NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.

Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".

Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].

Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!

Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU TAK DIUNDANG DARI MASA LALU

Kekuatan Lingkaran 6 berputar dengan stabil di dalam inti manaku. Dengan Frost yang kini bertengger manis di bahuku dalam wujud naga kecil, area terdalam Frozen Abyss yang dulunya tabu bagi manusia, kini resmi menjadi wilayah kekuasaanku.

Namun, sebuah kerajaan tidak bisa berdiri hanya di dalam gua batu yang gelap. Aku butuh tempat yang layak untuk menyusun rencana besar ini.

"Sistem, buka Toko Bangunan. Berapa poin yang kubutuhkan untuk membangun fondasi istana?" tanyaku dalam hati.

DING!

[Toko Sistem - Kategori: Wilayah & Bangunan]

Benteng Es Pemula: Pertahanan standar, luas 100 meter persegi. Harga: 200 Poin.

Istana Es Dewa (Fase 1): Dilengkapi dengan Kubah Absolut (Anti-Intai), aula tahta kristal, dan peningkatan regenerasi mana sebesar 200% bagi pemilik Fisik Es Dewa. Harga: 300 Poin.

"Beli Istana Es Dewa Fase 1."

[Pembelian Berhasil. Mengurangi 300 Poin. Sisa Poin: 20 Poin.]

[Mulai Membangun Istana Es Dewa di koordinat saat ini...]

RUMBLE... RUMBLE...

Tanah di dalam gua berguncang hebat. Dari dasar lantai batu, pilar-pilar es murni setebal pohon purba melesat ke atas, mengikis dinding gua dan memperluas ruangannya hingga berkali-kali lipat. Kristal-kristal es biru bertunas di langit-langit, membentuk lampu gantung alami yang memancarkan cahaya perak megah.

Di ujung aula yang baru terbentuk, es merayap naik membentuk tangga megah yang menuju ke sebuah tahta tinggi. Tahta itu dipahat sempurna dari es abadi yang tidak akan pernah meleleh, memancarkan aura keagungan yang mutlak.

"Luar biasa..." gumamku, ia melangkah perlahan menaiki tangga dan menduduki tahtanya tersebut. Saat tubuhku menyentuh kursi es, mana di sekitar langsung mengalir deras ke dalam tubuhku, memulihkan seluruh rasa lelah.

"Selamat atas istana barumu, Yang Mulia," ucap Frost melalui telepati, matanya yang keemasan berbinar menatap sekeliling. "Tempat ini memiliki kemurnian elemen es yang bahkan menyaingi sarang naga kuno."

"Ini baru permulaan, Frost. Tempat ini akan menjadi pusat dari badai yang akan menelan Kerajaan Silversnow," jawabku dingin.

[Peringatan Sistem! Mekanisme Kubah Absolut mendeteksi adanya pelanggaran wilayah.]

[Terdeteksi 5 entitas manusia memasuki perbatasan luar Frozen Abyss. Jarak: 2 Kilometer dari lokasi Tuan Rumah.]

[Identifikasi Target: Prajurit Elit dari Ksatria Pengawal Pangeran Mahkota Julian.]

Mendengar nama "Julian", tanganku yang berada di sandaran tahta seketika mencengkeram kuat hingga es di bawah jariku retak. Julian. Mantan tunanganku di kehidupan pertama yang menusuk dadaku demi tahta dan demi adik tiriku, Alicia.

Ternyata anjing-anjing pemburu miliknya sudah dikirim ke hutan ini. Apakah untuk memastikan Elena yang asli benar-benar sudah mati dan membusuk?

"Mereka bergerak cepat," desisku, seulas senyum kejam mengembang di bibirku. "Bagus sekali. Aku baru saja mendapatkan kekuatan baru, dan mereka dengan sukarela datang untuk menjadi kelinci percobaanku."

"Yang Mulia, haruskah aku membakar mereka dengan api es milikku?" tanya Frost, sayap kecilnya sedikit terbuka, memancarkan niat membunuh yang pekat.

"Tidak perlu, Frost. Menghadapi lima kecoak tidak perlu merepotkan seekor naga," aku berdiri dari tahtaku, jubah putih sutraku berkibar megah. "Mari kita beri mereka sambutan hangat khas Ratu Es."

-------------

Dua kilometer dari istana es, di tengah badai salju yang kencang, lima ksatria berbaju zirah perak berat berlogo mawar es lambang Kerajaan Silversnow sedang berjalan dengan susah payah menembus tumpukan salju.

"Sialan! Kenapa Yang Mulia Pangeran Julian bersikeras menyuruh kita memeriksa mayat putri cacat itu? Di tengah badai Frozen Abyss seperti ini, manusia tanpa mana pasti sudah hancur dicabik monster dalam hitungan menit!" umpat salah satu ksatria yang memimpin di depan.

"Jaga bicaramu, Kapten! Ini perintah langsung untuk memastikan tidak ada rahasia kerajaan yang bocor. Lagipula, Putri Alicia ingin bukti cincin pertunangan Elena dibawa kembali sebagai simbol bahwa hubungan mereka telah berakhir sepenuhnya," sahut ksatria di belakangnya.

Mereka terus melangkah, mengira perjalanan ini hanyalah formalitas belaka. Namun, tiba-tiba badai salju di sekitar mereka berhenti secara tidak wajar. Udara yang tadinya bergerak liar mendadak menjadi sunyi senyap. Keheningan yang mencekam menyelimuti hutan.

"Tunggu... ada yang aneh," Kapten Ksatria menghentikan langkahnya, tangannya langsung memegang gagang pedang di pinggangnya.

"Waspada! mungkin ada monster yang mendekat!"

"Kalian sedang mencari mayatku?"

Sebuah suara wanita yang sangat jernih, namun sedingin angin kutub, menggema dari arah depan. Dari balik kabut salju yang perlahan menipis, sesosok siluet berjalan dengan anggun.

Para ksatria itu terbelalak. Wanita itu mengenakan jubah sutra putih yang luar biasa indah. Rambutnya yang panjang berwarna perak berkilau, dan sepasang mata biru kristalnya menatap mereka seolah-olah mereka hanyalah semut yang siap diinjak.

Meskipun penampilannya berubah drastis menjadi sangat cantik dan penuh wibawa, garis wajah itu tidak salah lagi.

"Putri... Elena?!" Kapten Ksatria itu terkesiap, langkahnya mundur selangkah demi selangkah karena syok. "Bagaimana mungkin?! Kamu... kamu tidak punya mana! Dan warna rambutmu—"

"Siapa yang mengizinkanmu memanggil namaku dengan mulut kotor itu?" potongku datar.

Aku mengangkat tangan kananku perlahan. Di mata para ksatria itu, tekanan mana yang keluar dari tubuhku tiba-tiba meledak seperti gunung berapi es. Aura biru pekat membubung tinggi ke langit, membuat pohon-pohon purba di sekitar mereka langsung membeku dan hancur menjadi serpihan.

"K-Kekuatan ini... Lingkaran 6?! Ini mustahil! Ini sihir tingkat tinggi!" teriak salah satu ksatria dengan wajah pucat pasi. Lututnya gemetar hebat hingga ia jatuh berlutut ke salju. Tekanan mana milikku menekan dada mereka hingga mereka kesulitan untuk bernapas.

"Kembali dan katakan pada Julian dan Alicia," ujarku, mata biru kristalku berkilat kejam. "Elena yang tidak berguna telah mati. Dan maut mereka baru saja lahir."

"Serang! Bunuh dia! Dia penyihir sesat!" perintah sang Kapten dengan panik, mencoba menghunus pedangnya yang mulai membeku.

"Terlambat," bisikku. Aku menjentikkan jariku. "Sihir Es Tingkat 1: Ice Spike Rain."

SHHHH! SHHHH! SHHHH!

Dari langit kelabu, ribuan tombak es sebesar tombak perang tercipta dalam sekejap, menutupi seluruh area tempat mereka berdiri. Sebelum para ksatria itu sempat berteriak, badai tombak es itu melesat turun dengan kecepatan cahaya, menembus zirah baja mereka dan mengunci mereka di atas tanah salju yang memerah.

Hanya dalam satu detik, lima ksatria elit Kerajaan Silversnow tewas mengenaskan, tubuh mereka membeku menjadi patung es di tengah hutan terlarang.

[Misi Selesai: Hancurkan Pengintai.]

[Anda mendapatkan 500 Poin Sistem. Status Anda sebagai Ratu Es mulai diakui oleh dunia.]

Aku berbalik memunggungi mayat-mayat itu, membiarkan badai kembali berembus untuk menghapus jejak pertempuran. Perang baru saja dimulai, dan bidak pertama milik Julian telah kuhancurkan.

1
Sunflower_6520
Suka nih sama yang balas dendam begini...
SRIANA: terima kasih udah singgah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!