Terpaksa menyetujui pernikahan antara ibu dan kekasihnya adalah sebuah kebodohan terbesar yang telah seorang gadis itu lakukan. Dimana kebodohan itu justru membuka kembali luka lama, tidak hanya itu, kenyataan yang selama ini ibunya tutupi terbongkar dan kegilaan kekasihnya itu yang membuat hidup seorang gadis itu hilang arah dalam menentukan kehidupannya.
"Kamu tetap kekasihku Siren, dan Anita ibumu tetap istriku."
"Mama egois, mengkhawatirkan anak haram itu. Tanpa memperdulikan keberadaan aku."
"Kamu hanya kesalahan yang selalu merusak kebahagiaan Mama."
Sirena Dzakiya Thalita, seorang gadis cantik, manis, serta cerdas. Orang-orang menganggap Siren sangat beruntung, memiliki Ibu yang sangat pengertian, memiliki kekasih seorang Dosen yang sangat penyayang, serta harta dan tahta yang dimilikinya. Namun semuanya hilang lenyap begitu saja saat malam itu malam dimana kekasihnya meminta izin menikahi wanita yang tak lain adalah ibu dari Siren sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Tiana *Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Perasaan Siren
"Hah hari yang cukup melelahkan."
Saga merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, di menatap langit-langit kamar yang berada di apartment nya. Saga tidak pulang ke rumah Anita dia malas jika harus bertemu dengan istrinya itu, sekarang ini pasti Anita sudah pulang karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Semoga saja Anita bisa sedikit merenungkan kesalahan nya selama ini," monolog Saga
Rasa kantuk mulai hinggap di mata nya, perlahan Saga mulai terlelap menuju alam mimpi.
*
"Jika anak itu tidak membuat ulah maka aku tidak akan mengusik ataupun melukai nya."
Bagas memberhentikan mobilnya dia menatap Anita dengan sangat tajam, seolah-olah Anita adalah target yang harus di binasakan.
"Siren tidak pernah sedikitpun membuat ulah dengan mu Anita! Justru kamu yang selalu memulai semuanya."
"Dari saat Siren lahir pun kamu memang terlihat tidak menyayangi Siren. Kamu lebih fokus mengurus diri sendiri di banding kan dengan mengurus Siren dan memberi Siren asi...,"
"Bahkan kamu tidak pernah sekalipun memberi kan kasih sayang yang cukup untuk seorang anak!" desis Bagas
Anita tak kalah sengit untuk membalas ucapan Bagas, dia merasa terpojokkan kali ini, kenapa semua nya harus Anita yang di salahkan.
"Dia tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari aku sebagai seorang ibu karena Siren bukan anak yang aku inginkan!"
Plak.
"Kamu keterlaluan Anita! Lihat anak yang tidak kamu inginkan bisa lulus kuliah dengan usaha nya sendiri. Bahkan Siren selalu berusaha untuk tenang dan bersikap seolah-olah kamu itu adalah ibu yang baik di mata orang lain."
"Bukannya itu memang tugas anak untuk selalu berbakti kepada orang tua nya? Selain itu tugas anak juga menutupi aib dari orang tuanya sendiri," jawab Anita
Bagas terkekeh mendengar penuturan Anita, berbakti katanya? Hei apa dia sudah menjalankan peran sebagai ibu dengan baik? Sehingga menginginkan bakti dari seorang anak.
"Anita, Anita dasar perempuan gila. Kamu seharusnya masuk rumah sakit jiwa Anita!" sentak Bagas
"Saya tidak gila!"
"Jika tidak gila, kamu tidak akan tega menyakiti darah daging kamu sendiri."
"Siren memang anak kandung saya tapi saya tidak menginginkan kehadiran dia di kehidupan saya. Karena kehadiran dia saya kehilangan semuanya. Termasuk kamu! Saya kehilangan kamu karena Siren!"
"Kamu!" tunjuk Bagas pada wajah Anita
"Sudah saya katakan jika saya pergi karena kamu! Kamu yang sudah mengkhianati pernikahan kita! Jangan pernah sekalipun menyalahkan Siren."
"Tidak Saga, tidak kamu mas. Selalu saja membela Siren, apa istimewanya sih anak pembawa sial itu? Apa mungkin Siren pelet kalian ya," ujar Anita
"Jaga ucapan kamu Anita! Saya ingatkan jangan pernah sekalipun menyakiti Siren kembali. Jika sampai kamu menyakiti anak saya, maka kamu harus menanggung semua rasa sakit yang Siren rasakan!"
Bagas menjalankannya kembali mobilnya, tadinya dia ingin meninggalkan Anita di pinggir jalan, tapi Bagas tidak sejahat itu. Bagaimana pun Anita adalah ibu dari anaknya yaitu Siren.
Anita tidak menanggapi kembali ucapan Bagas dia diam seribu bahasa. Tidak ingin melanjutkan pertengkaran nya, karena dia sadar jika Bagas bukan lawannya untuk saat ini.
*
Dua orang perempuan kini sedang asik menonton Drakor alias drama Korea, dengan berbagai camilan yang sengaja mereka sediakan. Sudah hampir 2 jam mereka menonton, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti menonton dan hanya mengobrol santai saja.
"Ren gue mau nanya deh," ucap Oliv memecahkan keheningan
"Nanya sih tinggal nanya aja kali."
"Lo sama Lio gimana?" tanya Oliv
"Gimana apanya?" heran Siren
"Ya hubungan nya lah! Lo sama Lio punya hubungan kan? Gak mungkin kalau gak punya," Oliv penasaran dengan hubungan mereka berdua itu.
Siren menghela napasnya sudah dia duga cepat atau lambat Oliv pasti akan menanyakan hal ini.
"Gue sama Lio gak ada hubungan sama sekali. Gue udah anggap Lio sebagai adik sendiri," jawab Siren
"Lo kok gitu sih! Gue tahu banget ya tatapan Lio sama lo tuh beda, meskipun dia sering bersikap seperti anak-anak tapi sikap itu hanya dia tunjukkan ke orang yang menurutnya penting...,"
"Kaya ke lo, gue dan Om Bagas, dia anggap gue sebagai Kakaknya dan dia anggap Om Bagas seperti Ayahnya sendiri. Dan yang terakhir lo! Dia anggap lo sebagai wanita yang harus dia jaga dan dia sayangi setulus hatinya," ungkap Oliv
Siren tidak menanggapi Oliv dia hanya diam menatap televisi yang kini menayangkan film kartun kembar yang tidak memiliki rambut.
"Lo dengerin gue gak sih Siren!" sentak Oliv
"Iya iya gue denger kok. Gini Liv gue gak bisa, lo tau gue sulit buat nerima seorang laki-laki yang hadir di hidup gue. Butuh waktu buat gue yakin kalau laki-laki itu emang yang terbaik buat gue," ujar Siren
"Tapi lo dengan mudahnya terima Pak Saga waktu itu! Gue tau Lo sulit buat nerima laki-laki yang hadir di hidup lo, tapi gue juga tau gimana mudahnya lo nerima Pak Saga yang notabene nya orang baru...,"
"Waktu itu lo bilang kalau Pak Saga jadiin lo sebagai kekasihnya dimana saat itu lo dan Pak Saga baru kenal satu bulan kurang."
"Untuk Kak Saga itu pengecualian. Gue tau sikap dia gimana dan gue juga tau kalau Kak Saga itu laki-laki yang bertanggung jawab."
"Iya bertanggung jawab dengan cara mengkhianati lo bodoh!"
"Tapi Kak Saga beda dari yang lainnya saat itu, makanya gue terima dengan senang hati," ucap Siren
"Lo saking bodohnya nya lupa kalau Pak Saga itu udah nikah sama nyokap lo Siren! Atau jangan-jangan lo gak bisa terima Lio karena lo...," Oliv menggantung kan perkataan nya
"Karena Lo masih punya perasaan buat Pak Saga? Jawab Ren jawab!"
"Huft, Iya gue masih sayang dan cinta sama Kak Saga. Lo bisa bayangin gak hubungan dua tahun setengah itu bukan waktu yang sebentar Liv, Sulit buat gue melupakan semua hal Indah itu!"
"Lo bodoh atau emang tol*l sih Siren hah! Pak Saga laki-laki brengsek itu udah nikah sama nyokap lo garis bawahi nyokap lo!" geram Oliv
Saat ini ingin rasanya Oliv menendang Siren, bisa-bisanya dia masih mempunyai perasaan kepada Saga yang sudah menyakiti nya dengan tidak berperasaan itu.
"Gue emang bodoh Liv bodoh! Gue juga pengen buat benci sama Kak Saga, gue udah nyoba ngelakuin itu. Tapi itu semua sia-sia karena rasa benci gue kalah sama rasa sayang gue sama Kak Saga," ungkap Siren
Siren tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, jika saat ini dia masih menyimpan perasaan terhadap Saga. Dan untuk Lio Siren memang merasa nyaman dengan Lio tapi dia belum sepenuhnya bisa melepaskan Saga.
"Gue akan terus coba buat lupain Kak Saga dan mulai membuka hati gue buat Lio. Gue juga gak mau terus-menerus terjebak di kisah yang penuh dengan drama ini."
"Gue sebagai sahabat lo cuma bisa memberi sedikit saran dan mengingat kan setiap kali lo salah jalan kayak sekarang ini nih," sindir Oliv
"Iya, Oliv ku tersayang makasih ya. Semoga Ayah cepet kamar lo deh buat dijadiin istri terus lo jadi Bunda gue," ujar Siren semangat
"Gila aja sih kalau kata gue mah."
BERSAMBUNG...
jangan lupa like komen dan subscribe yaa maaciw 💙 Follow juga yawww😘