Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Anggi sama sekali tidak mau mendengar kata-kata Agus karena dia sudah trauma dua kali suaminya telah mengkhianatinya.
"Aku pikir untuk saat ini kita harus benar-benar berpisah mas," ucapnya mantap.
"Dengarkan dulu penjelasanku Anggi, Halima sengaja melakukan itu untuk merusak rumah tangga kita," mohon Agus.
"Jangan menyentuhku mas, aku terlanjur kecewa kau tidak bisa menjaga tubuhmu dari wanita lain," tangisnya.
"Aku harus bagaimana lagi, Anggi?" tambah Agus tetap berusaha menahan Anggi.
"Sepertinya kita harus benar-benar berpisah mas." Kedua bola mata Agus terbuka lebar dia tidak mau berpisah dengan Anggi.
Hanya beberapa menit saja meninggalkan dia perasaan yang tidak tenang apalagi tinggal untuk selamanya.
"Baiklah! Aku mengakui kesalahanku lagi Anggi tapi kalian berdua tetaplah tinggal di sini biar aku yang keluar. Setidaknya kalian masih dalam pengawasanku," lirihnya.
"Aku tidak berhak tinggal di sini mas, karena kali ini aku benar-benar akan melayangkan surat gugatan cerai." Agus marah mendengar kata cerai keluar dari mulut Anggi.
"Jangan pernah berpikir untuk cerai dariku Anggi. Sampai kapanpun tidak akan pernah ingat itu." Agus memilih langsung keluar karena tidak mau pertengkaran mereka semakin panjang.
Anggi jatuh di lantai, ia benar-benar bingung untuk saat ini karena rumah tangganya selalu kena masalah.
"Nyonya, maaf baby boy menangis," ucap pelayan sambel membawa baby boy terus menangis.
Anggi berdiri sambil mengusap wajahnya yang sembab dia menerima putranya itu lalu membawa duduk di sofa.
"Mbak, susu ya bisa ambilkan di kulkas," pinta Anggi pelan.
"Baik Nyonya," balas pelayan itu cepat.
Tidak lama kemudian pelayan membawa botol susu yang diminta Anggi. Wanita muda itu memberikannya langsung kepada baby boy seketika bocah itu diam.
Anggi menatap dalam wajah putranya itu mirip sekali dengan Agus. Hasil buah cinta mereka telah tumbuh dengan sempurna dan menggemaskan.
"Mami minta maaf seharusnya kau merasakan kasih sayang kami berdua tapi." Anggi kembali menambahkan air matanya terus bercucuran.
"Nyonya, saya tidak membela siapapun namun karena sudah lama bekerja dengan tuan, selama ini kami memendam perasaan kalau tuan tidak seburuk yang nyonya pikirkan," ucap pelayan itu halus.
"Dia dua kali sudah menghianatiku mbak, sampai kapan dia melakukan itu sementara kami sudah memiliki putra," ucapnya lirih.
"Kami mengerti bagaimana perasaan anda Nyonya, wanita yang bernama Halima itu dari dulu memang membuat masalah bahkan sebelum kenal dengan tuan dia tidak pernah menghargai tuan Agus, nyonya." Anggi menyipitkan mata tidak mungkin Agus diam kalau ada wanita seperti itu di sekelilingnya.
"Agus beda mbak, dia tidak kalian kenal bagaimana kepribadiannya," balas Anggi.
"Karena kami sudah melihat secara langsung nyonya, Jesika dan Halima mereka berdua adalah wanita yang tidak baik karena itu tuan Agus lebih baik mundur dari pada terjebak dalam cinta yang palsu." Anggi terkejut mendengar ucapan pelayan itu.
"Tapi yang di hotel bagaimana? Aku langsung melihatnya mbak dan di kantor mas Agus diam ketika dipeluk," isaknya.
"Tuan, hanya pernah membawa wanita masuk ke dalam pelukannya hanya anda Nyonya. Beliau sangat menjaga tubuhnya dari wanita yang tidak diinginkannya." Isi kepala Anggi berputar bagaimana Agus pertama kali memperlakukannya dulu ketika pertama kali sebagai istri.
"Nyonya bisa memikirkan pelan-pelan tapi tuan sampai kapanpun tidak akan pernah menceraikan anda." Anggi jadi dilema mendengar ucapan pelayan itu banyak tahu tentang Agus ketimbang dirinya.