Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Kemarahan Tessa
Semenjak Gabriel menghilang, Tessa setiap hari menunggu kedatangan pria itu di apartemen miliknya. Tessa sudah berusaha menghubungi sang kekasih, tapi nomornya selalu tidak aktif. Gabriel saat ini memang hanya membawa ponsel dengan nomor khusus buat para rekan bisnisnya. Wanita itu tidak pernah tahu nomornya karena sang kekasih tidak pernah memberi.
Gabriel menggendong Nicole, di sampingnya berjalan Berliana dengan menggandeng tangannya. Pria itu ingin istirahat di apartemen miliknya karena lebih besar dan memiliki dua kamar tidur.
Gabriel membuka pintu apartemen dan terkejut saat melihat Tessa yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Wanita itu tak kalah terkejut saat melihat pria itu datang dengan bocah dalam gendongan dan seorang wanita yang Tessa kenali wajahnya. Dia berdiri dari rebahannya, menatap Gabriel dengan wajah penuh tanda tanya.
"Tessa ... kau kenapa ada di sini?" tanya Gabriel. Pria itu berusaha menutupi rasa terkejutnya. Ini memang salah Gabriel karena tidak bertanya dulu dengan bawahannya saat akan ke sini.
"Jangan pura-pura terkejut, Gabriel! Aku sudah sering main ke apartemen kamu ini. Aku yang seharusnya bertanya, kamu dari mana saja? Dan siapa mereka?" tanya Tessa menunjuk ke arah Nicole dan Berliana dengan suara cukup tinggi.
"Ini Nicole putriku, dan Berliana istriku," jawab Gabriel mantap. Dia berpikir tidak ada gunanya lagi menyembunyikan semua dari Tessa.
Mendengar jawaban Gabriel, wanita itu tampak syok. Dia tidak percaya dengan apa yang baru didengar. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemah. Tessa kembali duduk agar tidak jatuh.
"Aku tidak sedang bercanda, Gabriel. Aku menunggu kabar dari kamu selama seminggu ini. Siang malam mencari tahu keberadaan kamu. Aku kuatir terjadi sesuatu denganmu. Setiap detik menghubungi, tapi ponselmu tidak aktif. Lalu kau dengan tenangnya becanda begini?" Tessa bicara dengan napas terburu karena menahan sesak di dada.
Dia tidak pernah mendengar Gabriel dekat dengan wanita mana pun. Selama ini selalu mengikuti pria itu, tidak pernah ada kabar jika dia menjalin hubungan dengan wanita mana pun kecuali dirinya.
Tessa kembali berdiri dan memandangi wajah Berliana tanpa kedip. Dia ingat jika wanita dihadapannya saat ini adalah wanita yang sama saat di restoran.
"Apa yang kau lakukan untuk menarik perhatian Gabriel? Apa kau telah menjual tubuhmu?" tanya Tessa dengan suara tinggi.
Nicole yang melihat Tessa memandangi ibunya dengan wajah seram dan suara tinggi menjadi marah. Dia tidak bisa terima siapa saja menghina wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Kenapa Tante marah sama ibuku?" tanya Nicole sebelum Berliana menjawab ucapan wanita itu.
Melihat anak kecil menjawab ucapannya Tessa makin emosi. Apa lagi dia melihat bagaimana Gabriel menggendong bocah itu dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Jangan ikut campur urusan orang dewasa, Bocah! Kau tidak akan mengerti. Aku juga tidak tahu apa daya tarikmu, sehingga Gabriel menyukaimu sampai mengakui kamu anaknya!" ucap Tessa dengan suara makin tinggi.
Nicole yang tidak pernah dibentak, dan selalu mendengar Berliana bicara lembut menjadi takut. Dia memeluk erat leher Gabriel.
"Papi, aku takut," bisik Nicole. Gabriel yang sangat menyayangi putrinya tidak terima jika Tessa membuat bocah itu ketakutan. Dia juga tidak mau karena ini, penyakitnya akan kambuh.
"Jaga ucapanmu, Tessa! Jangan kau menuduh hal yang hina itu pada anak dan istriku. Nicole ini putri kandungku, dia darah dagingku. Kebetulan kau ada di sini, jadi aku ingin kau dengar baik-baik ucapanku ini! Mulai detik ini aku mengakhiri hubungan kita, aku telah memiliki keluarga. Aku harap kamu mengerti. Aku akan temui keluargamu untuk memutuskan pertunangan kita!" ucap Gabriel dengan tegas dan lantang.
Tubuh Tessa terasa kaku. Tidak percaya dengan pendengarannya. Apa tidak salah ucapan Gabriel yang dia dengar. Pasti semua ini hanya candaan dari pria itu. Kembali dia duduk karena tubuhnya terasa sangat lemah.
"Berliana, bawa Nicole ke kamar. Aku mau bicara berdua Tessa. Kamar yang itu," ucap Gabriel lembut menunjuk ke arah kamar utama. Kamar biasa tempat dia tidur.
"Iya, Bang." Hanya itu yang sanggup Berliana ucapkan. Dia juga syok karena tidak siap menghadapi Tessa. Walau Gabriel telah mengatakan semuanya tentang wanita itu, tapi dia tidak menyangka akan bertemu dan berhadapan secepat ini.
Berliana mengambil Nicole dari gendongan Gabriel. Dia melangkah menuju kamar yang ditunjuk pria Itu. Tessa yang tidak terima kamar pribadi kekasihnya akan dimasuki wanita lain, segera berdiri dan berlari, menghadang Berliana akan masuk.
"Jangan coba-coba masuk ke kamar ini! Hanya aku dan Gabriel yang boleh menempatinya. Ini kamar pribadi Gabriel. Aku sebagai calon istrinya yang boleh masuk dan pastinya akan tidur di dalam nantinya!" ucap Tessa gemetar karena amarah yang tertahan.
Tanpa di duga Gabriel mendorong tubuh Tessa, hingga dia hampir tersungkur jika tidak berpegang pada dinding. Gabriel memandangi wanita yang tiga tahun ini telah menjadi kekasihnya itu dengan mata tajam.
"Tidak ada yang bisa melarang anak dan istriku masuk. Jangankan kamar, apartemen ini saja milik mereka. Semua hartaku telah aku pindahkan atas nama Nicole putriku. Jadi dia berhak atas semua ini. Kau yang seharusnya pergi dari sini!" ucap Gabriel lantang.
Tubuh Tessa makin terasa lemah, hingga terduduk ke lantai. Bagaimana mungkin semua harta Gabriel saat ini atas nama putrinya Nicole.
Berliana dan Nicole masuk ke kamar sesuai permintaan Gabriel. Dia berpesan agar Berliana mengunci pintu kamar. Dia akan bicara empat mata dengan Tessa.
Setelah Berliana dan Nicole masuk ke kamar, Gabriel mendekati Tessa yang masih tampak syok, terduduk di lantai dengan pandangan menerawang.
"Berdirilah ...! Kita harus bicara!" ucap Gabriel. Dia membantu wanita itu berdiri dan mengajak duduk di sofa. Gabriel akan menyelesaikan hubungannya dengan wanita itu. Hari ini juga.
Tessa dan Gabriel saat ini duduk berdampingan. Dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
"Seperti yang tadi aku katakan. Aku ingin kita mengakhiri hubungan karena aku telah menikah dan juga telah memiliki anak. Aku harap kamu bisa menerima ini, walau awalnya mungkin akan sulit," ucap Gabriel dengan suara pelan.
Bagaimanapun Tessa telah menolongnya terlepas dari jeratan hukum. Walau saat ini, Gabriel baru tahu jika Tessa juga tidak sebaik yang dia kira. Dia telah mengetahui sedikit tentang wanita itu.
"Jangan bercanda Gabriel. Apa arti hubungan kita selama lima tahun ini? Dengan mudahnya kau mengakhiri. Aku juga ingin tahu, kenapa kau mengatakan jika bocah itu putri kandungmu?" tanya Tessa dengan wajah ingin tahu.
...----------------...