Karena tidak selamanya pernikahan karena perjodohan itu berakhir menyedihkan, dua insan dengan perbedaan usia yang cukup jauh ini pun berusaha untuk menjadikan pernikahan mereka agar berakhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Salma telah tertidur ketika Adit pulang kerja. Dia terbangun begitu merasakan seseorang yang naik ke kasur. Salma segera mengerjapkan matanya dan menoleh ke sisi sebelah. Adit yang masih memakai baju kerjanya duduk disebelah sembari mengusap rambut Salma. Lalu ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 21.50.
"Baru pulang, mas?" tanya Salma sembari mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Adit sambil mengucek matanya.
"Iya. Maaf ya aku pulang malem"
"Gapapa, kan kemarin mas udah bilang. Mau dibikinin sesuatu mas?"
"Anak!"
"Eh? Itu mah bikinnya harus barengan mas, aku ga bisa bikin sendirian" jawabnya setelah memukul lengan Adit.
"Hahahaha... bercanda sayang, tolong bikinin teh anget ya, Sal. Sama potongin buah tapi jangan banyak-banyak"
"Mas belum makan ya?"
"Tadi sama pak Hendra cuma makan burger, soalnya kerjaan lagi banyak banget. Jadi nyari makan yang praktis aja"
"Besok-besok kalo lembur sampai susah makan gini, kabarin aku ya mas. Nanti aku ke kantor bawain makanan, terus aku suapin biar ga ganggu kerjanya. Jangan dibiasain asal makan gitu"
"Iya bu guruuuuuu..."
"Yaudah, mas mandi gih. Aku bikinin dulu pesenannya" ucap Salma sembari mengecup bibir Adit sekilas dan berjalan keluar kamar.
🎎🎎🎎🎎🎎
Setelah selesai berkutat di dapur, Salma membawa masuk nampan berisi teh hangat dan sekotak potongan buah melon. Ia meletakkannya dimeja dekat kasur dan menekan tombol remote untuk menonton TV sembari menunggu Adit selesai mandi.
Tak berapa lama, Adit keluar dari kamar mandi dan menuju ke arah nampan pesenannya. Ia duduk bersandar headboard, memangku nampan makanannya sambil menonton TV.
"Buahnya mau nambah ga mas? Atau mau dibuatin roti?"
Adit menggelengkan kepalanya. "Udah cukup, sayang" jawabnya lirih.
"Mau dipijitin mas?"
Dengan cepat Adit mengangguk dan meletakkan nampannya dimeja. Dia segera menengkurapkan tubuhnya, dan Salma pun mulai memijat badan dan kaki Adit.
"Aku tadi beliin sesuatu buat mas Adit pas jalan-jalan sama Widya"
"Hm? Beliin apaan?"
"Nanti kalo udah selesai aku pijitin, aku ambilin deh"
Adit hanya mengacungkan jempol kanannya.
Setelah selesai dengan sesi pijatnya, Salma berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah paper bag kecil.
"Pas lewat depan tokonya, aku keinget mas Adit. Jadinya aku masuk dan beli deh, aku... juga belum pernah beliin apa-apa kan buat mas Adit" ucap Salma lalu menyerahkannya pada Adit yang duduk bersandar di kasur.
"Terimakasih, sayang" jawab Adit setelah menerima hadiah itu.
Adit membuka hadiah pemberian istrinya, ternyata berisi dasi berwarna navy dan abu-abu. Adit tersenyum ke arah Salma dan menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.
"Sekali lagi terimakasih ya" ucapnya lalu mengecup kening Salma.
"Aku liat dasi mas Adit yang warna itu cuma dikit, jadi aku tambahin buat koleksi hehehehe...."
"Kamu tau, apa artinya kalo ngasih dasi kepada seorang pria?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Emang... ada artinya ya, mas?"
"Ada yang bilang katanya penerima hadiah dasi akan menjadi orang yang berderajat tinggi dan cita-citanya yang besar akan tercapai. Ada juga yang bilang..."
Adit sengaja menjeda perkataannya dan menatap Salma yang menjadi penasaran.
"Apaan mas?"
Adit segera mendorong tubuh Salma dan menindihnya sambil mengikat tangan Salma ke atas dengan menggunakan dasinya.
"Ada bilang ini untuk mengikat seseorang yang ia cintai selamanya" jawab Adit sambil terus memegangi tangan Salma yang terikat dasi.
"Oiya? Kalo gitu ga salah kan aku kasih hadiah itu buat mas Adit? Aku memang mau mengikat mas Adit selamanya untuk jadi suamiku"
Adit menggeleng. "Enggak salah. Jadi... karena suasananya udah kayak gini, kita lanjutin aja ya Sal" ucap Adit yang kemudian mengecup bibir Salma.
"Maksud... mas Adit suasana yang... kayak gimana?"
"Kayak difilm yang pernah aku tonton dulu, tangan ceweknya terikat dasi lalu dilanjutkan dengan aktivitas lainnya yang bergairah"
"Iiiihh dasar mesum!"
"Cuma sama kamu, Sal" jawab Adit santai yang kemudian memulai pergerakan untuk memulai ibadahnya sebagai suami istri itu.
🎎🎎🎎🎎🎎
7 bulan sudah usia pernikahan Adit dan Salma, namun keduanya masih belum menemukan celah untuk berbulan madu. Liburan semester lalu saat Salma libur 2 minggu, Adit justru sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaannya. Harus berkunjung kembali ke Jogja selama 3 hari dan mau tidak mau Salma kembali ikut keluar kota bersama suaminya. Bedanya, kemarin ia tak jalan-jalan berkeliling dengan Adit. Sehingga Salma memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan pergi ke sanggar batik di daerah Bantul.
Salma juga sering pergi ke kantor Adit untuk mengantar makan malam saat suaminya harus bekerja lembur. Ia tahi kebiasaan suaminya yang suka makan sembarangan saat lembur dan lebih mementingkan pekerjaannya. Tak jarang Salma membawa laptopnya untuk menyiapkan materi mengajarnya atau mendownload dan menonton drama Korea. Hanya gadget-lah penyelamatnya dari kebosanan menunggui Adit saat lembur.
Seperti sekarang ini, Salma menemani Adit lembur di kantor bersama pak Hendra dan beberapa staff lainnya. Adit meninggalkan ponselnya disebelah Salma selagi ia membahas proyek terbaru di ruangan sebelah.
Ting...
Bunyi notifikasi ponsel Adit yang ada di sebelah laptop Salma. Salma melirik kelayar ponsel Adit dan membaca sekilas pesan yang masuk.
"Tya" gumam Salma. Ia lalu memfokuskan matanya untuk membaca pesan yang terlihat.
📩 Besok kita jadi ketemu kan? 😍
"Mereka mau ketemuan? Apa udah sering ketemu? Kenapa itu cewek pake emot kayak gitu? Bukannya waktu itu dia sebel sama mas Adit? Apa habis dari Jogja dulu mereka masih sering berhubungan?". Begitu banyak pikiran yang terlintas dibenak Salma.
Mau tidak mau, dirinya mulai mencurigai sang suami.