Winter melakukan kesalahan fatal! Ia menabrak orang dan kabur begitu saja. Ia merasa dirinya adalah orang paling egois dan jahat di dunia ini. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.
Suatu hari, ia bertemu Daffin Prakasa, sosok cowok populer dikampus yang juga merupakan kakak kandung dari gadis yang ditabraknya.Tanpa diduga ia malah jatuh cinta pada pria itu.
Seiring berjalannya waktu, keduanya makin dekat. Namun ancaman demi ancaman mulai menghampiri hidup Winter. Yang membuat Winter harus memilih, mengakui kesalahannya atau menjauh dari kehidupan Daffin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Karena Winter sepertinya tidak mau Daffin jauh-jauh darinya walau hanya setengah meter, Daffin memutuskan meninggalkan mobilnya di pekarangan rumah Dino dan memesan taksi. Taksi itu menuju ke rumahnya karena Winter tidak mau pulang. Daffin bisa mengerti perasaan gadis itu. Biar bagaimanapun kejadian malam ini masih menyisakan trauma bagi Winter, dan gadis itu pasti tidak mau keluarganya khawatir.
Awalnya Daffin ingin memesan hotel, tapi tidak jadi. Ia rasa Winter mungkin akan merasa lebih nyaman di rumahnya. Jadi tanpa pikir panjang lagi pria itu membawa Winter ke rumahnya.
Winter sudah lebih tenang ketika mereka masuk taksi. Wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya masih gemetar, namun ia sudah berhenti menangis. Ia sama sekali tidak bersuara selama perjalanan pulang, tetapi ia tidak menarik diri dari pelukan Daffin.
Jadi Daffin tidak memaksanya bicara, hanya terus merangkulnya.
Ketika mereka sudah masuk kedalam rumah Daffin, Daffin menyalakan lampu dan menuntun Winter ke sofa diruang duduk.
"Tunggu sebentar di sini. Aku akan
mengambilkanmu air hangat."
Winter tersentak dan mendongak menatap Daffin, seolah-olah baru ingat bahwa Daffin ada di sana bersamanya. Lalu ia mengangguk kecil, melepaskan diri dari pelukan Daffin dan duduk di sofa.
Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Matanya yang sembap memandang ke sekeliling ruangan dengan was-was, seakan takut ada pria tak dikenal yang akan melompat keluar dan menyerangnya lagi. Melihat sikap Winter ketakutan begitu membuat hati Daffin terasa begitu sedih. Dadanya sesak.
Daffin berbalik dan pergi ke dapur. di sana ia berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam sambil mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Brengsek. Rasa marah dan perasaan tak berdaya bercampur aduk dalam dirinya. Ia harus menuntut Bian, saat ini yang ada di pikiran Daffin hanyalah menghajar laki-laki brengsek itu habis-habisan.
Peristiwa mengerikan yang terjadi pada Winter tadi membuat emosi Daffin kembali memuncak. Ia memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Ia ingin meninju
sesuatu. Apa saja. Tetapi tidak mungkin di sini. Winter ada di ruang duduk dan Daffin tidak mungkin menimbulkan kehebohan di sini sementara gadis itu masih
ketakutan.
Dengan susah payah Daffin memaksa dirinya bergerak dan beberapa saat
kemudian ia kembali keruang duduk dengan membawa segelas air hangat untuk Winter. Ia duduk disamping Winter dan membantu gadis itu minum.
"Minum dulu," katanya. Gadis itu menurut.
Daffin menyadari tangan Winter masih gemetar dan ketakutan masih sangat jelas di dalam matanya. Pria itu meletakan gelas bekas air minum Winter di meja depan sofa dan mengusap wajahnya frustasi. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Daffin tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Winter. Ia akan melindungi gadis itu dari siapapun yang hendak menjahatinya. Bahkan mengorbankan dirinya sendiri demi gadis itu.
Daffin bersedia melakukan apa saja. Demi Winter. Tetapi kenyataannya semua sudah terjadi dan Daffin tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah kenyataan. Itulah yang membuatnya tertekan dan frustrasi. Ia merasa dirinya tidak bisa melakukan apa pun untuk Winter. Seumur hidupnya belum pernah ia merasa tak berdaya seperti ini.
"Maafkan aku," gumam Daffin lirih, memecah keheningan dalam ruangan itu. Perlahan-lahan Winter menoleh ke arahnya. Kebingungan berkelebat dalam matanya.
"Aku tahu benar kamu tidak nyaman berada ditempat ramai, di pesta seperti tadi," lanjut Daffin dengan suara serak. "Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri. Maafkan aku."
Mata Winter berkaca-kaca, lalu menggeleng-geleng kepala.
"Tidak, bukan salahmu, aku yang terlalu terburu-buru keluar. Jangan merasa bersalah." gumam Winter. Kondisinya berangsur-angsur normal kembali. Ia tidak mau Daffin merasa bersalah. Kejadian tadi sama sekali bukan kesalahan Daffin. Demi Tuhan, Daffin sudah terlalu banyak memikul beban dalam hidupnya, dan Winter tidak mau kehadirannya hanya menjadi beban untuk pria itu. Daffin berhak bahagia. Lalu gadis itu meletakkan cangkir teh di atas meja depan sofa, dan memberanikan diri menyentuh pipi Daffin.
"Jangan merasa bersalah karena kejadian tadi ya, ini bukan salahmu." gumamnya. Mereka saling bertatapan lama, dan tangan Daffin terangkat menyentuh lengan Winter, pria itu tersenyum lembut lalu senyumnya perlahan memudar saat bayangan Bian kembali memenuhi pikirannya.
"Aku berjanji akan membuat laki-laki itu mendekam didalam penjara. Bian ..." Daffin menyebut nama pria itu dengan wajah penuh dendam.
" Aku tidak akan pernah tenang sebelum dia menerima hukuman setimpal." lanjutnya menahan emosi.
Winter menarik napas dalam-dalam dan kembali duduk kaku di samping Daffin, tidak bersuara. Nama Bian sungguh langsung merusak suasana hatinya. Kejadian tadi kembali terngiang di kepalanya. Daffin yang melihat tangan Winter mulai gemetar lagi mengulurkan tangannya dan menggenggam sebelah tangan Winter.
Tangan itu terasa dingin, namun Winter tidak menarik kembali tangannya. Ia membutuhkan
kehangatan yang diberikan Daffin, kalau tidak ia akan mulai menggigil. Saat itulah mereka mendengar suara mama Daffin muncul dari pintu ruangan lain.
"Daffin, kamu sudah pulang?"
Winter yang kaget berusaha melepaskan genggaman Daffin darinya, namun tidak di ijinkan pria itu. Jemari Daffin terus menggenggamnya dengan kuat, tidak peduli dengan kehadiran orang lain di depan mereka.
Tentu saja Mila, mama Daffin sangat terkejut dan terheran-heran menyadari ada perempuan asing di rumahnya, dan saat ini sedang berpegangan tangan dengan putra satu-satunya. Mereka bahkan tampak mesra. Orang lain yang melihat pun pasti akan merasa seperti itu. Tapi, apakah benar itu Daffin putranya? Mila merasa mungkin dia sedang bermimpi. Wanita itu mengerjapkan mata berkali-kali.
Daffin, putranya itu tidak pernah akrab dengan perempuan manapun. Mila pernah dengar dari Dillan sahabat Daffin kalau sang putra bicara dengan teman-teman sekelas mereka yang perempuan saja hampir tidak pernah. Tapi malam ini ...
Mila jelas sangat mengenal putranya. Ekspresinya saat menyukai sesuatu tidak bisa bohong. Dan gadis yang sedang duduk bersamanya itu, cara Daffin menatapnya, Mila tahu bahwa itu adalah tatapan suka. Entah ia harus senang atau bersikap bagaimana. Yang pasti saat ini wanita paruh baya itu terlihat bingung. Ia butuh penjelasan kenapa putranya membawa masuk perempuan yang bukan keluarga mereka kedalam rumah ini. Malam-malam begini pula.
"Ma,"
"Kamu bawa siapa Daffin? Pacar kamu?" tanya Mila ingin tahu namun dengan gaya bicara yang lembut dan sopan. Benar-benar ibu-ibu yang berkelas. Winter tampak malu-malu mendengar pertanyaan perempuan tua itu. Ia menggigit bibirnya lirih.
"Nanti aku jelasin sama mama. Aku antar Winter istirahat dulu," ujar Daffin kemudian berdiri dan menarik Winter lembut keruangan lain. Meninggalkan sang mama yang masih dipenuhi dengan rasa penasaran. Winter? Jadi nama gadis itu Winter?
Mila menyebut nama itu dalam hati.