Menjadi istri dari seorang TNI itulah cita-cita bagi Nabila karena melihat sang kakak yang mendapatkan suami seorang tentara yang baik dan terlihat sangat mencintai sang kakak, keinginan Nabila pun terlaksana namun apa jadinya jika sang suami yang anggota TNI itu adalah kakak iparnya sendiri.
Dapatkah Nabila menjalani pernikahan nya dengan sang kakak ipar yang jauh berbeda memperlakukannya tak seperti pada kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitt Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 teriakan Rama
"Ibu ini sudah gila ya? Aku tidak pernah menggoda siapapun!" Kesal Bila seraya melenggang pergi. Namun ibu berbadan tambun yang terlihat masih sangat marah pun belum puas hingga ia mendorong tubuh Bila sampai terjatuh ke tanah, membuat Bila meringis kesakitan.
"Awww." Rintih Bila kesakitan.
"Enak sekali kamu mau pergi begitu saja, rasakan itu!" Dengan gaya tangan di pinggang, ibu tambun itu begitu berang saat menatap Bila.
"Lihat perempuan ini!" Teriaknya pada orang-orang yang berada di sana. "Perhatikan baik-baik wajah perempuan ini! Dia adalah perempuan yang selalu menggoda para laki-laki. Jaga suami kalian jangan sampai tergoda dengannya." Ucap nya dengan begitu lantang, menatap benci pada Bila yang terduduk karena dorongan kuat ibu itu.
Bila melihat ke sekeliling orang yang tengah memperhatikan nya. Tak ada orang yang ia kenal di sana.
"Kak Rama..." Lirih Bila dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia berharap Rama datang dan menolongnya, setidaknya laki-laki itu datang dan membawanya pulang.
*
*
*
"Lama sekali yang pergi joging, apa aku harus menunggu makanan yang ia bawa sampai perutku sakit." Kesal Rama yang sudah merasakan lapar pagi itu. Dan lebih kesal nya kenapa juga ia rela menahan rasa laparnya hanya karena menunggu makanan yang Bila bawa.
"Kenapa handphone nya tidak di bawa. Aku jadi sulit menghubungi nya." Gumam Rama yang melihat handphone Bila tergelatak di dalam kamar Bila.
Saat Rama memperhatikan tukang yang sedang memperbaiki genteng, sebuah bel pintu terdengar dengan begitu nyaring membuat ia segera menghampiri pintu.
"Ya."
"Apa?!"
"Dimana dia sekarang!"
"Antarkan aku kesana!" Titah Rama pada bawahan yang memberi tahukan jika Bila istrinya tengah memiliki masalah.
"Apa yang di lakukan nya sampai terjadi kejadian seperti itu." Gumam Rama penasaran apa yang di lakukan Bila.
"Saya tidak tahu pak, tapi ini sepertinya kesalahan pahaman." Jawab bawahan Rama yang mendengar gumaman Rama.
Rama hanya menarik nafas panjang. Ia akan tahu apa yang terjadi setelah sampai di sana.
***
Bila bangkit saat terjatuh tadi, hingga seseorang datang menghampiri si ibu seraya melirik Bila.
"Bu sudah cukup, kamu membuat ku malu saja." Ucap seorang laki-laki yang menenangkan perempuan tambun bergelar istrinya itu.
"Perempuan ini kan yang sedang janjian dengan mu di sini? Iya kan?!" Tatap marah pada suaminya itu.
"Ibu salah paham, ini salah paham." Tak menjawab apa yang di tanyakan istrinya membuat sang istri kesal.
"Kamu janjian dengan perempuan yang memakai baju merah muda dan celana hitam kan? Dia kan perempuan itu?!" Tunjuk ibu tambun itu kepada Bila.
Bila yang mendengar perkataan ibu itu pun kesal. "Jadi karena aku memakai baju berwarna merah muda dan celana hitam, ibu menuduh ku selingkuhan suami ibu?" Senyum tak percaya. "Aku bahkan tidak mengenal dia?" Tunjuk Bila pada laki-laki yang memang terlihat genit itu.
"Memang benar kan perempuan nya itu adalah kamu!" Timpal ibu itu tak mau kalah.
"Tolong dong pak jelaskan pada istri bapak ini, kalau bukan aku perempuan yang dia maksud." Tatap Bila pada laki-laki itu.
"Bu... Ibu memang salah orang, lagi pula aku tidak sedang janjian dengan seorang perempuan." Sangkal nya.
"Bohong kamu yah, aku tahu kalau kamu ini janjian dengan seorang perempuan, aku tahu! Dan jangan menyangkalnya jelas-jelas perempuan ini yang jadi biang masalah." Tatap nya pada Bila yang langsung di balas dengan delikan jengah oleh Bila.
"Ah..." Rintih Bila saat ibu tambun itu kembali menyerangnya dengan mendorong tubuh Bila dengan keras hingga Bila terhuyung dan akan terjatuh, namun untung saja seseorang menahan tubuhnya.
"Kak Rama..." Tatap lirih Bila saat mendongakkan wajahnya melihat itu adalah Rama.
"Bila... Kamu tidak apa-apa?" Tatap Rama melihat pipi Bila yang begitu memerah, namun Bila menggeleng.
"Ada yang bisa jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tatap Rama pada ibu tambun dan laki-laki di samping nya, dengan sekeliling orang yang malah menyaksikan kejadian.
"Komandan Rama." Sapa laki-laki itu kepada Rama seraya memberikan hormat.
"Bisa jelaskan?" Tanya Rama dengan menatap tajam pada laki-laki yang ia kenal sebagai bawahan nya bernama Norman.
"Ini salah paham Dan, hanya masalah kecil." Jawabnya namun malah membuat Rama semakin menatap tajam padanya, membuat laki-laki bernama Norman pun menunduk.
"Masalah kecil katamu?!" Sorot matanya Rama seakan ingin menelan hidup-hidup laki-laki itu.
"Dia istri mu?" Tanya Rama masih dengan tatapan tak bersahabat melirik sekilas pada perempuan tambun yang ada di samping Norman.
"I...iya Dan."
Rama menatap istri Norman dengan tatapan tajamnya. "Ada masalah apa anda dengan istri ku?!" Penuh penekanan saat Rama mengatakan istri. Ia merasa terhina dan sangat marah saat ada orang yang memperlakukan Bila seperti itu apapun kesalahan Bila ia tak terima.
"I... istri?" Tanyanya gugup.
"Iya, dia istri ku!" Jawab Rama.
Perempuan tambun itu melirik ke arah suami nya untuk meminta bantuan sang suami agar bisa menjelaskan, namun Norman yang memang hanya bawahan Rama pun takut melihatnya.
"Ada yang bisa jelaskan cerita yang sebenarnya?" Tatap Rama pada sekeliling orang di sana. Karena Norman dan istrinya hanya diam dengan wajah menunduk.
Lalu seorang pedagang yang Bila pesan dagangan nya datang menghampiri, dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dari awal sampai akhir.
Rama yang mendengar akan cerita itu pun menatap Norman dan istrinya dengan tatapan berang.
"Norman!" Panggil Rama dengan suara tak bersahabat.
"Apa benar kamu sedang janjian dengan seorang perempuan di sini?" Tanya Rama pada Norman yang dari tadi tak berani menatapnya.
Glek... Norman menelan ludah nya takut, serba salah yang kini dia rasakan, jika menjawab dengan jujur habislah sudah karir yang selama ini ia capai, namun sama saja jika ia berkata bohong, ia akan terus di interogasi oleh Rama pimpinan nya itu.
"Jawab!" Teriak Rama dengan lantang membuat orang yang berada di sana terkejut dengan teriakan Rama yang menggelegar seakan ia tengah berteriak saat berkomando di Medan perang.
"Siap Dan, iya!" Jawabnya tegas namun dengan suara takut.
"Lalu, apa perempuan yang akan kamu temui itu adalah istriku?" Tatap Rama.
"Siap Dan, bukan." Jawab Norman.
"Lalu kenapa istrimu malah menyakiti istriku?" Nada suara Rama terdengar sangat marah.
"Siap Dan maafkan saya dan istri saya, ini memang salah paham." Jawab Norman meminta maaf.
"Bila, kemarilah." Panggil Rama lembut, seraya mengulurkan tangannya kepada Bila. Bila mendekati Rama dengan kaki sedikit pincang akibat ulah istri Norman yang mendorongnya hingga membuat kaki nya terkilir.
"Ibu ayo mintalah maaf kepada komandan Rama, bisa habis jabatan ayah." Bisik Norman pada istrinya itu.
"Ini gara-gara kamu juga karena kegatalan!" Sahut sang istri dengan kesal.
"Ayo cepat sebelum komandan Rama semakin marah padaku." Titah nya dengan berbisik.
"Pak Rama, dan ibu Rama saya mohon maaf karena sudah lancang menyakiti ibu, mohon maaf karena saya sudah menuduh dan menghina ibu yang tidak-tidak, ini karena suami saya yang suka sekali main perempuan, saya mohon maaf sebesar-besarnya." Ibu tambun itu memohon maaf kepada Bila dan juga Rama.
Namun Rama tak mengindahkan ucapan istri Norman itu, ia hanya fokus kepada Bila.
"Hukuman apa yang harus aku berikan kepada mereka?" Tatap Rama pada Bila.
"Jika masalah perlakuan ibu itu padaku tidak perlu di permasalahkan lagi, tapi jika memang benar suami ibu suka bermain wanita, aku serahkan saja pada kak Rama, hukuman apa yang cocok untuk suami yang suka berselingkuh." Tatap tak suka Bila pada Norman.
"Kamu dengar kan itu Norman?" Tanya Rama, Norman mengangguk patuh.
"Jadi, persiapkan dirimu itu untuk mendapatkan hukuman mu, nanti." Ucap Rama penuh penekanan. Karena perselingkuhan itu sangatlah di larang keras bagi seorang abdi negara. Bukan hanya abdi negara saja sepertinya, karena perselingkuhan itu di larang oleh semua pihak apalagi ibu-ibu berstatus istri.
Terima kasih author, kisahnya bagus sekali 👍👍
utk apa sih hidup dgn lelaki yg porsinya cuma mikirin ego ny sendiri