Salsabila adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang hidup bersama dengan kedua orang tuanya. Salsa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di perusahaan milik seorang CEO yang ternyata adalah mantannya sewaktu masih SMA. Salsa terkejut saat mengetahui hal tersebut dan memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Namun hal yang tidak terduga terjadi, Mantannya tersebut tidak membiarkannya memundurkan diri dari perusahaan, tapi ia juga sering menyulitkan pekerjaan Salsa. Apa sebenarnya yang di inginkan pria tersebut ? ikuti terus alur ceritanya ya gays.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 32
Pagi menyapa, Salsa menguap dengan pelan. Ia menyibak selimut tebal yang memeluk tubuhnya. Salsa kemudian menjatuhkan kedua kakinya di lantai. Rambutnya sedikit berantakan. Muka bantalnya begitu terlihat.
Salsa melihat jam di ponsel. Ia kemudian melirik sekeliling. Ia hanya sendiri di dalam kamar yang sejuk itu. Salsa berdiri dan berniat untuk mandi. salsa tertegun di depan cermin saat sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Salsa masih tidak percaya jika saat ini ia sedang bersama Edrick. mengapa dunia begitu sempit. Ia merasa dirinya selalu terikat dengan pria itu.
Kemudian Salsa keluar setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi. Ia mengikat rambutnya ke atas dan terlihat indah dengan sedikit anak rambut di pinggir wajah yang jatuh.
Salsa membuka kopernya dan berniat untuk mengganti pakaian.
Ponselnya berdering, Salsa menoleh dan mendapati Edrick yang menelpon.
"Turun ke bawah sekarang. Saya tunggu di restoran hotel." ucap Edrick singkat lalu ia langsung memutus sambungan telepon tanpa mendengar respon dari Salsa.
Salsa melirik ponselnya dan ia menunjukkan ekspresi kesal. Kemudian salsa melanjutkan aktivitasnya.
Setelah beberapa saat, Salsa merias sedikit wajahnya. Ia mengunakan setelan formal berwarna krem. Sebab jam 11 nanti mereka akan bertemu dengan investor yang akan bekerjasama dengan perusahaan SV.
Setelah dirasa penampilannya sempurna, salsa memutuskan turun. Langkah demi langkah salsa jalani, hingga akhirnya ia tiba di dalam lift yang akan membawanya turun ke bawah.
Ting
Lift berhenti dan otomatis terbuka. Salsa melangkah keluar. kemudian ia berjalan menuju ruangan kaca yang tak jauh dari sana. Ia melihat Edrick yang sedang duduk dengan tenang sambil melihat tablet.
" Sudah lama menunggu?." ucap salsa.
Edrick menatap ke sumber suara dan melihat Salsa sejenak.
" Mengapa kamu begitu berbeda Salsa," gumam Edrick dalam hati. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali ke tablet.
" Ya, kamu sangat lama." ucapnya dingin.
Salsa menghela nafas dan memutuskan untuk duduk. Tak lama kemudian mereka didatangi pelayan. Salsa langsung memilih menu karena perutnya sudah lapar dan minta untuk di isi segera.
Gantian Edrick, pria itu juga memesan. Keduanya hanyut dalam keheningan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sarapan berlangsung hening hingga selesai.
" Sekarang kita akan menuju group JK di Seoul, aku harap kamu melakukan yang terbaik Salsa." ucap Edrick. Wajahnya serius dan penuh harap. Salsa hanya diam dan setelahnya ia mengangguk.
Edrick bangkit dan berjalan dengan gagah keluar dari ruangan kaca itu. Salsa juga ikut bangkit dan mengikuti Edrick dari belakang.
.
.
" Justin, apa kamu yakin papa tidak akan menemukan keberadaan ku di sini?. Aku takut." ucap Becca. Ia berlindung dengan memeluk tubuh justin.
" Tidak Becca, ini adalah tempat teraman. dulu aku sempat tinggal di sini saat masih kecil. Aku suka bermain di pinggir pantai. Dan sekarang tempat ini adalah milikku dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya selain diriku." Justin mencoba meyakinkan Becca jika ini tempat yang aman.
Becca menghela nafas lega.
Kini mereka berada di pinggiran kota di negara Amerika. Dimana ada pantai yang tak jauh dari rumah yang mereka tempati. Ada perahu kecil dan jembatan kecil di halaman rumah. sangat dekat dengan pantai. Ombak yang tenang dan pemandangan yang indah sedikit membuat hati Becca aman.
" Apa kamu malu karena tertangkap basah berselingkuh denganku?." tanya Justin saat situasi sepi.
" Ya, aku... Sebenarnya aku tidak malu. Hanya saja Tante Tiara..... Dia pasti sangat marah padaku. Tapi kamu tahu Justin, dia tidak mencintaiku. Edrick bahkan tidak pernah menganggapku. Hanya kamu yang mencintaiku. Dan aku bahkan merasa seperti ini adalah takdir yang terbaik untukku." Becca menjelaskan perasaannya sambil menatap lekat mata Justin.
Mendengar penuturan Becca, Justin diam dan memandang ke arah laut. Bintang terlihat sangat indah. Sedetik kemudian ia tersenyum.
" Aku rasa...... Ini hal yang salah Becca. Tapi seperti yang kamu katakan... Aku memang mencintaimu. Sebagai seseorang yang mencintaimu, malam ini aku berjanji akan melindungimu apapun yang terjadi. Meskipun aku harus berhadapan dengan... Ayahmu."
Justin memandang wajah Becca dengan tulus.
Mendengar ucapan Justin, Becca menitikkan air mata dan bersandar pada dada Justin.
" Terimakasih Justin, kamu memang selalu mengerti aku. Aku sayang padamu." Keduanya berpegangan tangan sambil menatap indahnya pemandangan laut di malam hari dengan cahaya bulan yang begitu terang.
Justin mengangguk dan ia kembali tersenyum.
.
.
Suasana di rumah mewah milik keluarga suiser berubah panas. Para bodyguard dan orang orang suruhan Kevin sedang dirundung ketakutan. Saat ini mereka sedang menyaksikan Kevin yang marah besar akibat Becca yang tidak bisa di temukan.
" Becca, Jangan pikir kamu bisa kabur dengan pria sialan itu!." semua perabotan yang ada di atas meja di ruang tamu itu berhamburan di mana mana.
Sonia hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Rasanya begitu mengerikan jika harus menenangkan singa yang sedang kelaparan. Sonia terus saja menghubungi nomor becca, tapi nihil nomor itu kini sudah tidak aktif.
Kevin mengepalkan kedua tangannya hingga urat urat tangannya terlihat. Wajahnya me merah menahan amarah.
" Hubungi Imanuel katakan padanya untuk menemuiku." ucap Kevin.
Sonia tersentak dan membulatkan mata saat suaminya berbicara padanya.
"Ta...tapi Pa, Imanuel sedang kuliah." jawab sonia dengan nada bergetar.
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Jangan membantah Sonia." ucap Kevin dengan nada di tekan.
Sonia dengan terpaksa menghubungi nomor Imanuel. Tak lama kemudian sambungan telepon tersambung.
" Halo nak, Papa ingin bertemu denganmu." ucap Sonia di seberang telepon.
" Tentang kak Becca?." ucap Imanuel yang sudah bisa menebak.
" Iya." Ucap Sonia.
" Besok Nuel akan berangkat ke Indonesia. Tunggu Noel ma." Sambungan telepon terputus.
Saat ini Imanuel sedang kuliah di Korea. Ia juga seorang pria yang sama persis seperti ayahnya. baik itu dari watak maupun perilaku. Dia bahkan bisa lebih kejam dari ayahnya, hanya saja ia sangat lembut jika dengan ibu dan kakaknya.
" Nuel akan berangkat ke Indonesia besok." Ucap Sonia.
Kevin hanya diam. Kemudian ia menyuruh anak buahnya pergi dari ruangan itu. Sementara Sonia memberanikan diri untuk duduk di samping Kevin.
" Sudah jangan terlalu terbawa emosi. Kita percayakan semuanya pada putra kita. Dan tentang Becca, aku harap kamu jangan terlalu keras padanya. Dia hanya anak perempuan yang lemah, dia butuh kasih sayang darimu......sebagai ayahnya." ucap Sonia lembut sambil mengelus pundak Kevin.
" Sonia, kamu lebih tahu bagaimana masa lalu mu. Dia bukan putriku."
Ucapan dingin dan tajam itu berhasil membungkam Sonia. Ia terdiam dengan hati yang tersayat.
" Dia putrimu Kevin. Aku bersumpah." Sonia mulai menitikkan air mata.
Kevin berlalu tanpa memperdulikan perkataan Sonia. Kevin pergi dari rumah di jam yang selarut itu. Sonia merasa begitu terluka dengan sikap Kevin.
" Andai kamu tahu yang sebenarnya, kamu akan menyesali semua perbuatanmu pada Becca." Sonia mengepalkan tangan menahan amarah.
sukses dan sehat selalu utk kak authornya
tapi kadang hidup memang spt itu
ya sudahlah anggap saja kesempatan utk edrick sudah habis
udah part 80an belum bisa menebak endingnya
kadang kalo pemeran prianya udah terlalu nyakitin aku lebih suka sad ending 🤭🤭🤭
kenapa semua CEO otaknya ga sat set sih