Sebut saja namaku Shania. Papa, mama dan kakak-kakakku memanggilku Ade sedangkan teman dan sahabatku biasa memanggilku Shan....
Aku adalah anak bontot dari 6 bersaudara. Aku anaknya cerewe, usil dan tomboi. Tapi semuanya hilang ketika aku dijodohkan dengan Dia...
Usiaku menginjak 23tahun saat aku dijodohkan oleh kakakku....
Dan inilah kisahku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althin Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seharusnya Aku Bahagia
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Aku bersihkan badan terlebih dulu. Aku masuk melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan setelah itu, aku membersihkan rumah juga mengepel dan kemudian membersihkan halaman depan rumah. Tidak lupa aku menyirami beberapa pot bunga yang aku beli pas waktu kami pulang pengurusan nikah dinas.
"Selamat pagi, sayang" sapaan manis dari Carlo yang sudah bangun dan melihatku sedang menyiram bunga-bunga ku.
"Selamat pagi, sudah bangun?" tanyaku. "Ade sudah siapkan sarapan di meja. Mandi dulu gih, selesai mandi baru kita sarapan ya" kataku.
"Oke sayang!" katanya.
Aku meninggalkan bunga-bungaku dan masuk ke dalam rumah. Aku mencuci tanganku.
"Kak, mau dibuatin kopi atau teh saja?" tanyaku.
"Kopi aja, De!" jawabnya.
"Hari ini nggak ke kantor?" tanyaku.
"Nggak, De" jawab Carlo "Hari ini aku mau seharian sama istriku yang cantik dan manja ini" katanya memelukku...
"Sarapan dulu, ayo" ajakku. "Ade juga belum sarapan" kataku...
"Itu wajah kenapa, De? tanya Carlo. "Ada yang mau ditanyakan?" tanya Carlo lagi.
"Sebenarnya, Ade mau tanyakan sesuatu" kramu.
"Tanya aja, kalau bisa dijawab ya aku jawab. tapi kalau nggak tau ya nggak bisa dijawab kan" kata dia lagi.
"Tadi malam, dari mana sih. Sampe mabuk begitu??? Dibopong pula sama Hasan???" tanyaku.
"Oh, itu? Ada acara di rumah teman. Ya mereka membuatku mabuk karena waktu kita nikah mereka tidak sempat hadir" katanya.
"Tadi malam, kakak pake ngigau lagi" ucapku. "Marah-marah juga" kataku.
"Uhuhuk, uhuk, uhukk" Carlo batuk karena mendengar pertanyaan ku.
"Hati-hati, sayang. Kopinya masih panas loh" kataku.
"Eemmm, iya. Bibirku melepuh, De" katanya sambil manyunkan bibirnya. "Emang, aku ngigaunya bagaimana sih?" tanya Carlo.
Akupun mengulang lagi apa yang tadi malam dia katakan dalam mabuknya. Membuat Carlo terdiam dan berhenti meniup kopinya.
"Memangnya siapa dia?" tanyaku...
"Dia bukan siapa-siapa, De" jawab Carlo.
"Kalau bukan siapa-siapa nggak bakalan kebawa dalam alam bawa sadar, kak!" kataku. "Jujurlah, Ade nggak akan marah kok. Toh itu kan masa lalu, kakak" kataku.
"Aku, aku takut akan mengecewakanmu" kata Carlo. "Aku nggak mau melihatmu bersedih lagi" katanya lagi.
"Sudahlah, kak. Aku akan menahan air mataku jika itu memang sakit dan aku akan tetap mendengarkan walau itu begitu mengecewakan" kataku menahan sesuatu di dalam hatiku.
Dan benar saja, cerita yang keluar dari mulut Carlo membuatku kaget bukan main. Ada rasa kecewa, sedih, sakit hati semua berkecamuk dalam hati.
"Kenapa semua ini terjadi di awal pernikahanku??? Seharusnya, aku bahagia??? Seharusnya aku senang dengan jujurnya Carlo, Karena aku yang memintanya untuk jujur. Tapi kenapa jujurnya Carlo malah membuatku merasa seperti dihianati dan merasa bodoh!!! Entahlah, Aku akan menjalaninya seperti air yang mengalir saja" guman hatiku.
"Kamu kecewakah deengan kejujuranku? Kamu sedih kan De? Kamu marah?" tanya Carlo.
"Aku kecewa, aku sedih, aku juga marah tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Kita sudah menikah" kataku. "Jika dari awal aku tau semuanya ini, aku akan berpikir lagi untuk menikahimu!" kataku. Tapi Sudahlah semua suda terjadi. Kita jalani saja" kataku.
"Makan rotimu dan minum kopi itu!" perintahku. "Aku akan kerumah kak Noni. Aku akan meminta Hasan untuk mengantarkanku. Dan jam 2, Hasan akan menjemput ku lagi untuk ikut Olahraga bersama ibu-ibu Persit" kataku