⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Banyak hal yang di lakukan Disty bersama Anggun di dapur.
Membuat pizza, burger, macaroni schotel, dan juga spaghetti brulee. Empat menu yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam.
"Nona suka?" tanya Anggun.
Disty terus saja tersenyum, memberi anggukan kepala sambil mencicipi semuanya.
"Ini hasil masakan kita berdua," ucap Disty.
"Yeayy." Anggun melompat-lompat girang dengan tepukan tangan juga.
"Disty."
Anggun segera berdiri tegap di belakang Disty saat Javeno datang memanggil.
Senyum Disty mengembang melihat kedatangan Javeno, mendekat dan menarik tangan Javeno, membawanya duduk di kursi.
"Waktunya makan siang. Empat menu ini aku yang buat bareng Anggun," ucap Disty tampak bahagia.
Anggun mengangguk antusias juga. "Sudah saya pastikan kalau di semua menu tidak ada yang tidak Nona sukai, Tuan. Semua sesuai selera Nona," ucapnya.
Disty menoleh ke Anggun. "Kamu panggil Gaven, kita makan siang bareng," ucapnya memberi titah.
"Oke Nona, tunggu sebentar ya," ucap Anggun keluar dari dapur ruangan makan untuk memanggil Gaveno.
Sedangkan Javeno menarik pinggang kecil Disty hingga ia duduk di atas pangkuan.
"Masih bosan?" tanya Javeno memastikan.
"No." Disty menggelengkan kepala. "Aku seneng banget. Happy," ucapnya.
"Setelah makan, kembali bersama Anggun hm."
"Kamu masih belum siap?"
"Bakal cepat siap kalau kamu nurut," ujar Javeno mengecup singkat bibir Disty.
"Oh lo mau makan menu di meja atau mau makan Disty sebenarnya?" tanya Gaveno yang datang bersama Anggun, lalu duduk.
Javeno menahan pinggang Disty dan mencengkramnya saat Disty hendak berdiri dari pangkuannya.
"Makan," ucap Javeno.
Disty mengambil spaghetti brulee nya dan menggulungnya di garpu, lalu menyuapi ke mulut Javeno yang menerima dengan baik.
"Enak?" tanya Disty ingin tau pendapat Javeno.
Javeno mengangguk saja sebagai jawabannya.
"Yummy," papar Gaveno mencium pipi Anggun.
Kalau Javeno acuh, maka Gaveno kebalikan nya, dia pemuda yang sweet.
Dua pemuda itu mencoba empat menu yang gadis mereka masak selama kurang lebih 3 jam.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Gaveno berdiri setelah selesai dengan makanannya.
"Aku menyuruhmu membawanya pergi?" tanya Javeno menatap tajam kembarannya.
"Aku membawa gadisku, bukan...."
"Gadismu masih di butuhkan di sini," ucap Javeno penuh penekanan.
"Jav." Disty menggenggam tangan Javeno, lalu menatap Gaveno.
"Gapapa kalau kalian mau pulang, aku juga capek," ucap Disty.
"See?" Gaveno menggenggam tangan gadisnya, membawa pergi dari rumah kembarannya ini.
"Kamu..."
"Aku nggak akan ganggu kamu, aku mau tidur aja," ucap Disty memeluk leher Javeno.
Javeno menahan pinggang Disty saat berdiri, melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ganti baju dulu kalau kamu emang mau tidur, bajunya kotor," ucap Javeno menurunkan Disty.
"Aku mandi, mau berandam sebelum tidur," ucap Disty tersenyum lebar, berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Javeno melihat pintu kamar mandi yang tertutup, lalu ia duduk di sofa. Kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Kayaknya bulan ini aku belum ada datang bulan deh," ucap Disty bergumam di dalam bathtup yang merendam tubuhnya.
"Mungkin telat. Bulan kemarin juga telat kok," papar Disty lagi mengidikkan bahunya.
Disty bermain dengan busa-busa yang ada sampai dia merasa bosan. Berdiri hendak membilas tubuhnya di bawah shower tetapi kakinya malah terpeleset.
.. Brakkk ...
Javeno yang mendengar suara segera berdiri dan membuka pintu kamar mandi dengan kencang.
Melihat Disty yang terdiam karena derasnya darah yang langsung keluar dari bawahnya setelah dirinya jatuh.
Javeno mendekat dan terkejut juga melihat darah.
"Dis?"
Disty menoleh, tersenyum pada Javeno. "Gapapa, kayaknya aku pms," cicitnya.
"Darahnya sebanyak ini?" tanya Javeno menatap khawatir.
Disty memegang lengan Javeno dan berdiri dengan bantuan. Berjalan kearah shower untuk membersihkan tubuhnya. Matanya menatap darah yang ada di lantai itu.
Darah yang keluar berbeda dari darah datang bulan, pikir Disty.
Javeno membersihkan darah itu, lalu menatap Disty yang melamun.
"Disty."
Disty menatap Javeno, ia mengambil handuk karena sudah selesai.
Javeno menggenggam tangan Disty, menuntunnya untuk jalan agar tidak terpeleset lagi. Mengantar sampai masuk ke dalam walk in closet.
Disty memegang perutnya saat merasakan nyeri di sana. Buru-buru memakai bajunya lalu menatap Javeno yang masih menunggu.
"Aku mau tidur," kata Disty pelan.
Javeno mengangkat tubuh Disty, membawanya ke kasur. Memeluk gadis ini yang tidak akan bisa tidur tanpa pelukan darinya.
"Ada yang sakit?" tanya Javeno lembut.
"Enggak," jawab Disty sedikit berbohong.
"Tapi kamu nahan sakit," ucap Javeno melihat kerutan di kening Disty.
"Setiap bulan kalo lagi datang bulan juga selalu sakit Jav. Aku mau tidur, jangan di ajak ngomong terus," ucap Disty kesal dengan rengekannya semakin merapatkan tubuhnya pada Javeno.
"Tidur." Javeno mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Disty sampai gadis itu tertidur pulas di pelukannya.