Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
"Tolong lepaskan saya om! saya tidak mau, kembali kesini! papa saya pasti menunggu saya pulang!!!" Daniah terus saja diseret menuju lantai dua kamar Jae Hwa.
"Menurut lah nona, jika tidak kami akan dipecat oleh tuan." Jawab anak buah Jae Hwa yang ditugaskan untuk mengawasi Daniah selagi dirinya tidak ada dirumah.
Brughh...
Daniah terhempas ke lantai, dan pintu dikunci dengan cepat bagaimana gerakan tubuh Daniah ingin menjangkau pintu dan untungnya tepat sekali Daniah tidak berhasil.
"Om tolong buka pintunya!!! saya mau pulang!!!! om!!!" teriak Daniah mengedor - gedor pintu berkali kali dengan kini buliran air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Daniah merosotkan dirinya didepan pintu meratapi nasibnya. "hikss, papa bantu Daniah. Daniah pengen pulang hiksss..." gerutu Daniah.
Sementara disisi lain, mama Dina sedari tadi menunggu kepulangan putrinya sedari pukul 18.30. dan kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Jadinya mama Dina merasa gelisah dengan kepulangan putrinya yang tidak kunjung datang.
"Ma, ngapain nunggu kak Daniah segala. Kakak sudah dewasa, nanti juga pulang." Ucap Delima yang juga Sedari tadi duduk disofa memandang mama Dina mondar - mandir membuat nya pusing.
"Delima lebih baik kamu kembalilah kekamar! Kamu tidak tahu diluar sana banyak penculikan bagaimana Daniah diculik?" Sahut mama Dina dengan kesal dan suara sedikit bergetar mendengar jawaban sang putri bungsunya.
"Ck, mama terlalu menyayangi nya." Kesal Delima beranjak menuju kamar nya.
"Huh, " mama Dina hanya mampu menghela nafas panjang melihat sifat delima yang sekarang tidak peduli sedikit pun pada sang kakak.
••
"Sayang, seperti nya ini sudah larut malam. lebih baik aku pulang saja ya." Jae Hwa menatap jam tangan nya sudah menunjukkan pukul 20.10.
"Tapi sayang, kita baru selesai makan malam dan kamu sudah melamar ku. Apa kamu tidak ingin menemaniku sebentar saja disini lagi, terlebih mama akan pulang." Febby memandangi cincin yang melingkar dijari manisnya.
Itu pemberian Jae Hwa tadi, ia sudah melamar nya sebelum mereka makan malam tadi.
"Iya nak Hwa lebih baik kamu menginaplah semalam disini, Tante akan segera kembali ke apartemen. Apalagi nenek Febby sedang sakit sekarang, butuh ditemani tante." Tutur mama Feka menatap putrinya yang tersenyum manis kepada nya.
"Hm... bagaimana ya? masalah nya aku juga punya adik jika ditinggalkan dia suka marah - marah." Jae Hwa memegang hidungnya yang serasa Sedikit memanjang jika sedang berbohong.
"Baiklah terserah nak Hwa saja."
"Ma, gimana sih." Febby melototkan matanya menatap mama nya tajam.
Mama Feka membalas tatapan putri nya lalu tersenyum. "Tapi ada syaratnya, kamu temanilah putri sejenak agar dia bisa tertidur. belakangan ini Febby sering tidak bisa tidur." Ucap mama Feka.
Febby langsung mengerutkan keningnya menatap mama Feka, oh ternyata ada udang dibalik batu.
Sangat cerdik! Pikir Febby.
"Bagaimana nak Hwa??"
"Baiklah." Tanpa pikir panjang Jae Hwa mengiyakan nya, terlebih ada seseorang yang ingin ia temui malam ini.
Sekarang Jae Hwa sudah berada dikamar Febby, sementara Febby dan sang mama sedang merencanakan sesuatu didapur sebelum sang mama Feka kembali ke apartemen nya.
"Ingat fe, kamu harus bisa mendapatkan Hwa malam ini... dan Jika rencana ini gagal sedikit saja, kita akan dalam masalah besar. ingat itu." Mama Feka memperingati.
Febby tersenyum smirk, "Mama belum tahu saja Febby si tokoh antagonis. bisa melakukan siasat apapun, demi mendapatkan apa yang ia mau dari si pemeran pratagonis laki - laki..."
"Bagus, anak mama memang the best."
"Hahahaha." mereka pun tertawa jahat bersama.