Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Moza
Adila menggeliat saat badannya terasa menggigil kedinginan. Tangannya merambah bagian kasur dengan mata yang masih terpejam, bergerak memutar, ke kiri dan kanan, tapi selimut tak kunjung juga ia dapatkan. Ia pun mengucek kedua mata, mengerjapkannya beberapa kali, perih.
Adila menggaruk kepalanya yang gatal. Pantas saja dingin, ia tidur dengan balutan gaun pesta yang ia kenakan semalam. Pesta...??? Adila tersenyun miris, gaun ini sudah mengingatkannya kembali pada Aditya.
Turun dari kasur, ia berderap menyibak tirai, ternyata di luar hujan. Sepagi ini...??? Adila membuka jendela, meraup udara, mencium bau hujan yang terasa menyejukan mata dan tubuhnya. Musim hujan telah tiba, Adila bersandar, apa musim hujan juga telah tiba dihatinya???
Adila mengingat kembali slogan dalam dirinya. Hidup itu pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan. Dan apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan. Ia pun menjambak rambut, menariknya sangat kuat.
Akhirnya Adila memutuskan untuk mandi, mendinginkan kepala dengan guyuran air shower yang merembes kesekujur tubuhnya, menghilangkan ingatannya tentang perkataan Aditya, Wanita Murahan... dua kata yang mampu meluluhlantahkan hati dan perasaanya.
Satu jam telah berlalu, Adila keluar dengan menggunakan bathrube putih dengan rambut basah yang digulung menggunakan handuk. Baru saja dia duduk didepan kaca, perutnya sudah berontak minta diisi.
Dilihatnya jam baru setengah tujuh, biasanya di jam seperti ini Mbok Karni sedang sibuk didapur menyiapkan sarapan pagi.
Menuruni anak tangga, Adila melangkahkan kaki menuju dapur. Tidak ada siapa-siapa, hanya kompor yang menyala dengan wajan berisi minyak panas dengan paha ayam didalamnya.
"Mbok Kaaar... Mboook...."
Mbok Karni melongok dibalik pintu kamar mandi, "Nggeh Non...?"
"Mbok lagi apa disana?"
"Barusan masukin baju kotor ke mesin cuci Non." Jawabnya sambil menghampiri Adila.
"Masaknya masih lama?"
"Ini tinggal goreng ayam saja Non." Seraya mengangkat ayam yang sudah kuning kecoklatan.
"Nasinya?"
"Sudah matang dari tadi, Non mau makan sekarang?"
"Iya..."
"Sebentar Simbok siapkan dulu."
"Aku makannya disini aja Mbok, jangan di meja makan."
"Iya Non."
Adila menuang penuh air putih kedalam gelas, dibawa duduk kemudian meminumnya.
"Pagi Adila..."
Adila yang sedang minum, melirikan matanya. Ternyata Moza, penampilan rapi dengan blazer hitam, khas baju kantor.
"Pagi."
"Semalam kamu pulang duluan ya?" Tanyanya sambil mengambil satu buah cangkir dan satu teh celup.
"Iya."
"Nadin cariin kamu loh semalem."
Astaga...gue lupa ama tuh anak, pasti dia ngamuk-ngamuk dah
Moza menggeret kursi disebrang Adila dengan secangkir teh yang sudah dibuatnya.
"Emang kamu nggak bilang kalau kamu mau pulang duluan?"
"Nggak, aku lupa." Jawab Adila dengan menerima sepiring nasi putih yang diberikan Mbok Karni.
"Ini ayamnya Non." Menyodorkan dua potong ayam di piring kecil.
"Makasih Mbok."
Adila mengambil paha ayam dan menggigitnya.
"Semalam juga aku pulang duluan, soalnya Aditya ngajak aku ke apartemennya yang baru dia beli."
Lu sengaja panas-panasin gue kayak nih paha ayam?
"Oh..."
"Iya... Aditya minta bantuan aku buat mendesain ulang furniturenya biar nyaman kalau ditempati berdua."
Trus penting buat lu ngasih tahu gue... nggak banget
Adila mengepalkan nasinya bulat-bulat dan memasukannya kedalam mulut.
"Dan akhirnya aku baru bisa pulang tengah malem. Tadinya sih Aditya pengennya aku nginep aja di apartemenya, tapi ya gimana... kamu tahu lah gimana godaannya kalau cowok sama cewek diam dalam satu ruangan yang sepi, takut lakuin dosa."
Adila mengangguk sambil menyuapkan nasi yang terasa sulit untuk dia telan.
Oh jadi lu wanita suci yang belum terkena dosa...? ntar gue kenalin lu sama dosa
Adila berdiri mengambil piring dan menyimpannya didalam bak pencuci piring. Mencuci tangan dan mengelapnya. Bukan kenyang, tapi perutnya terasa begah karena mendengar rentetan cerita panjang tentang apa yang dia lakukan dengan Aditya.
"Cepet banget makannya, nasi kamu kan masih banyak?"
"Pengen muntah..."
Sama omongan lu... lanjutnya dalam hati.
"Duluan..." Ucapnya sambil pergi meninggalkan dapur.
"Oke... nanti kita ketemu di kantornya Aditya ya... kebetulan aku ada janji ketemuan sepulang kantor."
Adila mengabaikan apa yang dikatakan Moza, tak akan dan tak mau peduli dengan apapun yang dia lakukan dengan Aditya.
Serah lu Grandong....
Punggung Adila sudah tak terlihat, tatapan Moza berubah tajam seketika, tersenyum misterius dengan mengangkat cangkir dengan kedua tangannya. Menyeruputnya penuh kenikmatan.
Gue harus bermain cantik....
Tiba-tiba Dona berjalan mengendap dengan wajah celingukan kebelakang punggung, memastikan Adila tidak akan kembali lagi menghampiri mereka.
"Akting kamu bagus sayang..."
Moza tersenyum," Siapa dulu dong Maminya... Dona..."
Seketika Dona membekap mulut Moza, melihat kesekitar ruangan.
"Jaga bicara kamu, jangan sampai seseorang mendengarnya."
"Oke Mam..."
"Ssssttt.... kamu pengen Mami dikubur hari ini juga?" Bisiknya penuh penekanan.
"Iya maaf-maaf TANTE ku sayang..."
Dona menarik tangan Moza untuk turun dari kursinya," Ayo ikut, ada sesuatu yang ingin Mami berikan sama kamu."
Sampai di kamar Moza, Dona menutup pintu itu rapat-rapat, menuntun Moza untuk duduk di tepi ranjang.
Dona mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku dressnya, kemudian dia kepalkan di telapak tangan Moza.
"Kunci apa ini?"
"Kunci mobil."
"Mobil siapa?"
"Ya mobil kamu."
Moza terperangah,"Mobil aku?"
Dona mengangguk sambil tersenyum penuh makna.
"Beneran mobil buat aku... Mami punya uang dari mana beli mobil?"
"Dari mana lagi kalau bukan dari Papi tiri kamu, susah payah Mami beli mobil mewah ini buat kamu... dan kamu tidak perlu tahu bagaimana Mami bisa mendapatkannya."
Senyum Moza melebar, memeluk Dona dengan erat.
"Makasih ya Mam, I love you so much."
"Love you to honey."
Dona mengelus punggung Moza," Apapun akan Mami lakukan untukmu, untuk kebahagian kamu. Maaf selama ini Mami tidak bisa bawa kamu untuk tinggal bersama Mami."
Moza mengurai pelukannya," Tapi sekarang aku bisa deket Mami terus kan?"
"Iya sayang..."
"Dan pengorbanan Mami itu tidak sia-sia, Mami bisa mewujudkan cita-cita aku untuk kuliah di luar negeri, menjadi arsitek handal seperti impianku selama ini, dan Mami tahu... Mami adalah Mami terbaik yang selalu memberikan apa yang aku mau... Tapi...." Moza menggantung perkataannya.
"Tapi apa sayang?"
"Tapi satu lagi yang belum aku dapatkan."
"Aditya...?" Tebaknya.
Mata Moza mengerling," Betul Mam..."
Moza berdiri, berjalan menuju jendela," Aku tidak akan biarkan cewek murahan itu merebut Aditya dari aku."
Dona ikut berdiri, menghampiri Moza," Tapi Mami masih belum yakin kalau si Dila pernah tidur dengan Aditya, mana mungkin bisa.... kamu yakin tidak salah mendengarnya kan?"
"Mam... pendengaran aku masih normal, aku mendengar jelas apa yang dikatakan Aditya, mereka itu bertengkar di parkiran, aku nggak mungkin salah."
Dona terdiam, memikir ulang apa yang Moza ceritakan saat dia pulang dari pesta semalam.
"Mami nggak percaya sama aku?"
"Mami percaya sama kamu, cuma Mami tidak habis pikir, ternyata si Dila sangat murahan. kalau saja Dimitri tahu, sudah habis dia... bahkan Dimitri bisa usir dia dari rumah ini."
"Aduh Mam, jangan sampai Om Dimitri tahu donh, yang ada nanti si cewek murahan itu disuruh kawin sama Aditya.. dan nasib aku gimana. Aku itu udah suka Aditya dari zaman SMA dulu, dan sekarang Tuhan kasih kesempatan untuk aku ketemu lagi sama dia, dan aku nggak mau kehilangan dia lagi Mam."
"Iya sayang Mami ngerti, Mami akan tutup mulut, tidak ada satupun orang yang akan tahu, kecuali kita berdua."
"Dan Mami harus bantu aku, buat Adila jauh dari Aditya bagaimanapun caranya."
"Kamu tenang aja, Mami bakalan cari cara agar cewek murahan itu bisa jauh dari Aditya...kamu harus percaya sama Mami." Jawab Dona sambil mengenggam tangan putri kesayangannya itu.
"Thanks Mam..."
Dona mengangguk," Ya sudah sekarang kita sarapan dulu, si gendut pasti sudah selesai mandinya."
"Gendut-gendut tapi Mami suka kan?"
"Suka banget lah... suka duitnya."
Moza tergelak," Ternyata TANTE ku ini masih belum berubah."
"Iya dong, TANTE DO...NA..."