Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Sabrina merasa kesal
Ibu Sandra tidak langsung menjawab.
Tangannya yang semula gemetar perlahan ia letakkan di atas lutut. Matanya masih menatap Sabrina, tetapi bukan lagi dengan amarah, lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berdebat.
“Maaf tidak selalu memperbaiki semuanya, Sabrina.” Suara itu pelan, hampir seperti bisikan.
Sabrina mengangkat wajahnya, air matanya sudah membuat riasannya berantakan. “Mommy… aku bisa berubah. Aku bisa memperbaiki semuanya. Tolong jangan tinggalkan aku juga…”
Pak Arga menghela napas pendek dari sisi ruangan, tapi ia tidak ikut campur lagi. Keputusannya sudah selesai sejak tadi.
Ibu Sandra menatap Sabrina lama sekali sebelum akhirnya berdiri perlahan. “Yang paling menyakitkan bukan apa yang kau lakukan pada gadis itu.”
Sabrina membeku.
“Tapi cara kau memperlakukannya di mansion ini.” Ibu Sandra melirik sekeliling ruang tamu, seolah baru menyadari betapa asingnya tempat yang dulu ia anggap keluarga.
“Kau tidak hanya melukai seseorang. Kau mempermalukan dirimu sendiri di tempat yang seharusnya kau jaga.”
Sabrina menggeleng kecil. “Aku tidak bermaksud...”
“Kalimat itu sudah terlalu sering kau gunakan hari ini.”
Tidak ada lagi bantahan yang keluar dari mulut Sabrina setelah itu. Bibirnya bergetar, tapi suaranya seperti hilang di tenggorokan.
Ibu Sandra mengambil langkah pelan menuju meja samping, merapikan tas tangannya yang sebenarnya sudah rapi sejak awal. “Mommy akan bicara dengan Alexander nanti,” lanjut Ibu Sandra akhirnya.
Sabrina langsung menegakkan tubuh. “Mommy akan membelaku?”
Ibu Sandra berhenti. Lalu menoleh. Tatapannya membuat harapan Sabrina langsung goyah.
“Mommy akan bicara sebagai orang tua yang sudah melihat cukup banyak kesalahan.” Ia berhenti sejenak. “Bukan untuk membelamu.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam lebih keras dari teriakan apa pun. Sabrina terpaku.
Ibu Sandra menarik napas panjang. “Kau harus pulang, Sabrina.”
“Mommy…”
“Pulihkan dirimu. Jangan datang ke sini lagi untuk sementara waktu.”
Pak Arga akhirnya bergerak, memberi isyarat pelan ke arah pintu. Dua pengawal di sisi ruangan yang sejak tadi diam langsung mengerti tanpa perlu instruksi tambahan.
Sabrina menatap mereka, lalu kembali ke Ibu Sandra. "Mommy.”
Ibu Sandra tidak berbicara lagi. Tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Sabrina tertawa kecil, tawa penuh rasa kecewa. “Aku hanya kesal, Mom. Karena gadis itu, telah berani menggoda Alexander…”
“Tapi kau juga sudah mengkhianati Alex terlebih dulu,” potong Pak Arga.
Sabrina terdiam.
Dua pengawal mulai melangkah mendekat, sebagai tanda bahwa percakapan ini sudah selesai.
Sabrina mundur satu langkah. Matanya masih mencari sesuatu... dukungan, pembelaan, apapun yang bisa membuatnya tidak benar-benar sendirian di momen ini. Tapi yang ia temukan hanya wajah lelah Pak Arga dan punggung Ibu Sandra yang mulai menjauh.
“Mommy…” suaranya pecah. “Aku benar-benar mencintai Alex…”
Ibu Sandra berhenti di ambang ruang keluarga, tanpa menoleh. “Mencintai seseorang tidak pernah menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.”
Lalu ia pergi, langkahnya menghilang di koridor panjang mansion itu, meninggalkan Sabrina di ruang yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk ditinggali satu orang yang sedang runtuh.
Dua pengawal berdiri di sampingnya, menunggu tanpa menyentuh. Sabrina menunduk, air matanya jatuh lagi, tapi kali ini tidak ada suara. Hanya napas yang tersengal pelan. Kini ia tidak lagi mencoba membela dirinya sendiri.
***
Sementara itu, di dalam mobil hitam yang masih melaju pelan di jalanan Jakarta. Alexander masih menatap ke luar jendela. Tangannya sudah kembali diam di pangkuan, tetapi rahangnya belum sepenuhnya rileks.
Di sampingnya, Dara duduk lebih tenang dari sebelumnya, meski sesekali masih menyentuh pipinya sendiri yang mulai terasa perih samar.
“Masih sakit?” suara Alexander akhirnya terdengar.
Dara ragu sebentar. “Sedikit saja, Tuan.”
“Hm.”
Mobil kembali sunyi. Namun beberapa detik kemudian, Alexander membuka ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, seperti sedang mengirim sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak tadi.
Dara melirik sekilas, tapi tidak berani bertanya. Lalu ia menghela napas. “Apakah Tuan akan ke kembali kantor?” Akhirnya Dara berani mencoba bertanya.
Alexander tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik, barulah ia berkata, “Tidak.”
“Lalu…?”
“Rumah sakit.”
Dara langsung menoleh. “Tidak perlu, Tuan. Ini hanya...”
“Ini bukan diskusi.”
Dara langsung terdiam.
Alexander menyimpan ponselnya kembali, lalu menatap jalan di depan. “Aku tidak suka melihat bekas tangan orang lain di wajahmu.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Dara tidak bisa menjawab apa pun. Mobil terus melaju, membawa mereka menjauh dari mansion.
***
Mobil yang membawa Sabrina berhenti di depan sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Langit sudah mulai meredup ketika ia turun. Dua pengawal yang sejak tadi mengikutinya tidak masuk, hanya memastikan ia benar-benar masuk ke dalam lobi sebelum akhirnya pergi.
Sabrina berdiri sesaat di depan pintu kaca, menarik napas panjang. Matanya masih sembab. Riasannya sudah tidak lagi bisa menutupi wajah lelahnya.
Ia lalu masuk, lift naik perlahan menuju lantai atas, membawa dirinya dalam keheningan yang terasa menekan. Setiap angka yang berganti seperti mengingatkan ulang pada semua yang baru saja terjadi di mansion Dirgantara.
Saat pintu lift terbuka, Sabrina melangkah keluar. Koridor apartemen itu sunyi, ia berhenti di depan satu pintu, lalu mengetuk pelan.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Seorang pria berdiri di sana. Wajahnya tenang, tapi matanya langsung menangkap kondisi Sabrina yang berantakan.
“Masuk,” kata Dion singkat.
Sabrina masuk tanpa banyak bicara. Begitu pintu tertutup, ia langsung duduk di sofa seolah seluruh tenaganya habis sekaligus.
Dion memperhatikannya dari belakang, lalu menghela napas. “Kamu habis ketemu Alexander?”
Sabrina tidak langsung menjawab. Bahunya naik turun pelan.
“Aku sudah katakan, Sabrina.” suara Dion mulai terdengar lebih tajam. “Kalau kamu ingin menghadapi Alexander kamu harus menjaga sikapmu.”
Sabrina mendongak cepat. “Aku emosi, Dion.”
“Memang apa yang terjadi?" tanya Dion.
Sabrina menggigit bibirnya. "Alex… membawa seorang wanita dan dia bilang dia akan menikahi wanita itu.”
Dion terkejut mendengar ucapan Sabrina. ”Apa!"
Sabrina mengangguk. “Aku marah! Karena Alexander mengaku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat pada wanita itu.”
“Lalu apa yang kamu lakukan pada wanita itu?”
Sabrina terdiam sesaat dan ia mulai mengatur napasnya. "Aku menarik rambutnya, lalu menamparnya.“
Dion semakin terkejut dengan pengakuan Sabrina. "Astaga Sabrina! Kamu sadar nggak sih... Tante Sandra pasti marah besar. Kamu itu sedang di posisi yang salah dan dengan sikapmu yang seperti itu. Tante Sandra tidak akan lagi berada di pihakmu.”
Sabrina terdiam sesaat, lalu suaranya turun, lebih pelan. “Aku… sudah tidak ingin kembali pada Alexander.”
Dion menatapnya. “Hah?”
Sabrina menahan napas. “Aku hanya merasa… aku kehilangan harga diriku di sana.” Ia mengusap wajahnya pelan. “Setelah aku cerai dengan Alexander… sebaiknya kita menikah saja.”
Dion menatapnya lama, lalu menghela napas seperti orang yang kelelahan mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Menikah?”
Sabrina mengangguk cepat. “Iya. Kita sudah lama saling kenal. Kamu tahu semuanya tentang aku. Aku tidak mau sendirian lagi.”
Dion menggeleng pelan. “Sabrina…” suaranya turun, tapi tegas. “Kamu ini sedang emosi.”
“Aku serius, Dion.”
“Tidak.” Dion langsung memotong. “Kamu bukan sedang berpikir jernih. Kamu baru saja dihancurkan oleh situasi di rumah Alexander, jadi kamu hanya mencari pelarian.”
Sabrina terdiam, matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Jadi kamu juga tidak peduli?”
Dion menatapnya tajam, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku peduli. Tapi solusinya bukan berarti kita harus menikah.”
Sabrina menggigit bibirnya kuat. “Aku tidak bisa kembali lagi pada Alexander. Aku sudah terlalu dipermalukan.”
Dion menarik napas panjang, lalu duduk di kursi seberang sofa..“Kalau kamu pikir dengan lari ke aku semua jadi lebih mudah, kamu salah besar.”
Sabrina menatapnya.
Dion melanjutkan, lebih pelan tapi lebih menusuk. “Aku juga tidak bisa langsung menikah denganmu.”
Sabrina membeku. “Apa?”
Dion bersandar. “Aku masih harus nabung.”
“Dion…” suara Sabrina naik, penuh emosi yang belum reda. “Aku baru saja hancur di sana. Aku datang ke kamu karena aku pikir kamu satu-satunya orang yang tidak akan meninggalkanku.”
Dion menatapnya lama, ekspresinya tetap datar. “Aku bukan ingin meninggalkanmu.” katanya pelan. “Aku hanya tidak ingin kamu membuat keputusan bodoh.”