Renata, seorang ibu muda yang harus berjuang mencari kebahagiaan untuk anak serta dirinya, di tengah-tengah keluarga suaminya yang mempunyai sifat toxic. Mampukah Renata mendapatkan kebahagiannya? Sementara sang kakak yang awalnya ia pikir dapat membantunya agar bahagia, ternyata juga sama saja seperti keluarga suaminya yang toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss 'R', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
"Aku pun juga nggak tau gimana awalnya, Mas. Yang aku tau, sewaktu aku sama anak-anak lagi sibuk beres-beres kamar, aku denger ada suara ribut-ribut di luar. Karena aku penasaran, ya aku keluar kamar. Eh, ternyata Nova sama Renata sudah hampir saling jambak. Niatku mau ngelerai mereka, tapi si Nova malah bilang kalau Renata janda gatal. Reflek aja aku nampar pipinya. Nggak taunya si Nova malah lari masuk ke dalam kamarnya, abis itu keluar lagi sudah bawa pi sau. Dan terjadilah aku yang terluka. Sedangkan Renata malah lari masuk ke dalam." ungkap Dita pura-pura sedih.
Deon menggerutkan keningnya. Di hati kecilnya tetap tak percaya dengan aduan Dita. Karena Deon jelas lebih mengenal adik yang sedari kecil sudah hidup bersama dengannya.
"Nggak mungkin Renata sampai ribut dengan orang lain. Adikku itu kan paling takut kalau lihat orang berantem." batin Deon. Namun kali ini ia akan pura-pura percaya lagi pada aduan Dita. Demi kebaikan semua pikir Deon.
"Iya, Pa. Apa yang di bilang sama Mama itu bener. Bahkan kemarin malam saat kita tidur di kamar Tante Renata, kita juga di ancam. Katanya kalau kita nakal, kita mau di kasih ke Tante Nova kemarin malam. Padahal kita kan nggak pernah nakal, Pa." celetuk Via yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Deon.
Deon menatap putrinya yang baru saja ikut mengeluarkan pendapatnya. "Ya sudah, kalau gitu lebih baik mulai sekarang kita fokus dengan urusan kita sendiri aja. Kalau bisa kita juga pindah dari sini." ucap Deon di luar ekspektasi Dita.
"Pindah? Kok pindah Mas?" Kedua mata Dita membeliak tak percaya dengan keputusan yang Deon pilih.
"Kan biar kamu dan anak-anak terhindar dari Renata? Aku takut kalau tiba-tiba Renata berantem lagi sama penghuni kamar lain, terus salah satu dari kalian lagi yang jadi korbannya." alasan Deon.
"Tapi kita pindah kemana, Mas? Nyari kos kan nggak gampang?" Dita masih berusaha agar tak pindah dari sana.
"Siapa bilang? Kita kan bisa tinggal di warung nasi?"
Tak masalah bagi Deon untuk mengalah pindah tinggal, apalagi kedepannya Deon juga semakin sibuk dengan warung nasi. Toh di warung juga ada satu kamar kecil yang cukup untuk menaruh satu kasur dan lemari pakaian. Selain bisa menghemat biaya sewa, ia juga akan bisa menghemat waktu. Terlalu memakan waktu jika setiap hari harus pulang pergi dari warung ke kos. Walaupun jaraknya hanya sekitar 2 kilometer saja.
"Kita tinggal di warung nasi, Mas? Berempat?" Dita sengaja mengulang ucapan Deon karena masih belum bisa percaya.
Deon menagangguk cepat. "Iya! Memang ada masalah? Kalau kamu bilang tempatnya sempit, ya mau bagaimana lagi? Kita harus mulai berhemat. Kalau masalah tidur, kita bisa gantian tidurnya. Dan aku juga pengennya warung nasi kita nanti buka 24 jam. Kan lokasi warung kita ada di pinggir jalan besar. Jadi potensi untuk adanya pembeli itu besar."
"Ta-tapi, Mas...."
"Sudah yok, kita berangkat!" potong Deon sembari mulai membawa keluar satu tas berisi pakaian bersih.
Dita, Zafir, dan Via saling pandang satu sama lain. Mereka masih syok dengan keputusan Deon yang mendadak. Padahal awalnya Dita hanya ingin agar Deon memarahi Renata dan meminta Renata membantu secara sukarela, sebagai bentuk permintaan maafnya. Tapi yang terjadi justru Deon malah menjauhkannya dengan Renata.
"Kita beneran mau pindah ke warung nasi, Ma? Via nggak mau, Ma. Disana kan sempit. Pasti panas juga." bisik Via agar tak terdengar Deon.
"Ya makanya kita harus cari cara biar papamu berubah pikiran." sahut Dita dengan berbisik juga.
Tin... Tin...
"Sudah yuk, kita pikirkan nanti di warung. Itu papa kalian sudah manggil." ucap Dita seraya berjalan keluar.
Saat mereka akan naik ke atas motor, tiba-tiba ada satu mobil box expedisi yang berhenti tepat di depan gerbang. Sehingga menghalangi motor Deon untuk jalan keluar.
Mereka berempat terpaksa menunggu sampai kurir paket itu mengantarkan barang ke pemesan.
"Kamar nomor 11 ya, Mbak?" ucap kurir itu sambil menempelkan ponselnya di telinga.
Tak lama Renata juga nampak keluar dari dalam kamar. "Sini, Pak!" panggil Renata dengan melambaikan tangannya.
Kurir paket itu gegas menggotong 1 karung paket milik Renata.
"Wah, besar sekali paketnya Tante Renata, Kak." celetuk Zafir.
"Iya dek ya. Kita lihat yuk, Dek." ajak Via tiba-tiba.
Namun secepat kilat, Deon menahan tangan kedua anaknya. "Kalian mau kemana, hah?"
"Biarin lah, Mas. Zafir sama Via hari ini kita titip ke Renata aja." sahut Dita yang sebenarnya juga penasaran dengan paket yang Renata terima.
"Nggak! Apa kamu lupa kalau gara-gara Renata juga kamu jadi terluka begini?" Deon menunjuk ke arah tangan Dita. "Terus bagaimana bisa sekarang kamu percaya pada Renata untuk menjaga anak-anak?"
Dita hanya mencebikkan mulutnya sembari menghentakkan kakinya kesal.
Kemudian Deon juga menatap kedua mata Zafir dan Via. "Apa kalian juga sudah lupa, kalau Tante Renata semalam bilang mau ngasih kalian ke Tante Nova? Bagaimana kalau nanti Tante Renata menghubungi Tante Nova buat ambil kalian berdua? Mau kalian?"
Zafir dan Via menggeleng cepat.
"Sudah, ayok. Itu mobilnya juga sudah jalan." ucap Deon lalu mulai menyalakan mesin motornya. Ia cukup puas kali ini bisa membuat Dita dan kedua anaknya diam tak berkutik.
Sementara Renata juga langsung masuk ke dalam kamarnya setelah menerima 1 karung besar paket. Renata juga tak ada niatan sekedar berbasa basi pada kakaknya.
"Mas, itu paket apa ya yang Renata terima? Kok besar sekali?" tanya Dita saat motor mulai melaju meninggalkan area kos.
"Mana aku tau. Di lain sisi aku memang nggak mau tau juga." sahut Deon sedikit ketus.
"Ihh, kamu gimana sih, Mas. Harusnya kamu sebagai kakaknya juga di kasih tau dong itu paket isinya apa. Jangan sampai ya kalau adikmu itu buat ulah di daerah orang. Kemarin aja sudah terbukti jika adikmu berantem sama orang." ucap Dita bak kompor meleduk.
"Aku kan sudah bilang. Kita fokus sama urusan kita aja. Hutang kita sudah bsnyak, Dit. Atau kamu mau mulai hari ini aja kita pinda ke warungnya? Biar kamu juga nggak merasa terbebani lagi sama apa aja yang Renata lakukan kedepannya?"
"Eh, nggak gitu, Mas." Dita kebingungan harus menjawab apalagi ucapan Deon.
"Si al! Mas Deon kenapa jadi semakin nggak asik gini sih?" rutuk Dita dalam hati. Raut wajahnya semakin kusut aja pagi ini.
hampir lupa ini alurnya..
Thor jangan kelamaan Hiatus nya..entar lupa alur ceritanya
bini Modelan begitu di turutin
karena kalian sudah menyia nyiakan adek kalian