Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Seminggu penuh kebahagiaan di Jepang akhirnya usai, dan kini saatnya Afrain serta Lani kembali ke Indonesia untuk menghadapi realitas.
Liburan romantis yang damai di Kyoto telah mengisi ulang energi mereka, meskipun di balik itu semua, Afrain tahu ada riak-riak bahaya yang sedang menanti di Jakarta.
Pagi ini, suasana di kediaman mewah mereka tampak sibuk namun hangat.
Setelah seminggu mengambil cuti panjang, Afrain dan Lani sudah siap untuk kembali bekerja.
Lani tampil sangat anggun dan profesional dengan pakaian kerja yang modis, sementara Afrain tampak sangat gagah dan berwibawa dalam balutan setelan jas formalnya.
Sebagai istri sekaligus sekretaris pribadi sang CEO, Lani memastikan seluruh keperluan suaminya tidak ada yang tertinggal sebelum mereka berangkat bersama dalam satu mobil.
Sesampainya di perusahaan, kedatangan pasangan suami istri baru ini langsung disambut hangat dan penuh hormat oleh para karyawan.
Aura kepemimpinan Afrain kembali memancar
kuat begitu menginjakkan kaki di lobby kantor, sementara Lani berjalan di sampingnya dengan senyum ramah yang memikat.
Begitu memasuki ruang kerja mereka, Lani tidak membuang-buang waktu.
Ia langsung bergerak cekatan menuju mejanya untuk meninjau ulang agenda yang sempat tertunda seminggu lalu.
Pagi ini, Afrain dijadwalkan menghadiri sebuah meeting besar yang sangat krusial dengan beberapa investor penting dari luar kota.
Dengan penuh ketelitian, Lani sudah menyiapkan beberapa dokumen penting, berkas analisis finansial, serta materi presentasi yang rapi di dalam sebuah map kulit untuk suaminya yang akan segera masuk ke ruang rapat.
"Ini dokumen untuk meeting jam sepuluh nanti,
Mas," ucap Lani lembut seraya meletakkan map tersebut di atas meja kerja Afrain.
"Semua data yang kamu minta kemarin sudah aku validasi ulang dan semuanya lengkap."
Afrain mendongak, menatap istrinya dengan binar bangga dan penuh cinta.
Ia meraih tangan Lani, mengecupnya sekilas sebelum fokusnya beralih pada dokumen di hadapannya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu bisa diandalkan," jawab Afrain hangat.
Namun, di balik dinding kaca kantor yang megah itu, tim keamanan pribadi Afrain di lantai bawah sudah mulai mengaktifkan mode siaga penuh.
Mereka tahu, kepulangan sang CEO dan istrinya pasti sudah tercium oleh Alex yang sejak beberapa hari lalu terus mengintai dengan penuh rasa dendam.
Sementara Lani sibuk membantu Afrain mempersiapkan rapat di lantai atas, ketegangan yang sesungguhnya tengah mengintai di area basement perusahaan.
Di sudut yang remang-remang, Alex dan Sisil sudah bersiap melancarkan aksi nekat mereka.
Menggunakan penyamaran topi hitam dan masker, serta bermodalkan ID card palsu hasil manipulasi mantan rekan kerja Alex yang menaruh dendam lama pada perusahaan, Alex berhasil menyusup melewati gerbang keamanan luar dengan mulus.
Sisil yang mengawasi dari kejauhan lewat komunikasi telepon nirkabel yang terpasang di telinga Alex, terus memprovokasi adiknya agar tidak ragu-ragu.
"Jangan sampai lolos, Lex! Ini kesempatan satu-satunya buat kita balik kaya. Begitu suaminya lengah di dalam ruang rapat besar, langsung sergap Lani! Kita peras mereka habis-habisan atau bawa dia pergi secara paksa demi uang tebusan milyaran!" bisik Sisil penuh ambisi jahat di seberang telepon, membakar sisa akal sehat Alex yang sudah telanjur gelap mata.
Di lantai atas, rapat besar yang menegangkan akhirnya dimulai.
Sebagai CEO utama, Afrain harus memfokuskan seluruh perhatiannya untuk menghadapi para investor penting yang memegang kendali atas proyek masa depan perusahaan. Namun, di tengah-tengah pemaparan materi, firasat Afrain mendadak tidak enak.
Dadanya terasa sesak tanpa sebab. Sebelum melangkah lebih jauh ke meja presentasi, ia sempat melirik sekilas ke arah ponselnya yang diletakkan dalam mode getar di atas podium.
Sementara itu, Lani yang berdiri di sisi ruangan menyadari ada satu dokumen penting pendukung laporan keuangan yang tertinggal di dalam laci mobil pribadi mereka di basement.
Karena tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya yang sedang fokus presentasi di depan para petinggi, Lani mengambil keputusan sepihak.
Ia memilih untuk turun sendiri ke area parkir bawah tanah, tanpa sempat memberi tahu tim pengawal pribadi Afrain yang berjaga di depan pintu aula rapat.
Suasana basement yang sepi, dingin, dan remang-remang membuat langkah kaki Lani dengan sepatu hak tingginya menggema di sepanjang koridor parkiran.
Perasaannya mendadak tidak enak, namun ia menepis rasa takut itu dan mempercepat langkah menuju mobil suaminya.
Tepat saat Lani membuka pintu mobil dan
membungkuk untuk mengambil dokumen di laci, sebuah bayangan hitam menyergap dengan cepat.
Sebuah tangan kekar dan kasar tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya dengan kain dari belakang!
"MMMMPPHHH...!!!"
Lani membelalakkan matanya dengan horor. Ia mencoba memberontak dan mencengkeram tangan itu, namun aroma obat bius yang menyengat dari kain tersebut langsung memenuhi rongga dadanya.
Detak jantungnya berpacu cepat sebelum segalanya mendadak berputar.
Melalui sisa kesadarannya yang kian menipis, Lani sempat melihat seraut wajah dengan mata merah penuh dendam dan napas memburu yang sangat ia kenali.
Dalam hitungan detik, seluruh kekuatan Lani lenyap.
Tubuhnya melemas dan ia jatuh pingsan tak sadarkan diri di pelukan mantan suaminya.
Tanpa membuang waktu, Alex menatap sekeliling basement yang sunyi dengan senyum seringai puas yang mengerikan.
Dengan tergesa-gesa namun penuh kehati-hatian, Alex membopong tubuh Lani, berjalan ke arah mobil sewaan yang sudah ia siapkan di sudut gelap, lalu memasukkan Lani ke dalam bagasi mobil tersebut dan menutupnya dengan rapat.
"Permainan dimulai, Afrain," bisik Alex kejam sembari mengunci bagasi.
Alex segera masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin dengan tergesa-gesa, lalu melajukan mobil sewaannya keluar dari basement dengan kecepatan tinggi.
Di kepalanya, ia sudah membayangkan tumpukan uang tebusan yang akan ia peras dari tangan Afrain.
Mobil itu membelah jalanan Jakarta, menuju ke sebuah tempat persembunyian terpencil di pinggiran kota yang sudah ia siapkan bersama Sisil.
Sementara itu, di dalam ruang rapat besar yang dingin, atmosfer terasa kian menegangkan. Afrain yang sedang memaparkan materi presentasi beberapa kali melirik ke arah pintu masuk.
Ia menunggu berkas analisis penting yang tadi hendak diambil oleh Lani.
Namun, rasa gelisah di dadanya kian tidak menentu.
Afrain mengangkat pergelangan tangannya, melihat jam tangan mewahnya yang melingkar rapi.
Sudah lima belas menit berlalu sejak Lani izin keluar ruangan, dan istrinya itu belum juga kembali.
Mengambil satu dokumen di dalam mobil seharusnya tidak memakan waktu sepanjang itu.
Firasat buruk yang sejak tadi mengusik pikirannya kini berubah menjadi alarm bahaya yang menyala merah di kepalanya.
Tanpa mempedulikan pandangan bingung dari para investor dan petinggi perusahaan, Afrain tiba-tiba menghentikan presentasinya.
"Maaf semuanya, rapat kita skors selama sepuluh menit. Ada urusan darurat yang harus saya selesaikan," ucap Afrain dengan suara tegas dan dingin yang tidak menerima bantahan.
Afrain melangkah lebar keluar dari ruang rapat. Di depan pintu, ia langsung memberi isyarat kepada kepala tim keamanan pribadinya yang berjaga.
"Di mana Lani?" tanya Afrain, auranya mendadak berubah mencekam.
"Maaf Tuan, Ibu Lani tadi turun ke area parkir sendirian. Beliau menolak ditemani karena katanya hanya sebentar," jawab sang pengawal dengan menunduk takut.
Mendengar hal itu, rahang Afrain mengeras. Tanpa membuang waktu untuk menunggu lift yang lambat, ia memilih berlari cepat menuruni tangga darurat menuju basement.
Langkah kaki Afrain yang tergesa-gesa menggema keras saat ia menginjakkan kaki di area parkir bawah tanah yang sepi.
Matanya yang tajam bak elang langsung menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang itu.
Detak jantung sang CEO berpacu hebat, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang melibatkan keselamatan belahan jiwanya.