NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)

...Gema yang Bergaung...

..."Angin tidak pernah memaksa daun untuk bergerak. Ia hanya berembus. Daunlah yang memutuskan apakah akan tetap diam atau menari."...

^^^—Petuah Burung Erung^^^

Sesungguhnya tidak ada yang berubah drastis di Banua Ginjang. Namun, setiap makhluk dapat merasakan bahwa semuanya telah berubah.

Hariara Bolon tetap menjulang, memayungi langit dengan cabang-cabangnya yang tak bertepi.

Air Terjun Cahaya tetap mengalir, menumpahkan ribuan untaian sinar ke lembah-lembah embun.

Parhobas Rambu masih berjalan perlahan di sepanjang lengkung pelangi, memperbaiki warna-warna yang mulai memudar dengan tongkat kristal mereka.

Parmanurung Rambu masih menari di antara fajar dan senja, memastikan siang dan malam saling memberi ruang.

Siboru Rintik tetap mengumpulkan embun dari bunga-bunga langit.

Sitabeak Bintang masih menyusun serpihan cahaya menjadi gugusan bintang baru.

Semuanya masih tampak sama. Namun udara Banua Ginjang kini dipenuhi sesuatu yang tidak dapat dilihat. Pertanyaan.

Semua pertanyaan itu kini tidak hanya tinggal di hati Deak. Karena pertanyaan ternyata memiliki cara hidupnya sendiri. Ia tidak terbang seperti burung yang bersayap. Tidak juga mengalir seperti air sungai. Ia berpindah dari hati ke hati.

Pelan dan nyaris tanpa suara.

...****************...

Suatu pagi, ketika sekelompok Sitabeak Bintang sedang menyusun serpihan cahaya di tepian Danau Pantul Langit.

Seorang dari antara mereka mengangkat sebuah pecahan cahaya yang berbentuk setengah lingkaran dan bertanya: "Guruku... Kalau bintang berasal dari cahaya yang dikumpulkan... apakah cahaya di Banua Tonga juga dapat menjadi bintang?"

Tetua penjaga mereka terdiam. Pertanyaan itu sederhana. Namun belum pernah ada yang mengucapkannya. Beliau akhirnya menjawab pelan, "Aku... belum pernah melihat Banua Tonga dari dekat, jadi aku tidak punya jawaban yang pasti untuk pertanyaanmu itu."

Para Tabaek Bintang itu pun saling berpandangan. Untuk pertama kalinya mereka menyadari, bahwa bahkan seorang guru pun, penjaga yang selama ini selalu mereka andalkan, ternyata masih memiliki hal-hal yang belum diketahuinya.

...****************...

Di sisi lain Banua Ginjang, para Parhobas Rambu terlihat sedang memperbaiki lengkung pelangi.

Seorang penjaga muda menghentikan tongkat kristalnya dan bertanya: "Apakah pelangi selalu berakhir di Banua Ginjang?"

Penjaga yang lebih tua mengangguk dan menjawab: "Begitulah sejak dahulu."

"Apakah ada yang pernah mengikuti ujungnya?" tanya penjaga muda lainnya.

"Tidak." jawab sang Penjaga yang lebih tua.

"Mengapa?" tanya penjaga muda tadi penasaran.

"Karena tidak ada yang pernah melakukannya." akhirnya sang Penjaga senior itu menjawab setelah merenung sesaat.

Mereka semua akhirnya kembali bekerja. Namun beberapa tangan muda bergerak lebih lambat, karena mereka mulai menyadari bahwa "tidak pernah dilakukan sebelumnya" belum tentu berarti "tidak boleh dilakukan sama sekali" dan kata "tidak boleh" bukan berarti "tidak mungkin saja untuk dikerjakan".

...****************...

Sementara itu, di Padang Senja, terlihat para Parmanurung Rambu tengah berlatih tarian keseimbangan. Setiap gerakan mereka membuat warna fajar dan senja saling berpindah dengan lembut.

Seorang penari muda tiba-tiba berhenti dan terpaku. Ia memandang matahari yang hampir tenggelam dan berkata: "Lihatlah... Kita setiap hari menjaga agar siang dan malam dapat bertemu dengan damai."

Beberapa temannya mengangguk.

"Lalu mengapa Banua Ginjang dan Banua Tonga tidak boleh saling mendekat?" tanyanya polos dengan penuh penasaran.

Tidak seorang pun menjawab dan musik angin yang mengiringi tarian mereka perlahan berhenti mengalun. Mungkin ikut memikirkan jawaban dari pertanyaan sederhana itu.

...****************...

Jonggi menjadi saksi dari semua percakapan itu. Burung kecil yang sangat bersahabat dengan semua makhluk lain di Banua Ginjang itu terbang dari satu tempat ke tempat lain. Namun ia sebenarnya tidak berniat menyebarkan berita apapun. Ia hanya mendengar dengan seksama. Lalu menceritakan apa yang didengarnya kepada para sahabatnya yang lain.

"Sitabeak Bintang sedang bertanya." ujarnya suatu saat.

"Oh ya?" temannya kembali bertanya karena tidak yakin dengan ucapan sang sahabat.

"Parhobas Rambu juga bertanya." ujar Jonggi lagi di kesempatan yang lain pada temannya yang lain lagi.

"Benarkah?" tanya temannya itu dengan tersenyum.

"Parmanurung Rambu pun bertanya." ujar Jonggi lagi di waktu lain kepada temannya yang lain lagi.

Lama-kelamaan, seluruh Banua Ginjang terasa seakan dipenuhi percakapan yang belum pernah terdengar sebelumnya. Bukan tentang kegigihan untuk mencari jawaban. Melainkan tentang keberanian untuk bertanya.

...****************...

Sore itu Deak terlihat kembali berdiri terpaku di Tebing Pamatang Langit.

Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di berbagai penjuru dan pelosok Banua Ginjang.

Matanya hanya tertuju jauh pada pamandangan samudra purba di Banua Tonga. Permukaannya tampak tenang. Namun entah bagaimana, ketenangan itu kini terasa semakin akrab. Seolah lautan itu telah mengenalnya.

Jonggi datang tergesa-gesa dan menyapa dengan terengah: "Putri!"

"Ada apa?" tanya Deak perlahan.

"Semua orang mulai bertanya-tanya." ujar sang sahabat kecil dengan cepat.

Deak mengernyitkan dahi, "Tentang apa?"

"Tentang segala sesuatu." jawab Jonggi, lalu melanjutkan: "Tentang pelangi. Tentang bintang. Tentang Banua Tonga. Tentang mengapa."

Deak terdiam dan merasa sedikit bersalah namun ia berkata: "Aku tidak pernah meminta mereka bertanya."

Jonggi mengangguk, "Aku tahu."

"Lalu mengapa?" tanya Deak lagi.

Burung kecil itu memiringkan kepalanya dan menjawab: "Mungkin... karena pertanyaan yang jujur selalu menemukan jalan menuju hati yang siap untuk mendengarkannya."

...****************...

Malam itu, Burung Erung terbang rendah mengelilingi Banua Ginjang. Ia melihat kelompok-kelompok kecil makhluk muda duduk bersama. Mereka tidak sedang merencanakan pemberontakan.

Tidak ada amarah dalam obrolan mereka. Tidak juga ada nada kebencian. Yang terdengar hanyalah percakapan dan rasa penasaran.

"Aku ingin tahu." ujar yang seorang.

"Bagaimana menurutmu?" tanya yang seorang.

"Mengapa demikian?" tanya yang lain.

"Apa mungkin ada cara lain yang lebih baik?" dan pertanyaan-pertanyaan terus berkembang di percakapan kelompok-kelompok makhluk itu.

Burung Erung tersenyum tipis. Namun tidak berapa lama kemudian senyumnya segera memudar. Karena ia tahu, setiap perubahan besar dalam sejarah semesta, selalu dimulai dengan percakapan-percakapan kecil seperti itu.

...****************...

Keesokan harinya, para tetua mulai menyadari sesuatu. Bukan karena ada aturan yang telah dilanggar.

Semua makhluk tetap menjalankan tugas mereka. Pelangi tetap dijaga. Embun tetap dikumpulkan. Bintang tetap disusun. Tarian fajar dan senja tetap berlangsung.

Namun, mereka kini bekerja sambil berpikir. Dan pikiran yang telah terbangun, tidak pernah dapat kembali tidur dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya.

Di bawah pohon Agung Hariara Bolon, Ompu Sada Uluan memungut sehelai daun yang gugur.

Beliau memperlihatkannya kepada Burung Erung dan berkata: "Lihatlah daun ini."

Burung Erung mengangguk.

"Apakah angin yang membuatnya jatuh?" tanya sang burung.

Ompu Sada Uluan tersenyum, "Tidak. Angin hanya memberi kesempatan. Daun itu jatuh... karena ia telah siap melepaskan dirinya."

Beliau lalu memandang jauh ke arah Tebing Pamatang Langit. Di sana, terlihat siluet Deak berdiri memandangi cakrawala.

"Aku kira... yang sedang berubah bukan hanya Deak." ujar sang Ompu dengan bijak.

Burung Erung mengikuti arah pandang beliau dan menjawab lirih: "Ya.. Yang sedang bertumbuh... adalah seluruh Banua Ginjang."

Dan jauh di ufuk, di tempat langit seolah menyentuh samudra purba, sebuah lingkaran cahaya kecil kembali muncul di permukaan air. Tak seorang pun melihatnya. Kecuali Deak.

Deak tidak mendengar kata-kata kali ini. Namun hatinya dipenuhi satu perasaan yang semakin sulit diabaikan. Bahwa di dunia yang belum bernama itu, ada sesuatu yang sedang menunggu.

Bukan untuk ditaklukkan, namun untuk dipahami dan dibantu tumbuh dengan lebih baik.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 12 – Bagian II: Pengetahuan yang Berpengertian.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!