"Aku sudah menyesal dan menyadari kesalahanku. Aku bahkan sudah meminta maaf dan mencoba menebus kesalahanku. Tapi, kenapa seolah-olah karma ini masih terus saja terjadi? Apa memang kesalahanku tidak bisa dimaafkan?"
Renatta meratapi nasibnya yang kini berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu bergelimang harta. Ia harus bekerja mati-matian untuk menghidupi kehidupan keluarganya.
Papanya yang dituduh korupsi, mamanya yang koma di rumah sakit, serta kakaknya yang memiliki kondisi fisik yang lemah. Satu-satunya yang bisa diharapkan hanyalah dirinya yang masih sehat.
Suatu hari, ia bertemu lagi dengan orang yang selalu ia bully di jaman SMA. Wanita itu tampak masih takut padanya meski Renatta sudah berulang kali meminta maaf.
Tak hanya itu, Renatta juga bertemu lagi dengan cinta pertamanya yaitu Regan di tempat kerjanya. Laki-laki itu masih membencinya karena dirinya adalah penyebab utama cita-cita laki-laki itu hancur.
Bagaimanakah kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoyota, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Sakit
Hujan pun turun dengan derasnya di malam itu. Renatta masih terus berjalan meski diterjang hujan. Ia merasa satu-satunya yang mengerti dirinya adalah hujan. Karena hujan turun menyamarkan air matanya.
Renatta menangis sambil jongkok memeluk lututnya. Hatinya benar-benar hancur. Lagi dan lagi ia selalu tidak didengar dan disalahkan. Entah harus sampai kapan ia diperlakukan seperti itu.
"Aku sudah menyesal dan menyadari kesalahanku. Aku bahkan sudah meminta maaf dan mencoba menebus kesalahanku. Tapi, kenapa seolah-olah karma ini masih terus saja terjadi? Apa memang kesalahanku tidak bisa dimaafkan?"
Renatta mengatakan isi hatinya sambil menangis sesenggukan. Bahkan dinginnya air hujan tak bisa membuatnya berhenti menangis. Padahal, jari jemari tangannya sudah mulai keriput karena kelamaan berada di guyuran hujan. Sampai pada akhirnya, Renatta pun pingsan di pinggir jalan.
*
*
Keesokan harinya, Regan tak melihat keberadaan Renatta di meja kerjanya. Padahal 5 menit lagi sudah masuk jam kerjanya. Tapi, ia masih kesal dan marah karena Renatta tega mencelakai Amanda semalam. Ia pun membiarkan saja meja itu kosong, karena beranggapan Renatta pasti datang terlambat.
Satu jam, dua jam, sampai tiga jam pun berlalu. Regan keluar dari ruangannya tapi masih tetap tak melihat Renatta disana. Ia jadi sedikit cemas, apalagi semalam ia tak mengantarkan Renatta pulang karena wanita itu pergi lebih dulu.
Regan mencoba menelpon ke no telepon Renatta, tersambung tapi tidak diangkat sama sekali. Mencoba memberi pesan, tapi tidak dibalas juga.
"Aih, kemana sih dia? Setidaknya kalau izin atau apapun bilang atau kasih pesan. Jangan tidak bilang begini! Maunya apa sih!" kesal Regan karena Renatta tak ada kabar sama sekali.
Kekesalannya itu sampai ia ceritakan ke Ozy di jam makan siangnya. Karena Renatta tak pergi ke kantor, mau tidak mau Regan mengurus sendiri makannya.
"Kayanya kamu lagi bete? Kenapa?" tanya Ozy yang memang tidak tahu.
"Renatta bolos kerja. Dia tidak memberikan pesan apapun padaku. Aku jadi keteteran sendiri mengurus pekerjaanku. Menyebalkan!"
"Kok bisa? Setahuku, Renatta tak pernah bolos kerja tanpa alasan. Pasti terjadi sesuatu padanya makanya ia tidak masuk kerja. Jangan berprasangka buruk terus ke Natta, Re."
"Gimana aku nggak berpikiran buruk tentangnya terus? Semalam aja dia habis mencelakai Amanda sampai hampir tenggelam. Kalau kemarin aku tidak menolongnya, entahlah, mungkin bisa saja Amanda kehilangan nyawa."
Mendengar perkataan Regan tersebut, entah kenapa Ozy malah tidak percaya. Selama ia mengenal Renatta di kantor, Renatta tak pernah membuat orang lain kesusahan. Bahkan seringnya, Renatta malah membantu orang lain yang kesusahan. Rasanya aneh sekali kalau sampai Renatta mencelakai Amanda. Karena ia yakin betul Renatta sudah berubah.
"Kamu tahu itu kalau Renatta yang mencelakai Amanda dari mana?"
"Amanda sendiri lah yang bilang sambil nangis-nangis."
Ozy menghela napasnya lalu menepuk bahu Regan. Saat ini ia akan menempatkan dirinya sebagai orang yang bijaksana agar pikiran Regan tercerahkan.
"Re, jangan langsung percaya sesuatu dari satu sisi saja. Kamu juga harus mendengarkan penjelasan dari salah satunya. Baru setelah itu kamu bisa menyimpulkan siapa yang benar disana. Kalau kamu langsung percaya begitu saja dengan ucapan Amanda tanpa kamu tahu kejadian yang sebenarnya, itu sama aja kamu seperti menuduh orang mencuri padahal dia tidak mencuri. Kalau aku jadi Renatta sih, pasti sedih banget. Apalagi selama ini dia selalu berjuang sendirian."
Seketika Regan terdiam. Dia memang langsung percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Amanda. Ia bahkan mengatakan kalimat yang pastinya begitu menyakitkan bagi Renatta.
"Daripada kamu menyesal di kemudian hari, kalau nanti, atau besok Natta sudah berangkat kerja lagi. Kamu bicara baik-baik dengannya. Tanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Jangan pakai emosi. Tanyakan juga kenapa hari ini dia tidak masuk tanpa memberikan kabar. Aku tahu, pasti sulit untuk percaya, tapi walau begitu kamu harus mendengarkannya dari dua sisi."
Regan terus mencerna dan meresapi apa yang dikatakan oleh Ozy. Entah nantinya ia akan bersikap bagaimana. Tapi, sejujurnya, di dalam hati kecilnya, ia merasa tidak percaya kalau Renatta sengaja mencelakai Amanda.
"Haaaah!"
Regan menghela napasnya. Ia pun mengaduk-aduk makanannya tanpa henti. Ia tak berselera makan karena terus kepikiran soal Amanda dan Renatta.
*
*
Berbeda dengan seseorang di suatu tempat. Ia terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Bau obat-obatan rumah sakit tercium di indera penciumannya.
Ia benar-benar tidak sadar, karena bangun-bangun ia sudah ada di rumah sakit dengan alat infus yang sudah terpasang di tangannya.
Renatta benar-benar tidak ingat apapun. Bahkan ia tidak tahu siapa yang sudah membawanya ke rumah sakit. Sampai ketika pintu terbuka, memperlihatkan seseorang yang ia kenali wajahnya.
"Risa?"
"Ya, ini aku istrinya Ozy. Semalam aku menemukan kamu pingsan di jalan ketika aku sedang keluar mencari cemilan untuk menemani jaga malam di rumah sakit. Semalam demam mu tinggi sekali dan sekarang aku akan mengeceknya lagi. Semoga saja sudah turun."
Risa pun mendekat ke Renatta dan mengecek suhu tubuh Renatta dengan termometer.
"Syukurlah, demamnya sudah turun."
"Terima kasih Ris. Em, oh iya, apa kamu menceritakan kalau aku ada di rumah sakit ke Ozy?"
Risa menggeleng.
"Sebenarnya aku mau cerita, cuma waktunya aja yang nggak sempat. Karena semalam banyak pasien kecelakaan. Jadi aku sibuk mengurus pasien ini dan itu, termasuk kamu juga."
Tiba-tiba Renatta panik dan langsung mencari ponselnya. Ia takut kakaknya akan khawatir karena ia tidak pulang semalaman.
"Ponselmu sedang aku isi daya baterainya. Kalau kamu mencari ponsel untuk menghubungi keluargamu. Semalam aku sudah memberitahukannya ke kakakmu. Karena ponselmu terus berdering darinya. Semalam juga dia ada disini sampai pagi sebelum jam masuk kerja. Dia cuma menitipkan pesan, kalau kamu sudah bangun, disuruh makan dan minum obat, supaya cepat sembuh dan segera pulang ke rumah," ucap Risa.
Renatta pun bisa bernapas lega akhirnya. Namun, ia tetap meminta ponselnya karena ia sudah bolos kerja tanpa pemberitahuan. Risa pun masuk ke ruangan lalu membawa ponsel Renatta yang sudah terisi penuh.
Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari kakaknya semalam. Ada juga panggilan tak terjawab dari Regan beberapa jam lalu. Beserta pesan dari Regan. Namun, meski sekarang ia sudah memegang ponselnya. Ia tak berniat membalas atau menelpon Regan balik. Ia ingin istirahat sepenuhnya tanpa memikirkan apapun yang membaut pusing kepalanya.
"Sebentar lagi, makanan mu akan datang. Tolong dimakan, dan obatnya diminum juga."
Renatta mengangguk.
"Sekali lagi terima kasih ya Ris. Sudah menolongku. Aku nggak tahu kalau seandainya bukan kamu yang menolong. Bisa saja aku dijahati orang atau bahkan mati kedinginan karena tak ada yang menolong."
"Sesama manusia kan memang harus saling tolong menolong. Apalagi aku adalah seorang dokter yang tugasnya menolong dengan menyembuhkan orang yang sakit. Ya sudah, aku keluar dulu mau cek pasien yang lain. Jangan banyak gerak dulu dan jangan memikirkan hal yang berat-berat."
Renatta mengangguk lagi. Lalu memainkan ponselnya. Namun, ia dikejutkan dengan kehadiran kakaknya ke dalam kamar rawatnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar."
Nesha langsung menghampiri Renatta dan mengecek langsung suhu tubuh Renatta.
"Demam mu juga sudah turun," ucapnya lega.
"Sudah makan?"
Baru juga akan menjawab, makanan untuk Renatta telah datang beserta obat yang harus diminum oleh Renatta.
"Oke, kalau begitu, kali ini kamu adalah bayi besar kakak. Kakak akan menyuapi kamu makan dan akan memaksa kamu untuk meminum obatnya."
Renatta mendengus sebal. Ia memang susah meminum obat, lebih tepatnya tidak bisa minum obat. Sedari kecil ketika ia meminum obat pasti dalam bentuk sirup atau obat padatnya dilarutkan dengan air putih. Atau tak jarang, Renatta malah membuang obatnya dan setelahnya berpura-pura telah minum obat di depan papanya.
"Pokonya kamu tidak akan bisa mengelabui kakak. Aaa."
Nesha pun menyuapkan sesendok demi sesendok makanan rumah sakit. Meski rasanya tak seenak masakan kakaknya. Renatta tetap memakannya karena ia butuh tenaga.
"Setelah minum obat, aku bisa pulang kan kak?" tanya Renatta.
"Tidak tahu. Nanti kakak tanya dokter dulu."
Renatta mengerucutkan bibirnya karena tidak suka jawaban kakaknya.
*
*
TBC