Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Rumah yang sunyi
...-----...
Langkah kakiku terasa begitu berat saat menyusuri aspal jalanan yang retak retak di daerah pinggiran kota Jakarta. Hari ini, tepatnya tanggal 10 Mei 2017, udara ibu kota terasa begitu lembap dan menyesakkan, seirama dengan badai kecamuk yang sedang melanda isi kepalaku. Aku baru saja turun dari angkutan umum setelah malam paling kacau dalam hidupku di pesta kelulusan, malam yang mati matian ingin ku hapus dari garis takdirku.
Aku berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang cat dindingnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Di rumah ini, aku hanya tinggal berdua dengan Ibuku, Raisya Ningsih, setelah Ayah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa beberapa tahun silam.
Saat aku memutar kunci dan membuka pintu depan, tidak ada satu pun suara hangat yang menyambut kepulanganku. Rumah begitu sepi, menyisakan keheningan yang mencekam. Lampu lampu di seisi rumah padam, membiarkan kegelapan merajai ruang tengah dan hanya menyisakan seberkas pendar kuning dari lampu kamar mandi yang menyala di sudut belakang. Ibu pasti sudah berangkat kerja sejak subuh.
Aku melangkah ke kamar, merapikan barang-barangku yang berantakan, lalu bergegas pergi mandi. Di bawah guyuran air, aku menggosok kulitku berkali kali, mencoba meluruhkan aroma tembakau, alkohol, dan jejak sentuhan asing yang masih tertinggal dari malam kutukan itu. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku tidak membiarkan diriku diam. Aku merapikan seisi rumah yang mulai berdebu, menyapu lantai, lalu pergi ke dapur untuk memasak nasi dan beberapa lauk sederhana untuk disantap olehku dan juga Ibu nanti.
Di meja makan yang sunyi, aku duduk sendirian memakan porsiku. Baru beberapa suap nasi masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba saja terdengar suara dering nyaring dari ponsel yang kuletakkan di atas meja. Layarnya berkedip, menampilkan nama Ibu. Aku segera menggeser tombol hijau.
"Astrid, Mama hari ini lembur lagi. Kamu gak usah masak nasi banyak banyak, ya. Cukup buat kamu aja. Mama makan di luar nanti malam, tapi nanti Mama bawain makanan juga kok buat kamu," ucap Ibu di seberang telepon, suaranya terdengar begitu sibuk dan lelah di antara bisingnya suara mesin tik atau printer kantor.
Aku menghentikan gerakan sendokku, helaan napas berat lolos dari bibirku. Ada rasa sesak yang menjalar mendengar nada lelahnya. "Kenapa lembur melulu sih, Ma? Mama dalam seminggu ini udah empat kali lembur loh. Badan Mama itu bukan besi," ucapku dengan nada kesal yang tak bisa ku sembunyikan.
"Mama cari lemburan kan biar bisa kuliahin kamu, Astrid. Udah deh ya, gak usah dibahas lagi. Mama banyak kerjaan. Jaga diri di rumah," ucap Ibu memotong kalimatku secara sepihak, disusul suara tut-tut panjang tanda sambungan diputuskan. Aku hanya bisa terdiam, menatap nanar ke arah piring nasiku yang mendadak terasa hambar.
...---...
Malam harinya, tepat pukul tujuh malam, aku sudah duduk rapi di meja makan. Aku menunggu Ibu pulang. Aku terus menunggu dengan wajah polos dan penuh harapan tersembunyi bahwa malam ini, setidaknya sekali saja, Ibu akan duduk di sebelahku dan kami bisa makan malam bersama seperti keluarga normal lainnya.
Namun, waktu adalah hal paling kejam di dunia ini. Detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa jarum jam dinding sudah bergeser menunjuk ke angka sebelas malam. Rumah ini masih sesunyi kuburan. Di depanku, sekarang hanya ada semangkuk nasi dan sup ayam yang permukaannya sudah mengeras dan mendingin. Sebelum jam menunjuk ke angka sesubuh ini, aku sebenarnya sudah terlebih dahulu makan sendirian karena perutku yang tak bisa diajak kompromi.
Karena hari sudah terlalu larut malam dan mataku mulai terasa berat, aku memilih untuk menyerah. Aku membereskan meja makan, menyisakan mangkuk kosong, lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Di dalam kamarku yang remang, sebelum memejamkan mata, tanganku bergerak meraih sebingkai foto di atas nakas. Aku memandangi lekat-lekat gurat wajah Ayah yang tersenyum di dalam sana sosok pelindung yang kini sudah tidak ada lagi di dunia ini. "walaupun Astrid belum pernah ketemu papa tapi Astrid kangen, Pah..." bisikku lirih sebelum memeluk bantal.
Sekitar jam dua belas malam, pintu depan akhirnya berderit terbuka. Ibu pulang. Dengan langkah kaki yang terseret lelah, dia berjalan ke dapur dan mendapati meja makan yang kosong telah dibersihkan rapi olehku. Ibu menghela napas, meletakkan sebuah kotak pizza dan kantong plastik berisi jus mangga minuman kesukaanku di atas meja, sebelum akhirnya ikut menenggelamkan diri di kamarnya.
Keesokan paginya, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Aku melangkah ke dapur dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Di sana, aku melihat Ibu sudah rapi dengan baju kerjanya, sedang sarapan dengan sisa pizza semalam sembari menuangkan kopi hitam ke dalam tumbler miliknya bersiap untuk pergi bekerja.
"Hey, udah bangun putri kecil Mama?" sapa Ibu lembut begitu menyadari kehadiranku.
Aku hanya membalas dengan gumaman singkat, lalu berjalan melewati tubuhnya untuk mengambil segelas air putih dingin dari dispenser.
"Oh ya, Mama hari ini gak lembur, ya. Nanti Mama pulang sore kok," ucap Ibu mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Aku meneguk air putihku, lalu meletakkan gelas dengan ketukan pelan di meja. "Ya iyalah, kan dari empat hari yang lalu Mama lembur melulu. Masa sekarang harus lembur juga? Gak sekalian aja tidur di kantor," jawabku dengan nada ketus yang spontan keluar.
Ibu menghentikan aktivitasnya membuat kopi, menatapku dengan helaan napas panjang. "Ya iya dong, Mama kan lagi butuh banget uang sekarang. Belum lagi kamu mau kuliah nih. Jangan lupa cari kampus kamu, ya. Kemarin kan kamu gagal lolos di kampus negeri, sekarang cari kampus swasta aja yang bagus."
Mendengar kata 'kuliah', dadaku mendadak bergemuruh panas. Rasa bersalah karena melihat Ibu menyiksa fisiknya sendiri demi diriku membuat emosiku tersulut. "Mama... udah berapa kali aku bilang kalau aku gak mau kuliah, Ma! Aku mau langsung kerja aja setelah lulus SMA ini. Aku mau bantu-bantu cari uang buat Mama." ucapku dengan nada tinggi yang mulai meninggi.
Seketika itu juga, suasana di dalam dapur kecil kami berubah menjadi begitu menegangkan. Aku tahu, aku baru saja memulai sebuah perkelahian baru dengan ibuku sendiri.
"Kamu harus kuliah, Astrid! Jangan kayak Mama yang cuma jadi staf biasa!" teriak Ibu, suaranya melengking tinggi memotong kalimatku. Wajahnya memerah, tangannya menunjuk tepat ke arahku dengan tatapan mata yang menyalang marah. "Gak usah peduliin Mama! Intinya kamu harus kuliah biar punya masa depan yang lebih baik, gak dipandang sebelah mata sama orang lain!" bentak Ibu sambil menyambar tas kerjanya di atas kursi, lalu melangkah lebar menuju pintu depan.
Aku tidak tinggal diam. Aku mengejarnya hingga ke ambang pintu, air mata mulai menggenang di sudut mataku karena rasa frustrasi yang memuncak.
"Mamaaa! Coba dong Mama jangan paksa diri Mama sendiri!" teriaku, suaraku bergetar menahan tangis. "Mama rela kerja banting tulang ke sana kemari, kurang tidur, sakit-sakitan, cuma demi aku bisa hidup mewah dan kuliah? Aku gak butuh itu semua, Ma! Aku cuma mau berbakti sama Mama. Aku cuma mau di hari tua Mama nanti, Mama gak perlu capek-capek kerja kayak gini lagi!"
Ibu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang terbuka. Dia tidak menoleh ke arahku. Dengan punggung yang tampak bergetar menahan beban emosi, dia hanya menjawab singkat dengan suara yang dingin.
"Memenuhi keinginan orang tua itu... juga termasuk berbakti, Astrid."
BRAAK!
Pintu jati itu ditutup dengan keras dari luar. Ibu pergi bekerja, meninggalkan kalimat terakhirnya yang menampar hatiku telak. Aku luruh di balik pintu, air mata akhirnya menetes deras membasahi pipiku. Rasa bersalah dan ketidakberdayaan ini menjeratku begitu erat.
...---...
Satu bulan lebih telah berlalu sejak badai pertengkaran hebat di pagi itu. Pada akhirnya, aku mengalah pada ego Ibu. Sekarang aku sudah memilih sebuah kampus swasta di daerah Jakarta yang biayanya relatif murah. Aku mengambil jurusan Manajemen Bisnis Digital sebuah jurusan yang kupikir paling rasional untuk masa depanku.
Namun, tak ingin berdiam diri begitu saja sembari menunggu hari pertama masuk kuliah dimulai, aku memilih untuk mengisi waktu luangku dengan bekerja. Aku bekerja sebagai kasir di sebuah coffee shop milik ayah dari sahabat dekatku.
Suatu hari, aku menjalani kehidupanku seperti biasa di balik meja kasir, menyapa pelanggan dan menghitung transaksi. Namun, hari ini terasa agak berbeda dan aneh. Sejak pagi buta saat aku membuka kelopak mata, perutku terasa sangat tidak enak. Rasanya mual, melilit, dan ada gejolak aneh yang terus mendesak di ulu hatiku. Selama jam kerja berlangsung, aku sudah hampir lima kali berlari tunggang-langgang ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan bening yang terasa asam di tenggorokan.
Davina, sahabat karibku yang kebetulan juga bekerja di coffee shop milik ayahnya sendiri itu, mulai menyadari perubahan drastis pada wajahku yang pucat pasi. Begitu jam istirahat tiba, Davina langsung menarikku ke meja belakang untuk mengobrol.
"Astrid, lo kenapa sih dari tadi? Muka lo pucet banget kayak mayat," tanya Davina dengan raut wajah yang dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. Dia menyodorkan segelas air hangat ke hadapanku. "Lo sakit? Kalau gak kuat, lo balik aja, biar posisi kasir gue yang pegang."
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis, menggeleng pelan seraya menerima gelas hangat itu. "Gue gak apa-apa kok, Vin. Paling cuma masuk angin biasa gara-gara semalam lupa pasang selimut. Gak usah khawatir."
Davina mendengus, tampak tidak puas dengan jawabanku, namun dia tidak bertanya lebih lanjut karena jam istirahat telah usai. Kami berdua pun kembali berdiri di balik pos kerja masing-masing seperti biasanya.
Tak lama kemudian, pintu coffee shop berdenting. Sosok seorang gadis dengan pakaian modis dan langkah kaki yang angkuh melangkah masuk. Dia adalah Seira. Seira adalah sepupu dari Pedro—gadis yang sama yang malam itu mengajakku dan Davina untuk ikut pergi ke kelab malam untuk merayakan kelulusan.
Seira melangkah mendekati meja kasir, matanya membelalak lebar saat menyadari siapa yang sedang berdiri di balik mesin hitung.
"Wow... lu kerja jadi kasir di sini, Astrid?" tanya Seira dengan nada terkejut yang sedikit dilebih-lebihkan, menatapku dari atas ke bawah.
Aku berusaha tetap profesional, memasang wajah datar andalanku. "Iya. Buat bantu bantu orang tua, makanya gue kerja di sini."
Seira terkekeh pelan, melipat tangan di dada dengan gaya angkuhnya yang khas. "Padahal lu cantik banget loh, Astrid. Muka lo berkarakter. Kenapa gak jadi model aja sih daripada capek-capek berdiri jadi kasir begini?" ucapnya meremehkan.
Belum sempat aku membalas ucapannya, gelombang mual yang luar biasa hebat kembali menghantam perut bawahku. Rasanya seperti diaduk-aduk, membuat isi perutku mendesak naik ke kerongkongan. Rasa sakitnya begitu mendadak hingga aku refleks memegangi perutku dan meringis.
"Vin! Tolong gantiin posisi gue bentar!" bisikku panik pada Davina yang berada di sebelahku. Tanpa menunggu jawaban Davina, aku langsung berbalik dan berlari kencang menuju kamar mandi di bagian belakang kafe.
Di depan meja kasir, Seira yang melihat Davina kini mengambil alih posisi kasir hanya bisa mengerutkan dahi heran. Dia tahu Davina adalah anak dari pemilik kafe ini. "Vin, lo anak yang punya tempat kok mau mauan sih ikut ribet kerja beginian?" tanya Seira kepo. Davina hanya menjawab seadanya dengan senyum formal demi menjaga sopan santun.
Namun, perhatian Seira kembali teralihkan ke arah koridor kamar mandi tempatku menghilang. Dari kejauhan, suara mual mualku yang sedang memuntahkan isi perut terdengar cukup jelas. Seira terdiam sejenak, sebuah senyuman penuh arti yang santai terukir di wajah modisnya. Dia mengambil cup kopinya yang baru selesai dibuat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Davina.
"Vin, sampaikan pesan gue ke Astrid ya," ucap Seira dengan nada suara yang teramat santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Bilangin ke dia, coba suruh cek kehamilan. Siapa tahu... dia hamil."
Setelah menjatuhkan bom kata-kata itu, Seira berbalik dan melangkah pergi keluar kafe dengan santai sembari membawa kopinya.
Beberapa menit kemudian, aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas dan tangan yang memegangi dinding. Begitu aku kembali berdiri di samping kasir, Davina langsung menatapku dengan tatapan mata yang aneh—campuran antara syok, ragu, dan takut.
"Kenapa, Vin? Kok lo ngelihatin gue kayak gitu?" tanyaku heran melihat gelagatnya.
Davina menelan ludah, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Gini, Strid... tadi sebelum pergi, Seira titip pesen buat lo. Dia bilang... lo disuruh cek kehamilan. Katanya siapa tahu lo hamil gara-gara lo mual-mual terus dari tadi."
DEG!
Dunia di sekitarku rasanya mendadak berhenti berputar mendengar kalimat Davina. Jantungku berdegup dengan kecepatan yang mengerikan, memompa darah panas ke seluruh tubuhku. Wajahku yang tadinya pucat kini berubah menjadi kaku seketika.
Kata 'hamil' itu langsung melempar paksa memoriku kembali ke pagi abu-abu di kamar hotel itu. Bayangan tentang cowok bernama Arka, tempat tidur yang kusut, dan kalimat "ini pengalaman pertama gue" berputar putar di otakku seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Aku mengepalkan tanganku di bawah meja kasir hingga kuku-kukuku memutih, mencoba meredam badai kepanikan yang siap meruntuhkan pertahananku. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba memasang wajah sedingin mungkin di depan Davina.
"Ngaco si Seira. Gak usah didengerin, Vin. Gue cuma masuk angin biasa," ucapku dengan suara yang dipaksakan terdengar tegas.
Aku memilih untuk menolak mempercayai ucapan itu begitu saja. Logikaku mati-matian menyangkal kenyataan yang mengerikan itu. Namun, di dalam hati kecilku yang paling dalam, rasa takut yang teramat sangat mulai merayap naik, membisikkan ketakutan bahwa apa yang dikatakan Seira... mungkin saja adalah sebuah kebenaran yang akan menghancurkan seluruh sisa hidupku.
...-----...