NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 2

"Kalau suatu saat aku ada salah besar, kamu bakal gimana?" tanya Ervin dengan mengeratkan rengkuhannya di pinggang sang istri.

Dinda menghentikan pergerakannya, begitu mendengar pertanyaan dari sang suami. Dapat ia dengar dengan jelas, berulang kali pria itu menghela napas berat, seakan banyak beban yang ditanggungnya.

"Sebisa mungkin bakal aku maafin," sahutnya dengan sangat ringan. Saat itu juga, Ervin merasakan sebuah pasokan udara yang cukup melegakan hatinya.

Melihat tangan Dinda yang sangat cekatan meladeninya, membuat sudut hati Ervin sedikit menghangat. Ditatapnya wajah cantik sang istri dari samping, membuatnya semakin dilanda rasa gundah.

"Tapi kamu tahu sendiri, kan? Semua kesalahan kamu bakal aku maafin, kecuali dua hal. Kekerasan fisik dan perselingkuhan," lanjutnya yang membuat si pria menatap lekat wajahnya. Sedangkan Dinda, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi makan.

"Aku nggak butuh pasangan, yang mau menang sendiri. Rumah tangga dijalani bareng-bareng, nggak bisa seenaknya sendiri. Kamu yang bilang gitu, kan?" tegas Dinda dengan menatap netra kelam suaminya.

Tak mendapati respon dari si pria, membuatnya mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Entah apa yang dipikirkan sang suami, hingga bersikap beda dari biasanya.

"I-iya, aku yang bilang ke kamu. Pastinya, aku bakal tepati ucapanku sendiri," paparnya dengan sedikit gugup. Melihat gelagat suaminya, membuat Dinda mengangkat sebelah alisnya.

"Ya sudah, buktikan saja," sela sang istri dengan santainya. Mengikuti Dinda yang sudah duduk manis, pria tersebut turut mendudukkan tubuhnya di hadapan si wanita.

Dalam keadaan hening, keduanya mulai menyantap makan sore mereka. Dengan sesekali, Dinda dapat menangkan sikap aneh dari suaminya. Namun, ia tak mau begitu memusingkan hal tersebut.

"Kamu ada salah?" cetus si wanita yang membuat suaminya langsung tersedak. Tanpa menunggu lama, Dinda menyodorkan sebuah gelas yang berisi air minum kepada sang suami.

Setelah menandaskan minumannya, Ervin menatap dengan wajah emosi ke arah sang istri.

"Kamu nuduh aku?!" sahutnya dengan nada tak terima. Sontak, Dinda mengulas senyum miring begitu mendapati respon suaminya. Tanpa membuka suara, wanita itu kembali melanjutkan kegiatannya dan segera kembali ke kamar.

"Dinda, aku bicara sama kamu!" sentak si pria begitu melihat sang istri tak menghiraukannya. Namun, Dinda tak menggubris semua ucapan pria tersebut.

Banyak hal mengganjal, yang sejak tadi bersarang di pikirannya. Meski ia sendiri belum mengetahui apa kesalahan Ervin, Dinda akan tetap menyelidikinya. Ia semakin yakin, lantaran melihat sikap berlebihan sang suami.

Usai memakai bajunya, wanita tersebut mulai beranjak naik ke atas ranjang. Diambilnya ponsel di atas nakas, kemudian ia berniat untuk menghubungi orang tuanya.

"Halo, Buk. Gimana kabar bapak?" Begitu panggilan terhubung, Dinda langsung menanyakan sang ayah yang tengah sakit.

Saat itu juga, Ervin memasuki kamar tanpa menciptakan kontak mata dengan sang istri. Dinda memperhatikan gerak-gerik suaminya, yang kini mulai membuka kemeja kerjanya.

"Alhamdulillah sejauh ini mulai ada perkembangan baik, Nak. Bapak udah mulai pulih," sahutnya yang membuat senyum bahagia terlukis di wajah putri tunggalnya.

"Seperti biasa, Buk. Nanti biaya rumah sakit bapak, Dinda transfer awal bulan. Nggak papa, ya?" tutur wanita berusia 26 tahun tersebut. Tatapannya teralih pada sang suami, yang kini memasuki kamar mandi.

"Maaf, Ibuk bapak jadi ngerepoti kamu terus, Nak. Tapi mau gimana lagi, nggak ada yang bisa bantu kita," sesal ibunya yang membuat Dinda tersenyum pedih.

"Ini udah kewajiban Dinda, Buk. Alhamdulillah gajinya juga cukup buat transfer ke Ibuk," paparnya berusaha menenangkan sang ibu di seberang sana.

Seperti biasa, terjadi perbincangan kecil antara ibu dan anak tersebut. Semenjak menikah dengan Ervin, mau tak mau membuat Dinda harus ikut ke luar kota, meninggalkan sang ayah yang tengah sakit bersama dengan ibunya seorang diri.

"Ibuk jaga kesehatan, ya? Nanti kalau ada libur, pasti Dinda bakal pulang jenguk bapak. Assalamualaikum," ucapnya mengakhiri percakapan singkat dengan sang ibu.

Helaan napas berat, kembali terdengar dari bibir wanita tersebut. Setelah meletakkan ponsel miliknya di nakas, Dinda mulai merebahkan tubuhnya. Dengan sebelah lengan yang menutupi wajahnya, wanita tersebut mulai memejamkan mata.

Selisih 15 menit, Ervin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi pinggangnya. Langkah santainya menuju ke arah lemari, dan mengambil setelan piyama miliknya.

Tatapannya tertuju pada sang istri, yang kini nampak terlelap di atas ranjang. Setelah meletakkan handuk di tempatnya, pria itu mulai mendekat lalu menaiki ranjang dengan sangat perlahan.

"Aku tahu, kamu pasti cape ngurus semuanya sendiri. Maaf belum bisa jadi suami yang baik selama ini," bisik si pria tepat di sebelah telinga sang istri. Ervin mendudukkan tubuhnya, tepat di sebelah Dinda.

Ditatapnya wajah damai di hadapannya, membuat Ervin mulai mengusap lembut pipi istrinya. 4 tahun menjalani hidup dengan wanitanya, membuatnya sangat mencintai sang istri.

"Aku nggak bisa bayangin, suatu saat kamu milih pergi. Karena aku yakin, nggak ada yang bisa gantiin posisi kamu." Tanpa sadar, sebuah cairan bening menetes begitu saja dari pelupuk mata si pria.

Hal itu pun, menyadarkan wanita yang sudah terlelap beberapa saat lalu. Dengan sedikit terkejut, Dinda langsung menatap sang suami yang sudah berada di sebelahnya.

"Kamu ngapain, Mas?" herannya begitu melihat Ervin mengusap pipi.

"Enggak, tadi niatnya mau minta tolong ke kamu. Aku rasa, ada kotoran yang masuk ke mataku." Lantaran merasa gengsi untuk mengakui, akhirnya pria tersebut mencari alasan selogis mungkin.

Tanpa menunggu lama, Dinda mulai bangkit dari posisi berbaringnya. Wanita itu bersila, kemudian menepuk pahanya seolah mengkode sang suami untuk berbaring.

"Sini, aku bantuin ..." Pintanya lembut, sembari membantu suaminya untuk berbaring dengan kepala yang berada di pangkuannya.

Setelah menyibak rambut basah suaminya ke belakang, ia mulai memperhatikan daerah mata kanan Ervin. Dengan sangat perlahan, wanita itu mulai memeriksanya. "Yang sakit bagian mana, hm?"

Untuk sejenak, Ervin justru terdiam mendapati sikap istrinya. Dipandanginya wajah serius Dinda, yang nampak sangat sempurna dimatanya.

"Kok malah ngalamun, yang sakit bagian mananya?" tanya sang istri sekali lagi. Begitu tersadar dari lamunannya, Ervin justru cengengesan. Hal tersebut pun, membuat Dinda berdecak kesal.

"Bikin orang panik aja," kesalnya sembari mencoba untuk memindahkan kepala sang suami. Namun, pria itu justru menahannya.

"Aku mau ngomong sama kamu," sela si pria yang membuat Dinda berdehem singkat. Masih dengan posisi yang sama, keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Terutama Ervin, yang kini semakin nyaman meletakkan kepalanya di paha sang istri.

"Respon aku sore tadi, ngga ngenakin banget, kan? Aku minta maaf ya, Sayang? Aku beneran ngga sadar, bisa sekasar itu sama kamu."

Tak langsung menyahuti, wanita dengan rambut sebahu itu hanya terdiam sembari memandang lurus ke arah tembok. Sesekali, tangannya memainkan rambut sang suami yang masih sedikit basah.

"Aku kaget aja, kenapa kamu bisa berubah drastis. Kamu pikir aku biasa aja, begitu dapet respon ketus dari kamu?" cecar si wanita dengan emosi yang kembali muncul.

"Karena respon kamu, aku mikir kalau kamu udah mulai bosan sama semua ini. Ya, aku sadar. Ada saatnya tiap orang mulai cape bertahan," lanjutnya dengan kepala yang tertunduk. Nada bicaranya yang mulai bergetar, membuat Ervin menghela napasnya.

"Pernikahan kita udah jalan empat tahun, tapi kita belum juga dikasih momongan. Aku tahu, kita harus sabar. Tapi aku takut, suatu saat kamu milih nyerah sama semua ini."

Penuturan Dinda kali ini, mampu membuat Ervin mengepalkan kedua tangannya. Entah mengapa, ia membenci dirinya sendiri, lantaran semua sikapnya, justru membuat sang istri berpikir demikian.

"Kamu pasti nunggu kehadiran anak, diantara kita. Tapi nyatanya, Tuhan belum kasih kita kepercayaan. Maaf, maafin aku ..." ungkap si wanita dengan tangisan yang mulai mengiringi. Menggunakan kedua telapak tangannya, wanita itu mulai menangkup wajah cantiknya.

Ervin mulai mendudukkan tubuhnya, dan menghadap ke arah Dinda sepenuhnya. Tanpa membuka suara, ia langsung mendekap tubuh sang istri, kemudian ia mengusap lembut puncak kepalanya.

"Nggak ada yang salah disini. Justru aku yang harus disalahkan, bukan kamu." Mendengar tangisan lirih istrinya, cukup membuat hati Ervin merasa sakit. Wanita yang ia cintai, kini menangis karena dirinya.

Menggunakan kedua telapak tangannya, pria itu menangkup wajah sang istri. Ditatapnya dengan lekat, kemudian mengecup singkat keningnya. Jarak yang semakin dekat, membuatnya mulai berbisik tepat di hadapan wajah rupawan istrinya.

"Aku nggak bakal ninggalin kamu, sampai kapanpun itu. Aku janji,"

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!