menjalani hidup sebagai seorang siswa dan sebagai istri di usia yang masih terbilang sangat muda ada lah pantangan tersendiri bagi Almira Larasati namun ia harus menjalankan walaupun hati kecilnya menolak namun karena ingin mendengarkan jantung nenek yang ada di tubuh orang yang akan di nikahi nya ia bersedia menikah muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qiang ifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
save Amira
Amira berjalan dengan raut wajah kesal hampir rona pucat di wajahnya. Tindakan andy membuat gadis itu sama sekali tak nyaman. Tatapan Amira benar benar di penuhi dengan amarah.
Gadis remaja itu memasuki toilet dengan ekspresi membuat yang berada di dalam toilet menatap dengan bingung. Bahkan ada yang ketakutan.
Amira mencuci tangannya dengan Gerakan kasar. Dirinya terus membatin dengan argument miliknya. Tapi masih di menit yang sama Amira teringat dengan sosok Andy yang seringkali membantunya saat pertama kali menginjakan kaki di SMA.
Mereka 1 SMA yang sama. Hanya saja Andy kelas 3 Amira baru akan masuk SMA. Keduanya saling mengenal lewat percakapan singkat sewaktu Amira bertanya tentang letak kantor di SMA waktu itu.
Andy cukup ramah, menjelaskan dengan sangat detail letak semua bangunan SMA yang luar biasa megah itu. bahkan Andy menemani Amira tiap kali berurusan di SMA. Andy menawarkan diri.
Mungkin saat itu Andy mulai ada rasa pada Amira. Keseringan bertemu. Bukan cuman soal membahas urusan sekolah. Tapi hampir bertemu setiap hari. Keduanya banyak melewatkan waktu Bersama.
Tapi pertemuan mereka bisa di katakan tak sesering di saat Amira masih kelas 1. Menjelang kenaikan kelas 2 Amira mulai jarang bertemu dengan Andy karena dirinya sudah masuk universitas. Itu cukup menguras waktu,
Andy mulai sibuk. pendidikan Menyita waktu kedua pasangan remaja itu hingga
akhirnya tak ada lagi pertemuan tanpa alasan yang jelas.
Nomor ponsel pun sering berganti. Hal itu semakin membuat jarak diantara keduanya. Hanya saja apakah waktu itu Amira sama sekali tak ada perasan dengan Andy yang sudah sangat baik padanya? Entahlah sekarang pun kalau ada itu sudah tak mungkin diteruskan.
Amira sudah menikah berstatus istri
orang. Terlebih yang dinikahi Amira adalah paman kandung dari Andy. Hubungan
darah mereka masih terlalu kental.
Amira melempar bola matanya malas. Keluar dari kamar mandi membuatnya merasa lega. Kembali menghirup nafas dalam dalam sebelum dibuang dengan kasar. Sayangnya baru juga akan mengembuskan nya bola mata Amira menangkap dua pasang insan yang tengah bicara layaknya pasangan kekasih.
Kaki Amira melangkah dengan sendirinya. Bola matanya membesar memastikan kalau orang itu adalah mereka berdua Abi dan Natasha.
Amira Mendekat untuk mendengarkan percakapan keduanya. Berdiri di balik pilar yang berada di tengah café high class itu
Amira bersembunyi.
Amira menajamkan telinganya. Pilar itu pas sebagai tempat Amira bersembunyi, jarak yang tak terlalu jauh membuat Amira bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
“Aku selalu berharap kedatangan mu.” Abi bicara, tangan terus
menggenggam tangan Natasha sekali kali mencium punggung tangan itu dengan mesra.
“Tak ada waktu satu hari pun aku lewatkan agar terus berharap semoga tuhan berbaik hati. Senang rasanya kamu Kembali kedalam hidupku yang berantakan ini.
Aku tidak sabar untuk menatanya Kembali bersamamu.” Mata Abi berkaca kaca saat
menyampaikan pidato Panjang tentang perasaannya.
Maira berbalik. Memunggungi pasangan mesra itu. Amira membungkam mulutnya rapat rapat, air matanya jatuh dengan deras. Dirinya
terpukul mendengar ucapan laki laki yang berstatus suaminya itu.
Wanita mana yang bisa mendengar ucapan romantis itu untuk orang lain. Apakah dipikir Abi kalau pernikahan mereka itu hanya mainan.
Lolucon konyol rumah tangga. Atau Abi berfikir karena Amira masih anak anak jadi dia pantas bersikap semana mena. Amira terisak. Kasihan sekali gadis remaja ini.
“Kamu kenapa.” Suara Andy membuat Amira tercegat. Dirinya sudah berlinang air mata. Matanya sembab. Amira menyeka kasar wajahnya yang di bahasih oleh air bening itu.
“Gak apa apa.” Amira bicara dengan terbata bata. Tangannya sibuk menyeka air mata. Andy memegang pundak Amira. Kemudian melirik di balik pilar. Rahangnya mengeras ada sekebelat tatapan dipenuhi amarah yang berapi api. Tangannya semakin kuat mencengkram Pundak Amira.
Sorot mata tajam menatap sepasang manusia yang berbeda kelamin itu tengah bertaut mesra. Andy melepaskan cengkraman nya dari pundak gadis remaja yang tengah menangis sesugukan itu.
kakinya melangkah lebar. Menghampiri
pasangan yang terlihat di mabuk asmara itu Andy melayangkan tinju tepat mengenai wajah Abi.
“Dasar brengsek. Amira gak seharusnya menikah sama laki laki
kayak ka Syarif.” Andy terus bergerak dengan tangan terkepal kuat. Menghantam rahang
keras milik Abi.
Bertubu tubi.
Wajah Amira hampir tak berkedip melihat kelakuan Andy. Begitu brutal. Sementara Abi yang mendapatkan tinju merasakan kesakitan. Hidungnya mengeluarkan darah segar. Luka robek di bibirnya juga sama. Air yang berwarna merah terasa seperti logam itu menyembur
keluar.
Amira tak bisa hanya menatapnya saja. Itu tidaklah mungkin. “Ka Andy stop.” Amira berteriak sangat keras. Kaki mungilnya berlari dengan cepat agar keduanya tak berkelahi lagi.
Andy dan Abi sama sama tersungkur ke lantai café. Para pelanggan banyak yang menghindar dari perkelahian itu. kekacauan tak dapat di hindari. Meja di area mereka tak lagi tertata rapi. Pecahan kaca pun bertaburan di
lantai. Benar benar kacau.
Entah pukulan yang ke berapa kalinya barulah Abi berhasil menangkap tinju Andy yang akan menghantam bagian mata Abi. Rasanya tenaga Andy terkuras banyak saat melayangkan tinju pada Abi. Laki laki yang tengah menahan tangan Andy itu menatap dengan sorot mata yang dipenuhi amarah. Abi membuang tangan Andy menjauh hingga dirinya ikut terlempar.
Belum selesai keduanya berkelahi walau lebih tepatnya Andy yang memulai perkelahian. Abi berdiri dengan menyeka kasar darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan hidung. Di saat itu Andy menggunakan kesempatan itu untuk sekali lagi menghantam Andy, bukan dengan tangan melainkan dengan kursi.
“Ka Andy jangan.” Teriak Amira. Sayang seribu sayang Andy tak menghiraukannya. Dirinya mengangkat kursi besi untuk dihantamkan pada Abi. Na’as nya Amira berlari memeluk Abi di saat Andy menghantam kursi itu pada Abi.