Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
"Aduh! Sakit, Tuan!" Milly mengaduh spontan, buru-buru menarik tangannya dari dahi Arkan untuk mengusap dahinya sendiri yang baru saja menjadi korban sentilan maut sang Presdir. Sepasang kacamatanya kini benar-benar melorot sampai ke ujung hidung, membuat matanya yang bulat mengerjap-ngerjap menatap Arkan dengan tatapan protes yang kentara.
Arkan menarik napas dalam-dalam, memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. Sungguh, kemampuan Milly dalam meruntuhkan atmosfer romantis dan ketegangan tingkat tinggi yang sudah ia bangun dengan susah payah patut diberi penghargaan tertinggi di Mahendra Group. Bagaimana bisa sebuah pengakuan tulus yang mempertaruhkan pengaruh korporasi dan pasokan baja internasional dibalas dengan pertanyaan apakah obatnya habis?
"Itu hukuman karena kamu baru saja merusak momen penting, Nona Milly," ketus Arkan, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Ia mengulurkan tangan, dengan gemas mendorong kacamata Milly kembali ke tempatnya yang benar. "Dan untuk informasi bagimu, obatku tidak habis. Logikaku masih berfungsi seratus persen saat mengatakan aku ingin menjagamu."
Milly memajukan bibirnya beberapa senti, masih sibuk mengusap dahinya. "Ya habisnya... Tuan tiba-tiba bicara seperti di drama-drama televisi. Saya kan jadi merinding. Biasanya Tuan kalau bicara hanya ketikan laporan, jadwal rapat, atau... mengancam memotong uang bulanan saya."
Arkan mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa mewah mereka. Sifat polos, blak-blakan, dan agak lambat dalam mencerna situasi romantis dari gadis panti di sampingnya ini memang selalu berhasil menjadi penawar racun terbaik setelah ia seharian menghadapi liarnya dunia bisnis di luar sana.
Namun, tatapan Arkan kembali berubah serius saat ia menoleh memandangi Milly secara utuh. Ia teringat kembali pada kalimatnya yang sempat terpotong oleh kepanikan absurd Milly tadi.
"Milly, aku tidak sedang bercanda tentang peran berat yang kukatakan tadi," ujar Arkan, suaranya kembali berat dan bariton, memaku perhatian Milly sepenuhnya. "Setelah apa yang terjadi malam ini, ibuku dan Eyang Ambar tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari segala cara untuk menjatuhkanmu di lingkaran sosial elite Jakarta. Mereka akan mengundangmu ke perjamuan, mengujimu dengan tata krama, dan mencoba membuatmu merasa tidak pantas berdiri di sampingku."
Milly terdiam, jemarinya yang tadi sibuk mengusap dahi perlahan turun. Ia bisa menangkap kesungguhan dan kilat protektif yang begitu pekat di dalam manik mata suaminya.
"Lalu... peran berat apa yang Tuan maksud?" tanya Milly pelan, mencerna kalimat Arkan dengan otak taktisnya yang biasanya butuh waktu memproses.
"Peranmu adalah berhenti menjadi istri kontrak di balik pintu tertutup," Arkan memajukan wajahnya lagi, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis secara berbahaya."Mulai besok, kamu harus belajar memimpin rumah ini sebagai Nyonya Besar Mahendra yang sesungguhnya. Kamu harus berdiri di sampingku di depan publik, memakai nama belakangku dengan bangga, dan menghadapi mereka dengan kepala tegak. Dan yang paling penting..." Arkan menjeda, jemarinya menyelip di antara jemari mungil Milly, menguncinya erat. "...berhentilah memanggilku 'Tuan' saat kita hanya berdua."
Milly menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya yang tadi sempat normal kini kembali berdegup kencang, seperti habis berlari maraton mengitari kompleks panti asuhannya dulu. Tekanan dari kata-kata Arkan terasa begitu nyata, namun anehnya, tidak ada rasa takut yang mendera. Genggaman tangan pria itu seolah menjadi jangkar yang menahannya agar tidak goyah.
"Kalau tidak panggil 'Tuan'... lalu saya harus panggil apa?" cicit Milly polos, matanya mengerjap lugu. "Om Arkan? Mas Presdir? Atau... Bos Besar?"
Arkan memutar bola matanya pasrah, memukul pelan dahi Milly sekali lagi menggunakan dua jarinya, membuat gadis itu kembali mengaduh pelan.
"Pikirkan sendiri sebelum besok pagi pukul sembilan, Nona Milly," ucap Arkan sembari bangkit berdiri dari sofa, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gestur elegan khasnya.
Ia berjalan menuju tangga lantai atas, namun sempat menghentikan langkahnya sebentar untuk menoleh ke arah Milly yang masih duduk termangu di sofa. "Sekarang selesaikan cokelat hangatmu, lalu segera tidur. Besok pagi, perang yang sesungguhnya di Mahendra Group baru saja dimulai, dan aku butuh istriku dalam kondisi fisik terbaiknya."
Milly menatap punggung tegap Arkan yang perlahan menghilang di belokan tangga lantai dua. Ia menunduk, menatap cangkir cokelat hangat di tangannya, lalu beralih pada jemarinya yang masih menyisakan sensasi hangat dari genggaman Arkan. Di dalam keheningan ruang santai itu, Milly akhirnya menyunggingkan senyum kecil yang manis sebuah senyuman penuh keberanian yang menandakan bahwa gadis panti ini siap naik kelas menjadi permaisuri sang singa Mahendra.
Sementara keheningan manis mulai merayap di mansion Mahendra, atmosfer yang bertolak belakang justru sedang meledak di kediaman mewah keluarga Gunarto.
Prang!
Sebuah vas porselen dinasti kuno seharga ratusan juta rupiah menghantam dinding marmer kamar Clarissa, hancur berkeping-keping menjadi serpihan tak berharga. Napas Clarissa memburu, dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah yang membakar seluruh akal sehatnya. Wajahnya yang biasa dipoles riasan anggun nan sempurna, kini tampak memerah padam dengan urat-urat kemarahan yang kentara di pelipisnya.
"Perempuan panti sialan! Berani-beraninya dia!" jerit Clarissa histeris.
Tangan dengan kuku yang dicat merah menyala itu menyapu bersih seluruh botol parfum bermerek, kosmetik mahal, dan pajangan kristal di atas meja riasnya. Semuanya jatuh berdentang, menciptakan simfoni kehancuran yang memekakkan telinga di dalam kamar tidurnya yang luas.
Clarissa mencengkeram tepi meja riasnya, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar yang kini retak di beberapa sudut. Di dalam benaknya, kalimat santai penuh sarkasme dari Milly terus bergema bagai kaset rusak yang menyiksa telinganya.
"Saya tidak perlu bertahan di lingkungan Anda, Tante. Saya hanya perlu hidup dengan suami saya. Dan sejauh ini, ruangan ini terasa sangat hangat untuk saya."
"Suami katanya?! Dia hanya perempuan murahan yang beruntung dibeli Arkan!" teriak Clarissa frustrasi, menjambak rambutnya sendiri yang mulai berantakan.
Sepanjang hidupnya, Clarissa Gunarto selalu menjadi pusat perhatian. Ia adalah definisi dari kesempurnaan sosialita Jakarta berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga konglomerat, dan digadang-gadang sebagai satu-satunya wanita yang paling pantas mendampingi Arkananta Mahendra. Namun malam ini, semua reputasi dan harga diri yang ia bangun setinggi langit runtuh seketika, dihancurkan oleh beberapa patah kata dari seorang gadis yatim piatu berkacamata yang bahkan tidak memiliki latar belakang keluarga sama sekali.
Terhina. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan posisinya sekarang. Arkan menolak pasokan bajanya, mengancam keluarganya, dan terang-terangan melingkarkan lengan di pinggang perempuan itu di depan matanya sendiri.
Pintu kamar Clarissa tiba-tiba diketuk dari luar, menampilkan raut cemas dari pelayan tuanya yang ketakutan mendengar keributan di dalam. "Nona... Nona Clarissa, ada apa? Apa Anda baik-baik saja?"
"Pergi! Keluar kamu dari sini!" raung Clarissa sembari melempar salah satu sepatu hak tingginya ke arah pintu, membuat pelayan itu langsung menutup pintu kembali dengan gemetar.
Clarissa ambruk di atas lantai kamarnya yang kini dipenuhi pecahan kaca dan cairan parfum yang menguar pekat. Matanya menatap tajam ke satu sudut ruangan dengan kilat korosif yang mengerikan. Air mata kemarahan menetes di pipinya, namun itu bukan air mata kesedihan, melainkan bensin yang membuat api kebencian di dadanya menyala semakin besar dan nyata.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Milly?" desis Clarissa, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan penuh racun. Ia mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. "Kamu hanyalah kerikil kecil yang tidak sengaja terinjak oleh Arkan. Menjadi Nyonya Besar Mahendra tidak semudah tersenyum manis di ruang santai itu. Aku bersumpah... aku akan menyeretmu turun dari takhta itu, membuatmu merangkak kembali ke pantimu, dan mengemis belas kasihan di kakiku."
Malam itu, di dalam kamarnya yang hancur berantakan, Clarissa tidak lagi berpikir secara rasional. Ambisinya untuk mendapatkan Arkan kini telah bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap untuk menghancurkan hidup Milly seakar-akarnya. Perang dingin di lingkaran elite Jakarta telah resmi ia deklarasikan sendiri.