NovelToon NovelToon
Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul

Status: tamat
Genre:Angst / Dosen / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: teh ijo

Aisyah yang tak kunjung hamil membuat mama mertuanya memberikan dua pilihan paling berat. Aisyah harus memilih antara berpisah dengan suaminya atau tetap bersama tetap harus menerima jika suaminya menikahi wanita lain.

Sungguh hancur hati Aisyah. Dia tidak bisa memilih salah satu pilihan yang diberikan oleh mama mertuanya. Bagaimana bisa dia berpisah dengan suaminya, sementara Aisyah sangat mencintainya. Apalagi jika harus merelakan berbagi suami dengan wanita lain. Jelas saja Aisyah tidak sanggup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Dengan terpaksa, Ais pun harus bergabung bersama Hanafi dan ibunya untuk makan siang bersama. Berada di tengah-tengah anak dan ibu membuat Ais teringat dengan sepenggal kisah masa lalunya bersama Azam dan Mama Maya. Terlebih dahulu, Mama Maya sangat menyayangi Ais. Entah apa yang merasuki wanita itu hingga tega menyakiti hati Ais.

"Han, gimana enak kan masakan Ais?" tanya ibu Hanafi.

"Iya, Bu. Enak."

"Alhamdulillah. Mudah-mudahan kamu segera terbiasa dengan masakan Ais, ya."

Hanafi hanya bisa menghela napas panjangnya karena sudah sangat peka dengan ucapan ibunya. Entah mengapa sang ibu begitu menginginkan dirinya segera menikah dengan Ais.

"Ais, ayo dimakan! Jangan malu-malu. Kan tadi kamu yang masak. Anggap aja seperti rumah sendiri."

Ais tersenyum tipis dengan rasa canggung. "Iya, Bu."

Makan siang pun berjalan begitu saja dan tibalah Ais meminta izin untuk pulang. Namun, lagi-lagi ibu Hanafi belum mengizinkan Ais pulang begitu saja. Ibu Hanafi yang sudah terlanjur menyukai dan berharap besar jika Ais adalah jodoh anaknya masih berusaha untuk mencari cara untuk meruntuhkan kekerasan hati anaknya yang masih membentengi pintu hatinya untuk diisi. Ibunya bahkan tidak peduli dengan status wanita yang sangat diharapkan untuk menjadi menantunya itu.

"Ais, maaf ibu harus merepotkanmu untuk sekian kalinya. Tidak apa-apa, kan?"

"Ah, enggak apa-apa kok, Bu."

Ibu Hanafi sengaja menyuruh Ais untuk menemani Hanafi menagih uang sewa di rumah kontrakan, dengan alasan takut jika Hanafi tidak jujur.

"Enggak tahu kenapa mendadak perut ibu pusing. Mungkin karena baru hari pertama datang bulan. Jika ibu belum berjanji akan datang hari ini, ibu juga tidak akan memintamu untuk mengutip uang sewa. Ibu tidak percaya jika hanya mengutus Hanafi seorang, karena Hanafi kan takut sama orang, terutama sama wanita."

"Ibu! Hanafi tidak takut sama orang. Hanafi hanya menjaga pandangan Hanafi, terlebih penyewa rumah itu rata-rata tidak bisa menjaga lekuk tubuh mereka, dan sering memakai pakaian kurang bahan. Hanafi tidak ingin mata Hanafi ternoda, Bu!" Hanafi membela diri.

"Iya, iya. Ibu tahu itu. Ya udah sana, nanti keburu mereka lama nunggu dan mikir kalau ibu enggak jadi datang!"

Dengan terpaksa, Hanafi pun langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Sebagai anak yang penurut, Hanafi tidak pernah bisa menolak perintah ibunya, kecuali perintah untuk menikah. Untuk keinginan yang satu itu, dengan beribu maaf, Hanafi terpaksa harus menolak karena itu juga menyangkut masa depannya.

"Ais, maafkan ibu ya. Tapi kalau kamu tidak mau, aku akan mengantarmu pulang. Kamu juga sudah lelah yang hampir seharian mengikuti keinginan ibu," ujar Hanafi.

"Gak papa kok, Mas. Lagian di rumah aku juga enggak ada kerjaan. Ya, itung-itung dari pada bosan di rumah."

Karena Ais merasa tidak keberatan, Hanafi pun langsung menuju ke rumah kontrakan milik orangtuanya.

Dalam hati Hanafi merasa sangat bersyukur karena Ais tidak keberatan dan bisa dia andalkan untuk mengutip uang sewa.

"Alhamdulillah. Untung Ais enggak keberatan, sehingga aku tak perlu bertatap langsung dengan penyewa rumah."

Dan tidak butuh waktu lama, keduanya pun telah sampai di rumah kontrakan milik keluarga Hanafi. Terlihat sudah banyak penyewa yang duduk di teras rumah masing-masing.

Ais, yang melihat dari dalam mobil, mendadak merasa gugup. "Mas, ini benar-benar kontrakan milik keluarga Mas Hanafi?"

Hanafi mengangguk dengan pelan. "Iya. Sebenarnya Bapak tidak mengizinkan orang itu menyewa rumah di sini, tetapi ibu merasa kasihan dengan mereka. Terlepas apa pekerjaan dan dosa, itu adalah urusan mereka."

Ais pun langsung turun untuk menghampiri orang yang telah menunggunya. Melihat pakaian yang dikenakan oleh para wanita itu membuat Ais bergidik geli. Bahkan, wanita yang masih terlihat muda hanya memakai tank top serta celana pendek di atas lutut. Pantas saja Hanafi tidak mau mengutipnya.

"Assalamualaikum," sapanya berusaha mengembangkan senyum di bibirnya.

Sontak hampir semua mata langsung menoleh dan menjawab salam yang diucapkan oleh Ais.

"Walaikumsalam."

"Kamu pasti Ais yang disuruh Bu Dewi untuk mengutip uang sewa, ya?" tanya salah seorang di antara mereka.

Ais pun mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Ya udah, sini duduk dulu. Tapi ngomong-ngomong, mana anaknya Bu Dewi? Katanya kamu datangnya sama dia?"

"Dia ada di mobil."

"Oh. Kenapa tidak disuruh turun? Apakah dia takut sama kita? Kan kita tidak menggigit."

Semakin lama, Ais semakin risih, tetapi dia harus segera menyelesaikan tugasnya agar segera pulang. Namun, saat Ais telah selesai menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba.

"Yah, hujan," ucapnya.

Hanafi yang berada di dalam mobil seketika turun karena dia sangat takut dengan lebatnya hujan yang sedang turun.

"Yah, basah."

Hanafi pun segera menghampiri Ais yang sudah menyelesaikan tugasnya.

"Lho, Mas Hanafi kok malah ke sini?"

"Ais, mending kita berteduh dulu di sini. Kebetulan aku bawa kunci cadangan dan ada beberapa kontrakan yang belum dihuni," sarannya.

"Lho, kenapa, Mas?"

Hanafi terdiam untuk sejenak. Jujur, dia merasa trauma jika hujan datang dengan deras dan dirinya berada di dalam mobil.

"Ya udah, kita kontrakan yang belum dihuni aja."

Karena Ais telah setuju, Hanafi pun segera menuju ke sebuah kontrakan yang masih kosong untuk tempatnya menunggu hujan mereda.

1
Lala Al Fadholi
hadeuh cari mati lu hanafi
💖💕 Hope Dien❣️💝
sabian ini tiap kali bertemu dgn wanita cantik jantungnya psti berdetak cepat😅🤣😂
Saya Sayekti
alibi..sok polos
Yuseva Eva
ini ceritanya selesai atau masih jeda...kenapa berakhir dengan poster2 novel...
tidak jelas...endingnya
Heny
Hadir 👍
Ayu Galih
lanjuut kak
Hamidah Hamidah
bian tu cocoknya sama zura, ngapsin sih luna msu sama brondong
yuyunn 2706
Thor bukannya bian msh SMA ya? kok udah dijodohin kan msh sekolah
yuyunn 2706
untung Ais sudah cerai dr Azam, ternyata keinginan pnya anak dilatar belakangi warisan
Hamidah Hamidah
masa ga bisa pesan ojekonline
Hamidah Hamidah
dasa benalu
yuyunn 2706
lanjut Thor n tetap setia
Dewi Ink: Hallo ka, ijin sharing🙏 karya Novelku yang berjudul:
180 Hari Menjalani Wasiat Perjodohan.
Siapa tahu suka, terimakasih😊
total 1 replies
Hamidah Hamidah
dih azam gak punya sikap, ðengan mudahnya berpaling
Yati Syahira
azam banci tdk berani ambil sikap bela istriya
Nani heri Upitarini
by tipox sampe bingung kl baca,maksudx apa?
Ahmad Risqi
Luar biasa
👑🇷‌🇦‌🇹‌🇺‌ ᵗʸᵖᵒ
njrir typo lagi 😂
👑🇷‌🇦‌🇹‌🇺‌ ᵗʸᵖᵒ
kenapa jadi mandi 🗿
Endah Hadijah
lanjut..thor tetap semangat
Nurul Pky
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!