 

Ia membunuh loyalitas terakhirnya sendiri.

Dan yang lebih buruk—

orang itu sudah bekerja sama diam-diam dengan pihak luar.

Dengan satu tindakan paranoid,

Noah bukan menutup celah—

ia membuka gerbang.

Aurelia duduk sendirian di kamar aman.

Ia tidak bicara.

Tidak menangis.

Tangannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru lolos dari neraka.

Di depannya, ponsel lama.

Model usang.

Tanpa aplikasi mencurigakan.

Noah tidak pernah memeriksa benda yang ia anggap tidak penting.

Itu kesalahan keduanya.

Aurelia membuka menu tersembunyi—

kode yang ia hafal sejak dulu.

Satu ketukan.

Dua ketukan.

Diam tiga detik.

Lampu layar tidak berubah.

Namun sinyal terkirim.

Bukan pesan.

Bukan lokasi.

Pola.

Pola yang hanya akan dikenali oleh orang-orang yang pernah diajari Noah sendiri…

lalu disingkirkan.

Aurelia menutup ponsel.

Tangannya gemetar setelahnya, bukan sebelumnya.

Ia menatap jendela.

“Sekarang,” bisiknya.

“Bukan cuma aku yang tahu.”

Dayuh tidak memejamkan mata—

tapi penglihatan tetap datang.

Ia sedang duduk, minum air.

Lalu—

realitas bergeser.

Bukan seperti mimpi.

Bukan seperti visi.

Seperti… dua lapisan dunia bertabrakan.

Ia melihat Noah berdiri di ruangan yang sama—padahal tidak ada.

Napas Dayuh tercekat.

“Dia di sini,” bisiknya.

Leo langsung menoleh.

“Apa maksudmu?”

Dayuh menunjuk—tangannya gemetar.

“Bukan fisiknya,” katanya cepat.

“Jejaknya.”

Sitara mendekat.

Wajahnya menegang.

Ia bisa merasakannya juga.

Untuk pertama kalinya—

Dayuh dan Sitara melihat hal yang sama.

Bukan interpretasi.

Bukan simbol.

Detailnya identik.

Waktu berhenti sepersekian detik.

Leo merasa pusing tiba-tiba.

Lampu berkedip.

Sitara menelan ludah.

“Dek.... Dayuh…”

“Jangan tarik semuanya.”

“Terlambat Kak,” jawab Dayuh pelan.

Di tempat lain—

Noah menjatuhkan gelas.

Tangannya gemetar tanpa sebab.

Ia menoleh ke sudut ruangan—kosong.

Namun rasa diawasi nyata.

“Cukup!” teriaknya.

Lampu mati sebentar.

Jaringan listrik drop.

Di markas Leo—alarm berbunyi tanpa pemicu.

Saga menatap layar.

“Ini bukan sistem,” katanya pelan.

“Ini… sinkron.”

Sitara memegang kepala Dayuh.

“Tarik napas,” katanya tegas.

“Kamu bukan cuma melihat—kamu menyentuh.”

Dayuh terengah.

“Aku nggak mau,” katanya putus asa.

“Tapi dia terlalu dekat.”

Noah membuat keputusan lain—

yang lahir dari paranoia murni.

Ia menghancurkan bukti.

Bukan memindahkan.

Bukan menyembunyikan.

Menghapus total.

Server.

Cadangan.

Catatan lama.

Ia yakin dengan itu—

penglihatan akan berhenti.

Namun justru sebaliknya.

Karena dengan menghancurkan masa lalu—

ia memutus jangkar realitasnya sendiri.

Dan saat itu—

Dayuh melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat.

Noah…

sendirian di ruang kosong.

Tidak ada jalan keluar.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada masa depan.

Sitara menatap Dayuh dengan wajah pucat.

“Kalau ini berlanjut…”

suaranya bergetar.

“…kalian tidak hanya saksi.”

“Apa?” tanya Leo.

Sitara menelan ludah.

“Kalian akan menjadi sebab.”

Keheningan jatuh.

Dayuh menangis pelan.

“Aku nggak mau jadi monster.”

Sitara memeluknya.

“Kamu bukan monster Dek,” bisiknya.

“Kamu hanya… terlalu sadar.”

💚💚💚💚💚

Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini—terima kasih.

Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.

Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.

Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!