Bercerita tentang Diaz seorang arsitek fresh graduate yang baru saja tiba di Jakarta dan bertemu pelukis ternama yang cantik dan dingin (Rosmalia).
Sampai suatu insiden terjadi, Rosmalia kehilangan tangan kanan nya dan itu membuat nya frustasi lalu berhenti untuk melukis.
"Hujan tak sengaja mempertemukan kita untuk suatu alasan. Salah satu nya mungkin aku bisa menjadi tangan kanan mu!"
-Diaz-
Mampukah Diaz membuat Rosmalia kembali merangkai mimpi-mimpi nya, dan membuat nya melukis lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gafiqih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh dua
Malam penuh bintang, di pinggir pantai. Mereka duduk tanpa alas melingkari api unggun, di temani petikan gitar Lily yang sendu, seolah memanjakan telinga mereka semua.
Obrolan tak penting dan topik yang tidak jelas mengalir begitu saja, tersapu oleh ombak yang saat itu sedang tenang.
"Balik ke vila yuk!" Ucap Sara sehabis menguap.
"Lo udah ngantuk ya?" Tanya Ghea.
Sara mengangguk, dan perlahan mulai bangun dari duduk nya, yang lain pun ikut bangun dan berjalan menuju vila. Melihat Sara yang jalan nya sempoyongan, Ghea punbmenghampiri Sara dan menggandeng nya.
"Lo sakit?" Tanya Jihan yang menghampiri Sara.
Sara menggeleng kan kepala nya dan berkata, "Gak, cuma ngantuk aja."
Jihan pun ikut menuntun Sara, dan tak lama kemudian mereka sampai di vila.
"Guy's kita ke kamar duluan ya," Ucap Ghea.
"Iya, have a good rest ya," Sahut Rosmalia sambil tersenyum.
Diaz langsung menuju sofa dan bersandar di sana, kemudian di susul dengan Lily yang duduk di samping nya. Rosmalia yang melihat itu pun langsung memisah kan mereka dengan duduk di tengah-tengah, di antara Diaz dan Lily.
"Ihh apan sih kak Lia, sempit tahu!" Ujar Lily.
Rosmalia hanya tersenyum tipis dan menatap Lily dengan tatapan yang tajam, alis nya sedikit terangkat seolah berkata "menjauh dari Diaz!"
Tiba-tiba Diaz menyandarkan kepala nya di punggung Rosmalia, dan hal itu membuat nya terkejut. Rosmalia tak berani menoleh, hanya bisa merasakan saja, merasakan betapa berat nya beban pikiran Diaz.
Lily terlihat menahan tawa nya saat melihat ekspresi kakak nya.
"Diaz, kamu kenapa?" Tanya Rosmalia.
"1 menit lagi!" Jawab Diaz.
"Apa nya yang 1 menit?" Tanya Rosmalia.
"Satu menit saja ku mohon, jangan melihat ke arah ku dulu!" Ujar Diaz.
"Memang nya kenapa?" Tanya Rosmalia.
"Aku tidak mau, menunjukan sisi lemah ku kepada mu!" Jawab Diaz.
Rosmalia pun menuruti perkataan Diaz, dan menunggu 1 menit yang di katakan Diaz, wajah Rosmalia sudah tidak terlihat panik, dan Lily sudah tidak menertawai kakak nya lagi.
1 menit terasa sangat lama, tak seperti biasa nya.
"Apa kamu bahagia seperti ini?" Tanya Diaz.
"Bahagia," Jawab Rosmalia, "karena ada kamu di sisi ku."
"Bukan karena sekarang kamu memiliki banyak teman?" Tanya Diaz.
"Tidak mungking sebahagia ini, jika tidak ada kamu," Jawab Rosmalia.
Diaz pung mengangkat kepala nya dan menyalakan sebatang rokok, Rosmalia pun berbalik badan dan memeluk Diaz.
"Maaf kan aku yang terlalu egois dengan kebahagian ku, tanpa memikirkan kebahagian mu!" Ujar Rosmalia.
"Bukan itu yang aku pikir kan, aku cuma sedang bertanya kapada diriku sendiri, apakah aku mampu membuat mu sebahgia ini," Ucap Diaz.
"Firasat ku tak pernah salah, dan kamu pasti bisa membuat ku lebih bahagia dari ini!" Ujar Rosmalia.
"Terima kasih Rosmalia," Ucap Diaz sambil tersenyum.
Lily pun bangun dari duduk nya dan berkata, "Aku ke kamar duluan ya kak."
Rosmalia melepas pelukan nya, dan menganggukan kepala nya.
"Kamu istirahat juga sana Ros!" Seru Diaz.
"Nanti aja, aku belum mengantuk," Jawab Rosmalia.
Diaz hanya menatap Rosmalia dan menggerak kan sedikit kepala nya, seakan berkata "masuk sana!"
"Kamu jangan malam-malam tidur nya!" Ucap Rosmalia.
Diaz hanya menganggukan kepala nya sambil menghembus kan asap rokok, Rosmalia dan Lily pun berjalan menuju kamar nya, sedangkan Diaz masih asyik dengan rokok nya.
Entah apa yang di pikir kan Diaz, dia melamun sambil bersandar, sambil menghisap rokok nya.
"Ibu udah tidur belum ya?" Tanya Diaz dalam hati.
Dia mengambil handphone nya dan menghubungi ibu nya, Diaz menunggu ibu nya mengangkat telpon, tapi percuma tidak ada jawaban. Diaz mencoba sekali lagi, siapa tahu kali ini di jawab oleh ibu nya.
Nampak nya usaha Diaz sia-sia, mungkin ibu nya sudah tidur, dia pun meletakan handphon nya di meja dan mematikan rokok nya, lalu Diaz pun merebah kan badan nya di sofa.
Drrrrttttt... Drrrrttttt...
Handphone Diaz bergetar dan diaz pun langsung bangun dan melihat handphone nya, ternyata ibu nya yang menelpon.
"Halo asallamuallaikum bu."
"Alhamdulillah sehat bu..."
Diaz pun mengobrol panjang lebar di telpon, dan ibu nya menyampaikan bahwa si abah sangat rindu pada Diaz, maklum saja karena Diaz anak satu-satu nya, wajar jika mereka khawatir dan rindu dengan Diaz.
Obrolan pelepas rindu pun berakhir dan Diaz bercerita tentang Rosmalia, ibu nya sangat antusias mendengar nya dan ingin sekali bertemu dengan Rosmalia. Bahkan ibu nya bilang akan menyambut hangat kedatangan Rosmalia, jika dia ke sana, tapi Diaz tidak bisa menjanji kan itu.
Panggilan telpon itu pun berakhir, dan Diaz sudah merasa agak lega sekarang, Diaz merebah kan lagi badan nya di sofa, dan mata nya mulai terpejam.
"Yaz, pindah ke kamar sana!"
Diaz pun membuka mata nya dan terkejut, saat melihat Sara.
"Lo ngapain?" Tanya Diaz panik.
"Gue haus, abis ambil minum, terus gue lihat lo tidur di sofa," Jawab Sara.
Diaz belum merubah posisi nya dan masih merebah kan badan nya, dan tatapan nya terpaku pada Sara.
"Geseran!" Ujar Sara sambil menepuk kaki Diaz.
Diaz pun merubah posisi nya, dan sekarang dia sudah duduk, kemudian Sara duduk di samping Diaz dan menyala kan sebatang rokok.
Jantung Diaz berdebar kencang, tidak seperti biasa nya, Diaz pun sampai bertanya-tanya pada diri nya sendiri. Kemudian Sara meletakan kepala nya ke bahu Diaz, dan menyilang kan lengan kanan nya di lengan kiri Diaz.
Diaz terkejut dan tidak bisa bergerak, jangan kan bergerak, mengucap kan satu kata saja dia tidak mampu.
"Yaz..." Panggil Sara.
"Aaa... Apa?" Jawab Diaz gugup.
Sara mendangak kan kepala nya dan menatap Diaz sambil tersenyum.
"Bisa gak kita seperti ini terus?" Tanya Sara sambil tersenyum.
Diaz pun terdiam mendengar itu, bibir nya terasa kaku untuk menjawab pertanyaan itu, jantung nya semakin berdegup kencang dan tubuh nya mulai kaku. Hanya bola mata Diaz saja yang bisa di gerakan, beberapa kali terlihat Diaz melirik ke arah Sara dan menatap wajah nya sedang bersandar di bahu nya.
"Ada hati yang harus ku jaga, ada perasaan yang tak ingin ku sakiti, tapi kenapa otak ku tidak bisa mengeluar kan kata-kata, bahkan hati ku pun tak tega menolak nya!" Gumam Diaz dalam hati.
"Yaz..." Panggil Sara, "lo kenapa sih, kok aneh banget?"
Diaz masih saja terdiam seribu bahasa, tak mampu menjawab, tak mampu mengelak, dan tak bisa menghindar.
"Ini bukan cinta, tapi ini iba!"
Tiba-tiba Sara menarik lengan Diaz, dan menghampiri wajah Diaz... Tiba-tiba Sara mencium bibir Diaz yang sedang tak mampu berkata apa-apa. Sara memejam kan mata nya, dan mulai memgulum bibir Diaz, tangan nya pun memegang kepala Diaz, seakan tak mau mengakhiri ini dengan cepat.
Diaz tak mau terbawa suasana, dan masih tidak membalas ciuman Sara. Tapi Sara tidak patah semangat dan terus menikmati itu, bahkan semakin hebat ciuman yang di berikan Sara, mata Diaz perlahan tertutup, dan dia mencoba untuk tetap sadar.
Tangan Sara yang satu lagi sudah berada di punggung Diaz, dan mendorong nya agar lebih dekat lagi, hal itu pun membuat Diaz menjadi mati langkah.
"Ehemmm... Pindah ke kamar sana!" Tegur Ghea yang sudah berada di samping mereka.
Sara pun kaget dan melepas kan ciuman nya.
"Ahhh... Akhir nya selamat, terima kasih Ghea," Ucap ku dalam hati.
"Lanjutin di kamar sana, jangan di ruang tamu!" Tegas Ghea.
"Apan sih lo Ghe!" Seru Diaz.
"Lo ngapain sih, ganggu aja!" Sahut Sara.
"Gue khawatir sama lo, tadi lo bilang cuma mau minum, tapi lama banget!" Ujar Ghea.
Diaz pun bangun dari duduk nya dan berkata, "Gue tidur dulu ya!"
Sara pun menarik tangan Diaz dan berkata, "Mimpi indah Yaz."
Diaz menarik paksa tangan nya dan langsung jalan ke kamar nya dengan langkah yang cepat.
"Lo ganggu aja tau gak!" Ucap Sara pada Ghea
"Lo lagian ngapain di situ, untung gue yang lihat lo kaya gitu, bukan nya Jihan," Sahut Ghea.
Mereka pun berdebat, dan Diaz sudah masuk ke kamar nya dan mengunci pintu nya, dia takut kalau Sara nekat masuk ke kamar nya. Diaz pun merebah kan badan nya, sambil memegang bibir nya, dan tak habis pikir bahwa Sara akan melakukan itu.
Diaz merasa gagal menjaga hati nya untuk Rosmalia, tapi kejadian tadi membuat Diaz lebih waspada lagi kepada Sara.
•••
Dah aku like semua, sama fav dan rete ya..
Salam dari “Eradicate”
Violetta mampir
semangat thor^^
Salam kenal dari "Wanita Di Hidupku" 😍😍😘😘😘😘