Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Naura datang ke rumah Harto pukul sebelas siang.
Tidak pagi, supaya tidak terlihat seperti anak yang datang sungkem dengan takut. Tidak terlalu sore, supaya tidak ada alasan berkata ia menghindar.
Salsa ikut.
Pakde Darma juga ikut, meski Naura sempat melarang.
"Pakde hanya duduk," katanya.
Naura tidak percaya sepenuhnya, tapi ia tidak menolak.
Rumah Harto ramai ketika mereka sampai. Beberapa tetangga duduk di teras samping, pura-pura membantu Sulastri menata kue Lebaran. Begitu Naura masuk, semua mata terangkat.
Sulastri tersenyum terlalu lebar.
"Nah, akhirnya anak Ibu datang."
Naura menatap senyum itu.
Senyum untuk penonton.
Ia mencium tangan Harto dan Sulastri singkat. Bukan karena hatinya luluh, tetapi karena ia tidak ingin memberi mereka bahan cerita bahwa ia tidak punya adab.
Bagas duduk di sofa, bermain ponsel.
Ia tidak berdiri.
"Bagas," tegur Pakde Darma.
Bagas mendongak malas. "Apa?"
"Kakakmu datang."
Bagas mendengus. "Dia juga nggak pernah anggap aku adik."
Naura tidak menanggapi.
Sulastri menggiringnya ke ruang tengah.
"Duduk dulu. Banyak yang tanya kamu kerja apa sekarang. Masa Ibu sendiri tidak tahu?"
"Saya bekerja lewat agency home care."
Salah satu tetangga langsung bertanya, "Home care? Perawat?"
"Bukan perawat medis. Pengelola rumah tangga profesional dan pendamping lansia."
Sulastri tertawa kaku. "Intinya kerja di rumah orang."
Beberapa tetangga saling pandang.
Dulu kalimat seperti itu akan membuat Naura malu.
Sekarang ia mengangguk.
"Iya. Kerja di rumah orang dengan kontrak jelas, gaji jelas, dan jam kerja jelas."
Tetangga yang lebih tua berkata, "Yang penting halal."
Naura tersenyum. "Betul, Bu."
Sulastri tampak tidak puas karena Naura tidak terlihat rendah.
Harto berdeham. "Kamu bilang mau ambil barang."
"Iya."
"Barang apa? Kamar sudah dipakai Bagas."
"Saya ingin lihat."
Bagas langsung berdiri. "Nggak bisa. Itu ruang kerja gue."
Salsa tertawa pendek. "Ruang kerja?"
Bagas menatapnya. "Artis figuran jangan ikut."
Naura menoleh tajam. "Jaga mulut."
Bagas hendak membalas, tetapi Pakde Darma berdiri.
"Buka kamarnya."
Harto tampak tidak nyaman. "Mas..."
"Buka."
Nada Pakde Darma tidak tinggi, tetapi membuat ruangan diam.
Sulastri akhirnya mengambil kunci dari laci.
Kamar lama Naura berada di lantai bawah, dekat dapur. Dulu kecil, panas, dan dipenuhi barang yang ia beli sendiri sedikit demi sedikit. Meja belajar bekas. Lemari kayu. Rak buku.
Saat pintu dibuka, Naura tidak menemukan satu pun.
Kamar itu berubah menjadi ruang gim.
Lampu LED warna biru menempel di dinding. Meja besar dengan dua monitor. Kursi gaming. Speaker. Rak berisi figur mahal. Di sudut ada kardus sepatu dan jaket-jaket Bagas. Bau rokok elektrik samar menempel di udara.
Salsa menghirup napas tajam.
Pakde Darma tidak bicara.
Naura berdiri di ambang pintu.
Waktu seperti berhenti.
Ia tidak berharap kamar itu utuh. Tapi melihat seluruh jejaknya hilang tetap seperti menyaksikan seseorang menghapus namanya dari batu nisan.
"Barang saya?"
Sulastri menjawab terlalu cepat. "Yang jelek-jelek dibuang. Yang masih bagus dipakai."
"Buku?"
"Buku lama buat apa? Bikin penuh."
"Ijazah fotokopi, piagam sekolah, foto?"
Harto menghindari tatapannya.
Bagas berkata, "Drama amat. Itu barang lama."
Naura masuk ke kamar.
Bagas langsung maju. "Hei! Jangan masuk pakai sepatu!"
Naura berhenti di depan meja.
Di sana ada keyboard mekanik, headset mahal, dan ponsel kedua.
"Berapa harga semua ini?"
Bagas menyipit. "Kenapa?"
"Dari uang siapa?"
"Uang keluarga."
"Uang keluarga yang mana?"
Sulastri masuk. "Naura, jangan mulai."
Naura mengambil salah satu figur di rak.
Bagas panik. "Jangan pegang!"
"Ini dibeli dari uang siapa?"
"Mbak!"
"Jawab."
"Ya uang rumah! Kenapa sih?"
Naura menatap figur itu.
Dulu ia menghitung uang makan agar bisa membeli buku kuliah fotokopi. Dulu ia mencuci piring di warung sampai tangannya pecah agar bisa membayar kos. Dulu ia mengirim gaji ke rumah ini agar Bagas bisa hidup nyaman.
Lalu barang-barang lamanya dibuang karena "bikin penuh".
Ia meletakkan figur itu.
Pelan.
Terlalu pelan.
Salsa mengenal ekspresi itu dan langsung mundur setengah langkah.
"Kak..."
Naura menarik napas.
Ia tidak akan menghancurkan semuanya seperti amarah buta.
Ia bukan Bagas.
Ia mengambil ponsel dan mulai merekam.
Sulastri terkejut. "Kamu ngapain?"
"Mendokumentasikan."
"Matikan!"
"Tidak."
Naura merekam seluruh ruangan.
"Ini kamar saya dulu. Barang pribadi saya dibuang tanpa izin. Ruangan dipakai Bagas untuk perlengkapan yang dibeli dari uang rumah, sementara saya tidak pernah diberi tempat ketika pulang."
Bagas mencoba merebut ponsel.
Naura mundur cepat.
Pakde Darma langsung menahan dada Bagas dengan satu tangan.
"Jangan sentuh dia."
Bagas berteriak, "Ini rumah gue!"
Naura menatapnya.
"Rumah ini dibangun dari transfer saya."
Harto membentak, "Naura!"
"Apa salah?"
Ruangan hening.
Naura membuka tas, mengeluarkan map plastik. Ia sudah menyiapkan sejak Jakarta.
Di dalamnya ada cetakan mutasi transfer bertahun-tahun. Tidak semua, tetapi cukup.
Ia meletakkannya di meja gaming Bagas.
"Ini sebagian bukti transfer saya. Renovasi rumah, biaya hidup, biaya kuliah Bagas, cicilan motor. Kalau Bapak dan Ibu ingin terus berkata saya anak durhaka, silakan. Tapi jangan lagi bilang rumah ini tidak ada uang saya."
Tetangga di luar mulai berbisik.
Sulastri wajahnya merah.
"Kamu mau mempermalukan orang tua sendiri?"
"Ibu yang mengundang tetangga menonton."
Sulastri terdiam.
Bagas mendorong tangan Pakde Darma dan berusaha maju lagi.
"Mbak, hapus video itu!"
Naura menatapnya dingin.
"Tidak."
Bagas mengangkat tangan.
Salsa menjerit, "Bagas!"
Gerakan itu berhenti karena Naura mengeluarkan sesuatu dari tas.
Bukan pisau.
Semprotan merica kecil.
Ia memegangnya mantap.
"Satu langkah lagi, aku lapor polisi. Aku punya video kamu mencoba menyerang."
Bagas membeku.
Sulastri menjerit, "Kamu mau melukai adikmu?"
"Saya membela diri."
"Dia adikmu!"
"Kalau dia menyerang saya, dia pelaku."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Harto memegang bahu Bagas dan menariknya mundur. Wajahnya pucat, mungkin baru sadar Naura yang sekarang bukan Naura yang dulu bisa ditampar dengan kata durhaka.
Naura memasukkan kembali semprotan merica.
Ia mengambil map transfer, menyimpan ponsel, lalu menatap kamar itu untuk terakhir kali.
"Saya tidak punya barang lagi di sini."
Suaranya pelan.
Justru karena pelan, terdengar menyakitkan.
"Dan mulai hari ini, saya juga tidak punya alasan untuk masuk rumah ini lagi."
Sulastri menangis lagi.
Tapi kali ini, Naura tidak berhenti.
Ia berjalan keluar bersama Salsa dan Pakde Darma.
Di teras, beberapa tetangga cepat-cepat pura-pura menata kue.
Naura tidak peduli.
Di halaman, ia menoleh sekali.
Rumah itu berdiri besar, dicat rapi, penuh barang yang dibeli dari pengorbanannya.
Tapi tidak ada dirinya di sana.
Tidak apa-apa.
Ia tidak lagi ingin masuk.
jgn setengah 2 ya