Tora semenjak kecil menyukai game dan memutuskan untuk membuat perusahaan miliknya sendiri saat ia dia lulus sekolah, namun ketika memasuki bangku SMA dia bertemu Rin yang merupakan teman sekelasnya yang memiliki berkepribadian tertutup dengan wajah yang selalu dia sembunyikan dengan rambutnya ternyata seorang penulis ternama dengan nama pena Mermaid, sejak saat itu dia ingin membuat perusahaan lebih awal dengan mencari ilustrator, programer serta pengisi suara walaupun sebenarnya mereka adalah siswa siswi bermasalah yang sulit diatasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Pertemuan Di Perpustakaan
Menghabiskan waktu dengan adikku adalah rutinitas seorang kakak, malam ini semua orang pulang lebih awal karena itulah aku dan Tiara telah memutar DVD player untuk menonton beberapa film lainnya.
Anime telah selesai dan kini giliran film horor.
Sosok misterius telah mengintip dari jendela dengan pandangan berbinar.
"Apa sebaiknya aku memanggil polisi saja kakak?"
"Itu akan merusak sekolah juga, sebaiknya mari biarkan dia masuk."
Terhadap perkataanku sosok misterius itu akhirnya telah menunjukkan dirinya, meski ia menggunakan mantel serta kacamata layaknya penjahat aku jelas tahu sekali bahwa dia adalah Bu Nanase.
"Aku harus memastikan bahwa seorang pria tinggal bersama dua orang gadis di satu atap tidak menimbulkan sesuatu yang mendebarkan."
"Yang mendebarkan itu penampilannya Bu Nanase."
"Terima kasih atas pujiannya."
Percuma saja untuk melayani kekonyolannya pada akhirnya kami duduk di sofa dengan tiga orang.
Aku ditengah sementara keduanya di samping selagi memakan popcorn yang ada di tanganku.
Mereka tanpa ragu mengaitkan lengan mereka.
"Hantunya kurang serem."
"Seperti begitu."
Apa gadis-gadis zaman sekarang sudah tidak lagi menjerit-jerit karena melihat hal beginian. Kurasa terlalu banyak menonton hal seperti ini membuat seseorang terbiasa.
Tiara dan Bu Nanase saling mengobrol tanpa melibatkanku di dalamnya.
"Jadi Bu Nanase sampai kapan kamu akan tinggal di sini?"
"Sampai pagi, ini sudah malam berkeliaran seorang diri sangatlah berbahaya."
"Tapi aku merasa bahwa Anda yang sebenarnya berbahaya."
"Walau aku terlihat kuat aku ini gadis yang lemah butuh belaian pria."
Tiara menunjukkan wajah bermasalah.
"Guru ini mengerikan, ia akan tidur bersamaku dengan begitu aku bisa mengawasinya."
"Aku mengandalkanmu."
Tiara menyeret Bu Nanase untuk tidur di kamarnya, aku juga akan menyusul tidur setelah mematikan ini semua.
"Aku sangat mengantuk sekira."
Pagi berikutnya ulangan tengah semester kami dimulai, aku selalu mengerjakannya lebih cepat dari siapapun karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Koridornya sepi terlebih ruang perpustakaannya terkunci rapat. Aku mengintip ke dalam jendela sampai suara seseorang muncul dari belakangku.
Dia seorang gadis dengan rambut hitam sepinggul dengan buku yang didekapnya di dada.
"Anu, ada perlu apa?"
"Aku ingin menghabiskan waktu di dalam perpustakaan tapi sepertinya ini dikunci."
"Kalau begitu biar aku yang membukanya."
Aku baru menyadari bahwa ia petugas perpustakaan dari kelas dua, seangkatan dengan Alexia atau lebih tepatnya sekelas dengannya.
Namanya Sari.
"Silahkan, jika ada yang kamu suka jangan ragu untuk meminjamnya dan aku akan duduk di sini sampai sore nanti."
"Dimengerti."
"Ngomong-ngomong apa tempat ini selalu sepi?"
"Kebanyakan para siswa menjauhi tempat ini, mereka punya banyak uang aku yakin bahwa mereka lebih senang membeli bukunya secara langsung."
Itu terdengar berbahaya.
Walau sepi semua fasilitas di sini telah dirawat dengan baik tanpa meninggalkan debu sedikit pun.
"Sebentar lagi perpustakaan ini akan ditutup aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini bahkan ketika sedang UTS."
Dia jelas menyukai tempat ini, aku menarik satu buku lalu duduk di depan mejanya.
Berduaan dengan gadis asing cukup membuatku canggung. Di sisi lain Sari hanya fokus dengan tulisan yang dibuatnya.
Aku mengintip dan tahu bahwa ia tengah menulis novel.
"Itu tulisan bagus."
Wajahnya memerah kemudian ia buru-buru menutupnya.
"Tolong jangan melihatnya."
"Tidak apa, bukannya tulisanmu seharusnya ditunjukkan pada orang lain."
"Aku sedikit ragu untuk melakukannya."
Ia mungkin tipe orang yang kurang percaya diri, tak lama kemudian seseorang telah masuk ke dalam ruang perpustakaan ini, ia seorang gadis di angkatan kelas 3 dengan rambut perak panjang serta seragam yang tidak rapih.
Dia kancingnya tidak dikaitkan dan auranya sedikit mengancam, mirip dengan Alexia sedikit.
Dia adalah ketua OSIS, Erna.
yg tadi ceritanya malam tiba2 jd pagi tanpa ada jeda ataupun pemisah bikin bingung
tapi menilai dari judulnya kayaknya bakalan tamat setelah si tora lulus sma
semoga nanti ada lanjutannya dan gak hanya sebatas pas sma doang