Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. TERET-TETET-TETET
Teeett... Tereteett-tetet-teteeeeeettt!
Bel penanda waktu istirahat berakhir yang mendadak bunyinya mirip terompet robek terinjak gajah kesasar itu mengejutkan semua orang.
Erina dan Harum bahkan hampir tersedak mie dan batuk-batuk serentak.
"Heh... itu airku... uhuk!"
Harum memprotes saat Erina menyambar gelas minum Harum, sebab ia belum sempat mengisi gelasnya sendiri.
Erina mereguk air itu dengan cepat untuk menggelontorkan mie yang tersangkut, sambil menunjuk dispenser sebagai isyarat agar Harum mengambil air lagi sendiri.
"Kampret... uhuk!"
Harum terpaksa berlari ke dispenser dan mengambil segelas air, lalu meminumnya dengan wajah tersiksa.
"Kamu mau bunuh aku, Rin?!" Harum mendelik marah ke arah Erina setelah lehernya lega.
"Aku harus menyelamatkan nyawaku sendiri, Rum--kamu tega Saga dan Nala jadi yatim piatu di usia sekecil itu?" tukas Erina asal. "Lagian salahmu juga--kamu HRD, kenapa nggak ganti suara bel kantor ini jadi lebih keren? Suaranya kayak malaikat maut lagi sakit tenggorokan gitu, bikin jantungan dan keselek...!"
"Lah kamu tega aku mati sebelum belah duren sama duda keren?!" gerutu Harum, tak kalah asal. "Lagian aku ini HRD--bukan tukang listrik atau elektronik yang kudu ganti bel rusak! Itu urusannya Sarli si OB sama Rere si Akunting kalau soal pengadaan atau penggantian fasilitas kantor!"
Kedua sahabat karib itu masih saling mengomel saat buru-buru mencuci piring dan panci di wastafel, lantas kembali ke pos masing-masing dengan bibir berminyak dan monyong lima senti.
"Bu Erina."
Jantung Erina serasa mencelat lagi--meski kali ini karena panggilan dari sosok yang mirip malaikat penjaga surga tanpa sayap, bukan karena bel yang mirip malaikat maut kena TBC.
"P-Pak Alvin..."
"Sudah selesai makan siangnya, kan?"
Alvin menatap lurus Erina, yang kembali bengong seakan ditanya pertanyaan absurd: "Kalau sapi terbang, kita harus ngapain?"
"Bu Erina?"
"Eh... s-sudah, Pak, maaf," Erina tersadar dan seketika mukanya memerah.
Alvin terdiam sejenak dan menahan senyum--entah karena maklum atau sudah terbiasa menghadapi tingkah kaum hawa yang rata-rata mendadak absurd jika berhadapan dengannya.
"Ini hari pertama saya sebagai Manajer Marketing di sini. Tetapi karena saya datang terlambat, saya jadi tidak bisa bertemu tim Marketing yang sudah harus bertugas di lapangan sejak pukul sepuluh pagi," kata Alvin dengan suara dalam dan halus. "Saat ini tim saya yang stand by di kantor hanya Bu Erina. Bolehkah saya bertanya beberapa hal pada Bu Erina dan melihat langsung bagaimana orderan customer diproses di sini?"
Erina mengerjap. "Boleh saja..."
Jadilah sisa hari itu Erina habiskan dengan menggarap pekerjaannya sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan Alvin. Bos barunya itu duduk tak jauh darinya, dan tak jarang ia juga semakin mendekat saat ingin melihat data yang tertera di layar komputer Erina, atau mencoba sendiri sistem yang tertanam di dalamnya.
Bukan hanya kepala Erina yang terasa sakit sekarang--dadanya juga, sebab jantungnya jadi kebanyakan senam aerobik setiap Alvin mengikis jarak di antara mereka. Saking dekatnya, Erina sampai bisa melihat urat halus di leher pucat Alvin, bahkan mencium wangi parfumnya yang sangat lembut dan elegan--perpaduan sempurna aroma citrus, woody, dan amber, khas merek ternama berharga jutaan rupiah.
Wangi Alvin yang mahal tak hanya memesona bulu hidung dan sel otak Erina, tetapi juga membuatnya minder. Diam-diam Erina pun mengendus tubuhnya sendiri--bau chili oil dan micin Ind*mie.
Alvin juga mengikuti Erina saat ia harus ke gudang untuk menemui staf di sana dan menanyakan hal-hal seputar kekeliruan picking dan packing sebelumnya yang menjadi komplainan customer hari itu.
Staf gudang yang merupakan laki-laki dan sering menggoda Erina, seketika menciut dan menjaga mulut saat melihat Alvin berdiri di dekat Erina.
"Apes bener... kalau saingannya macam dia, ya kalah kita...!"
Erina dan Alvin bisa mendengar para lelaki itu mengeluh begitu mereka menjauh--membuat Erina sebal sekaligus malu. Sementara Alvin tetap melangkah tenang di sebelahnya, seakan tak terjadi apa-apa.
Tepat pukul lima sore, bel kantor berbunyi teret-tetet-tetet---masih sumbang dan jelek, tapi tidak lagi bertempo panjang dan tak senyaring sound horeg.
"Sudah jam pulang, Pak. Pak Alvin nggak pulang?"
Erina memberanikan diri untuk menegur lembut Alvin, setelah sepuluh menit kemudian, Alvin masih duduk di depannya, sibuk mengutak-atik ponselnya sendiri.
"Kamu sendiri?" Alvin balik bertanya, masih fokus pada ponselnya.
"Kerjaan saya belum selesai pak... saya harus lembur untuk meng-input semua orderan hari ini dan mencetak pre-invoice-nya sebelum pulang," sahut Erina pelan.
"Tidak bisa dikerjakan besok?" Alvin kini menatapnya tajam.
Erina menggeleng, perlahan memijat pelipis karena kepalanya kembali terasa bagai ditusuk-tusuk jarum besi.
"Semakin ditunda, semakin lama proses orderan terkirim ke customer. Komplainan akan semakin menjadi. Kerjaan saya juga akan semakin menumpuk."
Alvin menghela napas panjang.
"Ini semua karena orderan dari para sales dan customer direct call itu kamu sendiri yang meng-input-nya ke sistem, kan? Cara manual dan lama seperti ini hanya akan membebanimu tanpa henti, apalagi kamu mengerjakan semuanya sendiri..."
Erina lagi-lagi mengerjap dan terdiam. Baru kali ini ada yang memperhatikan dan memahami beban pekerjaannya yang sama sekali tak ringan--dan itu membuat kedalaman dadanya tiba-tiba bergetar.
Namun Erina hanya bisa tersenyum getir.
"Yah, mau gimana lagi, Pak..."
"Saya tidak akan membiarkannya," kata Alvin tegas. "Saya di sini untuk membuat sistem menjadi efisien dan lebih baik demi meningkatkan keuntungan perusahaan. Mulai sekarang, kamu tak akan mengerjakan semuanya sendiri."
Erina menatap Alvin dengan netra melebar.
"M-maksud Bapak?"
"Saya akan buat sistem baru agar para sales bisa meng-input sendiri orderan melalui ponsel mereka, dan orderan itu akan terkonfirmasi langsung di gudang sehingga staf di sana juga bisa segera memprosesnya. Tugasmu nanti hanya meng-handle direct call dan pre-invoice order. Lebih cepat, lebih mudah."
Erina seperti diberitahu bahwa ia mendapat tiket liburan gratis ke Maldives ditemani idolanya, Jungkook BTS--dan itu membuat hatinya begitu ringan seakan terbang ke atas awan.
"Untuk sekarang, saya bantu kamu input orderannya. Saya bisa gunakan laptop saya--sistem yang sama sudah diinstal oleh IT kantor ini di dalam laptop itu. Jadi kamu bisa cepat pulang juga. Tolong share orderan para sales yang masuk ke WA-mu, ya... forward ke WA saya, sekarang."
Bukan lagi liburan--Erina merasa seolah Jungkook sudah menjadikannya istri dan membawanya pulang ke apartemen mewahnya di Seongdong-gu, Seoul. Bahagianya sampai langit ketujuh.
"Siap, Pak..."
Erina sempat mengira ia akan sampai rumah menjelang tengah malam akibat tumpukan pekerjaan yang mengerikan. Namun berkat bantuan Alvin, semua pekerjaannya selesai tepat pukul tujuh malam.
"Terima kasih banyak, Pak Alvin, terima kasih..."
Erina tak henti mengucapkan terima kasih--bahkan setelah mereka sudah berjalan keluar arena gudang menuju tempat parkir dan gerbang utama.
"Kembali kasih," Alvin menimpali kesekian kalinya dengan sabar. "Hati-hati pulangnya, ya."
"Iya, Pak, Bapak juga, ya... sampai jumpa besok."
Erina melambai dan berjalan menuju gerbang yang terbuka.
"Lho, Rin...? Tunggu! Kenapa jalan kaki keluar?"
Alvin memanggil Erina kembali dengan bingung.
Erina menghentikan langkahnya dan balas memandang Alvin bingung.
"Kalau nggak jalan kaki, saya ke jalan utama buat cegat angkot gimana, Pak... ngesot?"
Alvin melongo sejenak, kemudian tertawa.
"Bukan itu maksud saya," lelaki tampan itu bahkan menepuk jidat dan menggeleng. "Maaf, saya kira kamu pulang-pergi kantor dengan kendaraan pribadi... ternyata naik angkot?"
Erina malu-malu mengangguk.
"Rumahmu di mana? Saya antar, ya?"
***