NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Kenan untuk Kamila

Beberapa detik suasana menjadi hening. Kenan menarik napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Baik.”

Kinasih tampak sedikit terkejut. “Mas nggak marah?”

“Aku bilang kan, aku nggak akan menghalangi kamu bertemu siapa pun. Kalau memang kamu mau ketemu dia, silakan.”

Tatapan Kenan terlihat tenang meski menyimpan rasa yang sulit disembunyikan. Ia bergeser memberi jalan menuju lift.

Kinasih menatapnya sejenak. “Terima kasih.”

Kenan mengangguk. “Hati-hati di jalan. Kalau sudah selesai, kabari Reyna supaya dia tahu kamu sudah kembali.”

“Baik.”

Pintu lift kembali terbuka. Sebelum Kinasih masuk, Kenan sempat berkata pelan, “Semoga obrolannya menyenangkan.”

Kinasih membalas dengan senyum tipis. Lift pun tertutup perlahan, sementara Kenan tetap berdiri di depan pintu apartemen, memandangi angka lift yang terus bergerak turun. Meski dadanya terasa sesak, ia memilih menghormati keputusan Kinasih dan tidak mengganggu pertemuan itu.

Suasana kafe sore itu terasa hangat dan tenang. Kinasih melangkah masuk sambil mengusap pelan perutnya yang mulai membesar. Dokter Firdaus yang sudah menunggu langsung berdiri.

“Nash, di sini.”

Kinasih tersenyum tipis. “Maaf ya, Dok, bikin nunggu.”

“Nggak lama kok.”

Firdaus menarikkan kursi untuk Kinasih. “Ayo, duduk pelan-pelan.”

“Terima kasih.”

Seorang pelayan datang menghampiri. “Mau pesan apa, Dok?”

Firdaus menoleh ke Kinasih. “Kamu mau minum apa?”

“Jus alpukat aja, tanpa gula berlebih. Sama salad buah dan sup ayam.”

Firdaus mengangguk. “Satu teh hangat buat saya.”

Pelayan pun berlalu. Firdaus menatap Kinasih sambil tersenyum. “Gimana? Udah betah di apartemen?”

“Masih penyesuaian, tapi cukup nyaman.”

“Yang penting kondisimu terjaga. Kamu tahu nggak? Makin hari malah makin terlihat anggun dan cantik.”

Kinasih langsung tertawa kecil. “Dokter suka bercanda. Namanya juga ibu hamil, pasti terlihat lelah dan berantakan.”

“Aku serius. Ada pancaran ketenangan yang membuatmu terlihat berbeda.”

Mereka pun mengobrol ringan, sesekali diselingi candaan yang membuat Kinasih tertawa lepas.

Namun di sudut lain kafe, seorang pria bertopi dan bermasker duduk sendirian. Tatapannya tak pernah lepas dari meja Kinasih. Pria itu adalah Kenan. Ia menggenggam gelas kopinya erat.

Dalam hati ia bergumam, “Ternyata dia benar-benar datang… dan terlihat nyaman bersamanya.” Rasa cemburu perlahan memenuhi dadanya, namun ia tetap memilih diam. *“Urusan hati bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Yang bisa kulakukan sekarang hanya membuktikan lewat sikap, bukan memaksa perasaannya.”*

Tak lama kemudian, pintu kafe kembali terbuka. Seorang wanita berpenampilan elegan melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju kepada Kinasih. Wanita itu adalah Kamila. Senyumnya tipis, tetapi sorot matanya tajam.

Ia berjalan mendekati meja mereka, lalu berhenti. Dengan suara lantang ia berkata, “Wah… kira cuma satu rumah tangga yang kamu rusak. Ternyata sekarang lagi duduk manis sama laki-laki lain.”

Kinasih langsung menegang. “Bu Kamila… saya nggak mau ribut.”

Kamila tertawa mengejek. “Nggak mau ribut? Tapi ke mana-mana selalu bikin masalah.”

Firdaus langsung berdiri. “Bu, tolong jaga ucapan.”

Kamila menoleh. “Anda siapa?”

“Saya Firdaus, rekan kerja dan teman dekat Kinasih.”

“Kalau begitu jangan ikut campur urusan keluarga orang.”

“Saya memang bukan bagian dari masa lalu mereka, tapi saya peduli pada Kinasih. Bahkan saya sudah menyampaikan niat saya untuk menikahinya bila dia siap,” jawab Firdaus mantap.

Kinasih menatap Firdaus terkejut. Kamila tertawa pendek. “Hebat juga caramu mencari perlindungan.”

“Saya hanya ingin dia tidak dihina atau disakiti lagi,” tegas Firdaus.

Kamila menatap Kinasih tajam. “Mau alasannya apa pun, aku tetap terluka.”

Kinasih menundukkan kepala. “Saya paham kalau Ibu marah, tapi saya tidak pernah berniat merebut apa pun.”

Beberapa pengunjung mulai berbisik-bisik. Di sudut ruangan, Kenan perlahan berdiri dan melepas maskernya.

“Kamila.”

Suara itu membuat ketiganya menoleh. Kamila membelalakkan mata. “Kenan?”

Kenan melangkah mendekat. “Cukup. Jangan buat keributan lagi.”

“Kamu juga ada di sini? Selalu saja membelanya,” ucap Kamila kecewa.

“Aku hanya ingin menyelesaikan masalah dengan baik tanpa mempermalukan siapa pun.”

Suasana kafe kembali hening. Semua mata tertuju pada keempat orang itu, sementara ketegangan terasa semakin pekat.

Suasana kafe semakin ramai. Beberapa pengunjung mulai memperhatikan pertengkaran yang terjadi. Kamila masih berdiri dengan tatapan tajam ke arah Kinasih.

“Kamu puas sekarang? Satu laki-laki belum cukup, sekarang cari yang lain lagi,” sindirnya keras.

“Bu Kamila, cukup. Aku nggak pernah ngerebut siapa pun,” jawab Kinasih lirih.

Kamila tertawa sinis. “Kamu masih berani ngelak?”

Kenan yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya melangkah maju. “Kamila, lihat aku. Aku minta kamu berhenti mempermalukan orang di tempat umum.”

“Kenapa? Sakit lihat perempuan kesayanganmu dihina?” balas Kamila.

Kenan tidak terpancing. Ia menoleh kepada Kinasih. “Nash, ayo pulang. Nggak usah ladeni.”

Kenan mengulurkan tangannya. Kinasih menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk demi mengakhiri keributan.

“Baik.”

Kenan menggenggam tangan Kinasih dengan hati-hati. Mereka mulai melangkah menuju pintu keluar. Namun Kamila langsung berteriak dari belakang.

“Lihat! Pelakor itu dibela terus!”

Beberapa pengunjung kembali menoleh. Kinasih spontan menundukkan kepala, namun Kenan mempererat genggamannya. “Jangan didengar.”

Air mata Kinasih kembali menggenang. “Mas…”

“Kamu jalan aja.”

“Pelakor tetap pelakor!” seru Kamila lagi.

Kenan berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya dengan tatapan tenang namun tegas. “Kamila, aku sudah berkali-kali minta kamu berhenti. Kalau kamu terus membuat keributan dan mengganggu ketenangan orang lain, aku akan menempuh langkah hukum supaya semua ini berhenti.”

Kamila mengepalkan tangan, tetapi tidak menjawab. Di sisi lain, Firdaus melangkah mendekati Kamila.

“Bu, saya minta Ibu mengakhiri ini. Tidak ada gunanya memperpanjang pertengkaran di depan orang banyak.”

Kamila menatap Firdaus beberapa saat, lalu melirik ke arah pintu keluar. Ia tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.

Sementara itu, di luar kafe, Kenan tetap menggenggam tangan Kinasih hingga mereka tiba di lobi apartemen.

“Maaf…” ucap Kenan pelan.

Kinasih menatapnya bingung. “Maaf karena kamu harus mengalami kejadian seperti ini lagi.”

Kinasih menghela napas pelan. “Aku cuma pengin hidup tenang, Mas.”

“Aku tahu.”

Dan kali ini, Kenan memilih diam, berjalan di samping Kinasih hingga pintu lift terbuka, berharap setidaknya perjalanan pulang itu bisa dilalui tanpa ada keributan lagi.

Setelah memastikan Kinasih sudah masuk ke apartemen dan ditemani Reyna, Kenan kembali turun menuju parkiran. Mobilnya melaju menuju sebuah hotel tempat Kamila menginap.

*Tok… tok… tok…*

Kamila yang sedang duduk di balkon kamar hotel langsung menoleh. “Siapa?”

“Aku.”

Mendengar suara itu, Kamila buru-buru membuka pintu. “Kenan… akhirnya kamu datang juga.”

“Boleh masuk?”

“Tentu.”

Kenan melangkah masuk dengan wajah datar, lalu duduk santai di sofa ruang tamu. Kamila duduk di seberangnya.

“Mau minum apa?”

“Nggak usah.”

“Terus ngapain datang ke sini?”

Kenan menatapnya tenang. “Aku cuma mau bilang satu hal. Besok kamu pulang ke Jakarta.”

Kamila langsung tertawa kecil. “Kalau aku nggak mau?”

“Ya sudah.”

“Ya sudah gimana?”

“Kalau kamu memilih tetap di Surabaya, biar proses hukum berjalan soal kasus kebakaran rumah Kinasih. Aku sudah mendapatkan informasi yang mengarah pada orang yang bisa dimintai keterangan. Kalau penyelidikan berlanjut, siapa pun yang terbukti terlibat akan diproses sesuai hukum.”

Wajah Kamila berubah. “Kamu lagi nakut-nakutin aku?”

“Bukan. Aku cuma memberi tahu pilihan yang ada.”

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!