Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Hening seketika mencekik kerongkongan Kyra, hembusan napas hangat bercampur aroma maskulin dari tubuh Brian bergesekan langsung dengan kulit lehernya yang meremang. Jantung Kyra bergemuruh liar, memukul-mukul dinding dadanya seolah hendak melompat keluar.
Kyra ingin sekali membuka mulut dan melontarkan kalimat pembelaan diri atau sekadar berpura-pura tenang seperti rencana awalnya bersama Yolla. Namun, tekanan psikologis yang dipancarkan oleh pria di sampingnya ini terlalu nyata dan mengerikan, tatapan tajam bagai elang itu seolah mampu merobek topeng kepalsuannya dan menelanjangi seluruh rahasia kelam yang ia simpan rapat-rapat.
Kyra memilih bungkam, ia tetap menunduk dalam-dalam dan menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar hebat, sementara jemarinya meremas lipatan gaun yang ia gunakan hingga nyaris robek.
Melihat Kyra yang hanya membeku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Tuan Besar Gerald di ujung meja mendengus pelan dan menunjukkan ketidaksukaan atas respons yang dianggap lemah itu.
"Kau tidak punya suara, Nona Andreas?" tanya Tuan Besar Gerald dengan nada berat penuh wibawa.
Papa Freddy hampir melompat dari kursinya karena panik luar biasa, "Bu-bukan begitu, Tuan! Kyra hanya... dia hanya merasa sangat terhormat dan grogi berada di hadapan Anda dan Tuan Muda Brian. Maklumlah, dia belum pernah...,"
"Aku tidak sedang bertanya padamu, Freddy," potong Tuan Besar Gerald dingin dan membuat Papa Freddy langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan wajah sepucat mayat.
Brian, yang masih berdiri tepat di samping bahu Kyra, menyunggingkan senyuman miring yang sarat akan bahaya. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, lalu perlahan melangkah memutari kursi Kyra hingga ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Bayangan tubuh tegap Brian menutupi pendar cahaya lampu kristal, membuat Kyra mau tidak mau harus mengangkat wajahnya sedikit untuk menghindari posisi yang terlalu menunduk.
Manik mata gelap Brian menatap lurus ke dalam manik mata Kyra yang berkaca-kaca karena rasa takut dan tertekan, suasana di dalam ruangan itu terasa kian menghimpit, membuat Mama Dania dan Tante Thania hanya bisa meremas serbet makan mereka dengan gemetar hebat, berharap badai kemarahan keluarga Raymond tidak menghancurkan mereka.
Brian menarik sebelah sudut bibirnya dan menampilkan seringai sinis yang membuat nyali Kyra ciut seketika.
"Bagus," ucap Brian dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa, memecah kesunyian yang mencekam.
"Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku barusan... biarkan aku yang mengambil keputusan untukmu," lanjutnya.
Kyra menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan sakit. 'Apa maksudnya? Memangnya keputusan apa yang dia maksud? Apa dia ingin membatalkan perjodohan ini? Baguslah, aku tidak perlu menikah dengannya,' batinnya menjerit ketakutan.
Brian melipat kedua tangannya di dada bidangnya dan menatap Kyra dengan pandangan menyelidik penuh perhitungan.
"Pernikahan ini tidak bisa dibatalkan begitu saja hanya karena aib keluarga Andreas yang menutupi kehamilan anak perempuannya," ucap Brian tanpa filter.
Perkataan Brian membuat semua keluarga Andreas terkejut termasuk Kyra, Kyra tidak menyangka kehamilan Sherly diketahui oleh keluarga Raymond, padahal keluarga Andreas sudah menutupinya dengan sangat baik.
"Tuan, itu...," ucapan Papa Freddy terhenti, lantaran Brian yang tiba-tiba bersuara.
"Dan... Aku tidak tertarik membuang waktu hidupku untuk mengurus wanita penakut yang bahkan tidak berani menatap mataku saat aku ajak bicara," potong Brian.
Mama Dania mendadak merasa bumi berputar lebih lambat. Jika Brian menolak Kyra detik ini juga, maka kehancuran keluarga Andreas tinggal menghitung menit. Utang menumpuk, kebangkrutan di depan mata dan rasa malu luar biasa akan menenggelamkan nama baik mereka selamanya.
"Tuan Muda Brian... mohon pertimbangannya...," cicit Mama Dania dengan air mata yang hampir tumpah di pelupuk matanya.
Brian mengangkat satu tangannya dan memberikan isyarat agar Mama Dania menghentikan ucapannya seketika. Ruangan kembali senyap, pria itu kembali menundukkan sedikit wajahnya dan mendekatkan diri ke arah Kyra yang kini sudah terjebak di antara sandaran kursi dan tatapan mematikan sang pewaris Raymond.
"Dengar baik-baik, Kyra Daniela Andreas," bisik Brian tajam, namun cukup keras untuk didengar oleh semua orang di meja tersebut.
"Aku tidak peduli siapa yang seharusnya duduk di kursi itu malam ini, aku juga tidak peduli apa motif keluargamu dengan menyeretmu ke hadapanku. Tapi, jika kau memang berniat masuk ke dalam sangkar keluarga Raymond...,"
Brian terdiam sejenak, manik matanya berkilat tajam bagai bilah pisau bedah yang siap menguliti.
"...maka jawab pertanyaanku ini dengan jujur dan tunjukkan harga dirimu." Brian menatap lekat-lekat ke dalam mata Kyra.
"Apakah kau siap menjadi menantu keluarga Raymond dan menghadapi segala konsekuensi mengerikan yang ada di balik nama besar keluarga ini?" tanya Brian.
Pertanyaan itu meluncur bagai petir di siang bolong. Bukan sekadar pertanyaan tentang pernikahan, melainkan sebuah tantangan maut dan ujian mental yang menentukan hidup atau mati Kyra di kancah perseteruan kaum elite ibu kota.
Seluruh mata di meja itu kini tertuju penuh pada Kyra. Papa Freddy menatap putrinya dengan tatapan memohon agar Kyra menjawab iya, sementara Tante Thania merapal doa dalam hati agar gadis itu tidak berbuat ulah dan menghancurkan semuanya.
Keheningan yang pekat merayap di sekeliling meja makan mewah itu. Detik demi detik berlalu terasa begitu lambat, seolah waktu sengaja dibekukan untuk menunggu jawaban dari bibir gadis yang selama dua puluh delapan tahun hidupnya hanya diselimuti penderitaan dan pengabaian.
Mama Dania meremas jemarinya hingga memutih, napasnya tertahan di tenggorokan. Papa Freddy bahkan memejamkan mata rapat-rapat, berdoa dalam hati agar Kyra tidak melakukan kesalahan fatal yang bisa memicu kemurkaan keluarga Raymond.
Di hadapannya, Brian masih berdiri dengan postur angkuhnya, alis tebal pria itu terangkat sebelah dan menunjukkan rasa penasaran yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya.
"Aku siap," Kyra membuka bibirnya perlahan, dengan suaranya yang bergetar karena gugup dan takut.
Mendengar jawaban Kyra, Papa Freddy secara tidak sadar menghembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban seberat ton yang menghimpit dadanya baru saja terangkat sebagian. Mama Dania, Nenek Fia dan Tante Thania saling melirik dengan binar lega yang terselubung di balik riasan tebal mereka.
Rencana gila mereka untuk menyelamatkan muka dan mengamankan dukungan finansial keluarga Raymond akhirnya dapat tercapai.
Namun, Brian tidak langsung memberikan reaksi. Pria itu tetap berdiri menjulang di hadapan Kyra, menatap tajam ke dalam manik mata gadis yang baru saja memberikan jawaban mengejutkan itu.
"Kau siap?" ulang Brian dengan nada menyelidik da sengaja menekan setiap suku kata.
"I-iya," jawab Kyra.
"Kau sadar apa arti dari kata siap di hadapanku, Nona Andreas? Pernikahan ini bukan sandiwara manis di depan media, ini adalah kontrak penuh duri. Bisa saja kau hancur berkeping-keping sebelum sempat menikmati hari esok," balas Brian.
Kyra tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun. 'Hancur? Hidupku sudah hancur sejak hari pertama aku dilahirkan di keluarga ini. Tidak ada lagi hal yang lebih buruk dari neraka yang sudah kulewati selama bertahun-tahun,' batinnya.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧