Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Malam merayap di sepanjang tepian sungai Batanghari yang airnya tampak hitam pekat, menyerupai kentalan jelaga yang mengalir tenang namun mematikan.
Di bibir sungai yang berlumpur, Sena berdiri tegak, siluetnya memanjang di bawah sisa cahaya bulan yang tertutup mendung tipis. Ia menatap aliran itu dengan mata elang yang tak berkedip, seolah mampu menembus kegelapan air yang menyimpan rahasia pemangsa.
Ia kemudian beralih menatap rekan-rekannya yang telah bersiap di atas dua perahu kayu kecil yang tersamar rimbun enceng gondok.
"Aku tidak akan ikut di perahu," ucap Sena datar. Suaranya rendah, namun memiliki resonansi yang mampu mematikan perdebatan sebelum dimulai.
Balun, yang tengah menggenggam dayung kayu dengan urat-urat tangan yang menonjol, terlonjak kaget.
"Tapi Sena, risiko di sungai ini terlalu besar. Bagaimana jika terjadi penyergapan? Dari air, kita adalah sasaran empuk bagi pemanah tebing."
"Justru karena itu," Sena menyahut sembari menunjuk ke arah kanopi raksasa di atas mereka—dahan-dahan pohon andalas dan meranti yang menjuntai rendah, seolah tangan-tangan raksasa yang hendak meraup permukaan sungai.
"Dari air, pandangan kalian terbatas oleh kabut dan dinding sungai yang curam. Kalian buta terhadap apa yang menunggu di balik tikungan. Aku akan bergerak dari atas. Aku adalah mata kalian, dan jika ada yang menghalangi jalan kalian... biar mereka tahu siapa Siampa Puncak Harau yang sebenarnya."
Sena menoleh ke arah Puti Kirai yang duduk di tengah perahu pertama. Gadis itu tampak pucat, jemarinya meremas pinggiran perahu hingga buku jarinya memutih.
Ada kilat kecemasan yang tak mampu disembunyikannya, sebuah perasaan bersalah karena ke-enam pemuda ini mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya.
"Tetaplah di tengah perahu, Putri," pesan Sena dengan nada yang sedikit melembut, meski wajahnya tetap kaku. "Jangan mendongak ke atas, apa pun suara yang anda dengar.”
Tanpa menunggu jawaban, Sena berbalik dan melesat menembus semak belukar. Langkah kakinya nyaris tak terdengar, seolah-olah ia tidak menginjak bumi. Ia menyusuri tepian sungai, melesat lebih cepat dari laju arus, dan dalam sekejap, sosoknya ditelan oleh kerimbunan hutan yang pekat.
Beberapa ratus meter dari posisi awal, Sena berhenti di dahan sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai ke permukaan air. Di hadapannya, membentang jembatan penyeberangan kokoh yang menjadi batas antara Nagari Tarang dan Dharmapuri.
Dua obor tertancap di pagar jembatan, apinya menari-nari ditiup angin, menerangi dua prajurit penjaga yang tengah asyik berbincang.
"Kau dengar kabar dari Pos Harau?" salah satu penjaga meludah ke sungai. "Katanya Siampa itu bisa berjalan di atas air tanpa memecah riak. Kabarnya dia membantai setengah peleton dengan kukunya yang panjang dan tajam."
Rekannya tertawa, meski tawanya terdengar sumbang dan sedikit dipaksakan. "Hanya bualan orang-orang desa yang ketakutan, kawan. Dia hanya manusia biasa. Jika dipanah, darahnya tetap merah, sama seperti kita."
Di atas mereka, tersembunyi di balik kerimbunan daun, Sena mendengarkan percakapan itu dengan senyum tipis yang dingin. Ia merayap perlahan di atas dahan yang menjorok ke sungai, bagaikan macan dahan yang sedang mengendap mangsanya. Posisi Sena tak jauh di atas kedua prajurit itu.
Tim di perahu mengintip dari balik celah daun enceng gondok. Mereka melihat siluet Sena yang merayap, mengendap di dahan tinggi dengan takjub.
Puti Kirai memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan getaran perahu yang meluncur pelan.
Saat perahu mendekati tikungan di bawah jembatan, salah satu penjaga menyipitkan mata.
"Ada sesuatu yang bergerak di bawah sana!" desisnya sembari meraih obor dan mengarahkannya ke sungai.
Cahayanya memantul di daun-daun itu... “Bukankah itu terlalu banyak untuk sekadar enceng gondok liar? “
"Ah, kau terlalu penakut," balas rekannya, namun ia tetap mengambil busur panah dan menarik talinya hingga melengkung sempurna, siap melepas maut ke permukaan air.
Tepat saat jari sang pemanah hendak bergerak, sebuah bayangan melintas lebih cepat dari kedipan mata.
Jeb—!
Sebuah anak sumpit kayu yang telah dilumuri racun menancap dalam di leher sang pemanah.
Suaranya hanya berupa desisan kecil, namun dampaknya fatal. Tubuh prajurit itu terhuyung, busurnya terjatuh, dan ia roboh di atas kayu jembatan.
Rekannya yang memegang obor terperanjat, ia baru saja hendak membuka mulut untuk berteriak ketika sebuah tangan yang kuat membekapnya dari belakang.
Jleb—!
Sena muncul dari kegelapan seolah-olah ia baru saja mewujud dari udara. Dengan satu gerakan akurat, ia melompat dan menusukkan Sembilu Bambu Maut tepat di tenggorokan penjaga itu, memutus saluran napas dan pita suaranya sekaligus. Obor yang dipegangnya jatuh, padam tertimpa tubuh pemiliknya yang tumbang.
Namun, di Menara Pos Kumbu yang terletak sekitar lima puluh meter dari sana, seorang pengawas melihat padamnya obor secara mendadak.
"Ada yang tidak beres di jembatan! Cepat, periksa!"
Dua prajurit tambahan segera menghambur keluar dari gerbang pos.
Begitu mereka sampai di jembatan, mereka hanya menemukan kegelapan dan dua rekan mereka yang sudah menjadi mayat.
Sena sendiri sudah menghilang. Ia kini bergelantungan di gelagar bawah jembatan, otot-otot lengannya mengeras seperti baja saat ia berayun menuju sisi yang berbeda.
Begitu kedua prajurit itu berbalik hendak memberi sinyal ke arah menara, Sena muncul dari sisi gelagar jembatan dan meniup sumpitnya dua kali dalam satu tarikan napas.
Sut.. sut—!
Dua jarum beracun dari getah pohon upas menancap tepat di leutut dan leher mereka. Racun itu melumpuhkan saraf motorik secepat kilat. Mereka mencoba berteriak, namun otot-otot mereka telah mengunci, membuat mereka tumbang tanpa sempat mengeluarkan satu kata pun.
Sena merayap cepat menuju hamparan tanah terbuka seluas lima puluh meter yang memisahkan jembatan dengan Pos Kumbu.
Area ini sengaja digunduli oleh Singasari agar tidak ada tempat bagi penyusup untuk berlindung.
Sementara di sungai, Balun dan timnya berjuang sekuat tenaga, namun naas, perahu pertama tersangkut pada tiang jembatan yang terbuat dari kayu ulin besar.
"Gawat—! Idan, dorong dengan galahmu!" desis Balun panik. Puti Kirai menggigit bibirnya, teringat pesan Sena untuk tidak mendongak, meski rasa ingin tahunya nyaris meledak.
Sena melihat kepanikan di bawah. 'Sialan, kenapa harus nyangkut segala—!' pekiknya dalam hati. jika para pemanah di menara memfokuskan pandangan ke sungai, semua akan berakhir