NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Langkah Kecil Gu Yu

Aroma Hutan Bambu Ungu yang basah menguap perlahan, digantikan oleh kehangatan akrab dari uap rebusan tanaman obat yang mengepul di sudut ruangan. Pondok kayu kuno di kaki Gunung Han itu berdiri kokoh, persis seperti wujudnya delapan tahun lalu. Tidak ada sehelai pun semak belukar yang tersisa di halaman; kekuatan sihir kegelapan Mo Jue telah menyusun kembali setiap keping bambu dan tiang penyangga pondok ini dalam hitungan detik sebelum ia menampakkan diri.

Di dalam kamar tidur, Shen Liya terbaring lemas di atas ranjang kayu yang sama. Tubuhnya yang kurus kini telah dibungkus oleh selimut katun tebal yang hangat. Napasnya masih terdengar berat, namun binar kemerahan yang tidak wajar akibat gejolak racun di kulitnya perlahan mulai ditekan oleh aliran energi dingin murni yang diam-diam dialirkan Gu Jue melalui titik nadi di pergelangan tangannya.

Gu Jue menarik kembali jemarinya. Wajah tampannya yang beralur dingin tidak memancarkan emosi apa pun, namun di dalam relung batinnya, kemarahan dan rasa bersalah bergolak hebat. Jiwa Shen Liya benar-benar berada di ambang kehancuran. Wanita bodoh ini telah memaksakan seluruh sisa kultivasinya demi menahan racun langit dan membesarkan anak mereka sendirian di pelosok dunia fana.

Gu Jue berdiri, lalu membalikkan tubuh tegapnya. Sepasang mata sehitam tintanya langsung bertumpu pada sesosok tubuh kecil yang sejak tadi berdiri diam di ambang pintu kamar.

Gu Yu kecil berdiri dengan posisi siaga. Langkah kakinya kokoh, menumpu berat tubuhnya dengan sempurna khas seorang petarung alami. Kedua tangan kecilnya mencengkeram erat hulu pedang kayu yang tersampir di punggungnya. Sepasang mata hitam pekat milik bocah itu menatap Gu Jue tanpa berkedip sedikit pun, memancarkan aura intimidasi yang teramat pekat untuk ukuran anak berusia tujuh tahun.

Dua pasang mata yang sama persis sehitam malam itu saling mengunci di dalam keheningan kamar yang remang-remang.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Gu Yu kecil, suaranya terdengar rendah, tegas, dan sarat akan kewaspadaan yang tidak menuruni sifat lembut ibunya. "Ibu bilang Ayah adalah seorang tabib manusia yang baik hati di gubuk ini. Tapi gerakanmu tadi... kau bergerak terlalu cepat untuk ukuran seorang manusia biasa."

Gu Jue menatap putranya dengan saksama. Kedewasaan dan ketajaman insting Gu Yu membuat hati sang Raja Iblis diam-diam dirayapi rasa bangga yang luar biasa. Bocah ini tidak hanya mewarisi wajahnya, melainkan juga kebuasan mental dan kepekaan sensorik yang hanya dimiliki oleh keturunan darah murni Alam Kegelapan.

"Dunia fana ini luas, Bocah. Ada banyak hal yang tidak dipahami oleh anak kecil seumurmu," jawab Gu Jue datar, sengaja menekan semua aura iblisnya agar tetap terlihat seperti "Gu Jue" sang tabib manusia yang dingin. Ia melangkah mendekati meja kecil, mengambil mangkuk tanah liat berisi obat herbal. "Aku adalah Gu Jue. Dan jika wanita di atas ranjang itu tidak berbohong padamu, maka akulah pria yang kau sebut Ayah."

Mendengar kata "Ayah" keluar dari mulut Gu Jue, cengkeraman tangan Gu Yu pada hulu pedang kayunya justru semakin mengencang. Riak energi spiritual campuran yang pekat sempat bergolak tipis di dalam dadanya, memicu desiran angin dingin yang berputar halus di sekitar jubah rami abu-abunya.

"Kau adalah Ayah?" Gu Yu mendengus kecil, sebuah ekspresi sinis yang lagi-lagi meniru tabiat Gu Jue secara mutlak. "Jika kau benar-benar tabib sehebat yang diceritakan Ibu, mengapa kau membiarkan Ibu menderita sendirian selama bertahun-tahun? Mengapa kau baru muncul sekarang saat Ibu sudah hampir mati?!"

Tuduhan tajam dari putra kandungnya sendiri membuat dada Gu Jue berdenyut perih. Rasa bersalah yang selama delapan tahun ini ia kubur dalam-dalam kini mencuat ke permukaan. Namun, ia tidak bisa membongkar kebenaran bahwa Shen Liya-lah yang memilih melarikan diri darinya demi melindunginya. Ia harus tetap menjaga sandiwara ini demi kedamaian pikiran Shen Liya yang sedang sekarat.

"Ibumu yang memilih untuk pergi dari sini delapan tahun lalu, bukan aku yang mengusirnya," ujar Gu Jue dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan ketat. Ia berjalan melewati Gu Yu, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

"Jika kau benar-benar ingin ibumu tetap hidup, berhenti menghunus pedang kayu bodohmu itu padaku. Masuklah dan jaga dia sementara aku menyiapkan sisa obat di dapur."

Gu Yu menatap punggung tegap Gu Jue yang menjauh menyusuri koridor pondok. Bocah cerdas itu tidak lantas menurunkan kewaspadaannya. Ia melepaskan pegangan tangannya pada pedang kayu, lalu melangkah pelan mendekati ranjang tempat Shen Liya terbaring.

Gu Yu duduk di tepi ranjang, menggandeng jemari ibunya yang terasa sedikit lebih hangat daripada saat mereka berada di hutan bambu tadi. Matanya yang tajam menyapu sekeliling kamar. Pondok ini memang terlihat seperti bangunan bambu biasa, namun indra sensorik iblis di dalam tubuh Gu Yu membisikkan sesuatu yang lain. Udara di tempat ini terasa sangat murni, seolah-olah ada sebuah dinding raksasa tak kasat mata yang sedang menyaring setiap kotoran dan ancaman dari luar dunia fana.

Pria itu... dia menyembunyikan sesuatu yang besar, batin Gu Yu kecil, ketetapan hatinya mengeras. Ia berjanji akan mengawasi setiap gerak-gerik sang "Ayah Tabib" demi memastikan ibunya tidak terluka untuk kedua kalinya.

Di dapur pondok yang remang-remang, Gu Jue berdiri di depan tungku api yang menyala kemerahan. Tangannya mengaduk rebusan akar obat dengan ritme yang konstan, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah dinding bambu luar.

Melalui ikatan spiritual yang tertanam di tubuh Feng Wu, Gu Jue bisa merasakan keberadaan Pelindung Kanan itu sedang berdiri siaga di pucuk pohon bambu tertinggi di luar pagar pondok, mengunci seluruh radius sepuluh mil dari Gunung Han agar bersih dari sisa-sisa radar pasukan zirah emas Ling Cang.

"Yang Mulia..." sebuah transmisi suara senyap dari Feng Wu berdenting di kepala Gu Jue. "Pasukan intai dari langit mulai bergerak menyisir perbatasan barat bumi manusia. Mereka tampaknya menyadari bahwa hilangnya sinyal Dewi Shen Liya disebabkan oleh sebuah penyamaran aura yang sangat kuat."

"Biarkan mereka mencari di barat," balas Gu Jue secara mental, suaranya bergaung dingin di dalam dimensi pikiran Feng Wu. "Perkuat segel pembatas di sekitar gunung ini. Jika ada satu pun serangga zirah emas yang berani menapakkan kaki di Hutan Bambu Ungu sebelum waktunya... hancurkan sukma mereka hingga tidak tersisa."

"Hamba menerima perintah, Yang Mulia."

Gu Jue memutus transmisi suara tersebut, mengangkat mangkuk obat yang telah matang dari atas tungku. Ia menarik napas panjang, menekan kembali seluruh kebuasan energi kegelapannya hingga ke relung terdalam inti jiwanya. Detik ini, ia harus kembali memoles wajah Gu Jue sang tabib fana. Ia harus bersiap menghadapi badai pertanyaan dan amarah yang pasti akan pecah begitu dewi langit yang keras kepala itu membuka sepasang matanya di dalam kamarnya.

Langkah kaki kecil Gu Yu kembali terdengar mendekat ke arah dapur. Bocah itu berdiri di dekat pintu, menatap mangkuk obat di tangan Gu Jue dengan pandangan yang rumit. Perjalanan berat mereka dari Desa Awan Putih telah berakhir, namun bagi keluarga kecil yang sarat akan kebohongan besar ini, pertempuran sejati untuk menantang takdir tiga alam baru saja dimulai di bawah atap pondok kayu Gunung Han.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!