Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Ruang Interogasi
Arthur mendorong pintu besi ruang interogasi hingga terbuka lebar, langkahnya mantap dan penuh tujuan. Manuel dan Elena mengikuti dari belakang, membawa serta energi baru yang mengubah atmosfer ruangan kecil tersebut. Pria beriasan tebal di kursi logam mengangkat kepalanya, matanya yang cekung melebar saat melihat ketiga orang itu masuk secara berurutan.
Elena meletakkan komputer tabletnya di atas meja, layarnya menampilkan bukti bukti transfer dana dan dokumen rahasia yang baru saja ia bongkar dari basis data firma hukum. Manuel menutup pintu dari dalam, lalu berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat, memancarkan otoritas seorang kapten detektif.
Arthur menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria tersebut, mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka kini hanya sejangkauan tangan. Mata hijaunya menatap langsung ke dalam manik mata sang tahanan, menembus setiap lapisan pertahanan psikologis yang tersisa.
"Kita tidak punya banyak waktu," kata Arthur, suaranya rendah namun setiap kata terdengar seperti palu yang menghantam paku. "Dua pria yang mengaku sebagai pengacaramu sebenarnya adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh Perusahaan Aethelgard untuk membungkammu. Mereka sudah dilumpuhkan di luar sana. Tapi Aethelgard tidak akan berhenti hanya dengan dua orang. Mereka akan mengirim lebih banyak, dan kali ini mungkin dengan cara yang tidak bisa dihentikan oleh borgol dan sel tahanan."
Pria itu menelan ludahnya, keringat dingin mengalir di pelipisnya yang membuat riasan tebal di sisi kanan wajahnya semakin luntur. Tiga garis cakaran merah di pipinya kini terlihat semakin jelas, seperti tanda tangan yang tak bisa dihapus.
"Aku, aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," suaranya parau dan gemetar, namun Arthur bisa membaca kebohongan itu dengan mudah dari gerakan mikro di otot otot wajahnya.
Arthur menghantamkan telapak tangannya ke permukaan meja logam dengan keras, membuat pria itu tersentak. "Jangan buang waktuku! Kau menerobos lampu merah dengan mobil yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang Aethelgard, di distrik yang sama dengan tempat seorang auditor forensik bernama Elias Thorne ditemukan tewas. Kau memiliki luka cakaran segar di wajahmu yang persis cocok dengan jaringan kulit yang kami temukan di bawah kuku jenazah Thorne. Setiap detik kau berbohong, kau menggali kuburanmu sendiri lebih dalam."
Manuel melangkah maju, suaranya melengkapi tekanan dari sisi lain. "Kami adalah satuan tugas federal independen. Kami memiliki wewenang untuk menahanmu sebagai saksi material dalam penyelidikan pembunuhan tingkat federal. Tapi kami juga bisa membiarkanmu pergi jika kau memilih untuk diam. Hanya saja, begitu kau keluar dari pintu kantor polisi ini, nyawamu sudah tidak ada harganya lagi bagi Aethelgard."
Pria itu menatap Manuel, lalu beralih menatap Elena yang berdiri diam dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap Arthur. Pertahanan psikologisnya runtuh lapis demi lapis di bawah tekanan tiga arah tersebut. Bahunya merosot, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Namaku, namaku Darren Cole," akhirnya ia berbicara, suaranya pecah. "Aku bekerja sebagai petugas keamanan pribadi untuk salah satu direktur di Aethelgard Capital. Tugas utamaku adalah, adalah mengawasi Elias Thorne."
Arthur tidak bergerak, matanya tetap terkunci pada Darren. "Mengawasi seperti apa?"
"Thorne menemukan sesuatu," Darren menunduk, menatap tangannya sendiri yang gemetar. "Dia menemukan aliran dana gelap yang menghubungkan Aethelgard dengan beberapa rekening lepas pantai di Kepulauan Cayman. Dana itu berasal dari kontrak kontrak pemerintah yang dimarkup hingga tiga ratus persen. Thorne hendak melaporkannya ke Komisi Sekuritas dan Bursa."
Darren mengangkat wajahnya, matanya dipenuhi oleh ketakutan yang tulus. "Direktur operasionalku memerintahkan untuk, untuk membersihkan masalah itu. Aku disuruh masuk ke apartemennya malam itu, memaksanya menghapus semua salinan data, lalu memalsukan adegan bunuh diri. Aku tidak ingin membunuhnya, sumpah! Tapi dia melawan, dia mencakar wajahku, dan, dan aku kehilangan kendali."
Ruangan itu hening sejenak. Arthur menyerap setiap kata dan setiap detail, menyimpannya di dalam istana memorinya yang luas. Kini seluruh gambarannya utuh, mulai dari pembunuhan, motif, hingga dalang di baliknya.
"Siapa nama direktur operasional yang memberimu perintah itu?" tanya Arthur, suaranya kini lebih tenang namun tidak kalah tajam.
"Victor Hale," jawab Darren tanpa ragu. "Dia yang mengatur semuanya dari balik layar. Dan dia tidak bekerja sendirian. Ada jaringan yang jauh lebih besar di atasnya, Konsultan Rutherford. Aethelgard hanyalah satu potongan dari teka teki yang jauh lebih besar."
Sebelum Arthur sempat menggali lebih dalam, sebuah suara ledakan keras mengguncang seluruh bangunan kantor polisi. Dinding ruangan bergetar hebat hingga merontokkan debu plafon. Lampu fluoresens di langit langit berkedip kedip liar sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya darurat merah yang berputar pelan di sudut ruangan.
Bunyi tembakan beruntun dari senjata otomatis terdengar dari arah lobi, diikuti oleh teriakan para petugas dan suara kaca yang pecah bertaburan. Suasana kantor polisi seketika berubah menjadi medan perang yang kacau.
"Serangan!" Manuel langsung mencabut senjata apinya, instingnya sebagai kapten detektif mengambil alih. "Mereka datang untuk membersihkan semua saksi!"
Arthur berdiri dengan cepat, naluri pertarungannya langsung menyala. Ia bergerak menuju pintu, mengintip melalui celah kaca kecil di permukaannya. Di lorong bawah tanah yang remang, ia melihat setidaknya delapan pria berpakaian serba hitam dengan perlengkapan taktis lengkap, bergerak secara terkoordinasi dengan senapan serbu di tangan mereka. Mereka menembaki setiap petugas polisi yang mencoba melawan tanpa ampun, bergerak maju dengan presisi militer yang dingin.
"Tetap di dalam ruangan ini," perintah Arthur, suaranya dingin dan penuh kendali. "Manuel, lindungi tahanan. Elena, amankan data di tabletmu."
"Arthur, jangan!" Elena melangkah maju, tangan kirinya meraih lengan pria itu. Rambut pirangnya berantakan karena getaran ledakan tadi, namun sepasang mata birunya menatap Arthur dengan kekhawatiran yang dalam. "Kau tidak membawa senjata. Mereka memiliki perlengkapan militer."
Arthur menatap tangan Elena yang memegang lengannya, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap mata biru itu. Ada kelembutan yang jarang ia tunjukkan di wajah dinginnya, sebuah perasaan yang selama ini ia simpan rapat di balik topeng analitisnya.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri," kata Arthur pelan, suaranya hampir tenggelam oleh hiruk pikuk di luar. "Setelah semua yang kulakukan di masa lalu, aku bersumpah tidak akan pernah lagi menumpahkan darah. Tidak akan pernah lagi mengambil nyawa."
"Arthur..." bisik Elena, suaranya bergetar.
"Tapi aku juga berjanji pada diriku sendiri," lanjut Arthur, matanya kini berkilat dengan tekad yang membara, "bahwa aku akan melindungi orang orang yang berarti bagiku. Dan kau, Elena, adalah salah satunya."
Sebelum Elena sempat merespons, pintu besi ruang interogasi dihantam oleh sebuah ledakan kecil dari bahan peledak berbentuk. Pintu itu terlempar ke dalam dengan keras, hancur menjadi kepingan logam. Dua pria bersenjata langsung menyerbu masuk dengan senapan serbu terarah, siap menyapu bersih isi ruangan.
Arthur bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas manusia normal. Ia menendang senjata dari tangan penyerang pertama, lalu memutar tubuh pria itu sebagai tameng hidup saat penyerang kedua melepaskan tembakan. Ruangan sempit itu seketika dipenuhi kilatan lampu kilat dari moncong senjata dan raungan peluru yang memekakkan telinga. Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah peluru nyasar menembus celah dan menghantam bahu kiri Elena.
Wanita itu terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak dinding dengan keras. Darah merah segar mulai merembes dari lukanya, menodai seragam taktis gelapnya dengan cepat. Wajahnya memucat seketika, namun ia tetap menggigit bibirnya erat erat agar tidak berteriak.
Waktu seolah berhenti bagi Arthur.
Ia melihat Elena jatuh. Ia melihat genangan darah yang mulai melebar. Ia melihat wanita yang paling ia pedulikan terluka di hadapannya.
Sesuatu di dalam diri Arthur Rutherford retak. Dinding pengendalian diri yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun tahun runtuh dalam sekejap mata. Bayangan masa lalunya sebagai pembunuh berantai, sesosok monster kejam yang pernah ia coba kubur dalam dalam, kini bangkit kembali dengan seluruh kemarahan dan kebuasannya yang tak terbendung.
"MANUEL, LINDUNGI ELENA!" teriak Arthur, suaranya bergema dengan intensitas yang mengerikan, begitu berat hingga membuat Darren Cole gemetar ketakutan di pojok ruangan.
Arthur menyambar pistol dari tangan penyerang pertama yang kini terkapar di lantai. Gerakannya berubah total, bukan lagi seorang konsultan federal yang menahan diri, melainkan seorang predator puncak yang dilepaskan dari kandangnya. Setiap langkahnya terukur, setiap gerakannya efisien, setiap peluru yang ia lepaskan memiliki tujuan yang mematikan.
Ia melangkah keluar dari ruang interogasi, memasuki lorong yang dipenuhi oleh asap tebal dan kekacauan. Delapan penyerang bersenjata lengkap kini harus menghadapi satu orang yang telah berubah menjadi malaikat maut.
Arthur bergerak seperti bayangan di antara mereka, memanfaatkan sudut dinding dan kegelapan lorong dengan sempurna. Ia menembak penyerang pertama di bagian lutut, membuatnya roboh, lalu menembak tepat di dahinya sebelum pria itu sempat berteriak. Ia menggunakan tubuh penyerang kedua sebagai perisai untuk mendekati penyerang ketiga, melepaskan tembakan yang presisi dan mematikan tepat di celah pelindung leher mereka.
Satu per satu, gerombolan orang misterius itu jatuh. Arthur tidak memberikan kesempatan, tidak memberikan ampun, tidak memberikan waktu bagi mereka untuk menyerah. Ia adalah murka yang mewujud dalam bentuk manusia, sebuah badai peluru dan kematian yang dipicu oleh satu hal, yaitu darah Elena yang tertumpah.
Dalam waktu kurang dari dua menit, lorong itu sunyi senyap. Delapan tubuh tak bernyawa tergeletak di lantai yang kini basah oleh genangan darah. Arthur berdiri di tengah mereka, napasnya mulai memburu, sementara asap tipis masih mengepul dari moncong pistol di tangan kanannya. Tatapan matanya yang hijau masih tampak dingin dan kosong, sisa dari kepribadian gelap yang baru saja mengambil alih tubuhnya.
Ia menjatuhkan senjata itu ke lantai dengan bunyi dentang logam yang nyaring, lalu berlari kembali ke dalam ruang interogasi.
Manuel telah merobek kemejanya sendiri dan menekan bahu Elena dengan kuat untuk menghentikan pendarahan. Wajah Elena sangat pucat, namun matanya masih terbuka, masih menatap Arthur yang kini berdiri di ambang pintu dengan napas terengah engah.
"Kau, kau baik baik saja?" bisik Elena, suaranya lemah namun ia masih berusaha memaksakan sebuah senyuman tipis.
Arthur langsung berlutut di sampingnya, tangannya yang tadi penuh darah kini gemetar hebat saat menyentuh pipi Elena dengan sangat lembut. "Aku di sini, Elena. Aku di sini. Bertahanlah."
"Aku sudah menduga, kau pasti akan mengingkari janjimu," Elena tersenyum lemah, aksen Rusianya terdengar lebih kental saat ia menahan rasa sakit yang luar biasa. "Tapi aku tahu, kau melakukannya untuk melindungiku."
"Jangan bicara dulu, kita harus membawamu ke rumah sakit," kata Arthur, suaranya kini dipenuhi oleh emosi mendalam yang selama ini selalu ia sembunyikan dari dunia luar.
Manuel mengangguk dari seberang meja, wajahnya tegang namun tetap terkendali sebagai seorang perwira hukum. "Aku sudah memanggil ambulans dan tim taktis federal. Mereka akan tiba dalam lima menit. Darren sudah aman, aku memborgolnya ke pipa di sudut ruangan."
Arthur menatap Manuel, lalu kembali menatap Elena. Di luar sana, sirene ambulans dan kendaraan taktis mulai terdengar meraung raung mendekat, membelah kesunyian malam kota. Namun di dalam ruang interogasi yang dipenuhi oleh asap dan bau gosong mesiu itu, hanya ada Arthur yang memegang erat tangan Elena. Ia berjanji di dalam hatinya yang paling dalam bahwa siapa pun yang bertanggung jawab atas luka wanita itu akan membayar dengan harga yang jauh lebih mahal.
Victor Hale. Aethelgard Capital. Dan jaringan yang jauh lebih besar di atas mereka.
Permainan ini belum berakhir. Malah, pertempuran ini baru saja menjadi urusan personal bagi seorang Arthur Rutherford.