"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertukaran setara
Makassar, 25 Agustus 2015
"Sam! Samuel, bangun Sam!! Jangan tutup matamu!"
Suara parau Mas Dimas mengguncang paksa kesadaran Samuel. Begitu kelopak matanya terbuka, visual pertama yang tertangkap adalah langit Makassar yang tertutup asap hitam. Di depannya, Jalan AP Pettarani telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Barikade polisi hancur lebur, dihujan rentetan tembakan tak berdaya dalam konflik terbuka melawan Kartel Makassar.
"Medis!! MEDIS PEP3K MANA KO?! CEPAT KESINI!" Dimas berteriak histeris, menyuarakan kepanikan yang belum pernah Samuel dengar sebelumnya.
Samuel mengerutkan kening, bingung mengapa sang senior begitu ketakutan. Ia melemparkan pandangannya kembali ke tengah aspal Jalan Pettarani. Di sana, sebuah lubang menganga besar bekas ledakan granat militer milik kartel masih mengepulkan uap panas.
Perlahan, Samuel menurunkan pandangan ke tubuhnya sendiri. 'Kenapa Dimas panik?' pikirnya datar. Namun, begitu matanya melihat ke bawah, dunianya runtuh seketika.
Perutnya terkoyak brutal, dipenuhi puluhan serpihan tajam besi granat yang tertancap di sela daging. Dan yang lebih mengerikan... kedua kakinya dari batas lutut ke bawah sudah hilang tidak berbekas. Hanya menyisakan potongan tulang mencuat dan pancaran darah segar yang menggenangi aspal.
"Aaaaaaaah!!!" Samuel menjerit sejadi-jadinya. Rasa sakit yang terlambat itu menghantam saraf otaknya seperti gada besi.
"Sakit t4il4so!! Sakit... Sakit!! WOI MEDIS, MANA KO SIALAN?!" Samuel memekik liar, cengkeraman tangannya mencakar tanah, sementara Dimas mencoba menekan dadanya agar tidak syok.
Brat! Brat! Brat! Brat!
Rentetan peluru kaliber besar kembali menghujani dinding perlindungan di belakang mereka. Serpihan semen beterbangan menggores wajah. Mati. Mereka pasti mati di sini.
Dalam keputusasaan yang teramat sangat di ujung ajalnya, Samuel memejamkan mata dan berbisik parau ke langit, 'Oh Tuhan... jika Kau benar-benar ada... kumohon ulang waktu tujuh hari saja... agar aku bisa mengubah takdir bajingan ini...'
Wush—
Seketika itu juga, gemuruh peluru, bau mesiu, dan rasa sakit yang membakar di kakinya lenyap tanpa bekas. Seluruh kekacauan di Jalan Pettarani menguap, digantikan oleh sebuah hamparan ruangan luas yang serba putih dan sunyi.
Samuel tersentak. Ia menatap ke bawah dan mendapati kedua kakinya telah utuh kembali. Ia bisa berdiri tegak. "Aku di mana...?" gumamnya linglung.
"Kau dapat kembali ke tujuh hari yang lalu, tetapi kau tidak bisa menggunakannya di minggu yang sama."
Sebuah suara lembut yang amat dirindukannya bergema dari arah depan. Samuel mendongak. Di sana, berdiri anggun sosok wanita yang sangat ia kenali. Ibunya.
"Ibu...?"
Setitik air mata langsung lolos membasahi pipi Samuel. Rasa rindu dan bahagia yang luar biasa meledak di dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia berlari kencang dan langsung menghambur untuk memeluk tubuh sang ibu. Namun, nihil. Tubuhnya hanya menembus siluet astral tersebut bak memeluk hamparan angin.
"Samuel, kau tak sepantasnya berada di sini," ucap ibunya lembut seraya menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan.
Wanita itu kemudian menggerakkan jemarinya, mengajari Samuel bagaimana cara mengalirkan energi dan mengendalikan sebuah kemampuan tabu yang baru saja bersemayam di dalam darahnya.
"Ibu... Apakah Ibu adalah Tuhan?" tanya Samuel polos.
"HAHAHAHA," tawa renyah sang ibu pecah, persis seperti tawanya di dapur rumah mereka dulu. "Bukan, Sayang. Ibu cuma diberi tugas oleh-Nya untuk mengajarimu."
Ibunya menunjuk ke arah hamparan horizontal di belakang mereka—sebuah manifestasi jalur cahaya yang membentang tanpa batas. "Lihat, Samuel. Itulah waktu. Waktu itu tidak terbatas, tidak ada yang pasti di dunia ini, dan selalu ada kemungkinan di setiap celahnya. Jangan pernah putus asa... teruslah berjalan. Ibu menyayangimu."
Mendengar kalimat perpisahan itu, jiwa Samuel memberontak. Di dalam ruang spiritual itu, wujud astral Samuel perlahan menyusut, beralih rupa menjadi sosok anak kecil berumur lima tahun yang ketakutan—seorang anak yang hanya ingin meringkuk dan tertidur di pangkuan ibunya, bersembunyi dari kejamnya dunia luar.
"Tidak moka masuk, Bu... takutka hilang kita... tidak kusuka rasa sakit..." ratap Samuel kecil dengan tangis yang pecah, memohon menggunakan bahasa daerahnya agar tidak ditinggalkan.
Namun, hukum semesta tidak bisa ditawar. Wujud astral Samuel tidak mampu bertahan lebih lama lagi di ruang suci tersebut. Ibunya hanya bisa melempar senyum penuh keyakinan dan memberikan pose jempol ke arahnya, tepat sebelum sebuah tarikan gravitasi garis waktu yang mahadahsyat menarik paksa kesadaran Samuel keluar dari sana.
Makassar, 18 Agustus 2015
Samuel tersentak bangun, napasnya memburu di atas meja kerja kepolisian. Seluruh persendian badannya terasa kaku dan linu, kepalanya berdenyut hebat seperti dihantam palu. Detik itu juga, saking syoknya, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari kursi hingga menimbulkan suara debum yang keras.
Aksi mendadaknya membuat para polisi dan penyelidik BPI di dalam ruangan terkejut dan langsung mengerubunginya. Samuel yang lemas segera dilarikan ke ruang UKS.
Di dalam ruang medis yang sepi, Samuel mengunci pandangan pada Dimas yang duduk di samping ranjangnya. Dengan bibir gemetar, Samuel menceritakan seluruh kronologi pembantaian di Jalan Pettarani yang akan terjadi tujuh hari lagi. Tentu saja, Dimas tidak percaya. Ia menganggap runtutan cerita itu hanyalah dongeng fiktif atau bualan orang sakit.
Namun, atmosfer ruangan berubah tegang saat Samuel menyebutkan dengan akurat nama-nama pengkhianat internal yang menyusup di dalam kelompok mereka, lengkap dengan taktik yang akan digunakan kartel.
Seketika, Dimas terbungkam.
Tujuh hari kemudian, sejarah dipaksa berbelok. Mengubah takdir nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbekal informasi masa depan dari Samuel, operasi penyergapan di Jalan Pettarani berhasil diselesaikan dengan kemenangan mutlak di pihak pemerintah. Kartel Makassar berhasil diringkus, dan yang paling penting: kedua kaki Samuel selamat.
Namun, garis waktu menuntut bayarannya. Hukum pertukaran setara berlaku secara kejam; karena posisi pasukan diubah, jumlah korban jiwa dari pihak kepolisian justru membengkak demi melindungi posisi Samuel. Rekan-rekan yang di lini masa asli seharusnya selamat, kini justru harus pulang di dalam keranda mayat.
Di bawah guyuran gerimis, Samuel berdiri kaku di atas tanah pemakaman. Seorang pejabat tinggi maju, mengalungkan sebuah medali penghargaan berkilau di lehernya sebagai pahlawan operasi.
Namun, Samuel tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun. Logam medali itu terasa seberat jangkar kapal yang menjerat lehernya. Matanya menatap nanar gundukan tanah merah di depannya.
Rasa penyesalan yang teramat dalam merayap, mencekik sanubari Samuel hingga sesak. Penghargaan ini terasa menjijikkan. Kaki yang ia gunakan untuk berdiri tegak hari ini, ternyata dibeli dengan harga nyawa teman-temannya sendiri. Di sinilah Samuel pertama kali menyadari sebuah kebenaran terkutuk: setiap kali ia melompat ke masa lalu untuk menyelamatkan sesuatu, maka semesta akan selalu mengambil sesuatu yang lain sebagai gantinya.